Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Karakteristik Quasi-Linear Convective System Menggunakan Radar Cuaca di Pontianak Tahun 2019 Aditya Mulya; Rezky Fajar Maulana
Jurnal Fisika Unand Vol 11 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2293.419 KB) | DOI: 10.25077/jfu.11.1.104-112.2022

Abstract

Quasi-Linear Convective System (QLCS) merupakan salah satu sistem konvektif bertipe linear yang dapat menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik QLCS di wilayah Pontianak. Penelitian ini mengambil kasus QLCS yang terjadi selama tahun 2019 di Pontianak dengan memanfaatkan pengamatan berbasis radar cuaca C-Band dalam radius 150 km untuk menganalisis karakteristik QLCS. Karakteristik QLCS yang dianalisis berupa sebaran temporal dan spasial, tipe pembentukan, profil propagasi sistem, serta vertical wind shear lapisan bawah dengan menggunakan produk CMAX, CTR, dan VSHEAR. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kejadian sebanyak 16 kasus QLCS yang terjadi di wilayah cakupan radar cuaca Pontianak selama tahun 2019. Dari fase inisiasi, matang, hingga disipasi, sebagian besar QLCS mampu bertahan hingga 30–60 menit dan 60–90 menit dan lebih banyak terjadi pada siang hari di wilayah coastal plain dikarenakan sifat daratan yang lebih cepat menyerap panas dibandingkan lautan. Pada fase inisiasi, proses pembentukan QLCS lebih sering terjadi dengan tipe broken line dan broken areal. Arah propagasi QLCS cenderung ke arah barat dengan kecepatan yang dominan pada kategori fast moving (> 7 m/s) serta nilai vertical wind shear pada lapisan bawah lebih dari 5 m/s/km (strong) dari fase inisiasi, matang, hingga disipasi karena pengaruh angin darat dan angin laut serta pemanasan matahari yang kuat di wilayah ekuator.
Analisis perbandingan metode CST dan MCST terhadap curah hujan observasi saat banjir Estri Diniyati; Aditya Mulya
Jurnal Ilmiah Matematika Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/konvergensi.v8i1.21459

Abstract

Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi sehingga berpotensi besar terhadap bencana hidrometeorologi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk estimasi curah hujan adalah CST dan mCST. Metode ini mampu untuk mengatasi keterbatasan pengamatan curah hujan di Indonesia. Pada tanggal 22 Februari 2020 di Jakarta Timur dan 28 Desember 2020 di Surabaya telah terjadi hujan ekstrem yang mengakibatkan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan estimasi curah hujan menggunakan metode CST dan mCST terhadap curah hujan observasi saat terjadi hujan ekstrem. Hasil penelitian menunjukkan kedua metode memiliki korelasi yang kuat (0,6 - 0,775) dan signifikan (p-value < 0,05) terhadap curah hujan observasi. Metode CST memiliki korelasi yang lebih kuat dalam mengestimasi curah hujan pada kedua peristiwa banjir. Pada banjir Jakarta, nilai error metode CST (14,017 mm) lebih kecil dibandingkan metode mCST (14,69 mm) sedangkan pada banjir Surabaya nilai error metode mCST (8,353 mm) lebih kecil dibandingkan metode CST (11,512 mm).
Penentuan Jadwal Tanam Padi Berdasarkan Skenario Representative Concentration Pathways (RCP) 4.5 periode 2021-2040 Aditya Mulya; Novia Dewi Ismawardani; Mulyono Rahadi Prabowo; Nuryadi Nuryadi; Munawar Munawar
Jurnal Ilmiah Matematika Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/konvergensi.v0i0.22160

