Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

POLA PENDIDIKAN HAK ASASI MANUSIA DALAM AL-QUR’AN Muh. Khumaidi Ali; Achmad Abubakar; Muhsin Mahfudz
JUSTITIA : Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora Vol 9, No 2 (2022): JUSTITIA : Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.38 KB) | DOI: 10.31604/justitia.v9i2.751-757

Abstract

The Qur’an is a guide in all aspects of life. Not only for Muslims, but for all mankind, as reflected in the expression of Islam as rahmatan lil ‘alamin. One of the aspects contained in the verses of the Qur’an as a guide is the theme of human rights. Da'wah to raise human awareness about the important meaning of respect for human rights is reflected in the pattern of human rights education in the Qur'an. The definition of the pattern of human rights education in the Qur’an is a number of Qur’anic verses that talk about human rights and how the Qur’an invites people to respect those human rights.
Tafsir Al-Qur’an Berbahasa Bugis (tpEeser akor mbs aogi) Karya AGH. Abd. Muin Yusuf Muhsin Mahfudz
AL-Fikr Vol 15 No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discuss about the method of Qur’anic exegesis (Tafsir) written in local languages. For more focus on it, the article analyzes the method which is used by Anregurutta (an Islamic teacher) H. Abd. Muin Yusuf in his Tafsir, Tafsere Akorang Mabbasa Ogi (Qur’anic Commentary in Bugisnes Language), one of the famous Tafsirs which is written in local languages in South Sulawesi (Bugis-Makassar). It emerges some questions such as, do the local Tafsir has a different method from another Arabic Tafsirs? or is it just the same?. Based on those questions, the article tries to examine, by using the Exegetical Approach, the characteristics of method which is used in the Tafsere. After exploring with the content analysis, it is discovered that the writing style of the Tafsere imitated the style of al-Tafsir al-Wadhih written by Syekh Muhammad Mahmud Hijazi. Nevertheless, Anregurutta gave some modifications based on the other resources. What interesting thing in his work is the decision made by Anregurutta to choose the moderation way in quoting different argumentation of understanding the Qur’an. As a result, the Tafsere gives an impression that every disagreement should be appreciated without tendencies to the certain mazhab (theological/law school). In addition, the Anregurutta unclearly supported to one of or both al-tafsir bi al-ma’tsur (traditional commentary) and al-tafsir bi al-ra’y (rational commentery), even he smoothly compromised them in many places. However, the Tafsere is like an “untouchable treasure” because only a muslim who has master Lontara (Bugis Alphabet) can read it.
Kontrol Diri di Media Sosial Perspektif Pemikiran Hermeneutika Hadis Khaled Abou El-Fadl Muhsin Muhsin; Muhammad Arif
An-Nida' Vol 43, No 1 (2019): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v43i1.12316

Abstract

Artikel ini membahas tentang bagaimana perspektif hadis Nabi saw. mengenai menjaga lisan dan tangan? Lalu dijabarkan dalam sub-sub masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kualitas hadis tentang menjaga lisan dan tangan? 2. Bagaimana kandungan hadis tentang menjaga lisan dan tangan? 3. Bagaimana bentuk pengaplikasian hadis tentang menjaga lisan dan tangan dalam media sosial?. Menyelesaikan permasalahan ini, penulis menggunakan pendekatan hermeneutika dalam memahami hadis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas hadis, kandungan hadis dan bentuk pengaplikasian hadis tentang menjaga lisan dan tangan di dunia medsos. Adapun perkiraan hasil temuan dari penelitian ini adalah persolan menjaga lisan ini tidak hanya didudukkan dalam konteks hukum dan normative. Melainkan melibatkan budaya dan norma-norma kehidupan. Dalam konteks masyarakat timur yang mengacu pada nilai-nilai dan tatanan ketimuran menggangap bahwa manusia adalah bagian dari manusia yang lain yang tidak terpisahkan sehingga membentuk sebuah masyarakat yang sejahtera terhindar dari pembodohan akibat tidak menjaga lisan.
Self-evaluation in perspective of Surah Al-Isrā verse 14th Kasmah Usman; Achmad Abubakar; Muhsin Mahfudz
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 25, No 2 (2021)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/pep.v25i2.44961

