Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGARUH DESAIN BUKAAN TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI STUDI KASUS SMA NEGERI 1 DOLOK BATU NANGGAR Safirannur, Safirannur; Yahya, Adi Safyan; Novianti, Yenny
Arsitekno Vol 8, No 2 (2021): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v8i2.5105

Abstract

Pencahayaan alami adalah sumber energi yang sangat dibutuhkan dalam memenuhi penerangan pada bangunan, khususnya di sekolah. Sekolah sebagai sarana pada kegiatan belajar dan mengajar sangat membutuhkan pencahayaan alami, Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi pengaruh desain bukaan terhadap pencahayaan alami dan intensitasnya terhadap ruang berdasarkan SNI-2001. Ruang belajar di SMA Negeri 1 Dolok Batu Nanggar, Sumatera Utara memiliki beberapa bukaan dengan ukuran dan orientasi berbeda. Perbedaan tersebut sangat signifikan baik dari segi ukuran, bentuk, posisi dan orientasi di setiap ruang. Hal inilah yang menjadi latar belakang untuk meneliti terkait pengaruh bukaan terhadap pencahayaan alami pada ruang belajar. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian dalam pengukuran intensitas cahaya  dan luas bukaan dilakukan saat kondisi langit cerah dan mendung mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Populasi pada penelitian ini, berjumlah 32 ruang belajar di SMA Negeri 1 Dolok Batu Naggar. Sampel penelitian berjumlah 9 ruang belajar. Pengaruh bukaan terlihat dari intensitas pencahayaan alami dan WWR. WWR memenuhi standarisasi pencahayaan ruang belajar sebesar 20% di kondisi langit cerah; WWR 14%-18% memenuhi standar pencahayaan pada pukul 11.00-15.00 WIB dan WWR dibawah 14% tidak memenuhi standar pencahayaan mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Intensitas  pencahayaan  alami di kondisi  langit  mendung  tidak  memenuhi standar pada seluruh sampel. Penelitian ini menemukan pengaruh bukaan terhadap intensitas pencahayaan alami sangat berperan dan didukung oleh wwr. sehingga standar pencahayaan alami yang terpenuhi hanya berada pada sampel 1, 3 dan 9.
PENGARUH DESAIN BUKAAN TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI STUDI KASUS SMA NEGERI 1 DOLOK BATU NANGGAR Safirannur Safirannur; Adi Safyan Yahya; Yenny Novianti
Arsitekno Vol 8, No 2 (2021): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v8i2.5105

Abstract

Pencahayaan alami adalah sumber energi yang sangat dibutuhkan dalam memenuhi penerangan pada bangunan, khususnya di sekolah. Sekolah sebagai sarana pada kegiatan belajar dan mengajar sangat membutuhkan pencahayaan alami, Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi pengaruh desain bukaan terhadap pencahayaan alami dan intensitasnya terhadap ruang berdasarkan SNI-2001. Ruang belajar di SMA Negeri 1 Dolok Batu Nanggar, Sumatera Utara memiliki beberapa bukaan dengan ukuran dan orientasi berbeda. Perbedaan tersebut sangat signifikan baik dari segi ukuran, bentuk, posisi dan orientasi di setiap ruang. Hal inilah yang menjadi latar belakang untuk meneliti terkait pengaruh bukaan terhadap pencahayaan alami pada ruang belajar. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian dalam pengukuran intensitas cahaya  dan luas bukaan dilakukan saat kondisi langit cerah dan mendung mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Populasi pada penelitian ini, berjumlah 32 ruang belajar di SMA Negeri 1 Dolok Batu Naggar. Sampel penelitian berjumlah 9 ruang belajar. Pengaruh bukaan terlihat dari intensitas pencahayaan alami dan WWR. WWR memenuhi standarisasi pencahayaan ruang belajar sebesar 20% di kondisi langit cerah; WWR 14%-18% memenuhi standar pencahayaan pada pukul 11.00-15.00 WIB dan WWR dibawah 14% tidak memenuhi standar pencahayaan mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Intensitas  pencahayaan  alami di kondisi  langit  mendung  tidak  memenuhi standar pada seluruh sampel. Penelitian ini menemukan pengaruh bukaan terhadap intensitas pencahayaan alami sangat berperan dan didukung oleh wwr. sehingga standar pencahayaan alami yang terpenuhi hanya berada pada sampel 1, 3 dan 9.
PENGARUH ORIENTASI BANGUNAN TERHADAP KENYAMANAN TERMAL Studi Kasus: Komplek Perumahan Griya Putri Grand Panggoi II Raihan Mufida; Adi Safyan; Sisca Olivia; Effan Fahrizal; Yenny Novianti
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 2 (2022): Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i2.45690

