Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENGARUH FAKTOR PRODUKSI TERHADAP PENDAPATAN PEMETIK DAUN KAYU PUTIH Hendro Prahasto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 7 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.7.389-393

Abstract

Leaf  cutting  activity  gave contribution to  the  total  income  of  cajuput  leaf cutters  with  an average of  Rp.162,000 per year  or approximately  41%  of  the  total  income.   The result  of  linear regression  analysis shows  that  the  income  from cajuput leaf  cutting  gave a significant   income  contribution  to the  leaf  cutters  total  income.Based  on the  result  of  Cobb-Douglas analysis, it is shown that  four  production  variables  i.e. share  area  (Xl), work time  spent outside   the  leaf  cutting activity  (X2), work time spent   for  leaf  cutting activity (X3), and  capital  or farming   production  cost (X4) gave a  significant   impact   on  the  total  income   of  leaf  cutters.   The  production  function: equation isIn Y = 3.5385+0.1189 In XI + 0.0283 In X2 + 0.2976 In X3 + 0.1255 In X4 + E with  determination coefficient   (R2)  of  0.7549.
MINIMASI BIAYA BAHAN BAKU KAYU BULAT PADA INDUSTRI PENGGERGAJIAN KAYU JATI DI IPK BRUMBUNG (minimization of round wood raw material cost at teak sawmill at brumbung sawmill) Hendro Prahasto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 8 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.8.320-325

Abstract

The objective of this study is to find optimal allocation of round wood raw material used by teak sawmill, so as to minimize cost of raw materialThe result of linear programming analysis shows that, in 1991 the optimal cost of raw material at Brumbung teak sawmill was Rp 9,992,759,165. Using this optimal raw material allocation scheme, Brumbung teak sawmill could decrease raw material cost about Rp 390,573,835 in 1991.
ANALISIS PERANAN TENAGA KERJA BERPENDIDIKAN KEHUTANAN PADA HAK PENGUSAHAAN HUTAN Hariyatno Dwiprahowo; Hendro Prahasto; Soenarno Soenarno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 1 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.1.41-59

Abstract

Pengusahaan hutan di lndonesia telah beroperasi lebih dari dua puluh tahun. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah peningkatan kinerja HPH. Peranan tenaga kerja berpendidikan kehutanan yang merupakan bagian penting dari sumber daya manusia sangat diharapkan bagi peningkatan kinerja tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan tenaga kerja berpendidikan kehutanan di HPH. Untuk keperluan tersebut, survey dilakukan pada 10 HPH di Kalimantan Barat dan Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, disamping itu pengumpulan data dilakukan di kantor HPH, Kantor Wilayah Kehutanan, dan sumber lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase jumlah tenaga kerja berpendidikan kehutunan terhadap seluruh tenaga kerja 3,95%. Secara umum, tenaga kehutanan yang ada belum dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan kemampuannya. Dalam penugasan, unsur kepercayaan pribadi masih menonjol sehingga penugasan masih terpusat pada sejumlah kecil pegawai. Tenaga sarjana kehutanan rata-rata menghabiskan 1,95 tahun pada satu posisi, sedangkan masa kerja rata-rata pada satu perusahaan 4,15 tahun. Semakin menurun tingkat pendidikan pekerja semakin meningkat angka tersebut. Secara umum jumlah tenaga kehutanan di HPH kurang dari standar kebutuhan, namun yang menonjol adalah kekurangan tenaga kehutanan tingkat menengah.Hasil kajian menunjukkan peranan tenaga kerja kehutanan perlu ditingkatkan melalui perbaikan manajemen perusahaan sehingga terdapat pembagian tugas, dan penempatan pekerja yang lebih baik, dan perekrutan lebih banyak tenaga menengali kehutanan
POTENSI HUTAN SAGU RAKYAT DI SERAM BARAT, PROPINSI MALUKU Boen M Pumama; Subandi At; Hendro Prahasto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 3 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1984.1.3.9-14

Abstract

 Sago, one of  some carbohydrate sources  which  has a great potential as food  stock,  grows  naturally  and distribute through out  Indonesian  archipelago,  Maluku is one  of  several  areas having  sago forest.The study  on sago forest  at West Seram in 1979,  showed that the number of  mature  trees per hectare  was 17 trees, consisted  of  several sago species  namely  tuni,  molat and makanaru.  The sago production per  tree was 419.9  kg of  wet sago or 292,5 kg  of dried  sago. 
ANALISIS DAMPAK KEBIJAKAN TATA USAHA KAYU TERHADAP PENERIMAAN NEGARA DARI IURAN HASIL HUTAN DAN DAN REBOISASI: STUDI KASUS DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT Hendro Prahasto; Hariyatno D; Setiasih Irawanti
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.4.279-290

Abstract

Sistem pengawasan peredaran kayu bulat yang lemah menyebabkan penebangan kayu liar tidak mudah dikendalikan. Kebutuhan bahan baku kayu bulat Industri Pengolahan Kayu Hulu (IPKH) di Kalimantan Barat dipenuhi oleh Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) yang ada di Propinsi tersebut, luar Propinsi dan sebagian diduga dari tebangan liar. Selain itu ada tenggang waktu relatif lama antara penebangan kayu di hutan dan pembayaran iuran Hasil Hutan (IHH) dan Dana Reboisasi (DR) di IPKH. Akibatnya terjadi kerugian negara karena adanya peredaran kayu tebangan liar dan penurunan nilai uang karena kelambatan pembayaran IHH dan DR.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kebutuhan bahan baku industri kayu lapis dan kayu gergajian di Propinsi Kalimantan Barat adalah 2.831.366 m3 per tahun. Kebutuhan bahan baku tersebut 91,5% dipasok dari kayu bulat yang dilengkapi dokumen, dan sisanya 8,5% dipasok dari tebangan liar. Tenggang waktu pengangkutan kayu dari areal HPH sampai ke IPKH di propinsi yang sama rata-rata 226 hari atau 0,62 tahun dan dari luar propinsi rata- rata 330 hari atau 0,90 tahun. Kerugian negara akibat tebangan liar rata-rata Rp 14.234. 708.200 per tahun dan akibat kelambatan pembayaran IHH dan DR rata-rata Rp 19.597.577.000 per tahun, sehingga jumlah seluruhnya mencapai Rp 33.832.285.000 per tahun atau 22,05% dari total penerimaan negara dari IHH dan DR di propinsi tersebut.
NILAI TAMBAH INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU JA TI PERUM PERHUTANI UNIT I JAWATENGAH Hendro Prahasto; Boen M Purnama
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 1 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1994.12.1.30 - 35

Abstract

The export tariff  policy on sawntimher is aimed at accelerating the development of  high volue-added  industry. Study on the valu- added of  teak processing industry belongs to the State  Forestry Company (Perum Perhutani)   is focused on  sawntimber. and  woodworking  products  such as doors, windows, frames, decking and parquets.Study  result shows  that  not  all sawmill plants provided positive value added.  in aggregate, sawntimber  industry yields  value  added  of  Rps. 55, 542  per cu. m or 11 percent of processed  raw   material value.  Wood working industry yielded a higher  value  added,  Rps.1,023, 791 per cu. m or almost  half  of  its  raw  material  value