Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

ETOS KERJA DALAM PERSPEKTIF ISLAM (Peluang dan Tantangan Profesionalisme Masyarakat Muslim dalam Era Modern) Gadeng, Tarmizi
Jurnal Mentari Vol 12, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUAN Islam, di antara agama-agama yang ada di dunia, adalah satu-satunya agama yang menjunjung tinggi nilai kerja. Ketika masyarakat dunia pada umumnya menempatkan kelas pendeta dan kelas militer di tempat yang tinggi, Islam menghargai orang-orang yang berilmu, petani, pedagang, tukang dan pengrajin. Sebagai manusia biasa, mereka tidak diunggulkan dari yang lain, karena Islam menganut nilai persamaan di antara sesama manusia di hadapan manusia. Ukuran ketinggian derajat adalah ketakwaannya kepada Allah, yang diukur dengan iman dan amal salihnya. Dalam suasana kehidupan yang sulit dewasa ini, umat Islam ditantang untuk bisa survive, dan membangun kembali tatanan kehidupannya–moral, ekonomi, sosial, politik dan sebagainya untuk membuktikan, bahwa rekomendasi Allah kepada umat Islam sebagai khaira ummah (umat terbaik) tidak salah alamat.[1] Dalam makalah ini, penulis ingin menampilkan salah satu kajian yang boleh jadi dianggap penting untuk didiskusikan bersama, yaitu tentang bagaimana sebenarnya etos kerja dalam perspektif Islam? Pertanyaan dan kajian ini penting karena ada sebagian kalangan dan analis berpendapat bahwa etos kerja umat Islam lemah dibandingkan negara-negara non-Muslim lainnya. PEMBAHASAN Pengertian Etos Kerja Menurut kamus, perkataan “etos” yang berasal dari bahasa Yunani (ethos) bermakna watak atau karakter. Secara lengkapnya, pengertian etos ialah karakteristik dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan, dan seterusnya, yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Dari perkataan “etos” terambil pula perkataan “etika” dan “etis” yang merujuk kepada makna “akhlaq” atau bersifat “akhlaqi”, yaitu kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok, termasuk suatu bangsa.[2] Juga dikatakan bahwa “etos” berarti jiwa khas suatu kelompok manusia,[3] yang dari jiwa khas itu berkembang pandangan bangsa tersebut tentang yang baik dan yang buruk, yakni, etikanya. Secara sederhana, etos dapat didefinisikan sebagai watak dasar dari suatu masyarakat. Perwujudan etos dapat dilihat dari struktur dan norma sosial masyarakat itu.[4] Sebagai watak dasar dari masyarakat, etos menjadi landasan perilaku diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, yang terpancar dalam kehidupan masyarakat.[5] Karena etos menjadi landasan bagi kehidupan manusia, maka etos juga berhubungan dengan aspek evaluatif yang bersifat menilai dalam kehidupan masyarakat.[6] Weber mendefinisikan etos sebagai keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku seseorang, sekelompok atau sebuah institusi (guiding beliefs of a person, group or institution). Jadi, etos kerja dapat diartikan sebagai doktrin tentang kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai hal yang baik dan benar dan mewujud nyata secara khas dalam perilaku kerja mereka.[7] Adapun indikasi-indikasi orang atau sekelompok masyarakat yang beretos kerja tinggi, menurut Gunnar Myrdal dalam bukunya Asian Drama, ada tiga belas sikap  yang menandai hal itu: (1) Efisien; (2) Rajin; (3) Teratur; (4) Disiplin atau tepat waktu; (5) Hemat; (6) Jujur dan teliti; (7) Rasional dalam mengambil keputusan dan tindakan; (8) Bersedia menerima perubahan; (9) Gesit dalam memanfaatkan kesempatan; (10) Energik; (11) Ketulusan dan percaya diri; (12) Mampu bekerja sama; dan, (13) mempunyai visi yang jauh ke depan.[8] Menurut Sarsono, Konfusionisme memiliki konsep tersendiri berkenaan dengan orang-orang yang aktif bekerja, yang ciri-cirinya antara lain (1) Etos kerja dan disiplin pribadi; (2) Kesadaran terhadap hierarki dan ketaatan; (3) Penghargaan pada keahlian; (4) Hubungan keluarga yang kuat; (5) Hemat dan hidup sederhana; (6) Kesediaan menyesuaikan diri.