The phrase sicut in caelo et in terra, drawn from the Lord's Prayer, expresses a dialectical relationship between divine transcendence and immanence. This article examines the theological and exegetical meaning of the phrase and develops it into a pedagogical model for religious moderation education in Indonesia's plural society. Using a qualitative library research method, the study drew on Indonesian and international theology and religious education journals, selected for their relevance to transcendence-immanence theology, the Lord's Prayer, and religious moderation. The study finds that transcendence grounds epistemic humility toward religious truth claims, while immanence grounds ethical responsibility for enacting divine values in social life. Building on this dialectic, the article proposes three interrelated pedagogical principles for Christian religious education: epistemic humility, practical engagement, and liturgical-ethical integration, each linked to concrete classroom practices. The article concludes that this model offers Christian religious educators a theologically grounded and practically actionable framework for cultivating tolerance and social harmony within Indonesia's multicultural context. Abstrak Frasa "sicut in caelo et in terra", yang berasal dari Doa Bapa Kami, mengungkapkan relasi dialektis antara transendensi dan imanen Allah. Artikel ini mengkaji makna teologis dan eksegetis frasa tersebut serta mengembangkannya menjadi model pedagogis bagi pendidikan moderasi beragama di masyarakat plural Indonesia. Dengan metode kualitatif studi pustaka, sumber dihimpun dari jurnal teologi dan pendidikan agama, baik Indonesia maupun internasional, yang relevan dengan teologi transendensi-imanensi, Doa Bapa Kami, dan moderasi beragama. Kajian ini menemukan bahwa transendensi melandasi kerendahan hati epistemik terhadap klaim kebenaran agama, sedangkan imanensi melandasi tanggung jawab etis untuk mewujudkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan sosial. Berdasarkan dialektika ini, artikel mengusulkan tiga prinsip pedagogis yang saling terkait bagi pendidikan agama Kristen, yaitu kerendahan hati epistemik, keterlibatan praksis, dan integrasi liturgis-etis, yang masing-masing dikaitkan dengan praktik pembelajaran yang konkret. Artikel ini menyimpulkan bahwa model tersebut menawarkan kerangka kerja yang berlandaskan teologis sekaligus dapat diterapkan secara praktis oleh pendidik agama Kristen untuk membangun toleransi dan harmoni sosial dalam konteks multikultural di Indonesia.