Harry Widianto
Unknown Affiliation

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

GUA BRAHOLO: KARAKTER HUNIAN MIKRO PADA AWAL KALA HOLOSEN DI GUNUNG SEWU Retno Handini; Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol. 19 No. 1 (1999)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v19i1.790

Abstract

Located in Semugih Village, Rongkop District, Gunung Kidul Regency, Yogyakarta Special Region Province, Braholo Cave is one of the prehistoric settlement caves located in the karst mountain range of Gunung Sewu. This cave was discovered by the Prehistoric Division of the National Archaeological Research Center, when a survey was carried out throughout the Mount Sewu area in 1996. Dozens of caves were found in the western part of this mountain and one of them is the Braholo Cave, which was then followed up by carrying out excavations in 1997 and 1998.
SONG KEPLEK: OKUPASI INTENSIF MANUSIA PADA PERIODE PASCA-PLESTOSEN DI GUNUNG SEWU Retno Handini; Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol. 18 No. 2 (1998)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v18i2.785

Abstract

Song Keplek is a cave located in the Southern Mountains of Java, which is traditionally known as Gunung Sewu. This area that extends from west (Wonosari) to east (Pacitan) has its own distinctive morphological landscape, which is characterized by sinoid-shaped karst hills. On one of these hilly slopes - which is administratively included in the area of Pagersari Village, Punung District, Pacitan Regency - Song Keplek is located, about 300 meters southwest of the Wonogiri - Pacitan highway.
POSISI STRATIGRAFI DAN TEKNOLOGI ALAT SERPIH SANGIRAN Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol. 7 No. 1 (1986)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v7i1.447

Abstract

Persoalan alat paleolitik dan manusia purba, masih merupakan persoalan menarik dalam hakekat sejarah perkembangan manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan kaitannya selama Kala Plestosen, yaitu suatu periode kehidupan antara dua juta hingga 10.000 tahun silam. Oleh sifatnya yang tahan terhadap kekuatan destruktif alam, alat-alat batu yang sederhana tersebut telah dianggap bukti tentang eksistensi manusia saat itu. Bukti-bukti kehidupan tersebut ditemukan kembali dalam endapan Plestosen yang terbentuk, antara lain endapan-endapan teras sungai purba. Asal-usul manusia menjadi begitu kontroversiil selama berabad-abad, dan meliputi masa yang sangat gelap. Penemuan sisa-sisa Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois di Desa Trinil pada tahun 1890 dan 1891, merupakan penemuan yang sempat menggemparkan dunia pengetahuan, dan hingga pertengahan abad 20 telah menjadi suatu legenda.
MASA DEPAN ARKEOLOGI BAWAH AIR DI INDONESIA Harry Widianto; Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol. 5 No. 1 (1984)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v5i1.264

Abstract

Perkembangan arkeologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari kehidupan masa silam berdasarkan benda-benda yang ditinggalkan, telah mengalami kemajuan pesat sejak abad 19. Bermula dari minat yang menimbulkan pengkoleksian benda-benda arkeologis, yang berakhir dengan usaha untuk mengungkap beberapa aspek yang mellputi benda tadi, antara lain jenis, fungsi, periode dan sebagainya. Langkah seperti ini mulai terlihat jelas pacrd tahun 1836, ketika J .C Thomsen~ kurator dari Museum Nasional Copenhagen, memperkenalkan Sistem Tiga. iaman (Three Ages ·system) bagi benda-benda hasil koleksinya. Klasifikasi tersebut didasarkan pada bahan dasar, yaitu batu, perunggu dan. besi (Soejono, 1976: 4). Kemudian disusul dengan langkah berikutnya yang lebih terarah, sehingga dalam waktu singkat, Ilmu Arkeologi telah mengalami proses pematangan. Konsekwensi logis dari proses tadi adalah tuntutan metode kerja yang sistematis bagi ilmu ini, seperti yang dinyatakan oleh Fagan sebagai berikut: ''We have talked of Archaeology as a discipline,_a label diliberately chosen because it fits well. The methods of archaeological research imply disicipline--accurate recording. precise excavation, using scientific methode, and detail analysis in the laboratory (Fagan, 1975:7)
ALAT-ALAT BATU PACITAN: MOBILITAS BUDAYA PRASEJARAH Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol. 3 No. 1 (1982)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v3i1.296

Abstract

Dalam kerangka periode prasejarah di Indonesia, masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana dengan penonjolan tradisi paleolithik telah menempati posisi yang tertua. Masa ini bermula dengan terciptanya hasil-hasil kebudayaan manusia pertama sekitar 700.000 tahun yang lalu, kemudian berakhir pada awal Kala Holosen, sekitar 10.000 tahun silam. Dari jangka waktu itu, berbagai alat untuk mengeksploitasi lingkungan telah menjadi bukti tentang eksistensi pendukung kebudayaan Kala Plestosen di Indonesia. Betapapun sangat sederhananya, alat-alat ini telah memberikan gambaran tentang perilaku manusia Plestosen di Indonesia, terutama tentang hubungan timbal-balik yang erat antara lingkungan hidup manusia, teknologi dan sistem-sistem sosial. Tiap-tiap gejala ini harus diperhatikan secara seksama, sehingga dapat diketabui hubungan fungsionalnya.
TEKNOLOGI PLESTOSEN SUATU HASIL ADAPTASI BIO-KULTURAL Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol. 2 No. 1 (1981)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v2i1.288

Abstract

Faktor alam, manusia dan kebudayaan merupakan 3 faktor utama yang saling berinteraksi. Manusia merupakan faktor subyek, menghadapi alam untuk dapat melanjutkan kehidupannya. Suatu kehidupan yang panjang telah dilaluinya, dengan disertai tantangan hebat melalui seleksi alam: mereka yang sanggup mengatasi keganasan alam akan dapat melanjutkan kehidupannya, sedangkan yang tidak sanggup akan kandas. Seleksi alam dianggap sebagai suatu mekanisme pokok yang mengarahkan perubahan, dan adaptasi manusia terhadap lingkungan merupakan faktor penting untuk dapat bertahan.