Abstract

Bali merupakan daerah beriklim tropis yang juga rentan terhadap dampak perubahan iklim. Perubahan iklim menyebabkan kemarau panjang sehingga banyak sawah di Provinsi Bali mengalami kekurangan air dan gagal panen. Upaya adaptasi dan mitigasi jangka panjang terhadap perubahan iklim diperlukan untuk mencegah dampak negatif tersebut. Salah satu upaya pencegahan dengan membuat informasi mengenai ketersediaan air tanah bagi tanaman serta memberikan gambaran jadwal tanam yang sesuai dengan kondisi iklim di masa yang akan datang. Representative Concentration Pathways (RCP) 4.5 merupakan skenario yang menggambarkan perubahan iklim di masa mendatang. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui perubahan jadwal tanam padi Provinsi Bali berdasarkan skenario RCP 4.5 dengan model MIROC 5. Data model yang digunakan berisi data parameter suhu udara dan curah hujan periode 2006-2040. Data observasi yang digunakan adalah data curah hujan dan suhu udara periode 1991-2010 serta data ketinggian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di wilayah Bali bagian tengah, pada periode proyeksi 2021-2030 terjadi peningkatan ketersediaan air tanah sehingga jadwal tanam dimulai lebih awal dari periode 1991-2010 yaitu dari Oktober menjadi September. Sedangkan pada periode proyeksi 2031-2040, tingkat ketersediaan air tanah hampir sama dengan periode 1991-2010, sehingga jadwal tanam pertama kembali dimulai pada bulan Oktober
Identifikasi sebaran awan konvektif menggunakan metode RGB dan CCO pada data satelit himawari-8 (studi kasus hujan lebat Putussibau 10 september 2020) Aditya Mulya
Jurnal Ilmiah Matematika Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/konvergensi.v8i1.21457

Abstract

Putussibau merupakan daerah dengan pola curah hujan ekuatorial yang mempunyai dua puncak curah hujan tertinggi dalam satu tahun. Curah hujan yang tinggi disebabkan oleh adanya awan konvektif. Satelit Himawari-8 merupakan salah satu alat yang dapat mengidentifikasi sebaran awan konvektif. Pada tanggal 10 September 2020 terjadi hujan lebat di wilayah Putussibau dengan total curah hujan tercatat mencapai 78.6 mm dalam satu hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran awan konvektif menggunakan metode Night Microphysics Red Green Blue (RGB-NM) dan Cloud Convective Overlays (CCO) pada data satelit Himawari-8. Metode RGB-NM menampilkan citra satelit sebaran awan menggunakan tiga komposit warna Red, Green dan Blue. Metode CCO merupakan teknik overlay awan dengan menggunakan dua algoritma yaitu Split Windows (SP=BTD[IR1-IR2]) dan Dual Channel Difference (S3=BTD[IR1-WV]). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode RGB-NM dan CCO mampu mengidentifikasi dengan baik sebaran awan konvektif yang menyebabkan terjadinya hujan lebat di Putussibau.
ANALYSIS OF ATMOSPHERIC CONDITION ON HAIL EVENT AT PELALAWAN (CASE STUDY: SEPTEMBER 23RD, 2019) Mari Frystine; Aditya Mulya; Aries Kristianto; Meldisa Putri Maulidyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 3 (2022): Special Issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2151.151 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v23i3.813

Abstract

In Pulau Muda Village, hail occurred on September 23rd, 2019 when the entire Riau area was covered by smoke due to forest and land fires phenomenon. The hail was not accompanied by extreme rain and did not cause material harm. However, a study of atmospheric conditions before, during, and after hail occurred is needed to reference for the early warning of future events. The identification of hail cloud stage used the C-Band Radar Reflecticity, Himawari-8 Satellite, and Rain Gauge data. Model data processed by GrADS are used to support the analysis of meteorological parameter. The surface condition are the opposite to the previous study that the surface air temperature increases 2oC and RH decreased 10% from h-1 caused by dry air of the smoke phenomenon. The hail occurred from one single cell CB cloud that developed within 30 minutes reaching the mature stage with its maximum reflectivity core was 65 dBZ and cloud top temperature decreased to -75oC at 06.00 UTC. The convective activity with maximum updraft -1.9 Pa.s-1developed the cloud as the CAPE index increased from 150 to 700 J.kg-1 from 05.00 to 06.00 UTC. The decrease of specific ice water content with maximum downdraft 0,2 Pa.s-1 from 06.00 - 07.00 UTC evidenced that the cloud ice layer produced the hail at the mature to dissipation stage of the cloud. Further study is needed by providing chemistry model data in order to understand more about hail in tropics especially in this unique situation that is among the smoke phenomenon.
ANALISIS KONDISI CUACA SAAT KEJADIAN BANJIR DI KABUPATEN KENDAL MENGGUNAKAN SYNOP, METAR, DAN DATA MODEL GS HIMAWARI-8 (STUDI KASUS: 26-27 JANUARI 2019) MUHAMMAD IKO SAFRILDA MAULANA; ERISKA FEBRIATI; ADITYA MULYA
Jurnal Material dan Energi Indonesia Vol 10, No 01 (2020)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.978 KB) | DOI: 10.24198/jmei.v10i01.31573

