Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Sunni-Syiah sebagai Belenggu Sejarah: Mengurai Pemikiran Ahmad Syafii Maarif tentang Konflik Internal Umat Islam Taufani Taufani
MAARIF Vol 18 No 1 (2023): Mewarisi Legacy Buya Ahmad Syafii Maarif: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v18i1.214

Abstract

Konflik internal agama tumbuh dengan subur di era pasca Orde Baru ditandai dengan menguatnya kebencian berdasarkan sektarianisme Sunni dan Syiah. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan pemikiran Ahmad Syafii Maarif (ASM) terkait konflik Sunni dan Syiah yang selama ini belum banyak dikaji oleh para sarjana. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif di mana data diperoleh dari tulisan-tulisan ASM yang fokus membahas tentang persoalan Sunni dan Syiah dan diperkaya oleh berbagai buku dan jurnal yang relevan dengan fokus studi. Artikel ini menunjukkan bahwa konflik Sunni dan Syiah yang terjadi dewasa ini, termasuk di Indonesia, adalah buah dari warisan konflik para elit Arab yang dimulai dari para sahabat Nabi hingga konflik antarnegara Arab di era kontemporer. Akar masalah dari konflik tersebut adalah adanya nafsu akan kekuasaan politik oleh para elit Arab. Pemikiran ASM dapat menjadi alternatif pemikiran di tengah menguatnya sumbu ekstrim Sunni dan Syiah yang telah memecah persatuan dunia Islam.
Religion and Violence: Unraveling Ahmad Syafii Maarif’s Philosophical Thought on the Muslim Community’s Internal Conflict Taufani Taufani; Juhansar Juhansar; Hengki Firmanda
Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies Vol. 19 No. 2: December 2023
Publisher : Fakultas Studi Islam dan Peradaban, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/afkaruna.v19i2.18080

Abstract

This article outlines the philosophical view of Ahmad Syafii Maarif (ASM) in addressing internal conflicts within Muslims by tracing its root causes among Arab elites, starting from the time of the Prophet’s companions to inter-Arab conflicts in the contemporary era. This research is qualitative with a narrative approach using data from ASM’s writings and other related sources. The researchers collected, summarized, and presented data in a narrative format before concluding the data. Data analysis was conducted using Miles and Huberman’s thematic analysis technique. This article shows that the conflict among Muslims today, including in Indonesia, according to ASM, is the result of the legacy of conflict among Arab elites that began with the Prophet’s companions until the conflict between Arab nations in the contemporary era. The root of the problem in the conflict is the desire for political power by Arab elites. ASM’s post-Chicago studies resulted in substantial shifts in his attitude and philosophical perspective. He reevaluated the role of Islamic ethics in society concerning the concept of an Islamic state, encouraged interreligious tolerance among Muslims, questioned traditional female roles in Islam, and took a more critical stance toward sectarian differences within the faith. Indeed, ASM’s thought is supposed to be an alternative for resolving the internal conflict among Muslims worldwide.
AN ETHNOGRAPHIC STUDY OF THE MINORITY MUSLIM COMMUNITY IN MINAHASA: CULTURAL ADAPTATION AND SOCIAL CONTRIBUTIONS IN A CHRISTIAN-MAJORITY SETTING Muhammad Kamil Jafar; Taufani Taufani; Ramli Semmawi; Natalia Olivia Kusuma Dewi Lahamendu
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v11i1.4512

Abstract

Studies on interfaith relations in Indonesia are often trapped in a simplistic dichotomy between potential sectarian conflict and the romanticism of normative tolerance. This ethnographic study aims to analyze the lived experiences, cultural adaptation mechanisms, and dynamics of peaceful coexistence within a minority Muslim community amidst a Christian-majority population in Minahasa, North Sulawesi. Employing a qualitative approach with a holistic ethnographic design, data were gathered through participant observation (a four-month living-in period), in-depth interviews, and documentary analysis across two strategic sites: the inland historical enclave of Kampung Jawa Tondano (Jaton) and the coastal region of Minahasa (Kema). Data were analyzed iteratively using Clifford Geertz’s symbolic anthropology framework (webs of significance) and Pierre Bourdieu’s cultural sociology (habitus, field, and capital). The findings reveal that: (1) The integration of the Islamic community in Minahasa did not stem from political expansion, but through peaceful acculturation including intermarriage, the creolization of the Javanese Tondano language, and the inculturation of life-cycle rituals without compromising doctrinal orthodoxy; (2) The philosophy of Si Tou Timou Tumou Tou and the doctrine of Torang Samua Basudara transform majority-minority dynamics into cultural fictive kinship, operationalized through the traditional Mapalus institution as an everyday habitus of tolerance (lived tolerance), such as cross-guarding protocols during religious holidays and halal culinary management (orang dapur); and (3) The minority Muslim community actively converts its cultural and symbolic capital (historical legitimacy as national hero descendants) into trust-based social capital and functional interdependence within economic arenas. This study concludes that sustainable peace is not dictated by top-down regulations, but is nurtured through cultural dispositions actively practiced in daily social routines.Keywords: Ethnography, Minority Muslim, Minahasa, Habitus of Tolerance, Mapalus, Torang Samua Basudara.Abstrak:  Kajian hubungan antarumat beragama di Indonesia sering kali terjebak dalam dikotomi simplistis antara potensi konflik sektarian atau romantisme toleransi normatif. Penelitian etnografis ini bertujuan untuk menganalisis lived experience, mekanisme adaptasi budaya, serta dinamika koeksistensi damai komunitas Muslim minoritas di tengah masyarakat mayoritas Kristen di Minahasa, Sulawesi Utara. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi holistik, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif (living-in selama empat bulan), wawancara mendalam, dan studi dokumentasi di dua lokasi strategis: enklave historis pedalaman Kampung Jawa Tondano (Jaton) dan kawasan pesisir Minahasa (Kema). Analisis data dilakukan secara iteratif menggunakan kerangka antropologi simbolik Clifford Geertz (webs of significance) dan sosiologi budaya Pierre Bourdieu (habitus, field, dan capital). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Integrasi komunitas Islam di Minahasa tidak terbentuk melalui ekspansi politik, melainkan melalui akulturasi damai termasuk pernikahan silang, kreolisasi bahasa Jawa Tondano, dan inkulturasi ritus daur hidup tanpa mengorbankan ortodoksi akidah; (2) Falsafah Si Tou Timou Tumou Tou dan doktrin Torang Samua Basudara mentransformasikan relasi mayoritas-minoritas menjadi kekerabatan kultural (fictive kinship), yang dioperasionalkan melalui pranata Mapalus sebagai habitus toleransi sehari-hari (lived tolerance), seperti tradisi pengamanan silang tempat ibadah dan sensitivitas tata kelola kuliner halal (orang dapur); serta (3) Komunitas Muslim minoritas secara aktif mengonversi modal kultural dan simbolik (legitimitasi sejarah pejuang bangsa) menjadi modal sosial berbasis kepercayaan (trust) dan ketergantungan fungsional di arena ekonomi. Studi ini menyimpulkan bahwa perdamaian yang berkelanjutan tidak didikte oleh regulasi top-down, melainkan dirawat melalui disposisi kultural yang dihidupi dalam rutinitas harian masyarakat.Kata Kunci: Etnografi, Muslim Minoritas, Minahasa, Habitus Toleransi, Mapalus, Torang Samua Basudara.