Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

MODEL PENGEMBANGAN BUDAYA RELIGIUS DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN AS-SYAFI’I JEMBER Ahmad Royani
Tarbiyatuna Kajian Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2023): (Februari 2023)
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/tarbiyatuna.v7i1.655

Abstract

Being concerned with aspects of morality among adolescents, including among students, has caused many parties. Educational institutions are expected to be able to internalize religious values ​​in students' lives. Referring to the theory developed by Ralp W Tyler, the most important element in the development of religious culture in an organizational institution is the process of exercises carried out by the school institution itself, which will later build a culture with this exercise. This paper wants to describe the model for the development of religious culture in the As-Syafi'i Vocational High School, Jember. While the method used in this paper is qualitative with a data mining model through interviews, observation, and documentation. The conclusion in this paper is; the development of religious culture in students at As-Syafi'I Vocational School Jember is carried out by instilling systematic behavior or manners in the practice of their religion so that personality, character, attitude, and morality are formed that are noble, noble, and responsible, good relationship with Allah Swt, with fellow humans and with the surrounding natural environment. For this reason, the values ​​developed at As-Syafi'I Jember Vocational School, namely emphasizing morality, achievement, discipline, and environmental culture.
Integrating Behavioral Economics into Islamic Education Management: Promoting Ethical Decision-Making in School Leadership Ahmad Syadidunniam; Ahmad Royani; Nur Ittihadatul Ummah; Siti Aminah
Journal of Psychological Insight Vol. 2 No. 1 (2026): Janury-June
Publisher : Al-Qalam Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61987/jpi.v2i1.1433

Abstract

Ethical leadership in Islamic educational management often faces challenges stemming from behavioral biases that affect decision-making. This study aims to analyze how nudge-based leadership can enhance the ethical and moral quality of school principals’ decision-making within an Islamic educational context. Employing a qualitative case study design, data were collected from school leaders and senior teachers through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis, and analyzed using interpretative and content analysis within a behavioral ethical framework. The findings reveal that leadership practices based on moral modeling, moral reminders, and Islamic choice architecture effectively mitigate social-affinity bias, status quo bias, and overconfidence bias in leadership decisions. These strategies foster ethical behavior by embedding values of amanah, adl, ikhlas, and ihsan into daily organizational routines rather than relying on coercive authority. The novelty of this study lies in integrating nudge theory from behavioral economics with Islamic educational management to offer a value-based behavioral leadership model. The study implies that ethical governance in Islamic schools can be strengthened through a non-coercive behavioral design that aligns spiritual values with managerial practices.
Pendidikan Anak Lereng Pegunungan Argopuro Ahmad Royani; Mukni'ah Mukni'ah
An-Nisa’ Journal of Gender Studies Vol. 11 No. 2 (2018): An-Nisa Journal of Gender Studies
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini di fokuskan pertama pada presefektif buruh tani tentang pendidikan anak, kedua difokuskan pada alternatif pendidikan yang dipilih oleh buruh tani untuk pendidikan anak. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada keluarga buruh tani. Subjek penelitian ini adalah orangtua (bapak dan ibu) dan anak dari keluarga buruh tani. Setting penelitian ini dilakukan di Desa Wonosari Kecamatan Grujugan Bondowoso di ereng gunug Argopuro. Dari hasil penelitian ini dijelaskan bahwa presfektif pendidikan buruh tani tentang pendidikan anak ada beberapa hal yaitu; 1) sebagai penguatan akhlak anak, 2) Pengauatan nilai kemandirian anak, 3) meningkatkan status sosial di masyarakat dan 4) pendidikan juga dipandang sebagai mobilitas sosial. Sedangkan alternatif pendidikan yang ditempuh anak-anak masyarakat petani di Desa Wonosari adalah pendidikan formal dan pendidikan agama. Pondok Pesantren dijadikan sebagai pendidikan alternatif pilihan masyarakat petani di Desa Wonosari ketika orang tua sudah tidak mampu memberikan pendidikan formal yang lebih tinggi kepada anak-anak mereka.
Peningkatan Pemahaman Rukun Iman melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) pada Siswa Kelas V SDN 5 Tanjung Kamal Situbondo Abdul Khalik; Ahmad Royani; Evi Muafia
Journal of Pedagogical and Teacher Professional Development Vol. 1 No. 1 (2024): Journal of Pedagogical and Teacher Professional Development, July 2024
Publisher : Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/jptpd.v1i1.17

