Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Manfaat Probiotik dalam Perawatan Kulit : Review Elasari Dwi Pratiwi; Susanti Susanti
Majalah Farmasetika Vol 6, No 4 (2021): Vol. 6, No. 4, Tahun 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v6i4.35690

Abstract

Probiotik sebagai mikroorganisme hidup dalam jumlah tertentu mampu memberikan manfaat kesehatan pada kulit. Penggunaan probiotik di beberapa negara Asia berkembang pesat, mulai dari penggunaan probiotik dalam industri pangan hingga industri kosmetik. Studi klinis terbaru melaporkan bahwa probiotik mampu mengobati eksim atopik, dermatitis atopik, menyembuhkan luka bakar, menghilangkan bekas luka, mengobati jerawat, mencegah penuaan dini, dan meregenerasi kulit. Artikel ini bertujuan untuk membahas manfaat probiotik pada kulit sehingga dapat dikembangkan sebagai zat aktif pada produk kosmetik. Metode yang digunakan dalam penyusunan artikel yaitu study literatur berbagai jurnal internasioanal yang diakses dari situs Google Scholar dan ScienceDirect. Hasil review artikel menunjukkan probiotik yang paling banyak digunakan dalam produk kosmetik yaitu Enterococcus, Lactobacillus, dan Bifidobacterium. Probiotik memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antijerawat, antioksidan, mencegah kerusakan kulit akibat radiasi UV, menurunkan sensitivitas kulit, mengurangi ketombe dan mampu menghasilkan asam hialuronat untuk meningkatkan kelembaban kulit dan mengurangi munculnya garis-garis halus dan kerutan. Dari review artikel ini dapat disimpulkan bahwa probiotik dapat digunakan sebagai ingredients pada produk kosmetik.
Aktivitas Biologi dan Aplikasi Biomedis dari Aphanothece sacrum : Review ELASARI DWI PRATIWI; Nasrul Wathoni
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.15 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12476

Abstract

Aphanothece sacrum merupakan tanaman “hijau” yang berasal dari Jepang, yang dibudidayakan di sungai Kogane, Prefukor Fukuoka (Jepang Selatan) dan dilindungi secara hukum di habitat aslinya di Prefukor Kumamoto. Sacran adalah polisakarida molekuler alami yang diekstrak dari alga Aphanothece sacrum, yang mengandung gugus anionik seperti karboksilat dan sulfonat yang sangat tinggi (32 mol % dari total gula Unit), berat molekul yang sangat tinggi  (BM 1,6 x 107), dan memiliki ukuran sangat panjang (lebih dari 8 µm). Beberapa penelitian mengungkapkan aktivitas bilogi dari Aphanothece sacrum diantaranya yaitu sebagai anti inflamasi, mempercepat proses penyembuhan luka, dan dapat digunakan dalam pengiriman obat-obatan yang diberikan secara topikal
Formulasi dan Karakterisasi Fisik Hand and Body Lotion Ekstrak Buah Alpukat (Persea America Milly) Elasari Dwi Pratiwi
Surya : Jurnal Media Komunikasi Ilmu Kesehatan Vol 13, No 2 (2021): Jurnal Surya, Vol. 13, No. 02, Agustus 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38040/js.v12i2.270

