Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JURNAL SUMBER DAYA AIR

Analisis Kekeringan Di Beberapa Negara Eropa Dengan Menggunakan Data Dari Model Iklim Global Dan Di Indonesia Menggunakan Data Hujan Samuel Jonson Sutanto
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v11i1.109

Abstract

Kekeringan terparah di Eropa terjadi pada tahun 1976 dan tahun 2003, dengan kerugian yang ditimbulkan tidaklah sedikit. Beberapa kajian yang pernah dilakukan mengindikasikan bahwa aliran panas yang terjadi pada tahun-tahun tersebut menyebabkan naiknya intensitas kekeringan yang terjadi. Oleh karena itu kajian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara aliran panas dengan kekeringan, serta korelasinya dengan perubahan iklim dan muka air tanah. Analisis dilakukan dengan data dari hasil simulasi model iklim global dan data pengamatan di lapangan. Kajian ini menggunakan indeks kekeringan SPI (Standardized Precipitation Index) dan SPEI (Standardized Precipitation Evaporation Index) untuk mengetahui besaran kekeringan. Hasil dari kajian ini menyimpulkan bahwa tidak turunnya hujan yang terjadi pada musim semi dan diperpanjang hingga musim panas merupakan salah satu penyebab naiknya suhu udara ekstrem dan menyebabkan kekeringan dengan korelasi negatif R2=0.7-0.8. Hasil yang hampir sama juga diperoleh dari studi yang dilakukan di Indonesia. Kekeringan yang di analisis dengan metode SPEI indeks memberikan hasil analisis kekeringan yang berbeda daripada metode SPI jika terjadi perbedaan suhu udara yang cukup nyata. Dalam studi ini terdapat perbedaan indeks hingga 0.5 antara SPEI dan SPI. Dengan adanya pemanasan global dan terus meningkatnya suhu udara di masa yang akan datang, maka bukan tidak mungkin intensitas dan jumlah kejadian kekeringan yang terjadi akan semakin meningkat.
Hydrological, Geological And Chemical Assessment Of Bouinenc Catchment, South Of France Samuel Jonson Sutanto
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1745.13 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v6i2.410

Abstract

Bouinenc catchment assessment has been carried out during field work in the South of France. This catchment assessment consists of field surveying, data collection, measurement, processing, and analysis based on hydrology, geology and chemistry condition. Moreover, EC routing has been done in this catchment along the Bouinenc. Result shows that during the observation period (June 1st until June 8th, 2010), the discharges are decreasing both in Upstream (Chap village) and in the Downstream. EC values at measurement location in downstream are increasing and have diurnal cycle depend on temperature. The potential evapotranspiration varies from above 4 to 7 mm/day during the measurement. Based on the geology map and survey, the majority of this study area is black marls and limestone formation from the Jurassic period. The springs are mainly located in the contact zone of the different layers and also in some cases due to faults. Water type in this area primarily is calcium bicarbonate from the marls and limestone formation. EC routing result shows that there is no significant interaction between surface water and groundwater. In addition, discharges from tributary rivers are not sufficient to influence the main river.
Two Simple Methods To Analyze Design Flood Hydrograph Using Discharge Data Only: Study Case Rhone Downstream Samuel Jonson Sutanto
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 11, No 2 (2015)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v11i2.107

Abstract

Hilir sungai Rhone mempunyai berbagai macam permasalahan dalam bidang sumber daya air dengan salah satu diantaranya adalah banjir. Permasalahan banjir dapat diatasi dengan adanya perencanaan yang baik dan pekerjaan pengendalian banjir, akan tetapi kegiatan penanggulangan banjir memerlukan data hidrograf banjir rencana dimana data tersebut sangat sulit diperoleh. Metode yang sangat umum digunakan untuk mendapatkan hidrograf banjir rencana, misalkan metode hujan-limpasan, memerlukan data hidrologi yang cukup banyak. Oleh karena itu dalam makalah ini akan ditampilkan perbandingan dari dua buah metode untuk mendesain hidrograf banjir rencana dengan cara yang mudah dan memerlukan data yang sedikit. Dua buah metode tersebut adalah metode grafis dan metode hidrograf banjir sintetik. Hasil analisis dari kedua buah metode tersebut menunjukkan bahwa kedua metode tersebut mudah digunakan, sederhana dan hanya memerlukan data debit. Perbandingan dari kedua metode tersebut menunjukkan bahwa metode grafis memberikan hasil yang lebih baik daripada metode hidrograf banjir sintetik baik dari segi bentuk dan puncak hidrograf banjir.