Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : KOPEMAS

PENGEMBANGAN WISATA ALAM PANCURAN MBOK RONDO KUNING DI DESA DALISODO, KECAMATAN WAGIR, KABUPATEN MALANG Ita Suhermin Ingsih; George Winaktu; Sayyidah Nadia
Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024 Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) 2020
Publisher : Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pancuran Mbok Rondo Kuning adalah objek wisata air terjun yang terletak di lereng Gunung Kawi, tepatnya di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Di Desa Dalisodo Kecamatan Wagir mempunyai potensi Pancuran Mbok Rondo Kuning sebagai wisata alam dengan sumber mata air yang sangat berguna untuk pemenuhan kebutuhan bagi warga yang ada di sekitarnya. Di Kota Malang, lokasi air terjun ini berjarak sekitar 15-20 kilometer. Tak ada penarikan biaya tiket untuk memasuki kawasan objek wisata ini alias gratis. Pengembangan desa wisata Desa Dalisodo memiliki sebuah pemandian yang bernama Pancuran Mbok Rondo Kuning, pancuran ini memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dari pusat Kota Malang, pemasangan plang petunjuk arah jalan ke Pancuran Mbok Rondo Kuning pun dipasang agar memudahkan wisatawan yang belum mengetahui arah dan jalannya menuju Pancuran Mbok Rondo Kuning. Kegiatan di Desa Dalisodo ini diharapkan dapat dan mampu mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan ke Pancuran Mbok Rondo Kuning sehingga diharapkan pula dapat perekonomian masyarakat sekitar.
EDUKASI HUTAN LINDUNG DI DESA KARAMABURA KABUPATEN DOMPU ita suhermin ingsih; george winaktu; M. Nurul Ahlak
Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024 Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) 2020
Publisher : Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan hutan lindung diindonesia sudah sangat kritis, penurunan luas dan kerusakan hutan lindung sejak 1997 sampai 2002 dua kali lebih besar dari kerusakan hutan produksi. Dengan kondisi yang demikian, beberapa cara yang digunakan antara lain memasifkan sosialisasi kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada, dampak kebijakan ini memberikan pengaruh terhadap pengelolaan hutan lindung, mendorong pemerintah desa menetapkan kebijakan dan peraturan perundang yang ada sehingga mendukung kearah tujuan dari peruntukkan kawasan hutan lindung tersebut. sehingga solusi yang ditawarkan pemerintah desa akan pembabatan yang terjadi didesa karamabura, pertama ialah Pemanfaatan kawasan pada hutan lindung berupa budidaya tanaman jangka panjang seperti kemiri dan jati. Kedua, ialah tebang tanam, dan ketiga adalah menerapkan pola tanam agroforestry pada lahan masyarakat. Dari beberapa solusi yang ditawarkan pemerintah desa tersebut, respon masyarakat sangat beragam mulai dari penolakan yang berupa pembabatan hutan yang semakin meluas hingga terjadi pembabatan secara besar besaran hingga setiap individu masyarakat mampu memperoleh lahan sebanyak 2-3 ha.