[9] Beberapa indikasi dan ciri-ciri dari etos kerja yang terefleksikan dari pendapat-pendapat tersebut di atas, secara universal cukup menggambarkan segi-segi etos kerja yang baik pada manusia, bersumber dari kualitas diri, diwujudkan berdasarkan tata nilai sebagai etos kerja yang diimplementasikan dalam aktivitas kerja.   Etos Kerja dalam Kajian Budaya dan Agama Masalah etos kerja memang cukup rumit. Nampaknya tidak ada teori tunggal yang dapat menerangkan segala segi gejalanya, juga bagaimana menumbuhkan dari yang lemah ke arah yang lebih kuat atau lebih baik. Kadang-kadang nampak bahwa etos kerja dipengaruhi oleh sistem kepercayaan, seperti agama, kadang-kadang nampak seperti tidak lebih dari hasil tingkat perkembangan ekonomi tertentu masyarakat saja. Salah satu teori yang relevan untuk dicermati adalah bahwa etos kerja terkait dengan sistem kepercayaan yang diperoleh karena pengamatan bahwa masyarakat tertentu–dengan sistem kepercayaan tertentu–memiliki etos kerja lebih baik (atau lebih buruk) dari masyarakat lain–dengan sistem kepercayaan lain. Misalnya, yang paling terkenal ialah pengamatan seorang sosiolog, Max Weber, terhadap masyarakat Protestan aliran Calvinisme, yang kemudian dia angkat menjadi dasar apa yang terkenal dengan “Etika Protestan”.[10] Para peneliti lain – mengikuti cara pandang Weber – juga melihat gejala yang sama pada masyarakat-masyarakat dengan sistem-sistem kepercayaan yang berbeda, seperti masyarakat Tokugawa di Jepang (oleh Robert N. Bellah), Santri di Jawa (oleh Geertz) dan Hindu Brahmana di Bali (juga oleh Geertz), Jainisme dan Kaum Farsi di India, kaum Bazari di Iran, dan seorang peneliti mengamati hal yang serupa untuk kaum Isma’ili di Afrika Timur, dan sebagainya. Semua tesis tersebut bertitik tolak dari sudut pandang nilai, atau dalam bahasa agama bertitik tolak dari keimanan atau budaya mereka masing-masing.[11] Kesan bahwa etos kerja terkait dengan tingkat perkembangan ekonomi tertentu, juga merupakan hasil pengamatan terhadap masyarakat-masyarakat tertentu yang etos kerjanya menjadi baik setelah mencapai kemajuan ekonomi tertentu, seperti umumnya negara-negara Industri Baru di Asia Timur, yaitu Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura. Kenyataan bahwa Singapura, misalnya, menunjukkan peningkatan etos kerja warga negaranya setelah mencapai tingkat perkembangan ekonomi yang cukup tinggi. Peningkatan etos kerja di sana kemudian mendorong laju perkembangan yang lebih cepat lagi sehingga negara kota itu menjadi seperti sekarang.[12] Pada dekade tahun 80-an, di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia pun tumbuh minat yang cukup besar untuk membuktikan kebenaran tesis Weber di atas. Bahkan pada waktu itu pernah muncul suatu gagasan untuk membangun suatu system teologi yang dapat mendorong keberhasilan proses pembangunan di Indonesia. Pada saat itu suatu gagasan yang disebut dengan “Teologi Pembangunan”, bahkan di Kaliurang Yogyakarta, pernah diadakan seminar tenatang Teologi Pembangunan ini. Gagasan tentang Teologi Pembangunan ini dilandasi oleh asumsi-asumsi: (1) sistem teologi yang dianut oleh umat Islam Indonesia belum mampu mendorong dan membangkitkan etos kerja yang tinggi; (2) umat Islam Indonesia mudah sekali menyerah ketika mengalami suatu kegagalan; (3) umat Islam Indonesia bersifat pasif, fatalis dan deterministik; serta asumsi-asumsi lainnya.