Abstract

Background:   Buah alpukat banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai toping atau bahan utama makanan. Kombinasi Antioksidan, vitamin A dan vitamin C tersebut perlu diaplikasikan ke dalam bentuk sediaan farmasi untuk meningkatkan estetika dan kemudahan dalam penggunaan. Salah satu system pengahantaran obat topikal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini adalah bentuk sediaan hand and body lotion. Tujuan penelitian ini yaitu ingin mengetahui konsentrasi ekstrak buah alpukat terhadap karakteristik fisik hand and body lotion. Dua formula hand and body lotion dibuat berdasarkan variasi konsentrasi zat aktif pada konsentrasi 3,7% dan 7,4%. Karakterisasi fisika sediaan meliputi uji organolpetis, uji homogenitas, uji pH dan uji hedonik. Objectives: Buah alpukat yang diperoleh di Desa Sugio Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan.Design: Data hasil parameter organoleptis, homogenitas, pH dan uji hedonik dianalisis secara deskriptif.Results: Data penelian yang diperoleh yaitu pada uji organoleptis yaitu mempunyai warna kekuningan, aroma khas buah alpukat dan kosistensi kental. Pada uji homogen, F1 dan F2 menghasilkan sediaan yang homogen. Pada uji pH, nilai F1 dan F2 yaitu 5,96 dan 5,75. Dan pada uji hedonik, responden lebih menyukai F1 dibandingkan F2.Conclusions:   Hasil penelitian menunjukkan bahwa F1 dan F2 dengan konsentrasi buah alpukat 3,7% dan 7,4% merupakan formula optimum sebagai hand body and lotion
Screening of Phytochemical Secondary Metabolites of Muntingia Calabura: a Potential as Hepatoprotector Elasari Dwi Pratiwi; Niluh Puspita Dewi
Journal of Fundamental and Applied Pharmaceutical Science Vol 2, No 2 (2022): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jfaps.v2i2.12364

Abstract

Muntingia calabura is one of the plants employed to produce herbal-based treatments. Muntingia calabura leaves are traditionally used as an alternative medicine due to their secondary metabolites. The maceration method extracted Muntingia calabura leaves using 96% ethanol solvent for 3 x 24 hours. The fractionation process was carried out using a separating funnel method with different polarities, such as n-hexane, ethyl acetate, and ethanol-water. Thin-layer chromatography (TLC) was used to confirm the phytochemical screening. TLC conditions under UV light 254 and 366 nm using solvents, such as chloroform: methanol (alkaloids), butanol: acetic acid: water (flavonoids), chloroform:methanol: water (saponins), and chloroform: methanol (phenolic). The phytochemical screening results of extracts and Muntingia calabura fractions contained secondary metabolites, such as alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and phenolics. TLC results showed that n-hexane fraction contained flavonoid and saponin compounds; ethyl acetate fraction contained alkaloids, flavonoids, saponins and phenolic compounds; and ethanol-water fraction contained alkaloids, flavonoids, saponins, and phenolics. Muntingia calabura leaves indicated the potential as herbal medicine by containing secondary metabolites.
Pelatihan Hand Sanitizer Ekstrak Daun Sirih Dan Jeruk Nipis Sebagai Antisipasi Penularan Covid-19 Mutasi Varian Omicron Devi Ristian Octavia; Elasari Dwi Pratiwi; Djati Wulan Kusumo; Irma Susanti; Salma Nur Azizah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 5 (2022): Volume 5 No 5 Mei 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i5.5763

