Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KAJIAN SISTEM PEMANTAUAN PEREDARAN KAYU BUNDAR Triyono P; Hariyatno D P
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 4 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1996.14.4.138-152

Abstract

The change of assessing  reforestation fund  (DR) and forest product fee (IHH) on logs from official assessment  lo self assessment  by  forest  concession  holder  also changed the  supervision of logs  flow.  The aim of this study  is;  1) lo compare the difference between old system and new system  and   2) lo see  how  the new system  of supervising  as  it operates in the field can be improved.The study  which  was  analysed  using  quantitative  and qualitative approach  showed  that despite of its disadvantage,  self assessment has some advantages with respect 10 flows  of logs because  of simpler  log administrative procedure.   However,  it  decreased  goverment  revenue because  of  illegal  logs and  the delay  in DR payment.   The new system  can  be  refined  by improving  the coordination and communication among  forestry  offices  so the  log flow  can bebetter supervised.Key word :  reforestation fund,  forest product fee, logs flow, official assessment, self assessment.
KAJIAN PEMANTAUAN PEREDARAN KAYU DI KALIMANTANTENGAH 0 K Karyono; Triyono P
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 7 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1998.15.7.423-432

Abstract

Pada sistem self  assesment pemantauan  peredaran  kayu  dititik  beratkan pada evaluasi dokumen. Tujuan kajian  ini adalah  untuk mengetahui sejauh mana sistem tersebut dapat mencegah peredaran kayu ilegal dan mengetahui  sejauh mana efektifitas pemantauan dapat ditingkatkan.Kajian yang dianalisis  secara kuantitatif dan kualitatif ini menunjukkan bahwa  tiadanya pemeriksaan fisik  terhadap peredaran  kayu di Kalimantan Tengah memberikan kesempatan kepada  HPH dan IPKH mengedarkan kayu ilegalnya  ke propinsi lain. Pada tahun 1995/1996, di Jawa Timur dan Kalimantan Baral  secara berturut-turut ditemukan 124 buah SAKO palsu (56. 747 m3 kayu olahan)  dan 9 buah SAKB palsu (6.451 m3 kayu bulat) yang berasal dari Kalimantan Tengah.  Sistem ini dapat ditingkatkan efektifitasnya dengan cara memperbaiki koordinasi dan komunikasi petugas  Kehutanan antar propinsi.
STUDI KASUS ALIH TEKNOLOGI PENGOLAHAN ROTAN LEPAS PANEN DI KPH KUNINGAN D Martono; Triyono P
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1938.127 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1999.16.4.201-208

Abstract

Industri pengolahan rotan washed and sulfunzed (W&S) yang menggunakan bahan baku rotan lepas panen telah dibangun di KPH Kuningan (Jawa Barat) untuk keperluan studi alih teknologi. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi: 1) sejauh mana alih teknologi dapat diadopsi oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan di KPH Kuningan dan 2) penerimaan pasar terhadap rotan W&S hasil pengolahan masyarakat.Hasil studi menunjukkan bahwa alih teknologi berjalan secara efektif dimana prosedur pengolahan rotan dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat sehingga kegiatan pengolahan rotan berjalan baik. Setiap hari dapat diproduksi 300 batang rotan W&S yang kualitasnya sesuai dengan permintaan pasar. Studi ini menilai bahwa penerapan pengolahan rotan panen bermanfaat bagi petani atau masyarakat pedesaan. Meskipun demikian, penyempumaan teknologi pengolahan rotan lepas panen yang ditunjang analisis biaya masih perlu dilakukan. Dengan cara ini, rotan W&S hasil pengolahan masayarakat dapat dijual secara bersaing di pasaran.
KAJIAN SISTEM PEMANTAUAN PEREDARAN KAYU BUNDAR Triyono P; Hariyatno D P
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 4 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1996.14.4.138-152

Abstract

The change of assessing  reforestation fund  (DR) and forest product fee (IHH) on logs from official assessment  lo self assessment  by  forest  concession  holder  also changed the  supervision of logs  flow.  The aim of this study  is;  1) lo compare the difference between old system and new system  and   2) lo see  how  the new system  of supervising  as  it operates in the field can be improved.The study  which  was  analysed  using  quantitative  and qualitative approach  showed  that despite of its disadvantage,  self assessment has some advantages with respect 10 flows  of logs because  of simpler  log administrative procedure.   However,  it  decreased  goverment  revenue because  of  illegal  logs and  the delay  in DR payment.   The new system  can  be  refined  by improving  the coordination and communication among  forestry  offices  so the  log flow  can bebetter supervised.Key word :  reforestation fund,  forest product fee, logs flow, official assessment, self assessment.
KAJIAN PEMANTAUAN PEREDARAN KAYU DI KALIMANTANTENGAH 0 K Karyono; Triyono P
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 7 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1998.15.7.423-432

Abstract

Pada sistem self  assesment pemantauan  peredaran  kayu  dititik  beratkan pada evaluasi dokumen. Tujuan kajian  ini adalah  untuk mengetahui sejauh mana sistem tersebut dapat mencegah peredaran kayu ilegal dan mengetahui  sejauh mana efektifitas pemantauan dapat ditingkatkan.Kajian yang dianalisis  secara kuantitatif dan kualitatif ini menunjukkan bahwa  tiadanya pemeriksaan fisik  terhadap peredaran  kayu di Kalimantan Tengah memberikan kesempatan kepada  HPH dan IPKH mengedarkan kayu ilegalnya  ke propinsi lain. Pada tahun 1995/1996, di Jawa Timur dan Kalimantan Baral  secara berturut-turut ditemukan 124 buah SAKO palsu (56. 747 m3 kayu olahan)  dan 9 buah SAKB palsu (6.451 m3 kayu bulat) yang berasal dari Kalimantan Tengah.  Sistem ini dapat ditingkatkan efektifitasnya dengan cara memperbaiki koordinasi dan komunikasi petugas  Kehutanan antar propinsi.
STUDI KASUS ALIH TEKNOLOGI PENGOLAHAN ROTAN LEPAS PANEN DI KPH KUNINGAN D Martono; Triyono P
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.16.4.201-208

Abstract

Industri pengolahan rotan washed and sulfunzed (W&S) yang menggunakan bahan baku rotan lepas panen telah dibangun di KPH Kuningan (Jawa Barat) untuk keperluan studi alih teknologi. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi: 1) sejauh mana alih teknologi dapat diadopsi oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan di KPH Kuningan dan 2) penerimaan pasar terhadap rotan W&S hasil pengolahan masyarakat.Hasil studi menunjukkan bahwa alih teknologi berjalan secara efektif dimana prosedur pengolahan rotan dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat sehingga kegiatan pengolahan rotan berjalan baik. Setiap hari dapat diproduksi 300 batang rotan W&S yang kualitasnya sesuai dengan permintaan pasar. Studi ini menilai bahwa penerapan pengolahan rotan panen bermanfaat bagi petani atau masyarakat pedesaan. Meskipun demikian, penyempumaan teknologi pengolahan rotan lepas panen yang ditunjang analisis biaya masih perlu dilakukan. Dengan cara ini, rotan W&S hasil pengolahan masayarakat dapat dijual secara bersaing di pasaran.