Abstract

Dalam merancang sebuah kawasan perumahan harus mempertimbangkan aspek kenyamanan termal sebagai bagian dari sasaran desain kawasan perumahan. Hal ini juga berlaku untuk kawasan perumahan yang memiliki label KPR subsidi. Ditinjau dari segi harga jual yang relatif murah, mayoritas pembangunan kawasan rumah subsidi tidak memperhatikan aspek kemudahan dan kenyamanan pengguna salah satunya yaitu dari segi aspek kenyamanan termal. Dilihat dari kondisi aktualnya, kebanyakan pihak pengembang di Kota Lhokseumawe merancang tempat tinggal dengan bentuk satu denah yang diprototipekan ke semua site yang akan dibangun dengan orientasi berbeda tanpa memperhatikan kondisi iklim di daerah lainnya. Hal ini akan menyebabkan tidak tercapainya kenyamanan termal yang optimal dan kondisi termal yang diterima di setiap orientasi akan berbeda pula sehingga pengguna lebih memilih untuk menggunakan penghawaan buatan demi mencapai kondisi termal yang stabil. Penelitian ini dilakukan di salah satu titik perumahan yang ada di Kota Lhokseumawe yaitu Kompleks Perumahan Griya Putri Grand Panggoi II dengan tipe 36/100 yang memiliki lima orientasi berbeda yaitu Utara, Timur Laut, Tenggara, Selatan dan Barat Laut. Penelitian ini menggunakan teknik observasi (pengukuran) dengan metode Predicted Mean Vote (PMV) dan Predicted Percentage of Dissatitisfied (PPD). Dari hasil pengolahan data dan pengujian menggunakan software ASHRAE Thermal Comfort Tool, Nilai PMV dan PPD orientasi Selatan lebih rendah daripada orientasi lainnya. Sedangkan orientasi yang memperoleh nilai PMV dan PPD paling tinggi adalah orientasi Barat Laut.
IDENTIFIKASI FASAD MUSEUM KOTA LANGSA SEBAGAI BANGUNAN PENINGGALAN KOLONIAL BELANDA: Identification of the Langsa City Museum Facade as a Dutch Colonial Heritage Building Muliana Muliana; Adi Safyan; Eri Saputra
Rumoh Vol. 12 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Langsa adalah salah satu kota yang pernah dimasuki oleh Belanda pada tahun 1877-1942. Ketika masa penjajahan Belanda, Kota Langsa dijadikan sebagai tempat transit (pos komando), sehingga banyak pemerintah Belanda yang menetap di Kota Langsa. Dalam waktu yang singkat Kota Langsa menjadi kota besar, segala macam infrastuktur dibangun, sehingga tidak diherankan jika sekarang kota ini dipenuhi oleh peninggalan arsitektur khas Belanda. Namun sebagian besar dari bangunan tersebut terabaikan tanpa melihat nilai-nilai sejarah yang dikandungnya. Terjadinya hal ini dikarenakan kurangnya apresiasi masyarakat sekitar akan keberadaan bangunan-bangunan bersejarah, bahkan tidak sedikit bangunan peninggalan kolonial Belanda ini sudah dirusak dan dirombak, sehingga tidak terlihat lagi keasliaannya. Ada beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kota Langsa yang masih berdiri kokoh hingga saat ini, yaitu Museum, Pendopo, Kantor Satpol PP dan WH, Kantor Pos, Sekolah SDN 1 dan Mesjid Istiqamah. Semua gedung peninggalan kolonial Belanda ini terletak dalam satu kawasan yang berdekatan dan masih digunakan dengan baik oleh masyarakat Kota Langsa, hanya saja ada beberapa gedung yang sudah dialih fungsikan. Salah satu bangunan yang sangat terlihat keaslian dan karakteristik kolonial Belandanya adalah bangunan museum yang terletak di pusat Kota Langsa. Pertama dibangun bangunan ini difungsikan sebagai markas orang Belanda, setelah mengalami beberapa perubahan fungsi, pada tahun 2019 bangunan ini diresmikan sebagai museum oleh Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Langsa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif melalui studi literatur, wawancara dan observasi langsung ke lapangan. Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengkaji dan mengidentifikasi lebih lanjut mengenai fasad Museum Kota Langsa. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai data dan pedoman untuk pemerintah serta pihak lainnya dalam perencanaan perbaikan fisik agar tidak terjadinya penghilangan elemen-elemen asli bangunan kolonial.
Kajian Kearifan Lokal Pada Rumah Tradisional Melayu Tamiang di Desa Binjai Risti Aura; Adi Safyan; Hendra Aiyub
Jurnal Ilmiah Teknik Unida Vol. 4 No. 2 (2023): Des
Publisher : Mitra Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55616/jitu.v4i2.682