Abstract

ABSTRAK Munculnya varian baru Covid-19 menyebabkan kekhawatiran utama karena varian Omicron ini lebih menular dibandingkan dengan varian lainnya. Upaya yang dapat dilakukan untuk memutus mata rantai infeksi Covid-19 melalui langkah pencegahan, salah satunya adalah penggunaan handsanitizer. Permasalahan yang dihadapi oleh mitra dalam pengabdian masyarakat ini adalah lokasi desa yang jauh dari fasilitas kesehatan dan susah mendapatkan handsanitizer. Selain itu masyarakat Desa Kuluran kecamatan Kalitengah belum memahami bahwa handsanitizer dapat dibuat dari bahan alami yaitu daun sirih dan jeruk nipis sehingga pada pengabbdian masyarakat ini memberdayakan masyarakat utuk membuat handsanitizer dengan bahan alami. Metode yang digunakan pada pengabdian masyarakat ini berupa partisipasi masyarakat dengan indikator kesertaan masyarakat dalam kegiatan melalui sosialisasi dan pelatihan. Kegiatan dilaksanakan lima tahap yaitu; identifikasi masalah dan potensi desa, analisis kebutuhan mitra, penyusunan program bersama, sosialisasi dengan metode diskusi kelompok tentang pembuatan Handsanitizer ekstrak daun sirih dan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan handsanitizer alami. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Desa Kuluran Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan pada bulan Desember 2021 yang dihadiri oleh 25 orang yang tergabung dalam kelompok asuhan mandiri TOGA. Hasil akhir dari pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat dalam membuat handsanitizer secara mandiri tergolong dalam kategori baik yaitu >75% mampu membuat handsanitizer sesuai prosedur. Dengan adanya penyuluhan pembuatan hand sanitizer dari bahan alam sebagai bahan baku diharapkan masyarakat bisa memanfaatkan bahan disekitarnya untuk mencegah dan menanggulangi Covid-19. Kata Kunci: Covid-19; Daun Sirih; Hand Sanitizer ABSTRACT A new variant of Covid-19 caused a major emergence because this Omicron variant is more contagious than other variants. Efforts that can be made to break the chain of Covid-19 infection through preventive measures, one of which is the use of hand sanitizer. The problem faced by partners in community service is the location of the village which is far from health facilities and it is difficult to get hand sanitizer. In addition, the people of Kuluran Village, Kalitengah sub-district do not understand that hand sanitizer can be made from natural ingredients, namely betel leaf and lime so that this community service empowers the community to make hand sanitizer with natural ingredients. The method used in this community service is in the form of community participation with indicators of community participation in activities through socialization and training. Activities carried out in five stages; knowing the problems and potential of the village, training on partner needs analysis, joint program preparation, socialization with the group discussion method on making betel leaf extract Handsanitizer and continued with making natural hand sanitizer. This community service activity was carried out in Kuluran Village, Kalitengah Subdistrict, Lamongan Regency in December 2021 which was attended by 25 people who are members of the TOGA group. The final result of this community service shows that the community's ability to make hand sanitizer independently belongs to the good category, namely >75% able to make hand sanitizer according to the procedure. With counseling on the manufacture of hand sanitizers from natural ingredients as raw materials, it is hoped that the community can use the surrounding materials to prevent and cope with Covid-19. Keywords : Covid-19; betel leaf ; Hand Sanitizer
FORMULASI DAN EVALUASI KRIM EKSTRAK ETANOL BERAS MERAH (ORYZA NIVARA L.) Nadif Tuzairoh; Djati Wulan Kusumo; Elasari Dwi Pratiwi
Jurnal Farmagazine Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v9i2.563

Abstract

Antiaging adalah sediaan untuk menghambat proses degeneratif dan timbulnya tanda penuaan kulit. Beras merah (Oryza Nivara L.) memiliki kandungan antosianin yang bertindak sebagai antioksidan alami efektif untuk mencegah penuaan dini. Tujuan penelitian, untuk memformulasikan ekstrak beras merah dalam bentuk sediaan krim dengan variasi konsentrasi 2,5%, 5% dan 10% dan kemudian dilakukan evaluasi fisik krim yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, viskositas. Uji organoleptis (bau khas oleum rosae, tekstur semi padat, warna F0 putih, F1 putih sedikit kemerahan, F2 merah muda dan F3 merah muda matang), hasil homogenitas menunjukkan sediaan homogen. Hasil uji daya sebar pada F0 6,73±0,25; F1 6,93±0,12; F2 6,10±0,36; F3 6,53±0,50 menunjukkan bahwa F2 berbeda nyata dengan F1. Hasil uji pH pada F0 7,64±0,12; F1 7,23±0,03; F2 7,18±0,02; F3 7,22±0,01 menunjukkan F1, F2, F3 berbeda nyata dengan F0. Hasil uji viskositas pada F0 2760±91,65 cP; F1 2.747±23,09 cP; F2 2.853±50,33 cP; F3 2.880±87,18 Cp menunjukkan semua formula tidak ada yang berbeda nyata. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak beras merah dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan krim dan memenuhi persyaratan evaluasi karakteristik fisik krim. Dari analisis data uji daya sebar, pH, dan viskositas, formula terbaik adalah F1.
Pengembangan Probiotik Sebagai Krim Anti Aging Dalam Perawatan Kulit : Studi In Vivo Elasari Dwi Pratiwi; Susanti Susanti
Majalah Farmasetika Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i2.42453

