Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PROBLEM KONSEP KOMUNIKASI BARAT (Upaya Integrasi dan Islamisasi Ilmu Komunikasi) Amir Reza Kusuma
Ath Thariq Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 5 No 2 (2021): Ath-Thariq
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Metro-Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/ath_thariq.v5i2.3622

Abstract

Diskurus tentang komunikasi pada saat ini menjadi hal menarik untuk dikaji. Dialog dan komunikasi bisa dilakukan melalui media, jurnalistik, perangkat -perangkat lainnya sangat masif dan cepat tersebar keberbagai penjuru dunia. Tidak sedikit dari pelaku (penyebar pesan) tersebut dalam menulis dan menyampaikan pesan memiliki teori, model dan konsep tersendiri yang terangkum dalam Ilmu Komunikasi. Namun sayangnya, tidak sedikit dari Ilmu Komunikasi yang ia pelajari dari kurikulum-kurikulum referensinya dari orang-orang yang memiliki pandangan alam (worldview) Barat sehingga hasil yang ditulis dan disampaikan memisahkan antara agama dan dunia dan lebih mementingkan diri sendiri dari pada kepentingan orang banyak (maslahah). Berangkat dari permasalahan tersebut ada beberapa ilmuwan muslim mencoba merespon dan melakukan suatu upaya Islamisasi ilmu. Dengan mengembalikan unsur-unsur komunikasi yang sesuai dengan cara pandang Islam. Misalnya, Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Hal ini bertujuan untuk mengubah pandangan, diawali dengan informasi yang ditangkap oleh komunikan, ada perubahan pendapat, kemudian berubah sikap, dan akhirnya berubah prilakunya. Selain itu, komunikasi dapat dijadikan sarana ekspresi secara individu atau kelompok untuk menyampaikan perasaan. Dengan berlandaskan al-Quran dan Hadith diharapkan komunikasi bisa memberikan perhatian khusus tentang efektivitas penyampaian nilai-nilai ajaran kepada umat manusia. Kemudian proses komunikasi, terutama ketika menyampaikan pesan Tuhan kepada manusia yang ada di dunia ini. Komunikasi dalam hal ini bisa menggunakan prinsip-prinsip pengganti yang lebih baik dari prinsip Barat, karena beberapa problem terjadi diakibatkan komunikasi yang salah disebabkan hanya focus terhadap realisme, nominalis, dan kontruksionis. Maka dari itu dengan adanya perlunya telah kritis atas konsep-konsep dalam Ilmu Komunikasi Barat.
Konsep Jiwa menurut Ibnu Sina dan Aristoteles Amir Reza Kusuma
TASAMUH: Jurnal Studi Islam Vol 14 No 1 (2022): Tasamuh: Jurnal Studi Islam
Publisher : LPPM IAIN Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47945/tasamuh.v14i1.492

Abstract

Kajian tentang Jiwa menurut Ibnu Sina menjadi perhatian karena menjadi rujukan bagi beberapa muslim lainnya, Banyak para tokoh menguraikan keberadaannya. Namun dalam kajian, anggapan para filosof Muslim dalam menguraikan masalah hanya menyalin ulang dari para filosof Yunani Aristoteles.Hal ini dinegasikan oleh salah satu tokoh filosof Muslim, yaitu Ibnu Sina. Ia menegaskan dalam filsafat Islam yang berasaskan wahyu berbeda dengan Yunaniyang berasaskan rasio. Berangkat dari uraian tersebut makalah ini akan mengkaji konsep jiwa menurut Ibnu Sina. Kajian ini studi literatur dengan menggunakan metode diskriptif-analisis. Dalam pembahasan ini penulis menghasilkan tiga kesimpulan penting. Yakni Konsep Tuhan Ibnu Sina berbeda dengan Yunani (Aristoteles). Kemudian, Asal-usul jiwa berasal dari pancaran (emanasi) dari akal kesepuluh dan dibawah planet kesembilan yang darinya melimpahkan jiwa-jiwa bumi; Manusia, Hewan dan Tumbuhan. Terakhir, Jiwa Manusia bersifat kekal dan tidak ikut hancur bersama hancurnya badan. Kekekalan jiwa karena dekat dengan akal dan dikekalkan oleh Tuhan
PROBLEM SEKULER HUBUNGAN AGAMA DAN NEGARA MENURUT ALI ABDUL RAZIQ Mohamad Latief; Amal Fathullah Zarkasyi; Amir Reza Kusuma
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 7 No. 2 (2022): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v7i2.2542

