Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

GAMBARAN POLA PEMILIHAN MAKANAN JAJANAN PADA SISWA KELAS IV DI SEKOLAH DASAR NEGERI (SDN) BENDO 1 Isna Hidayatul Mukaromah; Enggar Anggraeni
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 2, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v2i2.514

Abstract

ABSTRAK: Keamanan pangan sekarang ini telah menjadi permasalahan global disebabkan ratusan juta umat manusia diketahui telah dilaporkan menderita penyakit yang diakibatkan oleh keracunan pangan salah satunya makanan jajanan. Kelompok masyarakat yang sering mengalami masalah tersebut adalah anak pada usia sekolah  Penelitian ini dilaksanakan Kecamatan Pare Kabupaten Kediri  terhadap 52 siswa kelas IV di Sekolah Dasar Negeri Bendo 1 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola pemilihan makanan jajanan menggunakan studi observasional Hasil penelitian menunjukkan tingkat pola pemilihan makanan jajanan dalam kriteria baik sebanyak 46 siswa  (88,56%), pemilihan lokasi dalam membeli makanan jajanan menunjukkan skala jarang yaitu sebanyak 53 siswa  (52,0%), tingkat pemilihan jenis makanan jajanan yang dibeli berdasarkan makanan ringan (snack) terdapat 43 siswa dalam skala jarang (82,7%), jajanan berwarna mencolok 28 siswa dalam skala jarang (53,8%), minuman berasa 25 siswa dalam skala jarang (48,1%)  dan konsumsi buah 48 siswa dalam skala selalu (92,3%), tingkat memperhatikan label dan kemasan makanan jajanan 49 siswa dalam skala tidak pernah (47,1%), tingkat pemilihan kebersihan makanan jajanan 52 siswa dalam skala tidak pernah (50,0%), dan tingkat upaya pencegahan resiko keracunan makanan adalah skala jarang (55,8%).  Dilihat ari hasil penelitian ini, disarankan kepada orang tua untuk lebih memperhatikan pola pemilihan makananan jajanan pada siswaputra putrinya dengan cara membawakan bekal atau membeli makanan di kantin sekolah. Meningkatkan peran keluarga dan pihak sekolah untuk  memberikakan edukasi mengenai konsumsi makanan jajanan yang baik, memperhatikan tanggal kadaluwarsa dan kemasan untuk membungkus makanan jajanan, serta mencuci tangan menggunakan air dan sabun.ABSTRACT: Food safety has now become a global problem due to hundreds of millions of people reported suffering from diseases due to food poisoning; one of which is street food. The group that often experiences this problem is school-age children. This research was carried out in Pare District, Kediri Regency, on 52 fourth grade students at Bendo 1 Public Elementary School. This study aimed to describe the pattern of snack food selection using an observational study. The results showed that the level of the pattern of choosing snacks in good criteria was 46 students (88.56%), the selection of locations in buying snacks showed a rare scale of 53 students (52.0%), the level of selection of types of snacks purchased based on snacks  comprised of 43 students on a rare scale (82.7%), brightly colored snacks of 28 students were on a rare scale (53.8%), flavored drinks of 25 students were on a rare scale (48.1%) and fruit consumption of 48 students was on a frequent scale (92.3%), the level of paying attention on the label and packaging of snacks for 49 students was on a never scale (47.1%), the level of choosing food hygiene for snacks of 52 students was on a never scale (50.0%), and the level of efforts to prevent the risk of food poisoning was in a rare scale (55.8%).  From the results of this study, it is recommended for parents to pay more attention on the pattern of choosing snacks for their children by bringing lunch or buying food in the school canteen. It is highly advised to increase the role of families and schools to provide education about good snack food consumption, pay attention on expiration dates and packaging for wrapping snacks, and wash hands with soap and water.
PENGARUH PROPORSI TEPUNG GARUT DAN KACANG HIJAU TERHADAP DAYA TERIMA DAN KADAR AIR COOKIES Delisa Tri Pradyana; Arya Ulilalbab; Cucuk Suprihartini; Enggar Anggraeni
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 3, No 1 (2021): Mei
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v3i1.536