Abstract

Penuaan kulit dapat disebabkan oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik, seperti paparan radiasi ultraviolet (UV) yang secara terus-menerus sehingga dapat merusak kulit manusia. Sediaan topikal paling sering digunakan dalam melindungi kulit dari paparan sinar UV yaitu tabir surya, namun penambahan zat kimia kedalam sediaan krim tabir surya dapat menyebabkan terjadinya efek samping. Penggunaan probiotik telah berkembang pesat dibeberapa negara baik sebagai produk pangan hingga produk kecantikan. Penelitian tentang probiotik sebagai agen terapi dalam perawatan kulit masih sangat minim dilakukan, maka dalam penelitian ini akan dibuat formulasi probiotik dalam sediaan krim serta dilkaukan uji karakteristik dan efektivitasnya secara in vivo dengan menggunakan model hewan mencit yang dipaparkan sinar UV. Penelitian terdiri dari pembuatan formula krim probiotik dengan konsentrasi 1 ml (F1), 2 ml (F2), dan 4 ml (F3) dengan tipe emulsi air dalam minyak dan dilanjutkan dengan evaluasi terhadap karakteristik fisik. Selanjutnya dilakukan pengujian secara in vivo untuk mengetahui efektivitas krim probiotik terhadap perbaikan kerutan dan kelembaban kulit mencit yang terpapar sinar UV. Hasil karakteristik krim probiotik menegaskan bahwa krim probiotik F1, F2 dan F3 memiliki bentuk semi padat dengan tipe emulis air dalam minyak (A/M), daya sebar, pH dan viskositas yang siginifikan terhadap basis. Selanjutnya hasil pengujian in vivo menunjukkan bahwa secara visual krim probiotik F1, F2 dan F3 mampu menghilangkan kerutan atau garis-garis halus dan meningkatkan kelembaban kulit mencit yang terpapar sinar UV. Dengan demikian, probiotik memiliki potensi sebagai agen terapi dalam perawatan kuit.
Comparison of Continuous Percolation and Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) Methods on Total Phenolic Content of 70% Ethanol Extract of Purslane (Portulaca oleracea L.) Aditya Sindu Sakti; Fransisca Dita Mayangsari; Sri Bintang Sahara Mahaputra Kusuma Negara; Elasari Dwi Pratiwi; Sandrawati
Jurnal FARMASIMED (JFM) Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Farmasimed (JFM)
Publisher : Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/dxzsgc71

Abstract

Background: Portulaca oleracea L., commonly known as Krokot, is rich in phenolic compounds with notable pharmacological benefits. Optimizing extraction methods is critical to maximize its bioactive potential. Objective: This study aimed to compare the efficiency of Continuous Percolation (CP) and Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) in obtaining total phenolic content (TPC) from 70% ethanol extract of P. oleracea. Methods: Dried powdered P. oleracea was subjected to CP and UAE using a 1:10 (w/v) plant-to-solvent ratio. Qualitative screening with FeCl₃ confirmed the presence of phenolics. TPC was quantified using the Folin–Ciocalteu method, expressed as mg gallic acid equivalent (GAE)/g extract. Statistical analysis included normality testing, Levene’s test, and the Mann–Whitney U test. Results: UAE yielded significantly higher TPC (420.04 ± 0.40 mg GAE/g) compared to CP (354.30 ± 0.00 mg GAE/g; p = 0.034), although CP produced a higher extract mass. Statistical results confirmed the superiority of UAE in selectively extracting phenolic constituents. Conclusion: UAE is more effective than CP in extracting phenolic compounds from P. oleracea, likely due to enhanced cavitation-induced mass transfer. This method is recommended for maximizing phenolic recovery in plant-based extractions, especially for thermolabile compounds.
Pengembangan Serum Anti Jerawat Kombinasi Tea Tree Oil dan Lysate Lactobacillus plantarum : Evaluasi Karakteristik Fisik dan Aktivitas Antibakteri Elasari Dwi Pratiwi; Alfina Damayanti; Djati Wulan Kusumo
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 7, No 2 (2026): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v7i2.39862