Abstract

Pada tanggal 26-27 Januari 2019, telah terjadi fenomena hujan lebat di Kabupaten Kendal. Hujan terjadi sejak pukul 11.55 UTC atau pukul 18.55 WIB dengan puncak hujan lebatnya terjadi mulai pukul 18.05 UTC atau pukul 01.05 WIB. Fenomena hujan lebat tersebut menyebabkan 25 desa di Kabupaten Kendal terendam banjir terutama di wilayah utara Kendal. Penelitian ini dilakukan untuk meninjau kondisi parameter cuaca saat kejadian tersebut. Analisis dari kejadian ini menggunakan data pengamatan synop, METAR, data pemodelan cuaca NWP GS, dan data citra satelit cuaca Himawari-8 yang diolah dengan software SATAID kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis parameter cuaca dan kestabilan atmosfer menunjukkan bahwa hujan terjadi lebih dari 12 jam dengan indeks kestabilan atmosfer menunjukkan adanya konvektif sedang hingga kuat.  Fenomena hujan lebat yang terjadi pada tanggal 26-27 Januari 2019 secara tidak langsung disebabkan oleh adanya sistem konvektif skala sinoptik ditandai dengan adanya Siklon Tropis Riley di selatan Pulau Jawa.Kata kunci: banjir, Himawari-8, pemodelan NWP GS, SATAID, siklon tropis Riley
ANALYSIS OF ATMOSPHERIC CONDITION ON HAIL EVENT AT PELALAWAN (CASE STUDY: SEPTEMBER 23RD, 2019) Mari Frystine; Aditya Mulya; Aries Kristianto; Meldisa Putri Maulidyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 23 No. 3 (2022): Special Issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i3.813

Abstract

In Pulau Muda Village, hail occurred on September 23rd, 2019 when the entire Riau area was covered by smoke due to forest and land fires phenomenon. The hail was not accompanied by extreme rain and did not cause material harm. However, a study of atmospheric conditions before, during, and after hail occurred is needed to reference for the early warning of future events. The identification of hail cloud stage used the C-Band Radar Reflecticity, Himawari-8 Satellite, and Rain Gauge data. Model data processed by GrADS are used to support the analysis of meteorological parameter. The surface condition are the opposite to the previous study that the surface air temperature increases 2oC and RH decreased 10% from h-1 caused by dry air of the smoke phenomenon. The hail occurred from one single cell CB cloud that developed within 30 minutes reaching the mature stage with its maximum reflectivity core was 65 dBZ and cloud top temperature decreased to -75oC at 06.00 UTC. The convective activity with maximum updraft -1.9 Pa.s-1developed the cloud as the CAPE index increased from 150 to 700 J.kg-1 from 05.00 to 06.00 UTC. The decrease of specific ice water content with maximum downdraft 0,2 Pa.s-1 from 06.00 - 07.00 UTC evidenced that the cloud ice layer produced the hail at the mature to dissipation stage of the cloud. Further study is needed by providing chemistry model data in order to understand more about hail in tropics especially in this unique situation that is among the smoke phenomenon.
Penentuan Jadwal Tanam Padi Berdasarkan Skenario Representative Concentration Pathways (RCP) 4.5 periode 2021-2040 Aditya Mulya; Novia Dewi Ismawardani; Mulyono Rahadi Prabowo; Nuryadi Nuryadi; Munawar Munawar
Jurnal Ilmiah Matematika Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/konvergensi.v0i0.22160

