Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS PENGEMBANGAN KLASTER HORTIKULTURA DI KABUPATEN NGAWI Nurul Istiqomah; Nunung Sri Mulyani; Izza Mafruhah; Dewi Ismoyowati
JURNAL LITBANG PROVINSI JAWA TENGAH Vol 16 No 1 (2018): Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai negara agraris mempunyai potensi untuk bersaing pada pasar pertanian di pasar internasional, sejalan dengan adanya Pasar Bebas ASEAN/ ASEAN Free Trade Area (AFTA). Kabupaten Ngawi termasuk daerah yang subur dan merupakan salah satu daerah penyangga sektor pertanian di Jawa Timur. Komoditas hortikultura merupakan salah satu sumber utama pada di sektor pertanian, karena mempunyai potensi yang tinggi dan bisa menyumbang pada perekonomian suatu daerah. Komoditas hortikultura yang berupa buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan salah sumber pangan penting untuk memenuhi kebutuhan gizi dari masyarakat. Pertanian dengan fokus pada tanaman hortikultura di Kabupaten Ngawi dikembangkan dengan sistem cluster berdasarkan tingkat kemajuan, luas panenan serta dengan mempertimbangkan agroklimat untuk memetakan komoditas hortikultura unggulan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah memetakan kondisi pertanian hortikultura serta menganalisis permasalahan pada kluster tanaman hortikultura di Kabupaten Ngawi. Metode penelitian adalah mixed method yaitu penggabungan antara kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan analisis Location Quotient, Geographic Information System (GIS), dan Analysis Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian ini adalah Potensi pengembangan kluster hortikultura di Kabupaten Ngawi diperlukan upaya penataan dan pengembangan lokasi komoditas basis sesuai dengan kondisi agroekosistem. Pengembangan komoditas yang ada ada pada titik-titik basis tersebut akan menjadikan komoditas tersebut menjadi unggulan dan penunjang terciptanya sentra kluster holtikultura serta pengembangan agribisnis yang ada di suatu daerah. Pengembangan komoditas basis hortikultura untuk sayuran semusim dan buah-buahan bisa disesuaikan dengan hasil LQ untuk masing-masing kecamatan di Kabupaten Ngawi. Hasil Indepth interview yang diolah dengan menggunakan AHP memperoleh hasil bahwa ternyata terdapat tiga faktor utama dalam pengembangan kluster yaitu produksi yang terdiri atas empat faktor turunan yaitu riset dan pengembangan, bibit unggul, pupuk dan obat anti hama kemudian pemasaran dengan faktor turunannya yaitu standarisasi produk, packaging, pasar tradisional dan pasar modern. Kemudian faktor yang ketiga kelembagaan yang terdiri atas pelatihan, pengembangan jejaring, dukungan pemerintah dan pendampingan.
Development of Ecotourism based on Community Empowerment (a Case Study of Kebumen Regency) Izza Mafruhah; Nunung Sri Mulyani; Nurul Istiqomah; Dewi Ismoyowati
Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Vol 19, No 2 (2018): JEP 2018
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jep.v19i2.6996

Abstract

The main objective of this research is to formulate a participatory and inclusive model of economic development by optimizing the potential of local resources in Kebumen regency, Central Java, Indonesia by 1) identifying local resource-based economic potentials to be developed into pilot projects in regional development, 2) analyzing factors affecting the success of potential development, 3) analyzing the needs that influence the increase of community and stakeholders participation in regional development activities. This study uses Geographic Information System to map economic potential, Analytical Hierarchy Process to analyze factors that influence community participation, and ATLAS.ti to analyze needs and activities in developing leading sectors. The analysis shows that the economic potential in Kebumen district is focused on the potential of natural resources which include forestry, agriculture, fisheries, plantations and livestock. The regional development needs to be carried out thoroughly from upstream to downstream. AHP analysis shows that the factors that influence the success of potential development are internal, institutional and external factors. Needs analysis shows that the community holds an important role but must be supported by other stakeholders, namely the government, business actors and academics.This study recommends upstream-downstream development through nature-based ecotourism. The upstream sector that must be prepared is natural conservation combined with access to accessibility. The concept of back-to-nature developed in ecotourism must be supported by the provision of facilities and infrastructure that allows visitors to reach and enjoy the nature's beauty. In the downstream sector, tourism support services such as culinary and souvenir typical of Kebumen regency become an important part and need to involve all elements of community, especially those around the tourism destinations.
Pengembangan Batik Bermotif Local Wisdom Dalam Upaya Peningkatan Pendapatan Masyarakat di Kabupaten Ngawi Nurul Istiqomah; Izza Mafruhah; Nunung Sri Mulyani; Dewi Ismoyowati; Kresno Sarosa Pribadi
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 4 NOMOR 1 MARET 2020 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.489 KB) | DOI: 10.30595/jppm.v0i0.3973