[13] Namun, karena masalah teologi sangat sensitif, akhirnya gagasan-gagasan yang pernah dicetuskan itu berakhir dengan tanpa  memperoleh rumusan yang jelas dan sistematis. Kalau kita mau mencermati dan mengkaji makna-makna yang terkandung dalam al-Quran dan Alsunnah, maka kita akan menemukan banyak sekali bukti, bahwa sesunguhnya ajaran Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja keras, dan bahwa ajaran Islam memuat spirit dan dorongan pada tumbuhnya budaya dan etos kerja yang tinggi. Kalau pada tataran praktis, umat Islam seolah-olah beretos kerja rendah, maka bukan sistem teologi yang harus dirombak, melainkan harus diupayakan bagaimana cara dan metode untuk memberikan pengertian dan pemahaman yang benar mengenai watak dan karakter esensial dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Etos Kerja dalam Perspektif Islam a. Pengertian Etos Kerja dalam Islam Membicarakan etos kerja dalam Islam, berarti menggunakan dasar pemikiran bahwa Islam, sebagai suatu sistem keimanan, tentunya mempunyai pandangan tertentu yang positif terhadap masalah etos kerja.[14] Adanya etos kerja yang kuat memerlukan kesadaran pada orang bersangkutan tentang kaitan suatu kerja dengan pandangan hidupnya yang lebih menyeluruh, yang pandangan hidup itu memberinya keinsafan akan makna dan tujuan hidupnya. Dengan kata lain, seseorang agaknya akan sulit melakukan suatu pekerjaan dengan tekun jika pekerjaan itu tidak bermakna baginya, dan tidak bersangkutan dengan tujuan hidupnya yang lebih tinggi, langsung ataupun tidak langsung. Menurut Nurcholish Madjid, etos kerja dalam Islam adalah hasil suatu kepercayaan seorang Muslim, bahwa kerja mempunyai kaitan dengan tujuan hidupnya, yaitu memperoleh perkenan Allah swt. Berkaitan dengan ini, penting untuk ditegaskan bahwa pada dasarnya, Islam adalah agama amal atau kerja (praxis).[15] Inti ajarannya ialah bahwa hamba mendekati dan berusaha memperoleh ridha Allah melalui kerja atau amal saleh, dan dengan memurnikan sikap penyembahan hanya kepada-Nya.[16] Toto Tasmara, dalam bukunya Etos Kerja Pribadi Muslim, menyatakan bahwa “bekerja” bagi seorang Muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh asset, fakir dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khaira ummah), atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.[17] Dalam bentuk aksioma, Toto meringkasnya dalam bentuk sebuah rumusan: KHI = T, AS (M, A, R, A) KHI = Kualitas Hidup Islami T      = Tauhid AS = Amal Shaleh M    = Motivasi A = Arah Tujuan (Aim and Goal/Objectives) R = Rasa dan Rasio (Fikir dan Zikir) A = Action, Actualization. Dari rumusan di atas, Toto mendefinisikan etos kerja dalam Islam (bagi kaum Muslim) adalah: “Cara pandang yang diyakini seorang Muslim bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, tetapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal shaleh dan oleh karenanya mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur.”[18] Sementara itu, Rahmawati Caco, berpendapat bahwa bagi orang yang beretos kerja Islami, etos kerjanya terpancar dari sistem keimanan atau aqidah Islami berkenaan dengan kerja yang bertolak dari ajaran wahyu bekerja sama dengan akal. Sistem keimanan itu, menurutnya, identik dengan sikap hidup mendasar (aqidah kerja). Ia menjadi sumber motivasi dan sumber nilai bagi terbentuknya etos kerja Islami. Etos kerja Islami di sini digali dan dirumuskan berdasarkan konsep iman dan amal shaleh, tanpa landasan iman dan amal shaleh, etos kerja apa pun tidak dapat menjadi Islami. Tidak ada amal saleh tanpa iman dan iman akan merupakan sesuatu yang mandul bila tidak melahirkan amal shaleh. Kesemuanya itu mengisyaratkan bahwa iman dan amal shaleh merupakan suatu rangkaian yang terkait erat, bahkan tidak terpisahkan.[19] Dari beberapa pendapat tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa etos kerja dalam Islam terkait erat dengan nilai-nilai (values) yang terkandung dalam  dan Alsunnah tentang “kerja” – yang dijadikan sumber inspirasi dan motivasi oleh setiap Muslim untuk melakukan aktivitas kerja di berbagai bidang kehidupan. Cara mereka memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai  dan Alsunnah tentang dorongan untuk bekerja itulah yang membentuk etos kerja Islam. b. Prinsip-prinsip Dasar Etos Kerja dalam Islam Sebagai agama yang menekankan arti penting amal dan kerja, Islam mengajarkan bahwa kerja itu harus dilaksanakan berdasarkan beberapa prinsip berikut: Bahwa perkerjaan itu dilakukan berdasarkan pengetahuan sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah dalam Alquran, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan mengenainya.”