Rissari Yayuk
Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Sirok Bastra

WUJUD DAN INTERSEKSI TINDAK TUTUR MELARANG BAHASA BANJAR Rissari Yayuk
Sirok Bastra Vol 3, No 2 (2015): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.557 KB) | DOI: 10.37671/sb.v3i2.68

Abstract

Penelitian ini mengkaji wujud tindak tutur melarang dalam bahasa Banjar. Tujuan penelitian ini menggambarkan wujud dan jenis interseksi tindak tutur larangan bahasa Banjar. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif. Teknik penelitian yang digunakan adalah rekam dan catat. Data bersumber dari tuturan masyarakat Desa Sungai Kacang, Martapura. Waktu pengumpulan data Januari sampai dengan April 2015. Berdasarkan pembahasan, diketahui bahwa wujud tindak tutur direktif melarang dalam bahasa Banjar dapat berbentuk kalimat perintah atau interogatif. Dalam tindak tutur melarang, terdapat empat interseksi jenis tindak tutur yang meliputi tindak tutur langsung literal, tindak tutur langsung tidak literal, tindak tutur tidak langsung literal, dan tutur tidak langsung tidak literal.
TINDAK TUTUR PERINTAH BUJUKAN KEPADA ANAK-ANAK DALAM BAHASA BANJAR Rissari Yayuk
Sirok Bastra Vol 4, No 2 (2016): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.99 KB) | DOI: 10.37671/sb.v4i2.84

Abstract

Penelitian ini membahas tindak tutur perintah bujukan kepada anak-anak dalam bahasa Banjar. Tujuan kajian ini adalah mendeskripsikan wujud tindak tutur perintah bujukan kepada anak-anak dan strategi tindak tutur perintah bujukan kepada anak-anak dalam bahasa Banjar. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik rekam, catat dan pustaka. Pengambilan data dilakukan di masyarakat Banjar yang berada di Desa Tanuhi, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan dengan waktu pengambilan data pada Januari 2016. Berdasarkan hasil penelitian, tindak tutur perintah bujukan dalam bahasa Banjar memiliki penanda yu’yuk’, ayu’ayo’, kasi’cepat’, lah’lah’, dan muhun’mohon’. Penggunaan strategi kesantunan berbahasa dalam tindak tutur ini meliputi strategi pujian, janji, menumbuhkan sikap optimistis, penanda solidaritas, dan melucu.
REALISASI PELANGGARAN MAKSIM KEBIJAKSANAAN DALAM TUTURAN MANYARU BAHASA BANJAR Rissari Yayuk
Sirok Bastra Vol 5, No 1 (2017): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.79 KB) | DOI: 10.37671/sb.v5i1.95

Abstract

Masalah kesantunan berbahasa yang berpegang pada prinsip kebijaksanaan dalam berbahasa telah mengalami pergeseran pada era sekarang. Penelitian ini mengkaji maksim kebijaksanaan dalam tuturan manyaru Bahasa Banjar. Manyaru adalah tindakan mengundang seseorang untuk datang ke acara tertentu. Masalah dan tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan wujud pelanggaran maksim kebijaksanaan dalam tuturan manyaru bahasa Banjar dan pelaksanaan maksim kebijaksanaan dalam tuturan manyaru. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data berasal dari Desa Sungai Kacang, Kabupaten Martapura. Pencarian data dilakukan pada bulan Januari—Maret 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran maksim kebijaksanaan meliputi penggunaan kalimat perintah secara langsung, penggunaan kata sapaan yang kurang tepat, dan intonasi serta mimik wajah yang tidak ramah. Pelaksanaan maksim kebijaksanaan adalah penggunaan kalimat perintah secara tidak langsung, menggunakan kata sapaan yang tepat, dan penggunaan intonasi suara yang lembut disertai senyum yang ramah.