Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

LAJU AERASI PADA PENGOMPOSAN LIMBAH SAYURAN MENGGUNAKAN KOMPOSTER DENGAN PENGADUK PUTAR Dwi Ari Cahyani; Rr. Mustika Pramudya A
Sainteks Vol 10, No 2 (2013): SAINTEKS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v10i2.146

Abstract

Sampah merupakan masalah sehari-hari yang dihadapi oleh manusia. Hal ini tidak hanya sedap dipandang, tetapi juga menyebabkan bau yang dapat mempengaruhi masalah serius karena penanganan yang tidak tepat. Oleh karena itu masalah penanganan limbah membutuhkan dukungan dan kerjasama dari semua pihak. Berdasarkan masalah tersebut, perlu penerapan teknologi untuk mengatasi limbah padat dengan menggunakan teknologi daur ulang limbah padat menjadi produk bernilai tinggi kompos. Pengomposan dianggap sebagai teknologi berkelanjutan karena tujuannya untuk pelestarian lingkungan, keselamatan manusia, dan nilai ekonomi. Kompos dapat membantu pelestarian lingkungan dengan cara mengurangi penggunaan pupuk kimia yang dapat menyebabkan degradasi lahan. Kompos tidak langsung juga membantu keselamatan manusia dengan mencegah pembuangan sampah organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat aerasi yang tepat pada pembuatan kompos dari limbah sayuran yang menggunakan komposter dilengkapi dengan sistem pengaduk rotary. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mekanisasi Pertanian Politeknik Banjarnegara pada Oktober 2012. Penelitian ini menggunakan 5 kg limbah sayuran dari pasar tradisional di Banjarnegara kemudian dicampur dengan 1 kg dedak, serbuk gergaji sebanyak 8.50 kg, 2 kg kotoran sapi , dan 10 ml EM4 dengan memberikan 3 ( tiga ) variasi aerasi : 0,5 L / Menit ,1,0 L / Menit; 1,5 L / Menit. Data pengamatan dianalisis dengan menggunakan metode grafik dan analisis statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompos yang dihasilkan telah memenuhi SNI: 19-7030-2004 . Tingkat aerasi terbaik untuk kompos dari limbah sayuran adalah dengan memberikan 0,5 L / Menit aerasi dengan suhu maksimum 46,7 ° C selama 6 jam kompos . Tingkat air terbaik turun 1,5 L / Menit untuk proses pengomposan, level air menurun dari 60.40 % menjadi 43.20 % pada akhir proses pengomposan. PH tertinggi diperoleh dengan memberikan aerasi 1.5L / Menit adalah 7.69 pada akhir proses pengomposan. Hasil rasio CN dan perkecambahan 3 perawatan menunjukkan bahwa kompos telah matang dan siap untuk digunakan . Kata kunci : limbah sayuran, pembuatan kompos, laju aerasi.
ORGANOLEPTIK COOKIES DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG MOKAF DAN TEPUNG BIJI DURIAN Dwi Ari Cahyani
Jurnal Ilmiah Media Agrosains Vol 5 No 1 (2019): Edisi Desember
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung biji durian merupakan tepung yang dihasilkan dengan memanfaatkan biji durianyang tidak dikonsumsi dan tersedia banyak saat musim durian di kabupaten Banjarnegara.Tepung mokaf merupakan tepung singkong fermentasi yang diharapkan bisa menggantikanketergantungan tepung terigu. Cookies tepung biji durian dan tepung mokaf merupakan salahsatu alternatf diversifikasi pangan berbahan lokal Banjarnegara. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui tingkat kesukaan cookies yang dihasilkan dengan substitusi tepung mokaf dantepung biji durian. Bahan utama dalam penelitian ini adalah tepung mokaf yang diperoleh dikabupaten Banjarnegara dan tepung biji durian. Penelitian dilaksanakan di laboratoriumAgroteknologi Politeknik Banjarnegara. Penelitian ini menerapkan metode penelitian eksperimendengan perbandingan mokaf 25%, 50%, 75% dan 100%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Selanjutnya digunakan uji lanjutan untukmengetahui ada tidaknya perbedaan yang nyata antar berbagai perlakuan dengan menggunakuji DMRT. Hasil akhir yang diperoleh dilakukan uji kesukaan atau uji hedonic dengan 20 panesemi terlatih yang terdiri dari mahasiswa, laboran dan dosen. Hasil penelitian menunjukan bahwapanelis paling suka cookies dengan komposisi 50% tepung mokaf dan 50% tepung biji duriadengan nilai rata-rata 3.0967 dengan katagori suka. Panelis paling tinggi menyukai aromacookies yang dihasilkan sebesar 2.8867 dan paling rendah 2.4167 dengan katagori agak sukaPanelis paling menyukai tekstur cookies dengan komposisi 50 % tepung mokaf dan 50 % tepunbiji durian. Penambahan tepung biji durian tidak memberikan beda nyata pada perlakuapengolahan cookies. Panelis paling menyukai rasa cookies dengan pengolahan 100 % tepunmokaf. Dari segi warna cookies yang dihasilkan panelis paling suka dengan warna cookiesdengan komposisi 100% tepung mokaf.
PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG IRUT DAN TEPUNG MOKAF DALAM PENGOLAHAN MIE KERING Dwi Ari Cahyani
Jurnal Ilmiah Media Agrosains Vol 4 No 1 (2018): Edisi Desember
