Nurul Adliyah Purnamasari
Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KONSEP PENGEMBANGAN MUSEUM BALLA LOMPOA SUNGGUMINASA DI KABUPATEN GOWA: MEDIA PUBLIKASI ARKEOLOGI Nurul Adliyah Purnamasari
WalennaE Vol 17 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.805 KB) | DOI: 10.24832/wln.v17i2.374

Abstract

Museum Balla Lompoa Sungguminasa is one of the museum with archaeological resource that is interesting enough to be published to the public. This museum is very able to represent the greatness of the Gowa Kingdom  in the past with collection of objects. However, there are still many problems of Museum Balla Lompoa Sungguminasa has, such as ehuman resources are not yet complete, the exhibition models that need to be updated, the information labels must be included, facilities and infrastructure of exhibitions, and also the concept of promotions and publications. Therefore, this study was conducted to determine the condition of Museum Balla Lompoa Sungguminasa, then it’s evaluated to choose the best development concept that can be used for this  better museum. This research used survey and observation techniques, qualitatives descriptive method with an inductive approach.Museum Balla Lompoa Sungguminasa adalah salah satu museum dengan koleksi arkeologis yang cukup menarik untuk dipublikasikan kepada masyarakat. Museum khusus Kerajaan Gowa ini mampu merepresentasikan kebesaran Kerajaan Gowa di masa lampau melalui benda koleksinya. Namun, berdasarkan hasil observasi pada Museum Balla Lompoa Sungguminasa masih banyak permasalahan yang ditemukan di dalamnya. Seperti sumber daya manusia yang belum lengkap, model penataan koleksi yang perlu dibenahi, label informasi yang harus dilengkapi, sarana dan prasarana pameran hingga bentuk promosi dan publikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi Museum Balla Lompoa Sungguminasa saat ini, kemudian berdasarkan kondisi tersebut penulis melakukan evaluasi untuk menentukan konsep yang bisa digunakan dalam pengembangan Museum Balla Lompoa Sungguminasa ke depannya. Penelitian ini menggunakan teknik survei dan observasi, dengan metode deskriptif dan penalaran induktif.
Perbandingan Morfologi Nisan Arca pada Kompleks Makam Islam di Wilayah Etnik Makassar Nurul Adliyah Purnamasari; Makmur Makmur
WalennaE Vol 19 No 2 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v19i2.508

Abstract

Nisan arca merupakan tipe nisan yang memiliki bentuk menyerupai manusia. Nisan arca adalah bentuk kontinuitas dari sebuah produk budaya yang dikenal dengan sebutan arca megalitik, yang bertransformasi menjadi nisan arca pada masa peradaban Islam di Sulawesi Selatan. Penelitian ini sendiri dilakukan sebagai upaya untuk menelusuri nisan arca pada wilayah Etnik Makassar yang ditemukan pada delapan kompleks makam Islam yang tersebar di Kabupaten Bantaeng, Jeneponto dan Maros. Metode yang digunakan yaitu metode desk study yaitu penelusuran data awal terkait nisan arca di wilayah Etnik Makassar, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data lapangan. Setelah seluruh data terkumpul dilakukan proses analisis. Tahapan analisis dilakukan dengan proses klasifikasi data terhadap seluruh nisan arca untuk menentukan morfologi masing-masing. Sehingga diperoleh informasi bahwa nisan arca di wilayah Etnik Makassar terdiri atas beberapa variasi bentuk yang berbeda. Variasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu perbedaan kondisi etnografi, lingkungan dan sistem pengetahuan masyarakat setempat, serta periode pembuatan nisan arca itu sendiri.    Statue tombstones are a type of tombstones that resemble human beings. Statue tombstones are a form of the continuity of cultural products known as megalithic statues, which were transformed into statue tombstones during the Islamic era in South Sulawesi. This research was conducted to investigate the statue tombstones found in eight Islamic tomb complexes in Makassar Ethnic Areas in Bantaeng Regency, Jeneponto Regency, and Maros Regency. The desk study method was used to explore preliminary data related to the statue tombstones found in Makassar Ethnic Areas. Then, field data collection was carried out. The analysis process was carried out after all the required data had been collected. The analysis was carried out by classifying the data on the statue tombstones to determine their morphological features. Results of the analysis show that the statue tombstones have varied forms. The variety was influenced by several factors, namely the ethnographic conditions, environments and knowledge systems of the local communities, and the periods in which the statue tombstones were made.
KRONOLOGIS DAN IDENTITAS BUDAYA DALAM PENGGUNAAN NISAN ARCA PADA KOMPLEKS MAKAM ISLAM DI WILAYAH ETNIK MAKASSAR Nurul Adliyah Purnamasari
Naditira Widya Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v16i1.478