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tentang Rukun Iman melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think, Pair, Share (TPS). Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN 5 Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo, Tahun Pelajaran 2024/2025, yang terdiri dari 8 siswa, 1 laki-laki dan 7 perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain dua siklus. Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data meliputi tes hasil belajar PAI, lembar observasi aktivitas peserta didik, dan lembar tanggapan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan hasil belajar PAI siswa pada pemahaman materi Iman kepada Hari Akhir. Pada siklus I, hasil tes menunjukkan 46% siswa mencapai ketuntasan dan 54% belum tuntas, dengan keaktifan siswa mencapai 64%. Pada siklus II, terjadi peningkatan signifikan dengan 88% siswa tuntas dan 12% belum tuntas, serta keaktifan siswa meningkat menjadi 64%. Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think, Pair, Share efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap Rukun Iman, khususnya terkait hari akhir dan hikmahnya. This research aims to determine the improvement of students' understanding in Islamic Religious Education (PAI) regarding the Rukun Iman using the Think, Pair, Share (TPS) cooperative learning model. The subjects of this study were fifth-grade students at SDN 5 Tanjung Kamal, Mangaran District, Situbondo Regency, for the 2024-2025 academic year, consisting of 8 students: 1 male and 7 females. This quantitative study used a two-cycle design. The research instruments included PAI learning outcome tests, student activity observation sheets, and student response sheets. The results showed a significant improvement in students' PAI learning outcomes related to understanding the material on Faith in the Last Day. In the first cycle, 46% of students achieved mastery, while 54% had not yet reached mastery, with student engagement at 64%. In the second cycle, 88% of students achieved mastery, and 12% remained below the standard, while student engagement increased to 64%. Thus, the Think, Pair, Share cooperative learning model effectively enhances students' understanding of the Pillars of Faith, particularly regarding the Last Day and its significance.
Penerapan Metode Cerita Moral dalam Meningkatkan Pemahaman Akhlak Terpuji pada Siswa Kelas III di SD Negeri 1 Besuki Situbondo Ana Susanti; Ahmad Royani; Evi Muafia
Journal of Pedagogical and Teacher Professional Development Vol. 1 No. 1 (2024): Journal of Pedagogical and Teacher Professional Development, July 2024
Publisher : Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/jptpd.v1i1.18

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas III SD Negeri 1 Besuki mengenai akhlak terpuji melalui penerapan metode cerita moral. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya pemahaman siswa terhadap nilai-nilai akhlak terpuji seperti kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam tiga siklus, dimana setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Metode cerita moral dipilih berdasarkan teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengalaman langsung dan interaksi sosial dapat membantu siswa membangun pemahaman moral mereka. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa terhadap akhlak terpuji. Pada siklus pertama, pemahaman siswa masih rendah, namun setelah siklus kedua dan ketiga, terjadi peningkatan signifikan dalam partisipasi dan penerapan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penerapan metode cerita moral terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai akhlak terpuji. This study aims to improve the understanding of third-grade students at SD Negeri 1 Besuki regarding commendable morals through the application of the moral storytelling method. The background of this research is the students' low comprehension of moral values such as honesty, patience, and responsibility. This study employs a Classroom Action Research (CAR) approach conducted in three cycles, with each cycle consisting of the stages of planning, implementation, observation, and reflection. The moral storytelling method was selected based on constructivist theory, which posits that direct experience and social interaction help students develop their moral understanding. The results show a significant improvement in students' understanding of commendable morals. In the first cycle, student comprehension was still low, but after the second and third cycles, there was a substantial increase in participation and the application of moral values in daily life. Thus, the implementation of the moral storytelling method has proven effective in enhancing students' understanding of commendable morals.
Peningkatan Pemahaman Siswa terhadap Q.S. Al-Hujurat/49:13 dan Hadis tentang Keragaman melalui Model Pembelajaran Kontekstual di Kelas IV SDN 7 Pesisir Situbondo Muhammad Mas'ud; Ahmad Royani; Evi Muafia
Journal of Pedagogical and Teacher Professional Development Vol. 1 No. 1 (2024): Journal of Pedagogical and Teacher Professional Development, July 2024
Publisher : Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/jptpd.v1i1.28