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mie kering merupakan suatu jenis makanan olahan tepung yang sudah dikenal oleh sebagianmasyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadapmie kering yang dihasilkan dengan komposisi yang berbeda antara tepung irut dan tepung mokaf.Penelitian ini menggunakan tepung irut dan tepung mokaf yang diperoleh di Kabupaten Banjarnegaradengan perbandingan komposisi tepung irut yang berbeda 0%, 30%, 50%, 70% dan 100%. Hasilpenelitian mie kering yang diolah menggunakan bahan tepung irut dan tepung mokaf dengan berbagaikomposisi penambahan tepung tidak menunjukan adanya beda nyata terhadap warna, rasa, aroma dantekstur yang dihasilkan pada mie kering tersebut. Dari segi warna kode panelis lebih banyak memilihmie B yaitu mie yang dibuat dengan perlakuan tepung irut sebesar 70% dan 30% tepung mokaf. Darisegi rasa Mie kering tertinggi dengan kode mie D lebih disukai panelis dengan skor 2,80. Dari segi aromadari ke lima perlakuan yang digunakan panelis lebih banyak menyukai aroma mie dengan kode mie Byang terbuat dari 70% tepung irut dan 30% tepung mokaf. Panelis rata-rata menyukai tekstur mie dengankomposisi 30% tepung irut dan 70% tepung mokaf dari segi tekstur mi irut mokaf yang dihasilkan.
ANALISIS EKONOMI USAHA MANDIRI NUGGET KULIT PISANG Mahsun Ridlowi; Dwi Ari Cahyani
Jurnal Ilmiah Media Agrosains Vol 6 No 1 (2020): Edisi Juni
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nugget is one form of ready-to-food frozen food products, which is a product that has undergone heating until half-cooked (precooked), then frozen. Banana bark is the waste of banana fruit that can’t be made with optimal results. The nutrients contained in the peel of banana depends on the maturity of fruit and type and the banana fruit or plaintain banana has fewer fibers than ordinary bananas. The intention of this research is to know whether the business is worthy of banana peel nuggets to continue. This research uses Ambon banana peel in making nugget with extra sago flour, wheat flour, eggs and other spices. The research was conducted in the Polytechnic of Banjarnegara in November to December 2019. The method used by collecting data in the field and being tabulate-then transferred into the table form according to the needs of the analysis. For hypothesized testing tested with cost and profit analysis. The manufacture of banana leather nuggets includes selection of commodities, smoothing, material mixing, grinding, cutting, frying, topping, packing and marketing. Bananas selected are banana Ambon in a mature state that has a sweet flavor and the peel is soft. If the banana peel nugget sold Rp5.000,00 per package in order to get breakeven need to produce 115 packaging. From the results of the analysis obtained the ROI of the amount 9,86% which means the manufacture of the banana peel nugget will benefit Rp 9,86% for every Rp100,00 invested. From the results of the analysis of R/C ratio can be concluded that each expenditure of 1 rupiah resulted in revenues 1.09 rupiah, thereby then this business can be said to be feasible and can be developed. Kata kunci : analisis ekonomi, kulit pisang, nugget Abstrak Nugget merupakan salah satu bentuk produk makanan beku siap saji, yaitu produk yang telah mengalami pemanasan sampai setengah matang (precooked), kemudian dibekukan. Kulit pisang adalah limbah dari buah pisang yang belum bisa dimaanfatkan dengan hasil optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui layak atau tidaknya usaha nugget kulit pisang untuk dilanjutkan. Penelitian ini menggunakan kulit pisang ambon dalam pembuatan nugget dengan tambahan tepung sagu, tepung terigu, telur dan bumbu lainnya. Penelitian dilaksanakan di Politeknik Banjarnegara pada bulan November hingga Desember 2019. Metode yang digunakan dengan mengumpulkan data di lapangan dan ditabulasikan, kemudian dipindahkan ke dalam bentuk tabelaris sesuai dengan kebutuhan analisis. Untuk pengujian hipotesisis diuji dengan analisis biaya dan keuntungan. Pembuatan nugget kulit pisang meliputi pemilihan komoditas, penghalusan, pencampuran bahan, pengukusan, pemotongan, penggorengan, pemberian topping, pengemasan dan pemasaran. Pisang yang dipilih merupakan pisang ambon dalam keadaan matang yang memiliki rasa manis dan kulitnya sudah lunak. Apabila nugget kulit pisang dijual Rp5.000,00 per kemasan agar mendapatkan titik impas perlu memproduksi 115 kemasan. Dari hasil perhitungan analisis diperoleh ROI sebesar 9,86% yang artinya pembuatan nugget kulit pisang ini akan mendapat keuntungan sebesar Rp 9,86% untuk setiap Rp100,00 yang diinvestasikan. Dari hasil analisis R/C ratio dapat disimpulkan bahwa setiap pengeluaran 1 rupiah menghasilkan pendapatan 1,09 rupiah, dengan demikian maka usaha ini dapat dikatakan layak dan dapat dikembangkan.