Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Effect of Family Support and Social Support on The Incidence of Postpartum Depression Estiningtyas Estiningtyas; Anindhita Yudha Cahyaningtyas; Sri Sugiarsi
JURNAL ILKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 12 No 2 (2021): Jurnal Ilkes (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : STIKES Karya Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35966/ilkes.v12i2.219

Abstract

Postpartum depression (PPD) is a severe complication of labour where there are significant adverse effects on the mother and infant. In general, PPD occurs in the 4-6 weeks after delivery. Family and social support are needed by mothers to cope with stress during the postpartum period caused by sudden hormonal changes that influence mood swings, domestic workload, and caring for infant and mother during the postpartum period, resulting in fatigue and lack of sleep. The purpose of the study was to analyze the effect of family and social support on PPD occurrence.This study used an analytic observational research design with a cross-sectional approach. This study's population was postpartum mothers at 0-6 weeks in the Health Agency of Sukoharjo Regency work area. The sampling technique used Multistage Random Sampling with a sample size of 160 respondents. The instruments used were the family support questionnaire, social support, and EPDS (Edinburgh Postnatal Depression Scale). Data analysis was using logistic regression and Odd Ratio. The results of the analysis of family support data are P-value 0.027 <(0.05) and OR value 5.787, and social support P-value 0.025 <(0.05) and OR value 5.693. The P-value result means that there is a significant effect of family support and social support on the occurrence of PPD where mothers who lack family and social support will be at risk to experience PPD, with each risk 5.787 times higher and 5.693 times higher, respectively. Health workers are expected to emphasize the importance of family and social support for postpartum mothers in emotional support and technical support by helping postpartum mothers take care of infants, self-care, and homework to reduce the risk of postpartum depression. Keywords: Depression, social support, family support
Upaya Pemberdayaan Kader Kesehatan dalam Pencegahan Stunting di Desa Karangsari, Jatiyoso, Karanganyar Anindhita Yudha Cahyaningtyas; Mutik Mahmudah
Abdinesia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): Abdinesia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/abdinesia.v4i1.587

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebabkan kekurangan asupan nutrisi, menderita infeksi, maupun stimulasi yang kurang memadai. Stunting berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia. Stunting menyebabkan peningkatan resiko penurunan kemampuan motorik, produktifitas, dan peningkatan risiko penyakit degeneratif dimasa yang akan datang. Permasalahan mitra berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar, Desa Karangsari merupakan salah satu desa di Kecamatan Jatiyoso dengan kejadian stunting yang paling tinggi dibanding desa lainnya. Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini untuk mengupayakan generasi yang berkualitas dan memiliki daya saing yang baik. Upaya yang dapat dilakukan mengurangi stunting melalui kampanye pendidikan, perluasan program gizi, peningkatan produksi pangan, dan akses yang lebih luas ke makanan bergizi. Upaya edukasi stunting perlu dilakukan dengan melibatkan orangtua kader kesehatan, serta masyarakat agar mempercepat program penurunan angka stunting di Indonesia. Program promosi kesehatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka stunting dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan terkait stunting kepada kader kesehatan. Tujuan PKM ini diantaranya meningkatkan pengetahuan kader kesehatan dengan melakukan penyuluhan kesehatan. Metode yang dilakukan terdiri dari 3 tahapan yaitu melakukan pretest sebelum diberikan pendidikan kesehatan, Memberikan pendidikan kesehatan terkait stunting, melakukan posttest setelah diberikan pendidikan kesehatan. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan kesehatan ini efektif untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan terkait pencegahan stunting. Terdapat perbedaan rerata pengetahuan kader kesehatan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Diharapkan setelah dilakukan pendidikan kesehatan, para kader dapat mengenali risiko stunting sehingga dapat melakukan pencegahan terjadinya stunting.
Edukasi Kesehatan Tentang Obat Yang Digunakan dalam Penanganan Bencana pada Relawan SAR Karanganyar Anindhita Yudha Cahyaningtyas; Tri Wulandari
Abdinesia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Abdinesia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/abdinesia.v4i2.671