Abstract

ABSTRAK: Garut adalah salah satu bahan makanan lokal yang berpotensi untuk menggantikan tepung terigu. Tepung garut mempunyai kandungan protein yang rendah, sehingga perlu penambahan sumber protein untuk meningkatkan nilai gizi protein pada cookies. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya terima organoleptik dan kadar air cookies. Penelitian ini menerapkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan bersifat eksperimental laboratorium. Dalam penelitian ini menggunakan 3 kelompok yaitu proporsi tepung garut dan kacang hijau : P0 (31,47% : 0%), P1 (24,47% : 7%) , dan P2 (7% : 24,47%), selajutnya diujikan kepada 30 panelis semi terlatih. One ways anova digunakan untuk analisis statistik kadar air dan uji Friedman rank untuk analisa organoleptik. Kadar air cookies kelompok P0dan P1yaitu5% sehingga kedua kelompok tersebut sudah sesuai dengan SNI, namun pada kelompok P25,5% sehingga tidak sesuai SNI. Hasil uji daya terima memiliki pengaruh yang signifikan (0,00 α 0,05) pada warna (96%), aroma (96%), rasa (94%) dan tekstur (93%). Kelompok penelitian yang  paling disukai adalah P2. Ada pengaruh penambahan proporsi tepung garut dan tepung kacang hijau terhadap daya terima organoleptik dan kadar air cookies. Untuk penelitian selanjutnya perlu dilakukan uji proksimat pada cookies. ABSTRACT: Arrowroot is one of the local food ingredients that have the potential to substitute wheat flour. Arrowroot flour has low protein content, so it is necessary to add protein sources to increase the nutritional value of protein in cookies. This study aims to determine the organoleptic acceptability and moisture content of cookies. This study is a laboratory experimental and applied a Completely Randomized Design. There were 3 groups in this study, namely the proportion of arrowroot flour and green bean flour: P0 (31.47%: 0%), P1 (24.47%: 7%), and P2 (7%: 24.47%), then tested on 30 semi-trained panelists. One-way ANOVA is used for statistical analysis of moisture content and Friedman rank test for organoleptic analysis. The moisture content of cookies in groups P0 and P1was 5% so that both groups were following SNI, but in group P2 was 5.5% so it was not following SNI. Acceptability test results have a significant effect (0.00 α 0.05) on color (96%), aroma (96%), taste (94%) and texture (93%). The most preferred study group is P2. There is an effect of increasing the proportion of arrowroot flour and flour of green bean on the organoleptic acceptability and moisture content of cookies. For further studies, it is necessary to do a proximate test on cookies.
Hubungan Pola Konsumsi dengan Siklus Menstruasi pada Mahasiswa Akademi Gizi Karya Husada Kediri Mirthasari Palupi; Nana Hamidah; Enggar Anggraeni; Frenky Budiman
Prosiding SPIKesNas : Seminar Publikasi Ilmiah Kesehatan Nasional Vol. 1 No. 2 (2022): SPIKesNas - November 2022
Publisher : STIKES dan AKZI Karya Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poor consumption patterns will interfere with the production of the hormones estrogen, and progesterone and reduce the production of Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) so that it can inhibit the occurrence of menstruation. The purpose of this study was to determine the relationship between consumption patterns and the menstrual cycle in the students of the Karya Husada Kediri Academy of Nutrition. The research design used is analytic with a cross-sectional approach using Spearman Rank correlation with a significant level of = 0.05. The population of this study was the students of the Academy of Nutrition of Karya Husada Kediri levels 1, 2, and 3 as many as 71 respondents. The sample used is 61 respondents using a simple random sampling technique. Data were collected using 24-hour recall, FFQ, and questionnaires. The results showed that students with less energy intake were 10 people (28.6%), students with more protein intake were 4 people (14.8%), students rarely consumed staple foods as many as 3 (33.3%), students 7 people rarely eat animal side dishes (38.9%), 9 students rarely eat vegetable side dishes (20.9%), 7 students rarely eat vegetables (26.9%), 3 students rarely eat fruit (30%), there were 5 students with the type of food ingredients not according to PGS (20%). The results of the Spearmen Rank statistical test showed that there was no relationship between consumption patterns and menstrual cycles for the students of the Karya Husada Kediri Academy of Nutrition in terms of energy intake (p = 0.390), protein intake (p = 0.070), frequency of consuming staple foods (p = 0.431), frequency of consuming animal side dishes (p = 0.057), frequency of consuming vegetable side dishes (p = 0.569), frequency of consuming vegetables (p = 0.533), frequency of consuming fruit (p = 0.570), types of food ingredients (p = 0.654). It is expected that students who have fewer consumption patterns can improve their consumption patterns by improving diverse consumption patterns by increasing the consumption of staple foods, side dishes, vegetables, and fruit both in quantity and quality.
Daya Terima Pmt Pemulihan (Pmt-P) Berbahan Dasar Labu Kuning Pada Balita Gizi Kurang Enny Kuswinarti; Putri Devi Kemala Ningrum; Rizka Mar'atus Sholichah; Mirthasari Palupi; Cucuk Suprihartini; Enggar Anggraeni; Siska Siska
JURNAL ILKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): Jurnal Ilkes (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : STIKES Karya Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35966/ilkes.v17i1.504