Abstract

Kearifan lokal dalam arsitektur tradisional mencakup aspek guna dan citra. Aspek guna berkaitan dengan fungsi-fungsi bangunan sedangkan citra berkaitan dengan gambaran atau kesan yang ditunjukkan oleh suatu bangunan. Rumah tradisional Melayu Tamiang merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia. Rumah tradisional Melayu Tamiang memiliki nilai dan unsur budaya yang kuat meliputi fungsi, tata letak pembuatan bangunan dan respon terhadap iklim. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat nilai kearifan lokal pada rumah Melayu Tamiang dari aspek guna dan citra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan survei dan dokumentasi langsung ke lokasi objek penelitian. Bentuk bangunan pada rumah Melayu Tamiang merupakan hasil dari respon terhadap lingkungan setempat. Pada rumah Melayu Tamiang terlihat citra jiwa yang mengerti keindahan, kenyamanan, kebersihan dan kerapian.
Perhitungan OTTV (Overall Thermal Transfer Value) Pada Kantor DPRK Lhokseumawe Ari Suryansyah; Adi Safyan
Jurnal Ilmiah Teknik Unida Vol. 5 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Mitra Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55616/jitu.v5i1.790

Abstract

Indonesia berada di daerah tropis lembab yang memiliki iklim kurang nyaman,untuk mengatasinya di gunakan alat pendingin udara yang dapat membuat suhu ruang menjadi lebih nyaman. Namun konsumsi energi listrik terbesar terdapat pada pendingin udara (AC) sekitar 60%, Hal ini menyebabkan terjadinya krisis energi yang merupakan salah satu isu persoalan dan tantangan saat ini. Dalam mengurangi dampaknya memerlukan usaha dengan cara pembangunan yang berkonsepkan bangunan hemat energi atau bangunan hijau. Untuk merancang bangunan yang hemat energi, bangunan tersebut harus sesui kriteria yang di tetapkan oleh SNI 03-6389-2020 dengan nilai OTTV tidak melebihi 35 Watt/m2. OTTV (Ovrall Thermal Transfer Value) merupakan nilai perpindahan termal total dinding luar yang memiliki orientasi atau arah tertentu. Dalam peraturan (ESDM) menganjurkan bangunan kantor harus menghemat energi, maka latar belakangi diangkatnya gedung Kantor DPRK Lhokseumawe ini sebagai studi kasus adalah karena secara fisik dapat diidentifikasikan kalau bangunan tersebut menggunakan konsep bangunan tropis, yang mana bangunan tropis identik dengan perinsip hemat energi dan yang menjadi pertanyaan apakah bangunan tersebut sudah menggunkan perinsip hemat energi atau belum. Setelah dilakukan perhitungan ternyata bangunan DPRK tidak menuhi standar yang di tentntukan sni dengan nilai OTTV sebesar 43,30 Watt/m2. Solusi yang di lakukan adalah mengganti kaca dengan nilai solar factor yang lebih kecil dan hasil dari percobaan tersebut medapatkan nilai OTTV sebesar 34,69 Watt/m2 sudah memenushi SNI.
Evaluasi Kinerja Kenyamanan Termal dan Konsumsi Energi Sebagai Pengabdian Intelektual Arsitektur pada Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Arun, Kota Lhokseumawe Iqbal, Muhammad; Razif; Atthaillah; Safyan, Adi; Azmah Fithri, Cut
Mejuajua: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2024): April 2024
Publisher : Yayasan Penelitian dan Inovasi Sumatera (YPIS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52622/mejuajuajabdimas.v3i3.116

