Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH DESAIN BUKAAN TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI STUDI KASUS SMA NEGERI 1 DOLOK BATU NANGGAR Safirannur Safirannur; Adi Safyan Yahya; Yenny Novianti
Arsitekno Vol 8, No 2 (2021): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v8i2.5105

Abstract

Pencahayaan alami adalah sumber energi yang sangat dibutuhkan dalam memenuhi penerangan pada bangunan, khususnya di sekolah. Sekolah sebagai sarana pada kegiatan belajar dan mengajar sangat membutuhkan pencahayaan alami, Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi pengaruh desain bukaan terhadap pencahayaan alami dan intensitasnya terhadap ruang berdasarkan SNI-2001. Ruang belajar di SMA Negeri 1 Dolok Batu Nanggar, Sumatera Utara memiliki beberapa bukaan dengan ukuran dan orientasi berbeda. Perbedaan tersebut sangat signifikan baik dari segi ukuran, bentuk, posisi dan orientasi di setiap ruang. Hal inilah yang menjadi latar belakang untuk meneliti terkait pengaruh bukaan terhadap pencahayaan alami pada ruang belajar. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian dalam pengukuran intensitas cahaya  dan luas bukaan dilakukan saat kondisi langit cerah dan mendung mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Populasi pada penelitian ini, berjumlah 32 ruang belajar di SMA Negeri 1 Dolok Batu Naggar. Sampel penelitian berjumlah 9 ruang belajar. Pengaruh bukaan terlihat dari intensitas pencahayaan alami dan WWR. WWR memenuhi standarisasi pencahayaan ruang belajar sebesar 20% di kondisi langit cerah; WWR 14%-18% memenuhi standar pencahayaan pada pukul 11.00-15.00 WIB dan WWR dibawah 14% tidak memenuhi standar pencahayaan mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Intensitas  pencahayaan  alami di kondisi  langit  mendung  tidak  memenuhi standar pada seluruh sampel. Penelitian ini menemukan pengaruh bukaan terhadap intensitas pencahayaan alami sangat berperan dan didukung oleh wwr. sehingga standar pencahayaan alami yang terpenuhi hanya berada pada sampel 1, 3 dan 9.
PENGARUH ORIENTASI BANGUNAN TERHADAP KENYAMANAN TERMAL Studi Kasus: Komplek Perumahan Griya Putri Grand Panggoi II Raihan Mufida; Adi Safyan; Sisca Olivia; Effan Fahrizal; Yenny Novianti
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 2 (2022): Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i2.45690

Abstract

Dalam merancang sebuah kawasan perumahan harus mempertimbangkan aspek kenyamanan termal sebagai bagian dari sasaran desain kawasan perumahan. Hal ini juga berlaku untuk kawasan perumahan yang memiliki label KPR subsidi. Ditinjau dari segi harga jual yang relatif murah, mayoritas pembangunan kawasan rumah subsidi tidak memperhatikan aspek kemudahan dan kenyamanan pengguna salah satunya yaitu dari segi aspek kenyamanan termal. Dilihat dari kondisi aktualnya, kebanyakan pihak pengembang di Kota Lhokseumawe merancang tempat tinggal dengan bentuk satu denah yang diprototipekan ke semua site yang akan dibangun dengan orientasi berbeda tanpa memperhatikan kondisi iklim di daerah lainnya. Hal ini akan menyebabkan tidak tercapainya kenyamanan termal yang optimal dan kondisi termal yang diterima di setiap orientasi akan berbeda pula sehingga pengguna lebih memilih untuk menggunakan penghawaan buatan demi mencapai kondisi termal yang stabil. Penelitian ini dilakukan di salah satu titik perumahan yang ada di Kota Lhokseumawe yaitu Kompleks Perumahan Griya Putri Grand Panggoi II dengan tipe 36/100 yang memiliki lima orientasi berbeda yaitu Utara, Timur Laut, Tenggara, Selatan dan Barat Laut. Penelitian ini menggunakan teknik observasi (pengukuran) dengan metode Predicted Mean Vote (PMV) dan Predicted Percentage of Dissatitisfied (PPD). Dari hasil pengolahan data dan pengujian menggunakan software ASHRAE Thermal Comfort Tool, Nilai PMV dan PPD orientasi Selatan lebih rendah daripada orientasi lainnya. Sedangkan orientasi yang memperoleh nilai PMV dan PPD paling tinggi adalah orientasi Barat Laut.