Firman Syah
Program Studi MICE – Jurusan Administrasi Niaga – Politeknik Negeri Jakarta Jalan Prof. DR. G.A. Siwabessy, Kampus Universitas Indonesia Depok 16425

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : EPIGRAM (e-journal)

STRATEGI PENGEMBANGAN PRODUK DAN PELAYANAN UNTUK MENINGKATKAN NIAT BERKUNJUNGWISATAWAN KE MUSEUM NASIONAL DKI JAKARTA Firman Syah
Epigram Vol 15 No 1 (2018)
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.604 KB) | DOI: 10.32722/epi.v15i1.1217

Abstract

AbstractStrategy of development directing tourism growth toward local needs, interests, and limits can greatly enhance tourism value to the community and help create a sustainable industry. The long-term sustainability of tourism rests on the ability of community leaders and tourism professionals to maximize its benefits and minimize its costs.This study uses a qualitative kind of explanation to identify prospective business National Museum. The results show the diversity of products is a collection that can be shown to tourists. Services for tourists as security every corner of the room, adequate facilities, and service pre-wedding. However, the parking lot is cramped and the toilets and prayer is still minimal then it must be upgraded to meet the needs of travelers.The development strategy implemented through creativity, like dioramas that make it easier for tourists information and voice record as a substitute for tourist guides. If the development of damning it can apply CSR to companies at home and abroad for the betterment of historic culture.Key Word: Tourism, Development Strategy, Product, Service, and Museum NasionalAbstrakStrategi pengembangan destinasi wisata pada dasarnya mengarahkan pertumbuhan pariwisata terhadap kebutuhan lokal, kepentingan, dan batas dapat meningkatkan nilai pariwisata kepada masyarakat dan membantu menciptakan industri yang berkelanjutan. Keberlanjutan jangka panjang dari pariwisata bertumpu pada kemampuan tokoh masyarakat dan profesional pariwisata untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan biaya.Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis eksplanasi untuk mengidentifikasi prospektif bisnis Museum Nasional. Hasil menunjukkan keragaman produk merupakan salah satu kekayaan koleksi yang dapat diperlihatkan kepada wisatawan. Pelayanan yang diberikan kepada wisatawan seperti keamanan di setiap sudut ruangan, fasilitas yang memadai, dan berbagai pilihan produk seperti pre-wedding. Namun, lahan parkir masih tergolong sempit serta toilet dan mushola yang terbilang minim harus ditingkatkan untuk memenuhi harapan wisatawan.Strategi pengembangan dapat dilaksanakan melalui kreativitas, misalnya pembuatan diorama sehingga mudah dimengerti wisatawan dan pengadaan voice record sebagai pengganti pemandu bagi wisatawan asing. Jika pengembangan ini dirasa memberatkan maka Museum Nasional dapat mengajukan anggaran melalui CSR ke perusahaan di dalam maupun luar negeri demi kemajuan kebudayaan yang bernilai sejarah.Kata Kunci: Pariwisata, Strategi Pengembangan, Produk, Pelayanan, dan Museum Nasional
STRATEGI PEMASARAN HOTEL KOLLEKTIV BANDUNG PADA MASA PANDEMI COVID-19 Tuty Herawati; Heri Setyawan; Firman Syah
EPIGRAM (e-journal) Vol 19 No 1 (2022): Epigram Volume 19 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32722/epi.v19i1.4329

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan solusi bagi hotel dengan merancang strategi pemasaran hotel selama masa pandemi covid-19. Seperti yang kita ketahui, pandemi covid-19 melanda dunia usaha khususnya pada hunian hotel. Penurunan tajam penjualan kamar hotel di masa pandemi juga akan mengubah strategi hotel. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Melakukan wawancara dengan manajemen hotel untuk mengetahui bagaimana hotel Kollektiv menyesuaikan strategi pemasarannya, sesuai dengan perubahan lingkungan yang terjadi selama pandemi covid-19, dan untuk mengetahui data review hotel dengan mengakses web hotel kolektiv. Hasil kajian menyebutkan hotel kolektiv selama pandemi tetap buka meski tingkat huniannya hanya 20%. Hotel Kollektiv memiliki keunggulan desain yang unik, hijau, instagrammable, clean room, dan memiliki outdoor dining room. Selain itu memiliki keramahan yang unggul dan meraih penghargaan kebersihan terbaik dari Traveloka pada tahun 2019. Kekurangannya, tidak memiliki Business Model dan tidak bersertifikat CHSE. Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan Model Bisnis Kanvas, serta menambahkan strategi untuk menarik karyawan yang bekerja dari rumah ke bekerja dari hotel untuk menggunakan hotel sebagai tempat yang nyaman untuk bekerja dan harus meluncurkan layanan baru yaitu kerja keras bermain keras program dengan mengemas paket kombinasi WFH dan wisata. Hal ini membutuhkan kerjasama dengan pemerintah daerah dan pengelola destinasi.
PEMETAAN DESTINASI MICE DI KOTA DEPOK Firman Syah; Tuty Herawati
EPIGRAM (e-journal) Vol 19 No 2 (2022): Epigram Volume 19 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32722/epi.v19i2.4877

Abstract

The purpose of this study is to map destinations in the field of Meeting, Incentive Travel, Conference, and Exhibition (MICE) in Depok City. As one of the cities directly adjacent to DKI Jakarta, Depok City can be an alternative for industry players in the MICE field. The diverse and scattered tourism potential in Depok City, especially the MICE industry, is able to develop even better. The research method used is qualitative to understand the phenomenon of MICE destinations in Depok City as a whole. The results of the research explain that Setu Tujuh Muara, training center building Kemendikbud, Balai Thirta Building, Depok City Square, Balai Rakyat, Studio Alam TVRI, Merpati Stadium, D'Kandang Amazing Farm, Setu 7 Muara, Pondok Zidane, Pine Forest, Wiladatika Recreational Park, Kampung 99, the Kubah Mas Mosque, F. Widiyanto Gallery, and Kabeda House can be MICE destinations. Meanwhile, like Taman Gurame and several setu scattered in Depok City, they have potential as MICE destinations. To develop MICE destinations, the Depok City government needs to cooperate in pentahelix.