Abstract

Nisan arca adalah salah satu produk budaya material dari masa Islam di wilayah administratif Sulawesi Selatan. Nisan arca di kawasan etnik Makassar, yang berada di Kabupaten Bantaeng, Jeneponto dan Maros, menunjukkan morfologi dan ciri antropomorfik yang berbeda satu sama lain. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah periode penggunaan dan kandungan maknanya. Penelitian ini ditujukan untuk memahami makna yang dikandung oleh nisan arca, dengan menjawab permasalahan-permasalahan mengenai kronologi nisan arca di Kawasan etnik Makassar dan identitas budaya Makassar. Data penelitian ini dilandasi oleh hasil analisis morfologi nisan dari penelitian terdahulu, kemudian pada penelitian ini dilanjutkan dengan analisis historis dan etnografis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan nisan arca dilatarbelakangi oleh tradisi pra-Islam yang masih terpelihara di tengah-tengah masyarakat Makassar, yang dalam perkembangannya mengalami pembauran dengan budaya Islam yang hadir pada periode selanjutnya. Nisan arca budaya Makassar mengandung simbol-simbol budaya sebagai identitas bagi masyarakat penggunanya, yaitu kebangsawanan atau stratifikasi sosial, religiusitas, pengharapan, penghormatan dan kebanggaan, serta intelektualitas. An effigy gravestone is one among the products of material culture from the Islamic period in the administrative area of ​​South Sulawesi. The effigy gravestone in the Makassar ethnic regions of Bantaeng, Jeneponto, and Maros, present different morphological and anthropomorphic characteristics from one another. This difference is influenced by several factors, including the period of use and significance. This study aims to understand the significance of effigy gravestones by recognising the chronology of the gravestones in the Makassar ethnic regions, and within the Makassar cultural identity. The data of this study are based on the results of the morphological analysis of the gravestones from previous studies, and this research is continued with historical and ethnographic analysis. The results of this study indicate that the existence of the effigy gravestones is motivated by pre-Islamic traditions that are still preserved in Makassar society, which in its development experienced assimilation with the Islamic culture that was present in the later period. The Makassar effigy gravestones contain cultural symbols as identities of the people who use them, i.e. nobility or social stratification, religiosity, hope, respect and pride, and intellect.
TOMBSTONES OF BUGIS BONE: THE ENCOUNTERING BETWEEN LOCAL CULTURE AND ISLAM Makmur Makmur; Nurul Adliyah Purnamasari; Hasanuddin; Muhammad Ramli; Muhlis Hadrawi; Bernadeta Apriastuti Kuswarini Wardaninggar; Ade Sahroni
WalennaE Vol 20 No 2 (2022)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v20i2.713

Abstract

Tombstone as a grave sign in acculturation between Islam dan Bugis Ethnic, is not only function as grave sign, but is also a medium for expressing culture. This research was carried out in Kabupaten Bone in 2021 with the aim of Bugis’ tombstone and cross-cultural on aspects of tombstone remains, in order to strengthen the value of diversity and pluralism of the Nation. The method used is qualitative research with the primary data source, namely archaeological data of ancient tombs. Archaeological data collection techniques are carried out by field surveys, which include the process of observing, classifying, describing in detail, measuring and shooting the findings in the form of Islamic tomb buildings. The results of the study found that the flattened tombstones typical of Bone which are conical / tapered consist of various shapes, there are mountains, trees, swords, and spearheads. The successful penetration of Islam was able to divert various local rituals and traditions into the Islamic burial system. Islam did not immediately blame various animistic practices and dynamism on the local Bugis Bone community, but was gently transferred in the form of a symbol system on the tombstones.     Nisan sebagai tanda kubur dalam Islam pada saat bertemu dengan etnis Bugis, tidak hanya sebatas sebagai tanda kubur, tetapi juga merupakan media untuk mengekspresikan kebudayaan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bone pada Tahun 2021 dengan tujuan untuk menemukan nisan khas Bugis dan silang budaya pada aspek tinggalan batu nisan, guna memperkukuh nilai kebinekaan dan pluralisme Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data primer yang digunakan yakni data arkeologi berupa nisan kuno. Teknik pengumpulan data arkeologi dilakukan dengan survei lapangan, yang didalamnya meliputi proses pengamatan, pengklasifikasian, pengambaran secara detail, pengukuran dan proses pemotretan temuan berupa bangunan makam Islam. Hasil penelitian menemukan bahwa nisan tipe pipih khas Bone yang berbentuk mengerucut/meruncing terdiri atas berbagai variasi bentuk, ada yang berupa gunung, pohon, pedang dan mata tombak. Keberhasilan penetrasi agama Islam mampu mengalihkan berbagai ritual dan tradisi lokal ke dalam sistem pemakaman Islam. Islam hadir tidak langsung menghilangkan berbagai praktek animisme dan dinamisme pada masyarakat lokal Bugis Bone, tetapi secara lembut dialihkan dalam bentuk sistem simbol pada nisan-nisan.
Identitas Kerajaan Gowa Berdasarkan Koleksi Museum Balla Lompoa Sungguminasa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan Nurul Adliyah Purnamasari; Dwi Sumaiyyah Makmur
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 7 No. 2 (2022)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v7i2.3182

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung pada seluruh koleksi di Museum Balla Lompa Sungguminasa sebagai sebuah identitas bagi Kerajaan Gowa pada masa lampau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan beberapa tahap yaitu studi pustaka berupa penelusuran sumber-sumber tertulis, dilanjutkan dengan observasi lapangan yang mencakup proses pencatatan atau pendeskripsian koleksi, serta dilengkapi dengan data hasil pemotretan. Seluruh data koleksi dianalisis untuk melihat atribut penting yang mampu merepresentasikan identitas sejarah dan budaya Kerajaan Gowa pada masa lampau. Identitas yang dimaksud adalah ciri khas dan karakter khusus yang membedakan Kerajaan Gowa dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan. Melalui penelitian ini, diketahui bahwa koleksi di Museum Balla Lompoa Sungguminasa merepresentasikan identitas Kerajaan Gowa yang tercermin melalui nilai-nilai kemaritiman, kejayaan, etnisitas, religiositas, dan perjuangan.