Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGEMBANGAN MODEL OPERA DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERCERITA BERKONTEKS MULTIKULTURAL BERMUATAN NILAI-NILAI KARAKTER PADA PESERTA DIDIK SMA -, Zuliyanti
Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1 No 2 (2012): November 2012
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.716 KB)

Abstract

ETIKA PROFETIS CERITA RAKYAT SURAKARTA U'um Qomariyah; Mukh Doyin; Zuliyanti Zuliyanti; Dyah Prabaningrum
RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.037 KB) | DOI: 10.26858/retorika.v12i1.7430

Abstract

Prophetical Ethics on Folklores of Surakarta. This study aims to describe the humanism, liberation, and transcendence ethics as pillars of prophetical ethics on the folklores of Surakarta. The method of investigation used was descriptive qualitative approach by implementing critical analysis methods with the objects of the study were the folklores spread in regional of Surakarta. The collecting data methods used were a literature review, observation, and interviews and there were analyzed with several steps (1) data reduction, (2) data presentation, and (3) drawing conclusions. The result of the study was, the folklores in Surakarta regions provide prophetical values, namely (1) humanism ethics, including: big soul, caring, apologizer, helper; (2) liberation ethics, including: learning, rights fighters, glory, unity, and (3) ethics of transcendence, including: meditation, surrendered, sincerely, and obedience to leaders.
Pembelajaran Sastra Berbasis e-Learning pada Abad 21 Zuliyanti Zuliyanti; Agus Nuryatin; Teguh Supriyanto; Mukh Doyin
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan potret generasi digital era abad 21 pada pembelajaran sastra berbasis e-learning. Metode penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan langkah penelitian: mengidentifikasi, mengklasifikasi, menganalisis, dan menyimpulkan data. Data penelitian berupa informasi proses pembelajaran sastra di sekolah dan pemanfaatan digitalisasi sebagai mediamultiinteraktif di abad 21. Instrumen & teknik pengumpulan data: lembar observasi, pedoman wawancara, dan kartu data. Analisis datanya digunakan analisis kualitatif yang meliputi identifikasi, reduksi, analisis, dan generalisasi. Hasil penelitian ini adalah perkembangan teknologi yang sangat pesat ternyata belum sejalan dengan perkembangan budaya literasi digital. Kondisi literasi digital di Indonesia tergolong rendah (8%). Pembelajaran sastra diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam era globalisasi. Teknologi digital dapat meningkatkan kompetensi peserta didik dalam mengontruksi cara belajarnya secara leluasa serta mengembangkan keterampilan multimodalnya. Literasi digital dalam pembelajaran sastra dapat menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis-kreatif. Pembelajaran sastra digital mengacu pada teori belajar konstruktivisme, yakni: (1) pengalaman pribadi, (2) pembelajaran aktif, dan (3) interaksi sosial. Pembelajaran sastra digital dapat menciptakan kesadaran dalam mengembangkan potensi diri untuk menjadi intelektual secara aktif dan mampu mengembangkan potensi dengan penelusuran kebenaran ilmiah.
Digitalization of Teaching Materials in Literature Learning As Reinforcement of Human Values Zuliyanti Zuliyanti; Agus Nuryatin; Teguh Supriyanto; Mukh Doyin
International Conference on Science, Education, and Technology Vol. 8 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study is to explain the role of digitizing teaching materials in literature learning as a reinforcement of humanist values. This research method is descriptive analysis with research steps: identifying, classifying, analyzing, and concluding data. The research data is in the form of information on the process of learning literature in schools and the use of digitalization as a multi-interactive media to strengthen humanist values. Data collection instruments & techniques: observation sheets, interview guides, and data cards. Analysis of the data used qualitative analysis which includes identification, reduction, analysis, and generalization. The result of this study is that literary learning is very urgent to be optimized by using digitalization, including digital teaching materials. The digitization of literary learning teaching materials can be optimized from the use of digital learning resources as a support for literary learning. The presentation of digital teaching materials in literary learning can be considered in terms of material, language, presentation, and graphic aspects. Literature learning has the opportunity to teach moral values, including humanist values. Some humanist values ​​that can be optimized in literary learning include (1) peace, (2) respect, (3) responsibility, (4) happiness, (5) freedom, (6) tolerance, (7) cooperation, (8) love, (9) simplicity, (10) unity, and (11) humility.
Persepsi Dosen dan Mahasiswa terhadap Pembelajaran Apresiasi Sastra Berperspektif Gender Nas Haryati Setyaningsih; Meina Febriani; Zuliyanti Zuliyanti
Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 6, No 2 (2018): Juli-Desember 2018
Publisher : PBSI, FKIP UNISSULA, Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/j.6.2.138-151

