Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Dedikasi

PEMBINAAN DAN PELATIHAN KELOMPOK USAHA KERAJINAN HANGER KAWAT, DI DESA NGEBRAK, KECAMATAN GAMPENGREJO, KABUPATEN KEDIRI Fauziyah .; Ustadus Solichin; Diah Ari
Jurnal Dedikasi Vol. 11 (2014): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/dedikasi.v11i0.1830

Abstract

Fauziyah1, Ustadus Solichin2 & Diah Ari3Staf Pengajar. 1,2&3Fakultas Ekonomi Universitas Islam KadiriEmail: 1) fauziyah_rahman@ymail.comABSTRAKKelompok Usaha di daerah Desa Ngebrak Kabupaten Kediri, aktivitasnya membuat HangerKawat namun ada yang bekerja sebagai petani dan buruh pabrik. Kepemilikan perusahaan ini masihperorangan, ada beberapa kelompok usaha yang membuat hanger kawat, perusahaan ini berdirihampir bersamaan waktunya yaitu sekitar tahun 2005, sebelumnya masyarakat tidak ada yang membuathanger. Munculnya ide pembuatan hanger kawat adalah adanya limbah kawat dari pabrik Zig Zagdan Pamenang yang merupakan anak perusahaan PT. Gudang Garam. Limbah kawat dari pabriktersebut berupa kawat gulungan dari sisa packaging, kemudian gulungan tersebut dibeli oleh kelompokusaha dan diproses menjadi produk hanger kawat. Gulungan kawat dari limbah pabrik tersebut olehmasyarakat sekitar ditampung dan dimanfaatkan untuk pembuatan Hanger Pakaian. Jadi bahan bakupembuatan hanger kawat masih ketergantungan dari limbah pabrik.Pada umumnya kelompok usaha tidak mempunyai alat pelurus kawat, pemotong kawat, laspen, alat bentuk kawat, karena alat tersebut cukup mahal disamping itu kelompok usaha tidak pernahmenerima pengetahuan dan keterampilan khusus dalam pembuatan tempat minum, tempat cangkir,tempat gelas dan perabotan rumah tangga lainnya. Sehingga produk hanya terbatas pada hangerkawat dan tataan panci saja, walaupun sebenarnya ingin mengembangkan produk yang bervariasi.Berkat adanya bantuan dana pengabdian masyarakat dari Dikti program IbM Kelompok Usahahanger kawat di Desa Ngebrak mendapatkan bantuan alat-alat produksi seperti Las Elektroda, Alatpelurus kawat/Pleser, Alat pemotong kawat, Alat bentuk Hanger, Las Pun, Bahan Kawat. Disampingitu juga mendapatkan Pembinaan dan Pelatihan manajemen produksi, manajemen pemasaran,manajemen keuangan dan bagaimana membuat laporan keuangan dan akuntansi menghitung hargapokok produksi dan menentukan harga jual. Sebelumnya kelompok usaha tidak mengerti manajemendan akuntansi.Diharapkan dengan pemberian bantuan alat-alat dan bahan kepada kelompok usaha dapatmeningkatkan kinerja, mengembangkan produksi dengan diversifikasi produk, memahami ilmumanajemen dan akuntansi, memperluas area pemasaran serta dapat meningkatkan pendapatanmasyarakat desa Ngebrak.Kata Kunci : Limbah Kawat Pabrik, Diversifikasi Produk, Pleser, Las Elektroda, Las Pun
IbM KELOMPOK PENGRAJIN TENUN IKAT KHAS KEDIRI Fauziyah .; H. Ahmad Suharto; Indah Yuni Astuti
Jurnal Dedikasi Vol. 13 (2016): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/dedikasi.v13i0.3134

