Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

The Methodology of Remote Sensing Image Data Scale Space Forming Wiweka Wiweka; M. Natsir
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2006
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remote sensing image has information and reality of earth surface content. The principle aim of the producing n-classes object is information extraction. The need of users can be defined correspond to the information scale of object classes, the scale issue is their studying. It will be important as the scaling property has a characteristic hierarchy and link, from the class level of global scale to detail scale. The scaling is performed by using the Gaussian function, the scaling result with factor of more than 100 gives an homogenous image and also object class forms conserving image.Keywords: remote sensing, image, Gaussian, kernel, space, scale.
PENGKAJIAN RELASIONAL RISIKO BANJIR DENGAN BENTUK LAHAN BERDASARKAN CITRA SATELIT PENGINDERAAN JAUH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BENGAWAN SOLO BAGIAN HILIR Wiweka Wiweka; Suwarsono Suwarsono
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 2, No 2 (2011): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1990.001 KB) | DOI: 10.32679/jth.v2i2.250

Abstract

Keunggulan Aplikasi Peramalan Fishing ground Tuna di Lokasi Upwelling dengan Bantuan Citra Satelit Harian Kunarso Kunarso; Agus Supangat; Wiweka Wiweka
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.797 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.3.127-132

Abstract

Ikan tuna merupakan penyumbang devisa negara dari sektor perikanan laut. Pengusahaan tuna untuk mencukupi kebutuhan ekspor dan pasar loka lperlu terus ditingkatkan selama masih memungkinkan. Salah satu kendala dalam berburu tuna adalah lemahnya informasi fishing ground baik secara spasial maupun temporal. Kondisi iklim global yang berubah-ubah tidak menentu semakin menyulitkan dalam menentukan fishing ground tuna, sehingga perburuan tuna menjadi kurang efektif, boros waktu dan bahan bakar. Tujuan penelitian ini adalah menguji dan mengkaji efektifitas aplikasi teknologi peramalan fishing ground tuna di lokasi upwelling dengan bantuan citra satelit harian. Metodolog iyang digunakan dalam penelitian ini adalah survey lapangan dengan metode riset eksperimental semu. Data dasar peramalan menggunakan citra satelit harian MODIS and NOAA. Peramalan fishing ground tuna dengan data citra satelit harian bisa diaplikasikan dengan delay waktu tercepat relatif sekitar 19 jam dari saat perekaman. Aplikasi hasil peramalan fishing ground tuna mempunyai keunggulan berupa efektifitas keberhasilan berkisar 80 % dan perlu pemahaman waktu delay time antara blooming khlorofil-a hingga adanya tuna dan residence time tuna di lokasi upweiiing. Residence time tuna dilokasi upweiiing diduga sekitar 1-2 minggu.Kata kunci: Peramalan, fishing ground, tuna, upwelling, satelit harianTuna fisheries give high contribution to national income. Tuna fishing effort for supply export and local market necessary to be developed as long as possible. The aim of this research is to test and study effectiveness of tuna fishing ground forecasting technology application in the upwelling location by daily satellite images. Method of this research is quasi experimental research. Daily satellite images of MODIS and NOAA as primary data is used for forecasting. Tuna fishing ground forecasting using daily satellite images data is able to be applied by delay time 19 hours from satellite record time. Application of tuna fishing ground forecasting have 80 % effectiveness and need to understand delay time of blooming of chlorophyll-a till tuna arrival and tuna residence time in theupwelling location. Tuna residence time in the upwelling location is predicted about 1-2 weeks.Key words: forecasting, fishing ground, tuna, upwelling, daily satellite
ANALISIS WAVELET DAN VARIABILITAS TEMPORAL HIDROKLIMATOLOGI DAERAH ALIRAN SUNGAI (STUDI KASUS SUB-DAS CISANGKUY KABUPATEN BANDUNG) Dadang Subarna; M Yanuar J Purwanto; Kukuh Murtilaksono; Wiweka Wiweka
Berkala Perikanan Terubuk Vol 40, No 2 (2012): Juli 2012
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.288 KB) | DOI: 10.31258/terubuk.40.2.20-33