Abstract

Rumah sakit merupakan bangunan yang memberikan pelayanan publik. Untuk itu, perlu dipertimbangkan kriteria-kriteria kinerja untuk menciptakan ruang yang nyaman bagi pengguna baik visual maupun termal. Kenyamanan ruang membutuhkan konsumsi energi tertentu. Saat ini, kondisi pencahayaan alami siang hari, kenyamanan termal dan konsumsi energi pada Rumah Sakit Arun belum diketahui. Untuk itu kegiatan ini melakukan pengukuran kinerja dengan pengukuran ruang rawat inap dan simulasi komputasional untuk kinerja tahunan yang seperti telah disebutkan sebelumnya. Hasil menunjukkan kondisi termal yang baik pada ruang rawat inap. Akan tetapi, kondisi pencahayaan alami hanya memenuhi untuk metrik cahaya matahari langsung. Sementara indeks konsumsi energi juga masih belum memenuhi kriteria. Kondisi ini penting untuk diketahui sebagai informasi yang dapat digunakan untuk peningkatan kinerja pada bangunan rumah sakit ini.
The Divergence Between Prophet’s Masjid and Present Masjid: An Architectural Essay Deni, Deni; Karsono, Bambang; Mirsa, Rinaldi; Safyan, Adi; Saputra, Eri
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Department of Information Technology, Universitas Malikussaleh, Aceh Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.314 KB) | DOI: 10.52088/ijesty.v1i2.136

Abstract

Basically, functional aspect in masjid can easily understand that there are divergence phenomena between the present masjid compared to the physical appearance and function of the Prophet's Masjid in the beginning. The objective of study is to reveals the existence of the Prophet's Masjid regarding the process and physical description of the masjid through hadith, sirah nabawiyah and related references as a guideline for comparative thinking on the present masjid. Critical descriptive research method is used as an analytical instrument to     assess present masjid by adopting the idea of function in architecture knowledge and collaborate with the idea of social values as a  reflection of the paradigm of Muslims towards the present masjid. Discussion find out that the people's perspective on present masjid tends to be statically trapped in the shape, form and visuals from the legacy of Islamic civilization after the time of the Prophet’s Muhammad PBUH.
TRANSFORMASI HUNIAN PADA RUMAH BANTUAN PASCA TSUNAMI DI KUALA MEURAKSA Yenny Novianti; Simanullang, Saiful Adli; Adi Safyan
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 9 No 2 (2022): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v9i2a3