Abstract

This paper describes, knows, understands, and analyzes self-evaluation from the perspective of surah Al-Isrā verse 14. Self-evaluation in psychology is called self-introspection, which means self-correction, while in Islam, it is called muḥāsabah or muḥāsabah al-nafṣ. Muḥāsabah, in the person of a Muslim in particular, is an attempt to count and evaluate himself, how many sins he has committed and what good he has not done. This study is qualitative research under the literature study method, which focuses on the question of self-evolution from the perspective of surah Al-Isra verse 14. The data source comes from the ministry of religious affairs' translation of the Qur'an, and books related to self-evaluation contain self-evaluation from surah Al-Isra' verse 14. Data were analyzed using the qualitative data analysis method. Self-evaluation in QS Al-Isra': 14 refers to the word al-ḥisāb, if an evaluation may be done by oneself on all the deeds that have been done. Explaining this, in surah Al-Isrā' verse 14, Allah evaluates His creatures on the day of reckoning (the trial of the Here-after). Therefore, it is a man who is commanded to judge his own deeds. If it is associated with the point of evaluation of education, the meaning of al-ḥisāb indicates that the assessment results depend on the intensity of the subject in completing the exam question. Therefore, the task of educators is to motivate the subject of the learner to learn and maximum when completing the exam question seriously.
STUDI KASUS IMPLEMENTASI LATAR BELAKANG DAN RUMUSAN MASALAH DALAM BUKU WAWASAN AL-QUR’AN TENTANG AL-BALA’ KARYA MARDAN Tammulis Tammulis; Achmad Abubakar; Muhsin Mahfudz
Risalah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol. 7 No. 2 (2021): Pendidikan dan Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jurnal_risalah.v7i2.197

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode penulisan latar belakang dan rumusan masalah dalam buku Wawasan al-Qur’an tentang al-Bala’ karya Mardan. Rumusan masalahnya ada dua yaitu bagaimana epistimologi latar belakang dan rumusan masalah? Bagaimana implementasi “Latar Belakang dan Rumusan Masalah” dalam buku Wawasan al-Qur’an Terhadap al-Bala’ karya Mardan? Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan sumber data primernya adalah buku Wawasan al-Qur’an tentang al-Bala’ karya Mardan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyusunan latar belakang dalam buku Wawasan al-Qur’an tentang al-Bala’ karya Mardan telah memenuhi tiga unsur yaitu adanya gambaran kondisi ril , kondisi ideal dan pentingnya penelitian. Namun pentingnya penelitian tidak disebutkan secara langsung dalam latar belakang akan tetapi tersirat pada pemaparan kondisi problematika. Adapun perumusan rumusan masalahnya, telah terpenuhi 3 unsur filosofisnya yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi
TEKNIK INTERPRETASI HADIS KITAB SYARAH HADIS: KASUS KITAB FATH AL-BARY Muhsin Mahfudz
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 6 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.87 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v6i1.7144

Abstract

Artikel ini merupakan pengantar memahami teknik-teknik interpretasi dalam kitab-kitab syarah hadis. Namun demikian, artikel ini hanya mengkaji kitab Fath al-Bary, suatu kitab syarah hadis yang sangat populer yang ditulis oleh pakar hadis abad ke-9 H. Istilah-istilah yang digunakan dalam mengidentifikasi teknik interpretasi merupakan adaptasi dari istilah yang digunakan juga dalam tafsir Alquran. Melalui analisis wacana (content analysis) maka artikel ini mengesankan bahwa sebagai kitab yang telah mendapat pengakuan, Fath al-Bary benar-benar adalah kitab yang tidak saja berhasil menyuguhkan pemahaman yang jelas sebagai referensi, tetapi juga berhasil menyuguhkan berbagai teknik-teknik interpretasi yang sarat dengan pendekatan-pendekatan ilmiah. Meskipun yang disebutkan hanya beberapa teknik interpretasi, penulis yakin masih banyak yang dapat digali dan dikenali bila menyelami lebih jauh
NILAI KESANTUNAN DALAM UNIVERSALITAS ZIKIR: ANALISIS SUFISTIK TERHADAP HADIS ZIKIR Muhsin Mahfudz Batong
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.979 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v10i1.7791

Abstract

Sebagaimana pembahasan di atas, zikir dalam pengertian tradisi sufistik hanya beracu pada dua makna yaitu “mengingat” dan “menyebut”. Tetapi ternyata berdasarkan penelusuran kata zikir dalam al-Qur’an, makna lain dapat ditemukan dalam Q.S. Ali Imran (3): 191. Bahwa suasana aktif, seorang dapat saja berzikir. Aktif atau bekerja dilambangkan dengan kata “berdiri”, “duduk” dan “berbaring”. Tiga kata tersebut jelas sekali merupakan esensi gerak manusia sepanjang sejarah. Jika berdiri maka seorang tidak duduk atau berbaring, jika duduk seorang tidak akan berdiri dan berbaring pada saat yang bersamaan, demikian seterusnya gerakan segi tiga tersebut.Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah analisis tahlili dengan pendekatan sufistik. Berdasarkan metode tersebut ditemukan bahwa implikasi makna zikir adalah perlunya zikir tetap hadir dalam relung spiritual manusia. Aktifitas kebaikan seseorang tidak mengahalanginya dari mengingat maupun menyebut Allah Sang Pencipta dan Pengatur di jagad ini. Bahkan, tradisi zikir dapat membentuk pribadi yang santun, baik kepada Allah maupun kepada manusia dan lingkungan. Dengan demikian, zikir yang ditradisikan oleh para sufi di dunia tarekat tidak boleh berhenti pada makna mengingat dan menyebut saja, tetapi harus lebih identik lagi dengan aktivitas. Zikir dalam makna ini, secara fungsional, lebih mampu menjadi alat kontrol dalam setiap gerak gerik keseharian manusia
DERADIKALISASI IDEOLOGI GERAKAN ISLAM Muhsin Mahfudz
Vox Populi Vol 1 No 1 (2010): VOX POPULI
Publisher : ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2828.342 KB) | DOI: 10.24252/vp.v1i1.8099

