Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Cara Mendiagnosa Penyakit Ujub dan Takabur Ulfa Dj. Nurkamiden
Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 4 No 2 (2016): Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.724 KB) | DOI: 10.30603/tjmpi.v4i2.445

Abstract

Setiap zaman memiliki penyakit dan masalah tersendiri, bahkan sepanjang zaman juga memiliki penyakit dan masalah tersendiri. seorang hamba Allah yang berhasil adalah yang bisa mengobati penyakit-penyakit yang bersarang didalam tubuhnya, seperti ujub dan takabur. baik penyakit-penyakit yang bersifat kontemporer ataupun penyakit-penyakit sepanjang zaman. Itulah tanda kesuksesan dalam penyucian jiwa. Menurut Al-Junjani ujub adalah anggapan seseorang terhadap ketinggian dirinya, padahal ia tidak berhak untuk anggapan itu. Ujub merupakan cela dan perasaan yang sangat buruk. Diantara perangai atau karakter yang dapat kita ketahui dari seseorang yang telah terserang virus ujub adalah karakter mereka yang selalu memandang diri dan usahanya dalam setiap ibadah yang dilaksanakan, sehingga matanya penuh dengan hiasan amalnya dan hatinya merasakan keunggulan dirinya. Aa’Gim (KH. Abdullah Gymnastiar) mengajak untuk bisa melakukan 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) dengan dipadu 3 M (melalui diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang). Jika sifat-sifat baik diwujudkan dalam kebiasaan sikap dan kehidupan sehari-hari, niscaya yang muncul adalah tampilan kepribadian yang baik dan simpatik, yang akan menyenangkan siapa pun. Takabur adalah berbangga diri dan cenderung memandang diri berada diatas orang lain. Menurut al-Muhasibi takabur merupakan penyakit jiwa yang paling besar, dan dirinya akan menimbulkan berbagai petaka. Oleh karena itu, sifat takabur cepat mendatangkan kemarahan dan siksa dari Allah SWT. Semua penyakit hati berdampak pada langkah dan tindak perbuatan manusia. Semua itu penyebabnya adalah tidak adanya hati yang sehat dan bersih.
Cara Mendiagnosa Penyakit Ujub dan Takabur Ulfa Dj. Nurkamiden
Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 4 No 2 (2016): Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap zaman memiliki penyakit dan masalah tersendiri, bahkan sepanjang zaman juga memiliki penyakit dan masalah tersendiri. seorang hamba Allah yang berhasil adalah yang bisa mengobati penyakit-penyakit yang bersarang didalam tubuhnya, seperti ujub dan takabur. baik penyakit-penyakit yang bersifat kontemporer ataupun penyakit-penyakit sepanjang zaman. Itulah tanda kesuksesan dalam penyucian jiwa. Menurut Al-Junjani ujub adalah anggapan seseorang terhadap ketinggian dirinya, padahal ia tidak berhak untuk anggapan itu. Ujub merupakan cela dan perasaan yang sangat buruk. Diantara perangai atau karakter yang dapat kita ketahui dari seseorang yang telah terserang virus ujub adalah karakter mereka yang selalu memandang diri dan usahanya dalam setiap ibadah yang dilaksanakan, sehingga matanya penuh dengan hiasan amalnya dan hatinya merasakan keunggulan dirinya. Aa’Gim (KH. Abdullah Gymnastiar) mengajak untuk bisa melakukan 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) dengan dipadu 3 M (melalui diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang). Jika sifat-sifat baik diwujudkan dalam kebiasaan sikap dan kehidupan sehari-hari, niscaya yang muncul adalah tampilan kepribadian yang baik dan simpatik, yang akan menyenangkan siapa pun. Takabur adalah berbangga diri dan cenderung memandang diri berada diatas orang lain. Menurut al-Muhasibi takabur merupakan penyakit jiwa yang paling besar, dan dirinya akan menimbulkan berbagai petaka. Oleh karena itu, sifat takabur cepat mendatangkan kemarahan dan siksa dari Allah SWT. Semua penyakit hati berdampak pada langkah dan tindak perbuatan manusia. Semua itu penyebabnya adalah tidak adanya hati yang sehat dan bersih.
Akuntabilitas Insentif Guru Paud Berbasis Bukti: Pengembangan Sistem Pelaporan Melalui Participatory Action Research Bayu Saputra Dullah; Syahrial Labaso; Ratna Hestiana; Ulfa Dj. Nurkamiden
Sevaka : Hasil Kegiatan Layanan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus : Sevaka : Hasil Kegiatan Layanan Masyarakat
Publisher : STIKES Columbia Asia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62027/sevaka.v4i3.902

Abstract

Village-funded incentives for early childhood education teachers are often accounted for only through attendance records, leaving teachers' pedagogical contributions insufficiently documented. This study developed and assessed the initial feasibility of an evidence-based performance reporting system through Participatory Action Research in three early childhood education centers in Luhu Village, Gorontalo Regency. Five incentive-recipient teachers, three center heads, five village government representatives, and an academic team participated in cycles of diagnosis, co-design, action, observation, and reflection. The final system required four minimum forms of evidence: attendance records, activity photographs compliant with child-privacy protocols, teaching modules, and children's worksheets or portfolios. Document completeness for photographs, modules, and portfolios increased from 15%, 20%, and 5% to 95%, 90%, and 85%, respectively. The mean Accountability Evidence Index increased from 31.24 to 86.76. All teachers improved, although the two-sided Wilcoxon test did not reach the 0.05 threshold because of the very small sample (W = 0; p = 0.063). Inter-rater agreement was substantial (kappa = 0.74). Feasibility depended on simple indicators, clear verification roles, manageable documentation, and child-data protection.