Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Proses Pengolahan terhadap Karakteristik Protein Allergen Belalang Sawah (Oxya chinensis) Hendra Wijaya; Sri Yadial Chalid; Annisa Thaharah; Adityo Fajar Nugroho
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 36, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.659 KB) | DOI: 10.32765/warta ihp.v36i1.4386

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh proses pengolahan belalang terhadap karakteristik protein alergen belalang. Proses pengolahan belalang yang dilakukan adalah penggorengan, perebusan, dan perendangan. Karakteristik protein alergen dilakukan dengan metode Bradford, Elektroforesis, dan immunoblotting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis belalang yang digunakan adalah Oxya chinensis. Hasil analisis proksimat belalang mentah, belalang rebus, belalang goreng dan belalang rendang adalah kadar air antara 7,62%-71,46%, kadar abu berkisar antara   0,78%-4,97%, kadar protein berkisar antara 17,00%-23,18%, kadar lemak berkisar antara 6,02%-55,44% dan kadar karbohidrat berkisar antara 0,66%-20,50%. Konsentrasi protein ekstrak belalang mentah, rebus, goreng dan rendang masing-masing adalah 7222,25 mg/L; 893,97 mg/L; 703,43 mg/L; 1123,08 mg/L. Profil protein diduga alergen pada ekstrak belalang mentah adalah antara 5 kDa – >250 kDa dengan 22 pita protein, pada belalang rebus antara 9 kDa – >250 kDa dengan 13 pita protein, pada belalang goreng antara 9 kDa – 250 >kDa dengan 8 pita protein, dan belalang rendang antara 9 kDa -250 kDa dengan 16 pita protein. Bobot molekul protein belalang mentah yang dapat berikatan dengan IgE spesifik responden adalah 70 kDa sedangkan dengan belalang rebus adalah 66 kDa, 86 kDa, 150 kDa, dan >250, dengan belalang goreng adalah 150 kDa dan >250 kDa, dan dengan belalang rendang adalah 24 kDa, 150 kDa dan >250 kDa. Proses pengolahan dengan cara direbus, digoreng dan direndang berpengaruh terhadap profil protein allergen belalang.
ACE Aktivitas Inhibitor Angiotension Converting Enzyme (ACE) Fraksi Protein Susu Kerbau (Bubalus bubalis) Fermentasi Sri Yadial Chalid; Siti Nurbayati; Andhika Fajar Pratama
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 16 No 2 (2018): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.34 KB) | DOI: 10.35814/jifi.v16i2.526

Abstract

Proteins and peptides are food components that have proven ability to prevent hypertensive disease through inhibition of angiotensin converting enzyme (ACE). Buffalo milk or fermented curds are naturally potentially developed as functional food as antihypertensive food. The purpose of this study were to determine the optimum fermentation time to obtain curd with the best ACE inhibition activity. First the curd protein was extracted using alcohol in stages for curd with fermentation length of 1, 2, 3, and 4 days. Nol days or buffallo milk without fermentation as control. Every time fermentation variation of were tested pH acidity level, chemical composition, protein extraction, dissolved protein content, degree of hydrolysis and ACE inhibitor activity. The value ACE inhibitor the highest was done fractionate using ultrafiltration membranes helping centrifugation. The protein fraction with optimal ACE inhibitor activity was analyzed amino acid composition by ultra performance liquid chromatography. The result of research are time fermentaion is one day and dissolved protein content is 912,73 ppm. The highest ACE inhibition activity was obtained at 87.52%, and 23.38% for degree of hydrolysis. Based on molecular weight was obtained the highest ACE inhibition value at fraction below 3 kDa, the ACE inhibitor activity value is 99,3%. Amino acid composition are threonine 0,0249%, proline 0,039%, alanine 0,045%, phenyl alanine smaller than 0,012% and acid glutamate 0.158%. In general, dadih was able to inhibit ACE activity and potentially as an antihypertensive agent in vitro.
The Development of Protein Extract from Local Indonesian Shrimp (Penaeus merquiensis) for Food Allergies Reagent Using Skin Prick Test Method SRI YADIAL CHALID; DAHRUL SYAH; PUSPO EDI GIRIWONO; FRANSISKA RUNGKAT ZAKARIA
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 13 No 2 (2015): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.261 KB)

Abstract

Jerbung merupakan jenis udang yang tersebar luas pada perairan Indonesia dan merupakan alergen utama penyebab alergi seafood. Sampai saat ini, menghindari semua penyebab dan pencetus alergi merupakan cara terbaik untuk pengobatan penyakit alergi. Menghindari makanan tertentu layaknya ditegakkan berdasarkan uji alergi seperti skin prick test (SPT). Skin prick test merupakan uji alergi yang umum digunakan untuk menentukan alergen penyebab alergi yang dimediasi oleh IgE. Bahan utama SPT adalah ekstrak protein yang disebut dengan reagent. Protein jerbung diekstrak dari dagingnya menggunakan phospate buffer saline (PBS), kemudian dianalisis menggunakan SDS-PAGE dan konsentrasi proteinnya ditentukan dengan uji Bradford. Ekstrak protein diformulasi sebagai reagen SPT dengan mengikuti standardisasi European Pharmacopoeia Monograph on Allergen Products 7 (2010:1063). Sebanyak 24 subyek alergi makanan dan 16 subyek non alergi makanan dicukitkan ekstrak protein udang jerbung pada kulit tangan bagian bawah. Serum subyek dikumpulkan untuk pengujian IgE total, IgE spesifik dan immunobloting secara in vitro. Sensitivitas ekstrak protein udang jerbung pada penelitian ini adalah 95% dengan kesalahan negatif sebesar 5%, spesifitas sebesar 94% dengan kesalahan positif 6%. Hasil immunobloting menunjukkan bahwa 9 di antara 10 serum subyek alergi udang jerbung yang diuji mampu berikatan secara spesifik (90%) dengan protein reagent udang jerbung pada kisaran berat molekul 28-63 kDa.