Abstract

The research was conducted in the Sub Watershed Cisangkuy of theUpper Citarum Watershed in the Bandung regency. Cisangkuy river playsimportant role in the water supply to the population of Bandung regency andBandung city. In the last ten years, the debit of the river was decreased at dryseason but increased at rainy season that causes of flood in some places. It isneeded to research the variability of hydroclimatology at the region. The monthlyrainfall and debit in range of 2001-2011 was processed using the coefficient ofvariation (CV), wavelets and moving average analysis. The result of thecoefficient of variation and wavelets analysis show the monthly rainfall of fourweather stations: Cileunca, Kertamanah, Cipanas and Ciherang have the CV of78%, 82%, 84%, 70% respectively and show the dominant oscillation around 8-16months. The debit of two hydrology stations: Pataruman and Kamasan have theCV of 97%, 86% respectively and show the dominant oscillation around 128months and 64 months. The analysis of moving average with the simple,exponential, adaptive methods show the increase of five yearly debit significantlyin the range of observed data which cause of the flood in the Kamasan Banjaranregion. The 8-16 months oscillation is associated with the apparent position of theSun between the Tropics of Cancer and Capricorn which cause regional variationsin the intensity of monsoon and it’s called annual oscillation. The 128 monthsoscillation of debit is associated with the ten to twelve (TTO) years oscillation inthe tropical tropospheric temperature. While 64 months oscillation is associatedwith the the tropical Pacific phenomena El Niño (warm condition) and La Niña(cold conditions) are the cause of 2-7 years oscillations which famous with ENSOcycle.Keywords: Watershed, Rainfall, Debit, Variability, Hidroclimatology, Wavelets,Moving Average, Oscillation
PEMANFAATAN DATA PENGINDERAAN JAUH ALOS AVNIR UNTUK PEMANTAUAN LIPUTAN LAHAN KECAMATAN Wiweka Wiweka
Faktor Exacta Vol 4, No 1 (2011): Factor Exacta
Publisher : LPPM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4206.752 KB) | DOI: 10.30998/faktorexacta.v4i1.37

Abstract

Kecamatan adalah daerah bagian kabupaten (kota) yg membawahkan beberapa kelurahan, kecamatan harus diberikan peran yang berarti dalam pengembangan potensi otonomi. Konsentrasi potensi masyarakat harus dikumpulkan dalam suatu ruang yang relatif heterogen, agar dinamika menuju perubahan menuju kesejahteraan. Isi ruang dinamika kecamatan adalah tertransformasi isi permukaan bumi kedalam sejumlah tapis informasi spasial. Resolusi spasial yang dimiliki ALOS AVNIR-2 (Advanced Visible And Neared Infrared) 10 m memiliki spesifikasi teknis untuk pemantauan dinamika informasi spasial yaitu penutup liputan lahan . Dalam skala 1:50.000 dapat dihasilkan kelas liputan lahan hutan, sawah, semak belukar, kebun campur, savan, permukiman, mangrove, lahan terbuka, tambak, tubuh air, ladang/tegalan, dan perkebunan. Keduabelas liputan lahan ini sudah dapat digunakan untuk mengembangkan pusat pengembangan pusat pertumbuhan sebagai esensi jenis bidang yang perlu ditumbuhkan di kecamatan. Key Words : Pemantauan, ALOS, kelas liputan lahan, peta tematik
POLA SUHU PERMUKAAN DAN UDARA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT MULTITEMPORAL Wiweka Wiweka
Jurnal Ecolab Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2014.8.1.11-22

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan nilai dari suhu udara pada tahun 2000, 2003, dan 2013 serta membandingkan nilai dari radiasi netto, fluks bahang, dan suhu udara pada tahun 2000 dan 2003 pada wilayah path/row 118/065 yaitu wilayah Jawa Timur bagian utara dan Pulau Madura. Metode yang digunakan untuk pengolahan data suhu permukaan adalah berdasarkan nilai radiance pada band 6 citra Landsat 7 ETM+ path/row 118/065 tahun 2000 dan 2003 serta nilai radiance pada band 10 dan band 11 citra Landsat 8 TIRS path/row 118/065 tahun 2013. Radiasi netto tahun 2000 dan 2003 menggunakan pengolahan radiance dan reflectance landsat 7 melalui pendekatan persamaan Stefan-Boltzman. Fluks bahang tanah menggunakan radiance yang diklasifikasikan berdasarkan nilai dari proporsi radiasi netto dan bahang tanah pada penelitian sebelumnya. Fluks bahang terasa menggunakan pendekatan bowen ratio, sedangkan fluks bahang laten menggunakan persamaan neraca energi. Nilai suhu udara pada tahun 2000 memiliki nilai yang tinggi berkisar antara 8o hingga 60oC, Sedangkan pada tahun 2003 berkisar antara 8o hingga 45oC dan 2013 berkisar antara 12.8o hingga 41.2oC. Radiasi netto di wilayah kajian pada tahun 2000 berkisar antara 366 hingga 792 W/m2. Sedangkan pada tahun 2003 berkisar antara 340 hingga 761 W/m2. Nilai fluks bahang tanah tahun 2000 berkisar antara 25 hingga 82 W/m2, sedangkan tahun 2003 nilai fluks bahang tanah berkisar antara 37 hingga 78 W/m2. Nilai fluks bahang terasa tahun 2000 berkisar antara 31 hingga 534 W/m2, sedangkan untuk tahun 2003 berkisar antara 50 hingga 508 W/m2. Nilai fluks bahang laten tahun 2000 berkisar antara 65 hingga 670 W/m2, sedangkan untuk tahun 2003 berkisar antara 60 hingga 645 W/m2. Suhu udara tahun 2000 berkisar antara 0o hingga 52oC, sedangkan untuk tahun 2003 berkisar antara 1o hingga 41o C.
RELASIONAL DATA PENGINDERAAN JAUH DENGAN GRADASI TEMPERATUR DI TAMAN NASIONAL GUNUNG PANGRANGO Wiweka Wiweka; Samsul Arifin; Sri Handoyo; John Hendrick
Jurnal Ecolab Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2013.7.1.18-26