(Q.S, 17: 36).Pekerjaan harus dilaksanakan berdasarkan keahlian sebagaimana dapat dipahami dari hadis Nabi saw, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (Hadis Shahih riwayat al-Bukhari).Berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah, “Dialah Tuhan yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang dapat melakukan amal (pekerjaan) yang terbaik; kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mulk: 67: 2). Dalam Islam, amal atau kerja itu juga harus dilakukan dalam bentuk saleh sehingga dikatakan amal saleh, yang secara harfiah berarti sesuai, yaitu sesuai dengan standar mutu.Pekerjaan itu diawasi oleh Allah, Rasul dan masyarakat, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah, “Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu.”(Q.S. 9: 105).Pekerjaan dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Pekerja keras dengan etos yang tinggi itu digambarkan oleh sebuah hadis sebagai orang yang tetap menaburkan benih sekalipun hari telah akan kiamat.[20] Orang berhak mendapatkan imbalan atas apa yang telah ia kerjakan. Ini adalah konsep pokok dalam agama. Konsep imbalan bukan hanya berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan dunia, tetapi juga berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan ibadah yang bersifat ukhrawi. Di dalam Alquran ditegaskan bahwa: “Allah membalas orang-orang yang melakukan sesuatu yang buruk dengan imbalan setimpal dan memberi imbalan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan kebaika.”(Q.S. 53: 31). Dalam hadis Nabi dikatakan, “Sesuatu yang paling berhak untuk kamu ambil imbalan atasnya adalah Kitab Allah.” (H.R. al-Bukhari). Jadi, menerima imbalan atas jasa yang diberikan dalam kaitan dengan Kitab Allah; berupa mengajarkannya, menyebarkannya, dan melakukan pengkajian terhadapnya, tidaklah bertentangan dengan semangat keikhlasan dalam agama.Berusaha menangkap makna sedalam-dalamnya sabda Nabi yang amat terkenal bahwa nilai setiap bentuk kerja itu tergantung kepada niat-niat yang dipunyai pelakunya: jika tujuannya tinggi (seperti tujuan mencapai riza Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya rendah (seperti, hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka), maka setingkat itu pulalah nilai kerjanya tersebut.[21] Sabda Nabi saw. itu menegaskan bahwa nilai kerja manusia tergantung kepada komitmen yang mendasari kerja itu. Tinggi rendah nilai kerja itu diperoleh seseorang sesuai dengan tinggi rendah nilai komitmen yang dimilikinya. Dan komitmen atau niat adalah suatu bentuk pilihan dan keputusan pribadi yang dikaitkan dengan sistem nilai yang dianutnya. Oleh karena itu, komitmen atau niat juga berfungsi sebagai sumber dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu, atau, jika ia mengerjakannya dengan tingkat-tingkat kesungguhan tertentu.Ajaran Islam menunjukkan bahwa “kerja” atau “amal” adalah bentuk keberadaan manusia. Artinya, manusia ada karena kerja, dan kerja itulah yang membuat atau mengisi keberadaan kemanusiaan. Jika filsuf Perancis, Rene Descartes, terkenal dengan ucapannya, “Aku berpikir maka aku ada” (Cogito ergo sum) – karena berpikir baginya bentuk wujud manusia – maka sesungguhnya, dalam ajaran Islam, ungkapan itu seharusnya berbunyi “Aku berbuat, maka aku ada.”