MUNAWAR AHMAD
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Power Contestation on Marriage Age Discourse in Dealing with Islamic Value: a Case Study on Nahdlatul Ulama DIAN EKA RAHMAWATI; MUHADJIR DARWIN; MUNAWAR AHMAD
Jurnal Studi Pemerintahan Vol 9, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jgp.v9i1.3871

Abstract

This study aims to understand the debate on the issue of early prevention from the perspective of NU and NU women activist group. Why there is a difference between NU structures and NU women activist groups. What the knowledge regime that underlies the legitimacy of their attitude is. What are the interests behind differences in attitudes and knowledge regimes used. This study uses a qualitative method. The data was collected by interviewing the board of Muslimat NU, PP Fatayat NU, and PP Rahima and collecting documentation from books, journals, magazines, printed and online newspapers, official website, and mass media decisions. Data analysis techniques performed with data reduction, data display, and conclusion. The result shows that differences in attitudes about the issue of early marriage between NU structures and NU women activist groups stem from different perspectives and interests. Differences perspectives can be seen from differences in interpretation "baligh" as the basis for setting marriage age limit. The interest of the NU structures to accomodate early marriage practices are still prevalent among NU and maintain the status quo of the NU gender habitus. The interest of NU women activist groups is to contextually interpret fikih and to fight for the ideology of theological feminism prosecuting patriarchy within the NU gender habitus. NU Women’s activist groups can reproduce reason about gender relation in Islam that derived from the accumulation of social capital and cultural capital. Keywords: Power Contestation, Marriage Age Discourse, Early Marriage, Capitals, Habitus, Nahdlatul Ulama Women's Activist
STATECRAFT KETIGA BAGI POST KONFLIK ISRAEL-PALESTINA 2023 Faidatul Janah; Munawar Ahmad
Journal Pena Wimaya Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Pena Wimaya
Publisher : Pena Wimaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpw.v5i1.13402

Abstract

Konflik Israel Palestina yang berkepanjangan menjadi isu global yang tengah memanas di akhir tahun 2023 ini. Serangan Hamas kepada Israel pada 7 Oktober lalu telah meluluhlantahkan Palestina kembali. Pada penelitian ini, Penulis menganalisis konflik yang telah terjadi menggunakan teori Postmodernism yang berorientasi pada pengetahuan di balik serangan yang dilakukan oleh Hamas. Demikian Geneologi sejarah sebagai perspektif yang digunakan dalam penelitian ini guna mengetahui alur sejarah masa lalu hingga masa kini. Metode yang digunakan berupa Studi Pustaka (Library Research) dengan jenis penelitiannya berupa kualitatif yaitu dengan mengutip literatur dari buku, jurnal, artikel, dan wacana isu konflik dari berita Internasional. Hasil penelitiannya yaitu : 1) Pengetahun di balik serangan Hamas kepada Israel yaitu tidak terlepasnya dukungan dari Iran kepada Hamas atas kebebasan Palestina. Hal ini serangan terjadi sebagai “reaksi” atas perlakuan Israel dalam menjajah Palestina. Adapun yang menjadi sebab kekerasan yang dilakukan Hamas adalah mengenai Ideologi dan history demografi. 2) Statecraft kedua fase mengalami kegagalan, maka penulis menawarkan sebagai upaya mencapai perdamaian dengan reunifikasi dua negara yang berlandaskan hukum internasional yaitu dengan memberlakukan “One Country Two System” di modern ini sebagai statecraft fase ketiga yaitu menjadi Republik Israel.Keywords: Konflik Israel-Palestina, One Country Two Sytem, Statecraft Ketiga.