Abstract

Bali merupakan daerah beriklim tropis yang juga rentan terhadap dampak perubahan iklim. Perubahan iklim menyebabkan kemarau panjang sehingga banyak sawah di Provinsi Bali mengalami kekurangan air dan gagal panen. Upaya adaptasi dan mitigasi jangka panjang terhadap perubahan iklim diperlukan untuk mencegah dampak negatif tersebut. Salah satu upaya pencegahan dengan membuat informasi mengenai ketersediaan air tanah bagi tanaman serta memberikan gambaran jadwal tanam yang sesuai dengan kondisi iklim di masa yang akan datang. Representative Concentration Pathways (RCP) 4.5 merupakan skenario yang menggambarkan perubahan iklim di masa mendatang. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui perubahan jadwal tanam padi Provinsi Bali berdasarkan skenario RCP 4.5 dengan model MIROC 5. Data model yang digunakan berisi data parameter suhu udara dan curah hujan periode 2006-2040. Data observasi yang digunakan adalah data curah hujan dan suhu udara periode 1991-2010 serta data ketinggian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di wilayah Bali bagian tengah, pada periode proyeksi 2021-2030 terjadi peningkatan ketersediaan air tanah sehingga jadwal tanam dimulai lebih awal dari periode 1991-2010 yaitu dari Oktober menjadi September. Sedangkan pada periode proyeksi 2031-2040, tingkat ketersediaan air tanah hampir sama dengan periode 1991-2010, sehingga jadwal tanam pertama kembali dimulai pada bulan Oktober
Utilisation of Weather Radar, Satellites, and ECMWF Models in Analysing Atmospheric Conditions during Hail Events (Case Study: Hail in Depok City on 28 October 2024) Pertiwi Risky Setyowatri; Muhizzadin Abdul Adzan; Ogi Rahmawan Adi Saputro; Achmad Zakir; Aditya Mulya
BULETIN FISIKA Vol. 27 No. 2 (2026): BULETIN FISIKA
Publisher : Departement of Physics Faculty of Mathematics and Natural Sciences, and Institute of Research and Community Services Udayana University, Kampus Bukit Jimbaran Badung Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/BF.2026.v27.i02.p06

Abstract

Hail is precipitation in the form of ice particles that form from the tops of intense convective clouds and fall to the surface before they have time to melt. Hail is relatively rare in tropical regions compared to rainfall, but it has the potential to cause damage to property and infrastructure. This study aims to analyze the atmospheric processes involved in the hail that occurred in Depok on October 28, 2024, using a multi-instrument approach based on weather radar, Himawari-9 RGB day microphysics satellite imagery, and ECMWF model data. The results show the development of cumulonimbus (Cb) clouds with reflectivity >55 dBZ at 08:18 UTC in the Bojong Pondok Terong and Kalimulya sub-districts and at 08:42 UTC in the Pancoran Mas sub-district. There was the emergence of weak echo region and overhang echo structures indicating strong updrafts, VIL values >20 mm, and a probability of hail (ZHAIL) >80%. RGB day microphysics confirmed the presence of cold, thick, and intense Cb clouds in Depok through the dominance of orange-red colors and indications of overshooting tops at 08:20 - 08:50 UTC. In addition, ECMWF shows high humidity at the 980 - 590 mb layer and a vertical velocity pattern that supports updrafts to the formation of downdrafts carrying hail. These findings are expected to enrich the comprehensive understanding of the hail phenomenon in Indonesia and to add much-needed historical records to improve operational threshold determination, thereby producing more accurate predictions and strengthening future mitigation efforts.
Analisis Awan Cumulonimbus pada Kejadian Angin Kencang di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung (Studi Kasus 20 Mei 2020) Aditya Mulya; Selviana Pratiwi; Yosafat Donni Haryanto; Achmad Zakir
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 2 (2026): March 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.2.365-370

Abstract

Awan Cumulonimbus dapat menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat, badai petir dan angin kencang. Penelitian ini bertujuan menganalisis Awan Cumulonimbus yang berasosiasi dengan angin kencang di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, pada 20 Mei 2020. Data yang digunakan meliputi data Radar Cuaca (produk CMAX, VSHEAR, PPI, dan VIL), citra Satelit Himawari-8 kanal IR, dan data reanalisis ERA5 untuk mengetahui kondisi atmosfer yang menyebabkan terbentuknya awan Cumulonimbus. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan awan Cumulonimbus dari fase tumbuh, matang, hingga meluruh. Suhu puncak awan dari citra IR mencapai sekitar -80°C di wilayah penelitian. Nilai reflektivitas produk CMAX meningkat dari 32-45 dBZ pada fase tumbuh menjadi 53 dBZ pada fase matang, kemudian menurun pada fase peluruhan. Produk VSHEAR menunjukkan kondisi kuat (strong) pada seluruh tahap, sedangkan pola inbound pada produk PPI mengindikasikan adanya angin yang menuju radar. Hasil reanalisis ERA5 menunjukkan adanya massa udara terangkat sehingga memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus. Kombinasi radar, satelit, dan reanalisis ERA5 menunjukkan bahwa kejadian angin kencang di Tulang Bawang, Lampung berasosiasi kuat dengan adanya awan Cumulonimbus. Kondisi ini menguatkan pentingnya integrasi penginderaan jauh untuk mendukung analisis dan peringatan dini cuaca ekstrem khususnya angin kencang di Tulang Bawang, Lampung.