[22] Pandangan ini sentral sekali dalam sistem ajaran Islam. Ditegaskan bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apa pun kecuali yang ia usahakan sendiri: “Belumkah ia (manusia) diberitahu tentang apa yang ada dalam lembaran-lembaran suci (Nabi (Musa)? Dan Nabi Ibrahim yang setia? Yaitu bahwa seseorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain. Dan bahwa tidaklah bagi manusia itu melainkan apa yang ia usahakan. Dan bahwa usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian ia akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Dan bahwa kepada Tuhan-mulah tujuan yang penghabisan”.[23]   Itulah yang dimaksudkan dengan ungkapan bahwa, kerja adalah bentuk eksistensi manusia. Yaitu bahwa harga manusia, yakni apa yang dimilikinya – tidak lain ialah amal perbuatan atau kerjanya itu. Manusia ada karena amalnya, dengan amalnya yang baik itu manusia mampu mencapai harkat yang setinggi-tingginya, yaitu bertemu Tuhan dengan penuh keridlaan. “Barang siapa benar-benar mengharap bertemu Tuhannya, maka hendaknya ia berbuat baik, dan hendaknya dalam beribadat kepada Tuhannya itu ia tidak melakukan syirik,”[24] (yakni, mengalihkan tujuan pekerjaan selain kepada Allah, Sang Maha Benar, al-Haqq, yang menjadi sumber nilai terdalam pekerjaan manusia).   Dalam ajaran Islam, beramal dengan semangat penuh pengabdian yang tulus untuk mencapai keridlaan Allah dan meningkatan taraf kesejahteraan hidup umat adalah fungsi manusia itu sendiri sebagai khalifatullah fi al-Ardl. Dalam beramal, zakat misalnya, bisa dimanfaatkan hasilnya untuk keperluan yang bersifat konsumtif, seperti menyantuni anak yatim, janda, orang yang sudah lanjut usia, cacat fisik atau mental dan sebagainya, secara teratur per bulan, atau sampai akhir hayatnya, atau sampai mereka mampu mandiri dalam mencukupi kebutuhan pokok hidupnya.[25] Menangkap pesan dasar dari sebuah hadis shahih yang menuturkan sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Orang mukmin yang kuat lebih disukai Allah”, redaksinya kira-kira begini: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah ‘azza wa jalla dari pada orang mukmin yang lemah, meskipun pada kedua-duanya ada kebaikan. Perhatikanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah menjadi lemah. Jika sesuatu (musibah) menimpamu, maka janganlah berkata: “Andaikan aku lakukan sesuatu, maka hasilnya akan begini dan begitu,”. Sebaliknya berkatalah: “Ketentuan (qadar) Allah, dan apa pun yang dikehendaki-Nya tentu dilaksanakan-Nya”. Sebab sesungguhnya perkataan “andaikan” itu membuka perbuatan setan”.[26]   Dengan demikian, untuk membuat kuatnya seorang mukmin seperti dimaksudkan oleh Nabi Saw, manusia beriman harus bekerja dan aktif, sesuai petunjuk lain: “Katakan (hai Muhammad): “Setiap orang bekerja sesuai dengan kecenderungannya (bakatnya) ….”[27] Juga firman-Nya, “Dan jika engkau bebas (berwaktu luang), maka bekerja keraslah, dan kepada Tuhan-Mu berusahalah mendekat”.[28]   Karena perintah agama untuk aktif bekerja itu, maka Robert N. Bellah mengatakan, dengan menggunakan suatu istilah dalam sosiologi modern, bahwa etos yang dominan dalam Islam ialah menggarap kehidupan dunia ini secara giat, dengan mengarahkannya kepada yang lebih baik (ishlah).[29] Maka adalah baik sekali direnungkan firman Allah dalam surah al-Jumu’ah: “Maka bila sembahyang itu telah usai, menyebarlah kamu di bumi, dan carilah kemurahan (karunia) Allah, serta banyaklah ingat kepada Allah, agar kamu berjaya”.[30] Dari prinsip-prinsip dasar di atas, penting juga dirumuskan ciri-ciri orang yang mempunyai dan menghayati etos kerja Islam, hal itu akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu merupakan bentuk ibadah, suatu panggilan dan perintah Allah yang akan memuliakan dirinya, memanusiakan dirinya sebagai bagian dari manusia pilihan (khaira ummah), Toto Tasmara merinci ciri-ciri etos kerja Muslim, sebagai berikut: (1) Memiliki jiwa kepemimpinan (leadhership); (2) Selalu berhitung; (3) Menghargai waktu; (4) Tidak pernah merasa puas berbuat kebaikan (positive improvements); (5) Hidup berhemat dan efisien; (6) Memiliki jiwa wiraswasta (entrepreneurship); (7) Memiliki insting bersaing dan bertanding; (8) Keinginan untuk mandiri (independent); (9) Haus untuk memiliki sifat keilmuan; (10) Berwawasan makro (universal); (11) Memperhatikan kesehatan dan gizi; (12) Ulet, pantang menyerah; (13) Berorientasi pada produktivitas; dan (14) Memperkaya jaringan silaturrahim.