Syarifah Nuraini
Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kesiapan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Indonesia Dalam Perdagangan Bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN Mugi Wahidin; Syarifah Nuraini; Ady Iswadhy Thomas
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.86 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.965

Abstract

The ASEAN Economic Community (MEA) is a form of ASEAN economic integration, including the free trade of goods and services in health sector, which one of them is health services facilities. The study aimed to determine the readiness of health service facilities in Indonesia in dealing with free trade in health goods and services within the framework of the ASEAN Economic Community (MEA). This was qualitative study with descriptive analysis. The data used was secondary data from the Ministry of Health, health professionals, health-related associations, research reports and other data sources. The steps of the study were data searches, in-depth interviews and Focus Group Discussion with related parties. The facilities were specialist hospitals, specialistic clinics (medical specialist, dentistry specialist, medical and ambulatory evacuation clinics, specialist nursing clinics), acupuncture service facilities and primary clinics. Readiness was justifi ed by the availability of the health services facilities and supported regulation. The results of the study indicated that health service facilities in Indonesia are quite ready to face the free trade in health-related goods and services, except residential health facility. This study recommended the preparation of related regulation, fulfi llment of health service equipments, providing data of spscialistic clinic, collaboration with Capital investment coordination board (BKPM), promortion and advocacy of foreign investment, acreditation for all health services fasilites, and monitoring and evaluation for health services. Abstrak Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan sebuah bentuk integrasi ekonomi ASEAN, termasuk dalam halperdagangan bebas barang jasa di bidang kesehatan, dan salah satunya adalah fasilitas pelayanan kesehatan. Kajian bertujuan untuk mengetahui kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia dalam menghadapi perdagangan bebas barang dan jasa kesehatan dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kajian ini adalah kajian kualitatif dengan analisis deskriptif. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang bersumber dari Kementerian Kesehatan, profesi, asosiasi yang berkaitan, hasil penelitian maupun sumber data lainnya. Langkah kegiatan adalah melakukan penelusuran data, wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) dengan pihak yang berkaitan. Fasilitas pelayanan kesehatan meliputi rumah sakit spesialistik, klinik utama (kedokteran spesialis, kedokteran gigi spesialis, klinik evakuasi medik dan ambulatory, klinik keperawatan spesialis), fasilitas pelayanan akupunktur dan klinik pratama. Kesiapan dilihat dari ketersediaan fasyankes dan peraturan yang mendukung. Hasil kajian menunjukkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan Indonesia cukup siap dalam menghadapi perdagangan bebas barang dan jasa kesehatan, kecuali fasilitas kesehatan jasa pemukiman. Saran yang diberikan adalah penyiapan regulasi terkait, pemenuhan sarana danprasarana, pendataan klinik utama, kerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal, sosialisasi dan advokasi tentang investasi asing, akreditasi seluruh fasyankes, dan monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan
Ibu Hamil “Kemel” Pada Etnis Gayo Di Kecamatan Blang Pegayon Kabupaten Gayo Lues, Aceh Niniek Lely Pratiwi; Yunita Fitrianti; Syarifah Nuraini; Tety Rachmawati; Agung Dwi Laksono
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 22 No 2 (2019): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1601.917 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v22i2.1693

Abstract

The unique and enormous culture of concealed pregnancy or “Kemel” in Gayo ethnic, low coverage of antenatal care for pregnant women in health workers and high numbers of neonatal mortality, and infection in infants with low birth weight were social determinants of health issues existing in Aceh. These were urgently observed to fi gure out solution in reducing low examination of antenatal care by pregnant women in Gayo. Increasing the interest of researchers to conduct this research. This descriptive study was based on socio-cultural phenomena that aff ect a “Kemel” pregnant woman. The results showed ‘Kemel’ vulnerability perceptions were indicated by keeping the pregnancy as a secret in case of being used by those who do not like their pregnancies. ’Kemel’ perceived severity aff ects the safety of women pregnancies. Pregnant women may get some threats such as: malnutrition, lack of calorie energy, anemia, newborn with low birth weight, premature newborn, and infectious diseases. “Kemel” cues to action, pregnant women check theirpregnancies after 5 months pregnancy to a traditional birth attendant. Soon after TBA claimed their pregnancies, they refer to midwives. This the reason why examination of antenatal care were very low. Family role in the social structure, the culture of the Gayo, parents-in-law and parents of pregnant women, have a great contribution in making decisions such as pregnancy, childbirth and postpartum cares. A marriage tradition of the Gayo, was when a woman pawned into a part of male family, she must follow its habits and traditions. Thus, intervention by forming an agent of change are highly recommended by involving parent in law. Abstrak Tingginya budaya merahasiakan kehamilan/”Kemel”pada etnis Gayo, rendahnya cakupan antenatal care ibu hamil pada petugas kesehatan dan tingginya kematian neonatal, infeksi pada bayi dengan Berat badan lahir rendah, menambah ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian ini. Metode penelitian adalah kualitatif, peneliti menganalisis berdasarkan fenomena sosial budaya yang dapat mempengaruhi seorang ibu hamil “Kemel”. Hasil menunjukkan Persepsi kerentanan ‘Kemel’, dengan merahasiakan kehamilannya, takut diguna-guna orang lain yang tidak suka kehamilannya. Perceived severity Kemel mempengaruhi keselamatan kehamilannya, ancaman pada ibu hamil: gizi kurang, Kurang Energi Kalori, anemia dan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah/BBLR, bayi lahir prematur dan serangan penyakit infeksi pada ibu hamil. Cues To Action Kemel, periksa kehamilan saat kehamilan berusia 5 bulan pada bidan kampong, setelah bidan kampong menyatakan hamil ia baru pergi ke bidan, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab rendahnya pemeriksaanantenatal care pada ibu hamil. Peran keluarga dalam struktur sosial, budaya masyarakat Gayo, Mertua dan orang tua bumil sangat besar dalam menentukan keputusan segala sesuatu yang berkaitan dengan keputusan dalam perawatan kehamilan, persalinan dan perawatan nifas. Suatu tradisi perkawinan masyarakat Gayo, perempuan sudah tergadai menjadi bagian besar keluarga pihak laki laki, ia mengikuti kebiasaan dan tradisi keluarga laki laki, sehingga bila membentuk agen perubahan perlu mempertimbangkan peran mertua.