Abstract

Radical Islam movement had been a parth of Islamic history since the emergence of Khawarij movement in about 37 AH. or 657/658 AD. This article tries to identify the genealogy of Islamic radicalism from Khawarij movement to Bali bombing by Imam Samudera abd his friends. By using the historical analysis method, this article focuses on their ideology that encouraged them to be martyr (syahid). As a result, I discovered that the radical movement they did was based on both political and textual understanding backgrounds. To minimize the power of those backgrounds, the article tries to formulate two approaches which is called 'moderate interpretation' and 'multiculturalism'. The first aproach is set to encounter scriptural and textual understanding in justifying a holy text, while the second is set to give an alternative view from political frame to cultural frame. Those aproaches are considered more significant to solve any scepticism among people about the ligitimacy of religion on culture of violence. Keywords: Radical, Radikalisasi, Ideologi, Islam, Teks, Multikulturalisme
IMPLEMENTASI NILAI MODERASI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN DI ERA SOCIETY 5.0 Ansani; Achmad Abubakar; Muhsin Mahfudz
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 1 No. 3: Nopember 2021
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.651 KB) | DOI: 10.53625/jcijurnalcakrawalaindonesia.v1i3.618

Abstract

This article aims to examine the implementation of the value of religious moderation in the perspective of the Al-Quran in the era of era society 5.0. Religious moderation in the era Society 5.0. era provides religious narratives that are free of access through technology that is often used by certain groups to make religion an aspiration by imposing that is far from tolerant and fair. Therefore, religious moderation is the basis for strengthening religious understanding in era society 5.0, which needs to have characteristics in accordance with the values ​​of the Al-Quran by strengthen religious understanding that is moderate, tolerant and compassionate. The method used in this research is a qualitative method that uses library research as its approach. The research sources used were obtained from various scientific sources, namely books, journal articles, and various other sources related with research studies. Furthermore, with data analysis techniques in the form of descriptive-analytic, the researcher will analyze the data encounters before presenting it. Readers in the midst of a multicultural society. From the results of the study it was found that there are several moderating values ​​in Al The Al-Quran as a reference that needs to be implemented in the era society 5.0. era to create peace in life in the era society 5.0, era, namely a. fostering the value of balance and justice, b. maintain the value of religious tolerance c . maintain the value of religious harmony d. Spread the value of love.
Relevansi dan Signifikansi Metodologi (Buku: Ahl Al-Kitab, Makna dan Cakupannya dalam Al-Qur’an Karya Muhammad Galib M) Salehuddin Mattawang; Achmad Abubakar; Muhsin Mahfudz
Risalah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol. 8 No. 4 (2022): Pendidikan dan Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jurnal_risalah.v8i4.349

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa ulasan dalam buku dengan judul ahl-kita>b: Makna dan Cakupannya, karya dari seorang professor dalam bidang tafsir yaitu Muhammad Galib M. Rumusan masalahnya ada tiga yaitu bagaimana defenisi metodologi penelitian dan pendekatan tafsir?, bagaimana penjelasan ahl-Kita>b dalam buku Muhammad Galib M?, dan bagaimana penerapan metode maudhui/tematik dalam buku ahl-Kita>b karya Muhammad Galib M?. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan sumber data primernya adalah al-Qur’an al-Karim terkait ayat-ayat yang menyinggung tentang ahl-kita>b. hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, metode penelitian dan pendekatan tafsir adalah suatu cabang ilmu pengetahuan mengenai cara-cara dalam melaksanakan penelitian untuk menemukan, mengembangkan, menguji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan pendekatan dalam menafsirkan al-Qur’an,  guna mencari pemecahan terhadap masalah berdasarkan fakta-fakta atau gejala-gejala terdeteksi. Kedua,  metode penafsiran  yang digunakan dalam buku ini adalah metode maudhu’i dan pendekatan/corak penafsiran yang digunakan adalah pendekatan historis. Ketiga, secara umum buku Ahl al-Kitab ini memang menggunakan metode maudhui sesuai dengan langkah-langkahnya tapi tentunya  dalam hal penyelesaian masalahnya di bantu oleh metode lain dan dalam buku ini metode yang disandingkan yaitu dengan metode muqaran.