Abstract

Gunung adalah bentuklahan besar yang membentang di atas tanah sekitarnya, berada di wilayah yang terbatas biasanya dalam bentuk puncaknya, ketinggian tinggi di pegunungan menghasilkan iklim dingin daripada di permukaan laut, gunung di karakteristik oleh sejumlah parameter yaitu ketinggian, volume, relief, kecuraman, jarak dan kontinuitas. Iklim dingin sangat mempengaruhi ekosistem pegunungan: ketinggian yang berbeda memiliki tanaman yang berbeda dan hewan. Karena medan yang kurang ramah dan iklim, pegunungan cenderung digunakan untuk ekstraksi sumber daya dan rekreasi, seperti mendaki gunung. Parameter lingkungan memiliki fungsi dan pengaruh terhadap kehidupan komunitas. Data penginderaan jauh dapat ditransformasi menjadi nilai temperatur, tahapan transformasinya nilai dijital diubah menjadi radians kemudian dikonversi menjadi temperatur. Perlu dilakukan koreksi radiometrik, agar representasi nilai temperatur sesuai dengan kondisi sebenenarnya. Penelitian ini menggunakan data Landssat ETM+, hasilnya menunjukkan kisaran rata-rata temperatur di puncak Taman Nasional Gunung Pangrango pada siang hari 15,92oC dan kecenderungan perubahan temperatur terhadap tinggi di lokasi penelitian adalah linier.
EVALUASI PERUBAHAN LINGKUNGAN WILAYAH PESISIR SURABAYA TIMUR SIDOARJO DENGAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MULTITEMPORAL Grace Idolayanti Moko; Wiweka Wiweka
Jurnal Ecolab Vol 6, No 1 (2012): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jklh.2012.6.1.23-37

Abstract

Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat – sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses – proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Surabaya Timur – Sidoarjo merupakan daerah yang relatif mengalami perubahan. Di kawasan pesisir ini juga mengalami peristiwa penting yaitu peristiwa lumpur Lapindo. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk memantau perubahan pada wilayah pesisir. Salah satunya menggunakan teknologi penginderaan jauh. Hal ini dilakukan karena data penginderaan jauh memilki wilayah cakupan yang luas, cepat, serta efisien. Data yang digunakan adalah citra satelit ALOS/AVNIR-2 tahun 2006 dan 2008 serta SPOT-4 tahun 2009. Data tersebut digunakan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan, garis pantai, serta tingkat kekeruhan air laut. Metode klasifikasi terbimbing digunakan untuk mengetahui tutupan lahan di wilayah pesisir Surabaya Timur – Sidoarjo, sedangkan kekeruhan air laut menggunakan algoritma Total Suspended Solid (TSS). Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan perubahan tutupan lahan yang signifikan pada kelas pemukiman, rumput/tanah kosong, dan empang. Dimana sejak tahun 2006 hingga 2009, luasan pemukiman selalu bertambah yaitu 184,7 ha , sedangkan empang dan rumput/tanah kosong mengalami penurunan luasan yaitu kelas empang sebesar 48,04 ha dan rumput/tanah kosong sebesar 199,31ha. Untuk tingkat kekeruhan air laut, nilai yang mendominasi wilayah perairan Surabaya – Sidoarjo adalah 0-200mg/l. Sejak tahun 2006 hingga 2009 terjadi perubahan garis pantai yang diikuti dengan terjadinya perubahan daratan. Pada tahun 2006 – 2008 perubahan daratan sebesar 51,01 ha sedangkan tahun 2008 – 2009 perubahannya sebesar 18,92 ha.