Abstract

Jerawat masih menjadi keluhan kulit yang banyak dialami oleh masyarakat, terutama disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Tea Tree Oil dan lysate Lactobacillus plantarum memiliki kemampuan antibakteri terhadap berbagai jenis bakteri patogen, termasuk S. aureus. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi karakteristik fisik dan aktivitas antibakteri dari sediaan serum yang mengandung kombinasi Tea Tree Oil dan lysate Lactobacillus Plantarum. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan 4 formula serum F0 (0% : 1%),F1 (1% : 1%),F2 (2,5% : 1%). Evaluasi karakteristik fisik melalui pengujian organoleptis, pH, viskositas, daya sebar, dan homogenitas. Metode difusi cakram digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri sediaan terhadap bakteri Staphylococcus aureus.Penelitian membuktikan bahwa keempat formula memenuhi karakteristik fisik yang sesuai dengan spesifikasi sediaan topikal. Analisis data pada F1, F2, dan F3, rata rata zona hambat yg dihasilkan yaitu 6,56±0,08 mm; 9,06±0,08 mm; 12,60±0,46 mm, artinya semakin tinggi konsentrasi Tea Tree Oil yang digunakan, aktivitas antibakteri yang dihasilkan juga semakin besar. Formula F3 dengan kandungan Tea Tree Oil 5% menunjukkan daerah hambatan yang tertinggi yaitu 12,60mm terhadap pertumbuhan S. aureus dan tergolong dalam aktivitas kuat.
Pengaruh Faktor Risiko terhadap Efek Samping Hipotensi Ortostatik pada Pasien Hipertensi dengan Komorbid Diabetes Mellitus Primanitha Ria Utami; Elasari Dwi Pratiwi; Danur Sukma Ayuning Tiyas
Sinteza Vol. 6 No. 1 (2026): February
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sinteza.v6i1.31990

Abstract

Orthostatic hypotension is a common side effect of antihypertensive therapy that can lead to serious outcomes such as falls, injuries, and death. The risk increases in patients with comorbidities like diabetes mellitus, which affect autonomic regulation and often require multiple medications (polypharmacy). This study aimed to assess the influence of risk factors gender, age, duration of use, body mass index, and polypharmacy on the incidence of orthostatic hypotension in hypertensive patients with comorbidities at the Lamongan District Health Center. Using a cross-sectional design, 78 Prolanis program participants were observed from January to March 2025. Data were collected through direct observation, medical records, and the Naranjo algorithm questionnaire, then analyzed with Spearman Rank correlation. Results showed that most respondents experienced possible (41.03%) to very certain (39.74%) side effects of orthostatic hypotension linked to antihypertensive use. Age (ρ=0.698; p=0.000), gender (ρ=0.308; p=0.006), and polypharmacy (ρ=0.277; p=0.014) were significantly associated with orthostatic hypotension, with age as the strongest factor. Duration of use (ρ=0.122; p=0.287) and body mass index (ρ=−0.006; p=0.961) showed no significant correlation. These findings highlight the need for heightened vigilance in elderly patients and those on multiple medications to prevent orthostatic hypotension. Further studies with larger samples and longer follow-up are recommended. Educating patients on proper medication use is crucial to reduce adverse effects.