Achmad Zakir
Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERBAIKAN PREDIKSI CUACA NUMERIK KEJADIAN CURAH HUJAN LEBAT TERKAIT DENGAN KEJADIAN LONGSOR DI BANJARNEGARA MENGGUNAKAN ASIMILASI DATA SATELIT Adi Mulsandi; Aries Kristianto; Achmad Zakir
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol. 19 No. 2 (2018): December 2018
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v19i2.3127

Abstract

Wilayah Banjarnegara terekspos dengan kejadian tanah longsor yang terjadi hampir setiap tahun. Hujan lebat merupakan salah satu faktor penting pemicu terjadinya longsor yang paling mungkin untuk diprediksi, sehingga prediksi hujan lebat yang akurat sangat dibutuhkan dalam sistem peringatan dini longsor. Namun demikian, keterbatasan peralatan pengamatan cuaca di Banjarnegara memberikan kendala tersendiri sehingga dibutuhkan teknik lain dalam pembuatan informasi prediksi cuaca di wilayah ini. Penelitian ini dibuat untuk memberikan kontribusi landasan ilmiah dalam membuat prakiraan cuaca menggunakan model Weather Research and Forecasting (WRF) dengan mengintegrasikan data pengamatan satelit menggunakan WRF Data Assimilation (WRF-DA) untuk memperbaiki kualitas data awal model. Hasil penelitian menunjukan bahwa prosedur asimilasi data satelit cuaca dapat memperbaiki data awal kandungan uap air di atmosfer (+60%) beberapa jam sebelum kejadian hujan lebat. Sehingga hasil prediksi model cuaca numerik dengan menggunakan asimilasi data satelit (DA-SAT) menjadi lebih baik dibandingkan dengan yang tidak menggunakan asimilasi data (Non_DA). Hal ini ditunjukan dengan nilai bias model yang mengecil (-32%) jika dibandingkan dengan data pengamatan penakar hujan stasiun. Hasil perbandingan data series waktu akumulasi curah hujan antara DA-SAT dan Non-DA memperlihatkan adanya perbedaan waktu tercapainya hujan maksimum dan juga perbedaan intensitasnya dimana skema Non-DA lebih lambat (+5 jam) dengan bias (-40%) sementara DA-SAT lebih lambat 0.5 jam dengan bias (+8%). Dapat disimpulkan bahwa asimilasi data satelit dapat memperbaiki kesalahan prediksi jumlah hujan dan waktu kejadiannya. Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi penggunaan asimilasi data satelit dalam pembuatan informasi prediksi cuaca numerik di wilayah Banjarnegara.
TINJAUAN METEOROLOGIS PADA FENOMENA HUJAN LEBAT PENYEBAB BANJIR (STUDI KASUS: CILACAP, 16-17 NOVEMBER 2020 DAN KENDAL, 19 NOVEMBER 2020) SUWIGNYO PRASETYO; ACHMAD ZAKIR
Jurnal Material dan Energi Indonesia Vol 10, No 01 (2020)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4556.44 KB) | DOI: 10.24198/jmei.v10i01.31575

Abstract

Banjir akibat hujan lebat dengan durasi yang lama terjadi di Cilacap (16-17 November 2020) menyebabkan beberapa kecamatan terendam. Hal serupa juga terjadi di Kecamatan Boja, Kendal (19 November 2020). Namun, banjir yang dihasilkan adalah banjir bandang akibat luapan Sungai Blorong sehingga menyebabkan dua orang tewas akibat terseret arus banjir. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian mengenai dinamika atmosfer di wilayah tersebut untuk mengetahui penyebabnya dalam fokus kajian meteorologi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyebab terjadinya fenomena tersebut beserta dinamika atmosfer yang menyertainya. Hasil analisis dinamika atmosfer dengan menggunakan parameter vortisitas, divergensi, dan vertical transport pada lapisan signifikan menunjukkan proses konvektif yang kuat dan didukung keadaan fenomena global La Nina sehingga potensi terjadi hujan lebat sangat intens. Analisis skala lokal dengan indeks stabilitas udara di kedua wilayah studi menunjukkan kondisi atmosfer yang sangat labil. Analisis citra satelit menunjukkan pada kedua wilayah Cilacap dam Kendal terdapat fase awan tebal yang menghasilkan  hujan lebat ditandai dengan suhu pucak awan masing -76℃ dan -80℃.
Utilisation of Weather Radar, Satellites, and ECMWF Models in Analysing Atmospheric Conditions during Hail Events (Case Study: Hail in Depok City on 28 October 2024) Pertiwi Risky Setyowatri; Muhizzadin Abdul Adzan; Ogi Rahmawan Adi Saputro; Achmad Zakir; Aditya Mulya
BULETIN FISIKA Vol. 27 No. 2 (2026): BULETIN FISIKA
Publisher : Departement of Physics Faculty of Mathematics and Natural Sciences, and Institute of Research and Community Services Udayana University, Kampus Bukit Jimbaran Badung Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/BF.2026.v27.i02.p06