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap persepsi mahasiswa dan dosen terhadap materi, proses, dan penilaian pembelajaran apresiasi sastra. Salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah mata kuliah Apresiasi Sastra. Membelajarkan apresiasi sastra kepada peserta didik sesungguhnya bukan hal yang mudah karena guru dituntut untuk memastikan agar siswa memiliki pemahaman, penikmatan, dan penilaian terhadap karya sastra. Di sisi lain, dalam membelajarkan sastra, guru perlu memiliki: (1) pemahaman terhadap tujuan pembelajaran sastra, (2) ketepatan memilih, menentukan, dan mengemas materi ajar sastra berdasarkan nilai-nilai atau muatan yang ada di dalamnya, (3) kemampuan memilih dan menggunakan strategi pembelajaran apresiasi sastra yang mampu memantik minat dan pengalaman apresiatif siswa, dan (4) ketepatan dalam memilih dan menggunakan penilaian pembelajaran apresiasi sastra sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  dengan metode deskriptif. Data penelitian ini berupa persepsi mahasiswa dan dosen terhadap pembelajaran apresiasi prosa berperspektif gender. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa peserta kuliah dan dosen mata-mata kuliah apresiasi sastra (Apresiasi Puisi, Apresiasi Prosa, dan Apresiasi Drama)  pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Universitas Negeri Semarang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik teknik angket dan wawancara mendalam. Data kuantitatif di dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik diskriptif persentase. Adapun data yang bersifat kualitatif dianalisis dengan langkah reduksi data, displei data, dan verifikasi data untuk memperoleh simpulan. Hasil penelitian menunjukkan, dosen dan mahasiswa mempersepsi bahwa (1) materi pembelajaran sudah dalam bentuk bahan ajar (hand-out), tetapi belum lengkap karena hanya memuat konsep-konsep yang bersifat teoretis, (2) materi belum memuat nilai-nilai gender, padahal mahasiswa memerlukan nilai tersebut, (2) proses pembelajaran apresiasi sastra menggunakan strategi yang memungkinkan mahasiswa sampai pada tahapan mengapresiasi, akan tetapi metode yang digunakan monoton dan kurang variatif, kegiatan pembelajaran belum sampai pada tahapan akhir apresiasi, yakni mereproduksi, dan proses pembelajaran belum memperhatikan perspektif gender, (3) penilaian pembelajaran apresiasi sastra sudah menggunakan penilaian autentik, namun belum mencakupi keseluruhan aspek penilaian (kognitif, afektif, psikomotor). Penilaian belum memperhatikan perspektif gender.
Keefektifan Pembelajaran Menulis Cerpen dengan Model Project Based Learning dan Model Sinektik yang Bermuatan Nilai-Nilai Anti-Bullying bagi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 8 Semarang Dian Nugraheni; Zuliyanti Zuliyanti
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.819

Abstract

This study aims to determine the effectiveness of teaching short story writing using the Project-Based Learning (PjBL) model and the Synectics model, both of which incorporate anti-bullying values, and to compare the effectiveness of the two. The study employed a quantitative approach using a nonequivalent control group design with eighth-grade students at SMP Negeri 8 Semarang, with two classes as the sample: Class VIII A (PjBL) and Class VIII B (Synectics). Data were collected through pretests, posttests, and observations, then analyzed using normality tests, homogeneity tests, Paired Sample t-tests, N-Gain, and Independent Sample t-tests. The results showed that the average N-Gain score for the PjBL model was 59.17% and for the Synectics model was 61.50%, both falling into the moderate category (moderately effective). The Independent Sample t-test showed no significant difference between the two models (Sig. 0.661 > 0.05), although the Synectic model was slightly superior by a margin of 2.33%. Thus, both learning models are equally effective and have comparable levels of effectiveness; however, the Synectics learning model outperforms the PjBL model in terms of N-gain percentage for teaching short story writing with anti-bullying themes
KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MENULIS CERITA FANTASI MENGGUNAKAN MODEL SUGESTI IMAJINASI DAN SINEKTIK BERBANTUAN MEDIA VIDEO ANIMASI Naura Putri; Zuliyanti Zuliyanti
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12058

Abstract

ABSTRACT This study focuses on the problems faced by seventh-grade students in learning to write fantasy stories, particularly difficulties in generating ideas and weaknesses in language aspects. The study aims to compare the effectiveness of the Suggestive Imagination and Synectics learning models in teaching fantasy story writing to seventh-grade students at MTsN 2 Temanggung. A quasi-experimental design with a quantitative approach was applied to samples consisting of classes VII G and VII H. Data on students’ learning outcomes were collected through observation, interviews, and written tests, and then analyzed statistically. The results showed that the effectiveness of both learning models was categorized as moderate and fairly effective. The Paired Samples Test demonstrated significant differences in students’ scores before and after the implementation of the learning models. Meanwhile, the Independent Samples Test produced a significance value of 0.877, indicating no substantial difference in effectiveness between the two models. It can be concluded that both learning models are equally effective in improving students’ fantasy story writing skills and can serve as alternative instructional strategies for enhancing creativity and writing competence among junior high school students. ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada permasalahan murid kelas VII dalam pembelajaran menulis cerita fantasi, khususnya terkait kendala untuk memunculkan ide dan lemahnya aspek kebahasaan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat keefektifan menulis cerita fantasi dengan model Sugesti Imajinasi dan Sinektik di kelas VII MTsN 2 Temanggung. Desain kuasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif diterapkan pada sampel yang terdiri dari kelas VII G dan VII H. Data dari nilai hasil belajar murid dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan tes tertulis, lalu diuji secara statistik. Hasil menunjukkan bahwa keefektifan kedua model pembelajaran yang diterapkan berkategori cukup dan sedang. Uji Paired Samples Test membuktikan adanya perbedaan nilai murid sebelum dan sesudah penerapan model. Sementara itu, uji Independent Samples Test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,877 yang mengindikasikan tidak terdapat perbedaan keefektifan yang tinggi antara kedua model. Dapat disimpulkan bahwa kedua model pembelajaran tersebut memiliki efektivitas yang setara untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita fantasi, sehingga keduanya dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan kreativitas dan kemampuan menulis siswa di tingkat sekolah menengah pertama.