Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Ibu Hamil “Kemel” Pada Etnis Gayo Di Kecamatan Blang Pegayon Kabupaten Gayo Lues, Aceh Niniek Lely Pratiwi; Yunita Fitrianti; Syarifah Nuraini; Tety Rachmawati; Agung Dwi Laksono
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1601.917 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.1693

Abstract

The unique and enormous culture of concealed pregnancy or “Kemel” in Gayo ethnic, low coverage of antenatal care for pregnant women in health workers and high numbers of neonatal mortality, and infection in infants with low birth weight were social determinants of health issues existing in Aceh. These were urgently observed to fi gure out solution in reducing low examination of antenatal care by pregnant women in Gayo. Increasing the interest of researchers to conduct this research. This descriptive study was based on socio-cultural phenomena that aff ect a “Kemel” pregnant woman. The results showed ‘Kemel’ vulnerability perceptions were indicated by keeping the pregnancy as a secret in case of being used by those who do not like their pregnancies. ’Kemel’ perceived severity aff ects the safety of women pregnancies. Pregnant women may get some threats such as: malnutrition, lack of calorie energy, anemia, newborn with low birth weight, premature newborn, and infectious diseases. “Kemel” cues to action, pregnant women check theirpregnancies after 5 months pregnancy to a traditional birth attendant. Soon after TBA claimed their pregnancies, they refer to midwives. This the reason why examination of antenatal care were very low. Family role in the social structure, the culture of the Gayo, parents-in-law and parents of pregnant women, have a great contribution in making decisions such as pregnancy, childbirth and postpartum cares. A marriage tradition of the Gayo, was when a woman pawned into a part of male family, she must follow its habits and traditions. Thus, intervention by forming an agent of change are highly recommended by involving parent in law. Abstrak Tingginya budaya merahasiakan kehamilan/”Kemel”pada etnis Gayo, rendahnya cakupan antenatal care ibu hamil pada petugas kesehatan dan tingginya kematian neonatal, infeksi pada bayi dengan Berat badan lahir rendah, menambah ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian ini. Metode penelitian adalah kualitatif, peneliti menganalisis berdasarkan fenomena sosial budaya yang dapat mempengaruhi seorang ibu hamil “Kemel”. Hasil menunjukkan Persepsi kerentanan ‘Kemel’, dengan merahasiakan kehamilannya, takut diguna-guna orang lain yang tidak suka kehamilannya. Perceived severity Kemel mempengaruhi keselamatan kehamilannya, ancaman pada ibu hamil: gizi kurang, Kurang Energi Kalori, anemia dan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah/BBLR, bayi lahir prematur dan serangan penyakit infeksi pada ibu hamil. Cues To Action Kemel, periksa kehamilan saat kehamilan berusia 5 bulan pada bidan kampong, setelah bidan kampong menyatakan hamil ia baru pergi ke bidan, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab rendahnya pemeriksaanantenatal care pada ibu hamil. Peran keluarga dalam struktur sosial, budaya masyarakat Gayo, Mertua dan orang tua bumil sangat besar dalam menentukan keputusan segala sesuatu yang berkaitan dengan keputusan dalam perawatan kehamilan, persalinan dan perawatan nifas. Suatu tradisi perkawinan masyarakat Gayo, perempuan sudah tergadai menjadi bagian besar keluarga pihak laki laki, ia mengikuti kebiasaan dan tradisi keluarga laki laki, sehingga bila membentuk agen perubahan perlu mempertimbangkan peran mertua.
Praktik Pengelolaan Sampah Terbaik Dunia: Analisis Kelemahan Bandar Lampung Indra Jaya Wiranata; Astiwi Inayah; Tety Rachmawati
JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL INDONESIA Vol 5 No 1 (2023): JHII April 2023
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v5i1.22