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap Q.S. Al-Hujurat/49:13 dan hadis tentang keragaman melalui penerapan model pembelajaran kontekstual di kelas IV SDN 7 Pesisir Situbondo. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam tiga siklus, dengan setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I hanya 35% siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pada siklus II terjadi peningkatan dengan 70% siswa mencapai KKM, dan pada siklus III seluruh siswa (100%) berhasil mencapai KKM dengan hasil yang optimal. Penerapan model pembelajaran kontekstual terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Penggunaan media pembelajaran yang bervariasi, diskusi kelompok, dan simulasi peran (role play) mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa, pemahaman konsep, serta kemampuan berkolaborasi. Dengan demikian, model pembelajaran kontekstual dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk mengajarkan konsep keragaman dan toleransi. This study aims to enhance students' understanding of Q.S. Al-Hujurat/49:13 and the Hadith on diversity through the implementation of a contextual learning model in Grade IV at SDN 7 Pesisir. This research utilizes the Classroom Action Research (CAR) method conducted in three cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection phases. Results indicate that in Cycle I, only 35% of students met the Minimum Mastery Criteria (KKM), while in Cycle II, 70% of students reached the KKM. In Cycle III, all students (100%) successfully achieved the KKM with optimal results. The implementation of the contextual learning model proved effective in improving students' understanding of the taught material. The use of varied learning media, group discussions, and role-play simulations significantly enhanced students' active participation, conceptual understanding, and collaborative skills. Thus, the contextual learning model can be considered an effective alternative in Islamic Education for teaching concepts of diversity and tolerance.
Peningkatan Hasil Belajar Siswa melalui Pembelajaran Interaktif pada Materi Huruf Hijaiyah Bersambung dan Harakat di Kelas II SD Negeri 1 Plalangan Situbondo Husniah Husniah; Ahmad Royani; Evi Muafia
Journal of Pedagogical and Teacher Professional Development Vol. 1 No. 1 (2024): Journal of Pedagogical and Teacher Professional Development, July 2024
Publisher : Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/jptpd.v1i1.29

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SD Negeri 1 Plalangan pada materi huruf hijaiyah bersambung dan harakat melalui penerapan pembelajaran interaktif. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa yang disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran konvensional yang kurang melibatkan siswa secara aktif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran interaktif mampu meningkatkan partisipasi siswa dan hasil belajar mereka. Pada siklus kedua, sebanyak 90% siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran interaktif efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. This study aims to improve the learning outcomes of second-grade students at SD Negeri 1 Plalangan on the topic of Connected Hijaiyah Letters and Harakat through the implementation of interactive learning. The background of this research is the low learning outcomes of students, attributed to conventional teaching methods that lack active student engagement. The research method used is Classroom Action Research (CAR), conducted in two cycles. Each cycle consists of planning, implementation, observation, and reflection stages. The results show that implementing interactive learning can enhance students' participation and learning outcomes. In the second cycle, 90% of the students achieved the Minimum Mastery Criteria (KKM). Based on these findings, it can be concluded that interactive learning is effective in improving students' learning outcomes.
PROBLEMATIKA DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM SEBUAH TELAAH KRITIS: Problems And Policies Of Islamic Education A Critical Study Ahmad Royani; Abd Hamid; Mohamad Ahyar Ma’arif
Fenomena Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v18i1.23