Abstract

Tujuan dibuatnya artikel ini untuk memberikan pengetahuan serta wawasan mengenai konsep islam dan perbedaan antara hukum agama dan hukum Negara menurut berbagai pendapat para ahli. Metode untuk artikel ini mengunakan Jenis kepustakaan atau library research. Jenis data dari metode ini yang didapatkan dari kumpulan data atau penulisan ilmiah yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi melalui penelitian yang kritis dan mendalam terhadap data kepustakaa yang relevan. Data berasal dari sumber-sumber terkait penelitian lainnya. Tulisan ini menggunakan pendekatan teks untuk mengetahui bagaimana model pemikiran politik yang dimiliki oleh Ali Abdurraziq. Selain itu juga digunakan pendekatan sosiologis untuk melihat sejauh mana orisinalitas pemikiran Abdurraziq. Dalam peta pemikiran politik Islam kontemporer, khususnya dalam kajian hubungan agama dan negara, ditemukan tiga pola pemikiran; sekularis, tradisionalis, dan reformis. Berdasarkan pola tersebut, pemikiran Ali Abdurraziq dapat dikategorikan sebagai pemikiran sekuler.
Problem Kebebasan Beragama dalam Praktik Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Amir Reza Kusuma
Tasamuh: Jurnal Studi Islam Vol 15 No 1 (2023): Tasamuh: Jurnal Studi Islam
Publisher : LPPM IAIN Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47945/tasamuh.v15i1.851

Abstract

Hingga saat ini, isu kebebasan beragama terus bergulir. Sejumlah tokoh dan lembaga tiada henti mengampanyekan kebebasan beragama ke setiap lapisan masyarakat dan pemerintahan. Upaya ini muncul setelah hak kebebasan beragama dinilai tercederai oleh sikap yang dianggap intoleran dan tidak menghargai perbedaan. Dilansir dari Kompas.com pada 06/04/2021, Direktur Riset Setara Institute, Halili Hasan menyebut, tindakan intoleransi terhadap kebebasan beragama banyak dilakukan oleh aktor non-negara, seperti kelompok warga, individu, ormas keagamaan, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI). Soal kebebasan beragama atau berkeyakinan sebetulnya telah dilindungi undang-undang seperti yang tertuang dalam Bab XA tentang Hak Asasi Manusia pasal 28E ayat 1 dan 2 tahun 1945. Makalah ini menggunakan metode deskriptif dan analisis,hasilnya Berdakwah dan menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar merupakan kewajiban bagi segenap Muslim, dan telah dipraktikkan oleh para nabi. Mereka mengajak umat manusia agar mengikutinya dalam kebenaran.
PROBLEM SEKULER HUBUNGAN AGAMA DAN NEGARA MENURUT ALI ABDUL RAZIQ Mohamad Latief; Amal Fathullah Zarkasyi; Amir Reza Kusuma
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 7 No. 2 (2022): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v7i2.2542

Abstract

Tujuan dibuatnya artikel ini untuk memberikan pengetahuan serta wawasan mengenai konsep islam dan perbedaan antara hukum agama dan hukum Negara menurut berbagai pendapat para ahli. Metode untuk artikel ini mengunakan Jenis kepustakaan atau library research. Jenis data dari metode ini yang didapatkan dari kumpulan data atau penulisan ilmiah yang memiliki tujuan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi melalui penelitian yang kritis dan mendalam terhadap data kepustakaa yang relevan. Data berasal dari sumber-sumber terkait penelitian lainnya. Tulisan ini menggunakan pendekatan teks untuk mengetahui bagaimana model pemikiran politik yang dimiliki oleh Ali Abdurraziq. Selain itu juga digunakan pendekatan sosiologis untuk melihat sejauh mana orisinalitas pemikiran Abdurraziq. Dalam peta pemikiran politik Islam kontemporer, khususnya dalam kajian hubungan agama dan negara, ditemukan tiga pola pemikiran; sekularis, tradisionalis, dan reformis. Berdasarkan pola tersebut, pemikiran Ali Abdurraziq dapat dikategorikan sebagai pemikiran sekuler.