Abstract

Penanggulangan krisis kesehatan pada pengelolaan logistik meliputi obat, alat medis habis pakai dan alat medis dan bahan medis habis pakai. Relawan sebagai salah satu tim dalam penanganan bencana memiliki peran dalam pengelolaan korban bencana. Relawan yang bertugas dalam evakuasi perlu mengetahui tentang obat yang digunakan dalam penanganan bencana. Hal tersebut penting karena saat evakuasi korban didaerah bencana, sering kali tidak melibatkan tenaga kesehatan, sehingga kurangnya pengetahuan relawan tentang pertolongan pertama bagi korban akan berakibat fatal. Permasalahan mitra yakni Relawan SAR Karanganyar merupakan tim pertolongan dan pencarian korban resmi dari pemerintah, yang memiliki keterampilan dan telah terlatih dalam setiap medan bencana. Kurangnya pengetahuan relawan tentang obat yang dapat digunakan dalam pertolongan pertama saat evakuasi korban bencana menjadi kelemahan dalam proses pertolongan darurat saat tidak adanya tenaga kesehatan dalam tim pencarian dan pertolongan korban. Upaya edukasi kesehatan terkait obat yang digunakan dalam penanganan bencana diharapkan relawan dapat memberikan obat sebagai pertolongan pertama misal dalam mengatasi nyeri atau kondisi darurat lainnya dimana obat tersebut dapat diberikan dalam kondisi darurat tanpa adanya tenaga kesehatan di lokasi bencana. Tujuan kegiatan ini diantaranya menambah pengetahuan relawan dalam membedakan jenis obat yang aman untuk pertolongan pertama. Metode yang yaitu kegiatan dilaksanakan di markas relawan dengan tahapan melakukan edukasi tentang macam obat, jenis obat dan pemilihan obat yang dapat digunakan dalam penanganan bencana. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat yaitu relawan mampu memahami tentang jenis obat dan cara penggunaannya secara tepat dan benar sehingga menambah pengetahuan sebagai relawan dalam melakukan pertolongan korban.
Edukasi Tanggap Bencana Gempa Bumi Wujudkan Sikap Kesiapsiagaan Siswa PMR Wira SMA Negeri Karangpandan Joey Anung Anindtya Widodo; Anindhita Yudha Cahyaningtyas; Nuriyah Yuliana
Abdinesia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Abdinesia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/abdinesia.v5i2.1250

Abstract

SMAN Karangpandan, Karanganyar, terletak di wilayah dengan potensi risiko gempa bumi tinggi sehingga memerlukan analisis kesiapsiagaan bencana yang komprehensif. Kegiatan ini diawali dengan identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (analisis SWOT) yang dimiliki sekolah. Metode pelaksanaan meliputi pengumpulan data melalui observasi, wawancara, serta diskusi dengan pihak sekolah, dilanjutkan dengan penyusunan strategi kesiapsiagaan berbasis hasil analisis. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sekolah memiliki komitmen kuat dari pihak manajemen, keterlibatan aktif guru dan siswa, dukungan BPBD dan PMI, serta lokasi strategis untuk evakuasi. Namun, ditemukan kelemahan berupa rendahnya pemahaman evakuasi, keterbatasan fasilitas pendukung, minimnya dana, serta kurangnya dokumentasi dan evaluasi. Peluang peningkatan kesiapsiagaan muncul dari dukungan regulasi, keberadaan relawan, dan kemajuan teknologi, sementara ancaman yang dihadapi meliputi potensi gempa besar, sikap acuh sebagian warga sekolah, keterbatasan anggaran, dan penyebaran disinformasi. Kesimpulannya, strategi kesiapsiagaan yang efektif memerlukan peningkatan pelatihan dan simulasi rutin, perbaikan sarana prasarana, pencarian sumber pendanaan, serta penguatan jejaring kemitraan, dengan dukungan edukatif dari Dosen Prodi Sarjana Keperawatan STIKes Mitra Husada Karanganyar guna membentuk komunitas sekolah tangguh bencana.