Abstract

Hail is precipitation in the form of ice particles that form from the tops of intense convective clouds and fall to the surface before they have time to melt. Hail is relatively rare in tropical regions compared to rainfall, but it has the potential to cause damage to property and infrastructure. This study aims to analyze the atmospheric processes involved in the hail that occurred in Depok on October 28, 2024, using a multi-instrument approach based on weather radar, Himawari-9 RGB day microphysics satellite imagery, and ECMWF model data. The results show the development of cumulonimbus (Cb) clouds with reflectivity >55 dBZ at 08:18 UTC in the Bojong Pondok Terong and Kalimulya sub-districts and at 08:42 UTC in the Pancoran Mas sub-district. There was the emergence of weak echo region and overhang echo structures indicating strong updrafts, VIL values >20 mm, and a probability of hail (ZHAIL) >80%. RGB day microphysics confirmed the presence of cold, thick, and intense Cb clouds in Depok through the dominance of orange-red colors and indications of overshooting tops at 08:20 - 08:50 UTC. In addition, ECMWF shows high humidity at the 980 - 590 mb layer and a vertical velocity pattern that supports updrafts to the formation of downdrafts carrying hail. These findings are expected to enrich the comprehensive understanding of the hail phenomenon in Indonesia and to add much-needed historical records to improve operational threshold determination, thereby producing more accurate predictions and strengthening future mitigation efforts.
Study of Atmospheric Dynamics during the Quasi-Linear Convective System Event in West Sumatra (Case Study of March 11, 2025) Karmelita Asri Widyandaru; Panji Kuswanaji; Ahmad Irsyad Saputra; Achmad Zakir; Aditya Mulya
BULETIN FISIKA Vol. 27 No. 2 (2026): BULETIN FISIKA
Publisher : Departement of Physics Faculty of Mathematics and Natural Sciences, and Institute of Research and Community Services Udayana University, Kampus Bukit Jimbaran Badung Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/BF.2026.v27.i02.p05

Abstract

Quasi-Linear Convective System (QLCS) is an organized quasi-linear convective cloud structure that produces heavy rainfall. This study uses a single explanatory case study method on QLCS that occurred in West Sumatra on 11 March 2025. This study aims to explain the atmospheric dynamic mechanisms in convective system formation and their relationship with rainfall. Doppler C-Band weather radar data from the Padang Meteorological Station were used to analyze QLCS using Lombardo and Colle (2010) criteria. Radar products, including Column Maximum Reflectivity (CMAX) and Surface Rainfall Intensity (SRI), along with ERA5 reanalysis data, were used to examine cloud structure, rainfall intensity, and supporting atmospheric conditions. QLCS had length of 56.81 km, width 8.10 km, maximum reflectivity of 53 dBZ, and 60 minutes lifetime. The system developed due to low-level wind convergence supported by unstable atmospheric conditions, indicated by moderate to high Convective Available Potential Energy (CAPE) values (1000–2000 J kg⁻¹), upward air motion in 700–400 hPa layer, and high mid-level humidity. During the mature phase, QLCS produced heavy rainfall with a maximum intensity of 51 mm/hour. This study contributes to the scientific understanding of the relationship between atmospheric dynamics and regional mitigation efforts by examining rainfall associated with QLCS events.