Abstract

Sejak perkembangan sektor industri pertama, lingkungan global mulai mengalami kerusakan. Fenomena kemajuan industri ini menimbulkan permasalahn di sektor lain yang juga berdampak langsung pada manusia. Pergeseran isu keamanan tradisional menjadi non-tradisional membawa isu lingkungan menjadi populer dibahas pada forum-forum internasional. Berdasarkan data WorldBank, kota di dunia memproduksi sekitar 2 Milyar Ton sampah per tahun. Sehingga upaya yang diharapkan mengatasi permasalahan ini datang dari seluruh dunia, bukan hanya dari level negara tetapi sub-negara. Melihat mekanisme pengelolaan sampah di Bandar Lampung yang mencapai sekitar 800 ton per hari dapat menghasilkan sebuah temuan kekurangan apa yang paling mencolok apabila dibandingkan dengan praktik terbaik dunia. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dalam mendapatkan data primer serta studi pustaka dari jurnal, buku, dan situs berita untuk data sekunder. Konsep yang digunakan untuk membantu menganalisis yaitu Sampah Kota dan Keamanan Lingkungan.
Peran Agen Perubahan sebagai Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pengendalian Penyakit Tidak Menular akibat Perilaku Merokok Dicky Andiarsa; Tety Rachmawati; Tri Wurisastuti; Tumaji Tumaji; Nikson Sitorus; Anni Yulianti; Muhammad Rasyid Ridha
Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea Vol 3, No 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpmp.v3i4.16799

Abstract

Penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung semakin meningkat di Indonesia. Salah satu faktor risiko utama adalah tingginya prevalensi merokok. Upaya pengendalian rokok tidak cukup hanya melalui regulasi, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Agen perubahan dipandang memiliki peran penting sebagai penggerak di komunitas. Artikel ini bertujuan menjelaskan peran agen perubahan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan perilaku merokok dan pengendalian Penyakit tidak menular. Kegiatan dilaksanakan pada Mei 2024 di wilayah kerja Puskesmas Cibinong, Kabupaten Bogor. Sebanyak 20 agen perubahan dipilih dari tokoh masyarakat, kader kesehatan, pemuda, dan perwakilan organisasi lokal. Intervensi dilakukan melalui edukasi tematik, diskusi kelompok, refleksi lapangan, serta penyusunan komitmen bersama. Evaluasi hasil dilakukan dengan membandingkan kondisi pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah kegiatan serta analisis naratif terhadap refleksi peserta. Kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan pada berbagai aspek, termasuk dampak merokok pada ibu hamil, remaja, penyakit menular, dan beban ekonomi keluarga. Sikap peserta juga berubah positif, ditandai dengan meningkatnya kesediaan menjadi teladan, memberikan edukasi, dan mendukung penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Refleksi lapangan memperlihatkan bahwa hambatan perubahan perilaku merokok bukan kurangnya informasi, tetapi pengaruh lingkungan dan kebiasaan sosial. Agen perubahan terbukti berperan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan ini, terbentuk kesadaran, komitmen kolektif, serta potensi dukungan terhadap kebijakan pengendaliannya. Kata Kunci: Agen Perubahan, Pemberdayaan Masyarakat, Merokok, PTM Non-communicable diseases (NCDs) such as hypertension, diabetes, and cardiovascular diseases continue to rise in Indonesia, with smoking identified as a major risk factor. Tobacco control requires not only regulations but also active community engagement. This study highlights the role of change agents as a strategy for community empowerment in smoking prevention and NCD control. The program was implemented in May 2024 in the working area of Cibinong Health Center, Bogor District, involving 20 selected change agents consisting of community leaders, health cadres, youth, and representatives of local organizations. Interventions included thematic education, group discussions, field reflections, and the development of collective commitments. Evaluation was based on pre- and post-activity comparisons of knowledge and attitudes, complemented by narrative analysis of participant reflections. Results showed improved understanding on the health and social impacts of smoking, including its effects on pregnant women, adolescents, communicable diseases, and household economic burdens. Positive changes in attitudes were also observed, such as greater willingness to act as role models, deliver education, and support smoke-free area initiatives. Field reflections revealed that environmental influences and social norms, rather than lack of information, were the main barriers to behavior change. Overall, change agents proved effective in fostering awareness, collective commitment, and support for tobacco control policies.