Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Lama Paparan Bising Knalpot terhadap Gangguan Pendengaran Akibat Bising pada Pengendara Motor (Studi Observasional Analitik pada Komunitas Motor RX King 2 Strokes): The Relationship Between the Duration of Exhaust Noise Exposure and Noise-Induced Hearing Loss Among Motorcyclists (An Analytical Observational Study in the RX King 2-Stroke Motorcycle Community) Rano Aditomo; Anna Amatullah; Agung Sulistyanto; Azizah Hikmah Safitri
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 2: Februari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i2.10362

Abstract

Remaja Paparan kebisingan knalpot sepeda motor, khususnya RX King 2 Strokes, berpotensi menimbulkan gangguan pendengaran akibat bising (Noise Induced Hearing Loss) apabila terjadi dalam durasi yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama paparan bising knalpot terhadap gangguan pendengaran pada pengendara motor RX King 2 Strokes. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk menilai lama paparan bising dan pemeriksaan audiometri nada murni untuk menilai tingkat gangguan pendengaran pada 30 anggota komunitas RX King 2 Strokes. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden telah mengalami gangguan pendengaran, dengan derajat terbanyak berupa tuli ringan. Namun, hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar ?0,031 dengan nilai p = 0,870, yang menandakan bahwa hubungan antara lama paparan bising knalpot dan gangguan pendengaran bersifat sangat lemah dan tidak signifikan secara statistik.
Association Between Systemic Disease And Presbycusis Among Patients Of Chronic Disease Management Miska Mahira Majid; Rano Aditomo; Shelly Tjahjadewi; Andhika Dwi Anggara
International Journal of Health Engineering and Technology Vol. 4 No. 6 (2026): IJHET MARCH 2026
Publisher : CV. AFDIFAL MAJU BERKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55227/ijhet.v4i6.597

Abstract

Presbycusis or age-related hearing loss significantly affects the quality of life of the elderly, with systemic diseases such as hypertension, diabetes mellitus, and dyslipidemia potentially accelerating its occurrence through vascular mechanisms. This study aims to analyze the relationship of these conditions to the occurrence of presbycusis in PROLANIS patients at the Kedungmundu Community Health Center. This observational analytical study with a cross-sectional design used 44 purposive samples aged ≥55 years. Data were collected through audiometry (ISO 1964 standard, bilateral >25 dB HTL) and medical record review, analyzed using the Chi-Square and Fisher's Exact tests (SPSS v.26, p<0.05). The results showed a prevalence of presbycusis of 68.2%, with a significant association for hypertension (p=0.000) and diabetes mellitus (p=0.006), but not for dyslipidemia (p=0.413). Hypertension and diabetes mellitus significantly increase the risk of presbycusis in PROLANIS patients, so routine audiometric screening in primary health facilities is necessary.
Hubungan Gaya Hidup terhadap Risiko Kejadian Presbikusis pada Pasien Diabetes dan Hipertensi di Puskesmas Kedungmundu: The Relationship of Lifestyle to the Risk of Presbycusis in Diabetes and Hypertension Patients at the Kedungmundu Community Health Center Rano Aditomo; Feni Arraiyanfi; Andriana Tjitria Widi Wardani Sardjana; Reza Adityas Trisnadi
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 4: April 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i4.10851

Abstract

Presbikusis atau age-related hearing loss merupakan gangguan pendengaran progresif akibat proses penuaan yang berdampak pada kualitas hidup lansia. Selain faktor usia, gaya hidup seperti aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan pola makan diduga berperan dalam meningkatkan risiko presbikusis, terutama pada pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi. Mengetahui hubungan antara gaya hidup dengan kejadian presbikusis pada pasien lansia dengan diabetes melitus dan hipertensi di Puskesmas Kedungmundu. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 51 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan audiometri untuk menilai presbikusis serta kuesioner gaya hidup yang meliputi aktivitas fisik (IPAQ-SF), kebiasaan merokok, dan pola makan (FFQ). Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square.Dari 51 responden, sebagian besar memiliki gaya hidup tidak sehat (68,6%). Proporsi presbikusis lebih tinggi pada kelompok dengan gaya hidup tidak sehat (80,0%) dibandingkan kelompok dengan gaya hidup sehat (43,8%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,010 yang menandakan adanya hubungan signifikan antara gaya hidup dan kejadian presbikusis. Terdapat hubungan yang signifikan antara gaya hidup dengan kejadian presbikusis pada pasien diabetes melitus dan hipertensi. Gaya hidup tidak sehat meningkatkan proporsi kejadian presbikusis.