Abstract

Batik merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO. Maka tiap daerah dipacu untuk mengembangkan batik sesuai dengan kearifan lokal dan keunikan budayanya. Ngawi belum mempunyai batik dengan ciri khas, sehingga agak sulit untuk membedakan batik produksi Ngawi atau daerah di sekitarnya seperti batik dari Sragen atau Magetan. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan batik dengan ciri khas Ngawi berdasarkan kekayaanlokal serta warisan budaya sehingga akan menarik dan mendorong peningkatan permintaan pasar serta pendapatan masyarakat khususnya UMKM yang bergerak di bidang Batik. Pengabdian ini dilaksanakan di Ngawi dan bertujuan :1) Menggali motif khas batik Ngawi dengan memperhatikan kekayaan alam dan budaya 2). Mengenalkan model baru produkdi batik yang mengkolaborasikan antara batik tulis dan print dengan metode malam dingin3) meningkatkan pemasaran dengan pembuatan web dan instragram batik Ngawi. Metode yang digunakan pada pengabdian ini adalah : 1). Focus Group Discussion dengan beberapa stakeholder mengenai kekayaan budaya, sejarah dan alam di Ngawi yang melibatkan pelaku UMKM batik sehingga bisa memberikan konsep mengenai motif batik yang lebih bisa diterima oleh masyarakat luas, dan 2). Pelatihan, mendemonstrasikan membatik dengan teknik malam dingin kepada mitra UKM batik supaya pengetahuannya semakin bertambah dan mempersingkat proses membatik. Hasil dari pengabdian ini adalah diperolehnya desain motif batik khas  Ngawi dengan berdasarkan ada kekayaan alam dan budaya yang ada di Ngawi yaitu motif Benteng Van Den Bosch/ Benteng Pendem yang dikolaborasikan dengan motif pohon bambu, daun jati serta motif Trinil yang merupakan salah satu aset terbesar di Ngawi, serta motif Waduk Pondok yang merupakan slah satu kekayaan ekologi yang dimiliki Ngawi. UKM mitra pengabdian juga mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan terbaru dalam proses membatik dengan menggunakan metode malam dingin, yang proses pembatikkannya menjadi lebih cepat karena membutuhkan waktu ± 2 motif untuk proses pembuatan motif sehingga menghemat ongkos produksi. Screen batik yang digunakan dalam proses membatik dengan malam dingin bisa digunakan sampai dengan 1.000 lembar batik. Meningkatnya pemasaran batik ngawi dengan media online.
Implementation of Reuse and Recycle Models as an Effort to Fulfill Fish Feed for Fisherman’s Cage in Kedung Ombo Dewi Ismoyowati; Izza Mafruhah; Nurul Istiqomah; Nunung Sri Mulyani
Journal of Innovation and Community Engagement Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Faculty of Smart Technology and Engineering, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/ice.v4i1.5586

Abstract

The purpose of this service is the development of the fishery sector by utilizing the remaining production (reuse and recycle) as an effort to preserve the environment and increase the circular economy. These objectives are derived in specific objectives: 1) Development of processed fish food to fulfill the needs of independent fish feed; and 2) Making fish feed based on local potential and recycling fish processing residue. The service uses training and mentoring methods. The training is expected to provide skills to the community, especially in the manufacture of fish feed made from leftovers. The training was continued with mentoring by involving elements of students on an ongoing basis. Another method used is Focus Group Discussion (FGD). The result of this service is the growing independence of aquaculture fishermen and empowerment in improving their welfare.