Abstract

Pendidikan Islam, sebelumnya hanya dipersepsi sebagai materi ajar, sekarang telah dipersepsi sebagai materi, sebagai institusi, sebagai kultur, dan sebagai system. Inilah yang sekarang tercermin dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan peraturan pemerintah secara operasional mengatur pelaksanaan undang-undang tersebut. Dengan demikian, maka peneyebutan istilah “pendidikan islam” bisa mencakup empat persepsi: pertama, pendidikan islam dalam pengertian materi; kedua, pendidikan islam dalam pengertian institusi; ketiga, pendidikan islam dalam pengertian budaya dan nilai-nilai, dan keempat, pendidikan islam dalam pengertian pendidikan yang islami. Oleh karenanya dalam konteks perubahan zaman, perkembangan institusi pendidikan islam tidak sepenuhnya bisa menghindar dari perubahan, sebagiman pondok pesntren, lembaga-lembaga islam juga menganut prinsip “continuity and change” atau dalam bahasa pesantrennya disebut“ al-muhafadhah alal qadim ash-shalih wal akhdzu bil jaded al-ashlah”, intitusi pendidikan islam akan terus melakukan perubahan dan adopsi inovasi tetapi tetap mempertahankan tradisi yang baik dan bermanfaat. Islamic Education, previously only perceived as teaching material, has now been perceived as material, an institution, a culture, and a system. This is what is now reflected in Law No. 20 of 2003 on the national education system and government regulations operationally regulate the implementation of the law. Thus, the term "Islamic education" can include four perceptions: first, Islamic education in terms of material; second, Islamic education in terms of institutions; third, Islamic education in the sense of culture and values; and fourth, Islamic education in the importance of Islamic teaching. Therefore, in the context of changing times, the development of Islamic educational institutions can not wholly avoid change; as Pondok pesantren, Islamic institutions also adhere to the principle of “continuity and change,” or in the language of the boarding school called“ Al-muhafadhah alal qadim ash-Salih wal akhdzu bil jaded al-ashlah,” Islamic educational institutions will continue to make changes and adoption of innovation but still maintain a good and valuable tradition.
NILAI-NILAI KEJUJURAN DALAM PENDIDIKAN PRESFEKTIF AL-QUR’AN: The Values Of Honesty In The Qur'anic Perspective Education Ghufron Ghufron; Ahmad Royani
Fenomena Vol 19 No 2 (2020): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v19i2.39