Abstract

Abstrak_Kuala Meuraksa adalah gampong yang berdampak gempa bumi dan tsunami tahun 2004 silam, yang berada di bagian pesisir Kota Lhokseumawe, Aceh. Tahun 2006, permukiman ini mendapat rehabilitasi bantuan berupa rumah bagi masyarakat tanpa direlokasi dan memperoleh bantuan dari empat LSM, baik nasional dan internasional seperti: IOM, Save The Children, Oxfam, dan BRR. Seiring perkembangan waktu, setelah 16 tahun dari tahun 2006 sampai dengan 2022 rumah bantuan tetap ada akan tetapi mengalami transformasi, hal inilah menjadi fenomena dalam permukiman pasca huni. Permasalahan yang dikaji adalah transformasi hunian pasca tsunami tahun 2006-2022, meliputi aspek fungsional dan faktor yang mempengaruhi perubahannya. Tujuan penelitian adalah identifikasi perubahan-perubahan dan faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pemilihan sampel menggunakan purposive sampling. Variabel penelitian adalah elemen penyebab perubahan (penambahan, pengurangan, dan perpindahan) dan pengaruhnya. Hasil penelitian menunjukkan transformasi hunian akibat penambahan dan perpindahan dengan persentase paling tinggi adalah 192,54%, penambahan 98,2 m² pada rumah bantuan Save the Children dan paling rendah dengan persentase 27,7 %, penambahan 10m2 pada rumah bantuan IOM dan Oxfam. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan akan fungsi dan penambahan jumlah anggota keluarga. Kontribusi dari penelitian ini agar rumah bantuan menyesuaikan hunian dengan ruang dan karakteristik aktivitas masyarakat di pesisir pantai. Kata kunci: Transformasi; Hunian; Pasca Tsunami. Abstract_Kuala Meuraksa is a village affected by the 2004 earthquake and tsunami located on the coast of Lhokseumawe City, Aceh. In 2006, this settlement received rehabilitation assistance in the form of housing for the community without being relocated and received support from four NGOs national and international, such as IOM, Save The Children, Oxfam, and BRR. Over time, after 16 years, from 2006 to 2022, the aid houses are still there but are undergoing transformation, which has become a phenomenon in post-occupational settlements. The problem studied is the transformation of post-tsunami housing in 2006-2022, including functional aspects and factors influencing the changes. The research objective is to identify changes and factors that affect change them. This study used a qualitative descriptive method with the sample selection using purposive sampling. The research variables are the elements that cause change (addition, subtraction, and displacement) and their effects. The results showed that the residential transformation due to the increase and removal with the highest percentage was 192.54% in addition to 98.2 m² was the Save the Children aid house. The lowest was 27.7%, and the addition of 10m2 was in the IOM houses and Oxfam aid houses. The change was influenced by a need for function with an additional number of family members. The contribution of this research is that the housing assistance adapts to the space and characteristics of community activities on the coast. Kata kunci: Transformation; Shelter; Post Tsunami.
Analisis Tingkat Kenyamanan Termal pada Ruang Publik Stasiun Binjai Safyan, Adi; Olivia, Sisca; Nurhaiza, Nurhaiza; Sidiq, Habib Achmad
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 25 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v25i1.10930

Abstract

Manusia beradaptasi dengan kenyamanan fisik berupa kenyamanan termal, baik dalam perubahan temperatur. Kenyamanan pengguna menjadi hal penting dalam perancangan ruang, khususnya ruang publik. Ruang publik Stasiun Binjai salah satu area publik transit di mana banyak orang akan melakukan perjalanan. Studi ini menganalisis tingkat kenyamanan termal pada ruang publik Stasiun Binjai (zona A dan zona B) dengan menggunakan teknik observasi dan pengukuran lapangan dengan memperhitungkan Predicted Mean Vote (PMV) dan Predicted Percentage of Dissatisfied (PPD), dengan sampel kuestioner pada 178 responden pada enam waktu yang berbeda. Pengukuran yang dilakukan berada pada “nyaman optimal ambang batas” berdasarkan standar ASHRAE 55-2017. Pengolahan data pada studi ini menggunakan software CBE Thermal Comfort Tool, menghasilkan nilai rata-rata PMV zona A -0,09 dan nilai PPD 5% dan zona B dengan PMV -0,01. Nilai PMV dan PPD pada zona A dan B menunjukkan bahwa belum mampu mencapai kondisi ruang termal yang optimal pada pengguna, karena berada pada kategori +1 dengan sensasi slighty warm.