Abstract

Malnutrisi adalah suatu kondisi kesehatan yang disebabkan oleh kekurangan atau kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, berpikir dan aktivitas terkait kehidupan, dan masih menjadi masalah kesehatan global dan regional. Penyebab utama gizi kurang pada anak balita adalah rendahnya asupan makanan, pemberian ASI yang tidak eksklusif, rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi yang baik untuk bayi, serta rendahnya kualitas ekonomi dan budaya. Anak usia dibawah lima tahun memerlukan pola makan yang seimbang dengan makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizinya.. Upaya yang dilakukan agar kebutuhan balita gizi kurang tercukupi yaitu dengan program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) dengan memanfaatkan pangan lokal salah satunya labu kuning. Pemanfaatan labu kuning masih terbatas dan umumnya hanya diolah sebagai sayuran dan kolak. Labu Kuning juga bisa diolah menjadi roti hotdog, bolu kukus, dan roti manis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya terima dari sisa makan (waste) PMT-P olahan roti hotdog, bolu kukus, dan roti manis. Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan desain penelitian deskritif analitik. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu Purposive Sampling dengan alat ukur form food record estimasi pada 40 responden. Jumlah populasi ini adalah balita gizi kurang di Desa Sambirejo. Pengumpulan data dengan metode taksiran visual comstok. Berdasarkan uji daya terima balita roti hotdog berbahan labu kuning dengan kategori baik sebanyak 23%, bolu kukus sebanyak 33%, dan roti manis labu sebanyak 25%. Berdasarkan hasil dilihat dari konsumsi PMT-P dapat disimpulkan bahwa balita usia 1-3 tahun masih menyukai tekstur yang masih lembut. Saran untuk penelitian selanjutnya perlu dilakukan perbaikan pembuatan olahan PMT-P yang disesuaikan dengan karakteristik usianya. Kata kunci : Daya Terima, roti hotdog, bolu kukus, roti manis
Formulasi Macaroni Schotel Berbasis Ayam, Jamur Tiram, dan Kelor sebagai Upaya Intervensi Gizi Spesifik pada Balita Enggar Anggraeni; Theresia Puspita
JURNAL ILKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): Jurnal Ilkes (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : STIKES Karya Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35966/ilkes.v17i1.497

Abstract

Supplementary feeding programs (PMT) using local food ingredients are one strategy for addressing nutritional issues. These PMT activities should be accompanied by nutrition and health education, support for exclusive breastfeeding, and hygiene and sanitation education for families. Utilizing moringa leaves, which are readily available to the community, can enhance the nutritional value and appearance of the chicken and oyster mushroom macaroni schotel formulation in the preparation of PMT for toddlers. PMT activities using locally sourced food are expected to promote sustainable food and nutritional self-reliance for families. This experimental study aims to analyze the potential impact of an intervention using formulations of chicken meat, oyster mushrooms, and moringa leaves as PMT for toddlers at the Flamboyan Mrican Posyandu within the service area of the Mrican Public Health Center in Kediri City. The results of the descriptive analysis showed that the highest mean score for the aroma attribute was found in treatment F1, at 3.8. The color attribute in treatment F3 scored 4,3, the taste attribute in F1 scored 4.3, and the texture attribute in F2 and F3 scored 4,6. The results of the Kruskal-Wallis test indicated that only color showed a significant difference. The taste, aroma, and texture aspects did not differ significantly among the three formulas. The best treatment level, as determined by the organoleptic test results as well as nutritional quality and energy value, was treatment 1 (F1) with a composition of chicken meat, oyster mushrooms, and moringa leaves (70:20:10). Meanwhile, the results of the acceptability test using the Comstock method, conducted on 18 toddlers at the Flamboyan Mrican Posyandu in Kediri City, showed an average food residue of 25% for the toddlers, which falls into scale 2.