Ilma Nailu Fitriani
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS ASIMILASI BAHASA ARAB DALAM Al-QUR’AN SURAT AL-MUDDATSTSIR Ilma Nailu Fitriani
Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab No 6 (2020): Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab VI
Publisher : Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKAsimilasi adalah perubahan yang terhimpun dalam bunyi karena adanya kedekatan bunyi yang disebabkan oleh bunyi yang lain. Terjadinya asimilasi dikarenakan pengaruh suara dengan suara lain yang saling berdekatan lalu membalikkan atau menganti dengan suara lain ataupun mendekatkan dari segi makhraj (tempat keluarnya huruf) atau sifat. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Surat Al-Muddatstsir dengan tujuan mengidentifikasi letak asimilasi dan proses asimilasi dalam Surat Al-Muddatstsir, dimana saja dan apa saja asimilasi dalam Surat Al-Muddatstsir. Penelitian ini merupakan penelitian jenis kualitatif, dan merupakan penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini menghasilkan temuan mengenai letak asimilasi dalam Surat Al-Muddatstsir yaitu sebanyak 36 posisi.Kata Kunci: Asimilasi, Bahasa Arab, Surat Al-Muddatstsir. 
BUSANA SEBAGAI SIMBOL STATUS SOSIAL MUSLIM PRIBUMI PADA AWAL ABAD XX Ilma Nailu Fitriani; Maliha; Farida
Vol. 3 No. 1 (2025): Proceeding of International Conference on Cultures & Languages 2025 428-441
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran busana sebagai simbol status sosial Muslim pribumi pada awal abad ke-20 di Hindia Belanda. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana pilihan, bentuk, dan gaya berpakaian menjadi representasi identitas, hierarki sosial, serta respons terhadap pengaruh politik dan budaya kolonial. Metode yang digunakan adalah analisis historis-kultural dengan menelaah arsip kolonial, foto-foto dokumenter, catatan perjalanan, dan karya sastra sezaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa busana tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga sebagai penanda kelas sosial, keislaman, dan afiliasi politik. Pengaruh kolonial memunculkan diferensiasi yang jelas antara pakaian golongan bangsawan, ulama, pedagang, dan rakyat, baik melalui bahan, warna, maupun aksesori yang dikenakan. Temuan ini menegaskan bahwa busana berperan sebagai media komunikasi non-verbal yang kompleks, mencerminkan dinamika interaksi antara budaya pribumi, Islam, dan kekuasaan kolonial.
AL-MASĀIL AL-BASĪṬAH FI AHKĀMI LABSI AL-BURNAIṬAH: FATWA HABIB SALIM BIN JINDAN TENTANG TOPI ALA BARAT AWAL ABAD KE-20 Ilma Nailu Fitriani; Usep Abdul Matin
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 707-722
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini memfokuskan pada fatwa Habib Salim bin Jindan (1906-1969 M) tentang topi ala Barat pada masa kolonialisme Belanda pada awal abad ke-20. Sumbernya adalah naskah al-masāil al-basīṭah fi ahkāmi labsi al-burnaiṭah koleksi pesantren Al-Fachriyah Tangerang. Naskah ini sudah digitalisasi oleh Puslitbang Lektur Kementerian Agama RI dengan nomor LKK_JKT2017_HAJ033. Melalui pendekatan sejarah sosial, kajian ini menegaskan bahwa Habib Salim bersikap toleran terhadap masalah pakaian, khususnya penggunaan topi, dengan alasan pertimbangan maslahat. Ia menegaskan bahwa memakai topi atau pakaian ala Barat tidak membuat seseorang keluar dari Islam selama keyakinan dan ibadahnya benar. Ini menunjukkan bahwa ulama Indonesia pada masa modern memberikan respons positif terhadap perkembangan gaya hidup modern di Hindia Belanda.