Abstract

IbM KELOMPOK PENGRAJIN TENUN IKAT KHAS KEDIRIFauziyah1 , H. Ahmad Suharto2, Indah Yuni Astuti31,2,3Fakultas Ekonomi Universitas Islam KadiriE-mail : 1)fauziyah_rahman@ymail.comABSTRAKTenun ikat merupakan salah satu kain tradisional Indonesia yang diproduksi di berbagai daerah di Indonesia.  Tenun ikat sebagai kebanggaan bangsa dan mencerminkan identitas nasional. Oleh karena itu, tenun ikat perlu dijaga dan dilestarikan keberadaannya, serta dipromosikan secara berkelanjutan.  Desa Bandar, Kediri, Jawa Timur, terdapat Tenun Ikat Craft Center bukan mesin yang sudah ada sejak lama. Kerajinan tenun ikat ini turun-temurun yang awalnya dimulai oleh warga Desa Airport. Sekitar 15 tahun silam tenun tradisional di Kediri sangat maju pesat. Tapi saat ini jumlah pengrajin semakin berkurang, disebabkan pengrajin beralih profesi, selain kurangnya alat tenun yang dimiliki karena sebagian alat tenun rusak dan tidak diremajakan. Tenun ikat bukan mesin harganya cukup mahal dibandingkan dengan kain bukan tenun, karena biaya produksi yang tinggi. Tenun ikat kalah bersaing dengan produk kain impor dan dapat mengancam kekayaan budaya bangsa, oleh karena itu harus dilestarikan. Sementara ini produk yang dihasilkan pengrajin tenun tradisional Desa Bandar Kediri hanya satu jenis produk yaitu kain ikat untuk pakaian dan sarung tangan. Kelompok Mitra ini belum mampu membuat diversifikasi berbagai produk dan inovasi dari sisi desain. Kelompok Mitra sulit untuk tumbuh pesat karena kurangnya variasi, inovasi produk dan kemampuan yang terbatas dalam pengetahuan dan manajemen usaha serta kualitas sumber daya manusia yang masih rendah. Oleh karena itu Kelompok Mitra mendapatkan pendampingan berupa : manajemen keuangan, produksi, pemasaran dan akuntansi. Melalui program IbM, Kelompok Mitra telah mampu menghasilkan produk yang bervariasi dan inovasi desain sehingga mampu bersaing dan pendapatan meningkat. Kata Kunci : Sentra Tenun Ikat, Diversifikasi dan Inovasi.
IbM KELOMPOK KERAJINAN BAMBU DI DESA PEHKULON KECAMATAN PAPAR KEDIRI Fauziyah .; Baju Pramutoko; Indah Yuni Astuti
Jurnal Dedikasi Vol. 14 (2017): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/dedikasi.v14i0.4294

Abstract

IbM KELOMPOK KERAJINAN BAMBU DI DESA PEHKULON KECAMATAN PAPAR KEDIRIFauziyah,1 Baju Pramutoko,2 Indah Yuni Astuti31,2,3 Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Kadirifauziyah_rahman@ymail.com Byugold@gmail.com indahyuniastuti@gmail.comABSTRAKIndonesia kaya akan sumber daya produksi tanaman hutan. Salah satu potensi yang kini sedang dipromosikan adalah Produk Hutan Kayu, seperti bambu. Sejak zaman dahulu bambu telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bahan bangunan, perlengakapan rumah tangga, makanan dan obat-obatan tradisional dan alat musik. Bambu sering ditemukan di sekitar pemukiman terutama di daerah pedesaan. Bambu sebagai sumber daya alam bila dieksploitasi secara terus menerus keberadaannya akan terancam. produk bambu benar-benar memiliki nilai estitika tinggi. Jika bambu menjadi bahan kerajinan akan menambah nilai ekonomi tinggi dan merupakan prospek industri yang sangat baik. Selain bahan bambu tidak merusak lingkungan dan dengan demikian membantu menjaga kelestarian alam dan mengurangi terjadinya Pemanasan Global. Konsumen akan lebih suka untuk memilih produk ramah lingkungan. Keberadaan Kelompok Kerajinan Bambu di Desa Pehkulon petumbuhannya lambat dan produk-produknya dianggap masyarakat tidak menarik. Hal ini disebabkan banyak pengrajin yang beralih profesi, di samping kurangnya alat-alat produksi yang dimiliki oleh pengrajin bambu. Selama ini para pengrajin, membuat kerajinan bambu hanya menggunakan alat yang sangat sederhana dari pisau dan parang. Selain itu, para seniman tidak memahami ilmu manajemen, seperti manajemen keuangnan, manajemen produksi, manajemen pemasaran, akuntansi dan tidak mendapat bimbingan dan trainingin kewirausahaan. Setelah adanya kegiatan pelayanan masyarakat dilakukan kelompok usaha pengrajin telah mampu membuat berbagai Diversifikasi produk dan inovasi seperti: lampu hias bambu, putaran casing atas bambu, Keyboard bambu, Mouse bambu, mebel bambu, air mancur bambu, Ornament bambu, dll . dengan kegiatan bantuan, pelatihan, dan diskusi partisipatif, kelompok bisnis bambu dapat menghasilkan produk yang bervariasi, dan inovasi yang menarik sehingga mampu bersaing dan peningkatan pendapatan pengrajin.Keywords: Bambu, Nilai Estetika, Nilai Ekonomi, Pemanasan Global, Diversifikasi Produk, Inovasi,Kreativitas