Abstract

Kajian dalam tulisan  ini tentang konsep Al-Qur`an tentang Nilai-Nilai Kejujuran Dalam Pendidikan (Tela`ah Kitab Safwah Al-Tafasir, karya Syekh Muhammad Ali As-Sabuni) bertujuan untuk mengetahui konsep dan nilai kejujuran yang terkandung dalam Al-Qur`an yang ditinjau dari ranah pendidikan. Metode penelitian ini menggunakan metode kajian tematik yang bertujuan untuk menemukan sebuah konsep dan nilai kejujuran dalam Al-Qur`an. Bebarapa konsep yang tercantum dalam Al-Qur`an tentang kejujuran, yang di antaranya adalah: 1)  ṣadaqa yang bermakna jujur dan benar. 2) ṣadaqa yang berarti membenrkan. 3) ṣadaqa yang mempunyai arti  pemberian. 4) ṣadaqa bermakna memberikan sedekah. 5) taṣaḏḏaqa yang berarti memberikan sedekah pula. Nilai-nilai kejujuran yang ada di dalam Al-Qur`an adalah kejujuran dalam bersikap, yang di antaranya: 1) Jujur dalam berkata. 2) Jujur dalam hati. 3) Tidak berkhianat. Lawan sifat jujur adalah: 1) Berkata dusta. 2) Menghianati janji. 3) Lalai dalam menjalankan amanah. Syekh Muhammad Ali As-Sabuni memberikan gambaran dari orang yang jujur. Bahwa orang yang jujur adalah kepercayaan yang utuh kepada Allah SWT dan kepada para utusan utusannya, tidak memiliki keraguan dalam beriman kepada Allah SWT serta mengorbankan segala harta benda yang dimilikinya semata mata hanyalah karena Allah SWT.  Jujur memiliki banyak pengaruh diantaranya adalah: 1) Memilik watak yang baik. 2) Mengikat silaturrahim yang baik. 3) Tertanamnya kepercayaan dari semua orang. The study in this paper about the concept of the Qur'an about the values of honesty in education (Tela'ah Kitab Safwah Al-Tafasir, the work of Sheikh Muhammad Ali As-Sabuni) aims to determine the concept and importance of honesty contained in the Qur'an in terms of the realm of Education. This research method uses a thematic study method that aims to find a concept and the value of honesty in the Qur'an. Some of the ideas listed in the Qur'an about honesty are: 1) ṣadaqa which means honest and trustworthy. 2) ṣadaqa, which means to hit. (3) the meaning of giving. 4)ṣadaqa means giving alms. (5) to give alms means to give alms. The values of honesty in the Qur'an are honesty in attitude, which include: 1) being honest in saying. 2) be honest in your heart. 3) not to betray. The opposite of honesty is 1) telling a lie. 2) break a promise. 3) Default in the exercise of trust. Sheikh Muhammad Ali As-Sabuni describes an honest man. That an honest person a complete trust in Allah SWT and His messengers does not doubt believing in Allah SWT and sacrificing all his possessions solely for the sake of Allah SWT. There are a lot of things to be honest about 1) have a good attitude. 2) Make a reasonable covenant. 3) trust in everyone.
Implikasi Program bantuan Pemerintah Terhadap Peningkatan Kompetensi Guru Ngaji Di Kabupaten Jember: The Implications of Government Assistance Programs on the Improvement of Qur’an Teacher Competence in Jember Regency Aris Maya; Moch. Chotib; Ahmad Royani
Fenomena Vol 17 No 1 (2018): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v17i1.280

Abstract

The number of Quranic teachers in Jember Regency surged dramatically from approximately 8,000 to 25,271 following the implementation of a government assistance program, raising critical questions about whether this quantitative increase aligns with improved teacher competence. This study aims to analyze the implications of government social assistance on the professional competence of Quranic teachers. Using a qualitative approach with a case study design, data were collected through interviews, documentation, and observation. The findings reveal that the assistance, funded by the Jember Regency APBD social expenditure budget, was distributed to 25,271 Quranic teachers across 31 sub-districts and 247 villages, with each teacher receiving IDR 400,000. The program significantly enhanced teacher competence by improving welfare, enabling them to focus on their instructional roles, create engaging learning environments, and achieve effective Al-Qur’an teaching outcomes. The study concludes that adequate welfare positively correlates with teacher professionalism and recommends increasing the assistance amount and establishing a regional regulation for Quranic teacher incentives. Jumlah guru ngaji di Kabupaten Jember meningkat drastis dari sekitar 8.000 menjadi 25.271 setelah adanya program bantuan pemerintah, sehingga memunculkan pertanyaan krusial apakah peningkatan kuantitas ini sejalan dengan kompetensi mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis implikasi bantuan sosial terhadap peningkatan kompetensi profesional guru ngaji. Dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa bantuan yang bersumber dari pos belanja sosial APBD Jember tersebut disalurkan kepada 25.271 guru ngaji di 31 kecamatan dan 247 desa, masing-masing menerima Rp400.000. Program ini berimplikasi penting terhadap peningkatan kompetensi karena kesejahteraan yang memadai mendorong guru ngaji fokus melaksanakan tugas, peran, dan fungsinya secara maksimal, sehingga proses pembelajaran Al-Qur’an berlangsung optimal dan menyenangkan. Kesimpulannya, kesejahteraan yang layak berkorelasi positif dengan profesionalisme guru. Rekomendasi penelitian adalah peningkatan nominal bantuan dan pembentukan peraturan daerah tentang insentif guru ngaji.