Pendahuluan: Status gizi anak usia sekolah merupakan indikator penting dalam menilai pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, serta kemampuan belajar anak. Dilansir dari hasil Riskedas Kemenkes di tahun 2018 sebanyak 11,2% anak usia sekolah di Indonesia masih mengalami kondisi gizi kurang. Permasalahan gizi pada kelompok usia ini masih menjadi isu kesehatan masyarakat di Indonesia sehingga memerlukan upaya promotif dan preventif yang berkelanjutan.Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menilai status gizi anak usia sekolah melalui pengukuran antropometri sebagai upaya pemantauan pertumbuhan dan peningkatan kesadaran gizi.Metode: Kegiatan dilaksanakan di SD Negeri 5 Jatimulyo, Kabupaten Lampung Selatan, dengan sasaran 20 anak usia 6–7 tahun. Metode yang digunakan meliputi pengukuran berat badan dan tinggi badan, perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), serta pengelompokan status gizi berdasarkan standar nasional.Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 90% anak memiliki status gizi kurang, sedangkan 5% berstatus gizi normal dan 5% berstatus gizi lebih.Kesimpulan: dari kegiatan ini adalah masih tingginya permasalahan gizi pada anak usia sekolah sehingga diperlukan pemantauan pertumbuhan secara berkala serta edukasi gizi berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif kesehatan.Kata kunci: pengabdian kepada masyarakat; status gizi; antropometri; IMT; anak usia sekolah