[31] Problema Etos Kerja Dalam Masyarakat Islam Nilai kerja dalam masyarakat Islam mulai merosot akibat berkembangnya pemerintahan feodal yang zalim. Dalam sistem pemerintahan yang seperti itu, timbul kehidupan yang mewah di kalangan elite bangsawan. Pemerintahan yang otoriter menyebabkan motivasi rakyat untuk bekerja merosot. Dalam keadaan tertindas, rakyat “lari” kepada Tuhan. Sebenarnya, tauhid yang merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam, bersifat membebaskan. Tauhid telah menghapus sistem hak milik feodal, karena seluruh hak milik raja dan penguasaan tanah oleh kaum feodal itu “diambil alih” oleh Tuhan untuk dilimpahkan kembali kepada rakyat. Tapi rakyat yang tak bersenjata tak bisa berbuat apa-apa. Karena itulah, yang timbul adalah aliran tasawuf. Dalam dunia Islam di Timur Tengah, timbulnya aliran-aliran tasawuf berkorelasi positif dengan berkembangnya pemerintahan otoriter. Dalam keadaan yang lemah secara ekonomis, politis maupun mental, rakyat tidak bisa mendukung pemerintahan. Itulah sebabnya pemerintahan Islam akhirnya lemah di dalam dan hancur oleh invansi dan akhirnya jatuh ke tangan penjajah. Runtuhnya perekonomian kaum Muslim adalah akibat penjajahan bangsa-bangsa Eropa. Mereka jatuh ke tangan penjajah karena pemerintahannya lemah. Dan pemerintahan lemah karena tidak didukung oleh rakyat yang lemah akibat pemerintahan yang otoriter dan represif.[32] Dewasa ini, kebanyakan negara-negara berpenduduk Islam termasuk dalam kategori negara-negara sedang berkembang dan Dunia Ketiga, yaitu kelompok negara-negara yang pada masa Revolusi Industri tidak ikut serta dalam proses pembentukan Orde Dunia sekarang yang kapitalis itu. Pada masa itu, kebanyakan dunia Islam malahan jatuh ke tangan penjajahan dan mengalami eksploitasi ekonomi oleh system kolonialisme. Kapitalisme, menimbulkan pertumbuhan ekonomi di satu pihak dan keterbelakangan di lain pihak. Keterbelakangan itu terjadi melalui mekanisme kolonialisme dan imperialisme. Eksploitasi pada zaman penjajahan itu merupakan penjelasan atas terjadinya kemiskinan di dunia Islam termasuk Indonesia. Koeksidensi antara kemiskinan dan kemusliman itu menimbulkan kesimpulan bahwa etos kerja di kalangan kaum Muslim itu rendah, padahal dewasa ini, Dunia Ketiga tidak hanya terdiri atas dunia Islam. Filipina juga sebuah negara yang masih terbelakang ekonominya, padahal mayoritas penduduknya beragama Katolik. Sebab-sebab kemiskinan itu adalah faktor-faktor yang kompleks yang terjalin dalam sejarah dan karena itu tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan etos kerja.[33] Harapan perkembangan dunia Islam agaknya berasal dari dunia pendidikan. Etos kerja tidak hanya semata-mata bergantung kepada nilai-nilai agama dalam arti sempit, tetapi dewasa ini sangat dipengaruhi oleh pendidikan, informasi, dan komunikasi. Oleh sebab itu, yang perlu dkembangkan adalah etos ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Apabila kelak sudah banyak tenaga-tena muda terpelajar di pusat dunia Islam, maka orientasi mereka terhadap etos industri akan berkembang. Dalam konteks Indonesia, kelompok-kelompok masyarakat dalam Pergerakan Indonesia agaknya mengambil tema yang berbeda-beda dari Alquran yang menyebabkan tumbuhnya etos yang berbeda di antara mereka. Etos Masyumi adalah musyawarah dengan cita-cita kemasyarakatan ke arah tercapainya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (Negara yang Adil Makmur di bawah Ampunan Ilahi). Muhammadiyah mengambil tema lain, yaitu yang tercantum dalam surah Ali Imran ayat 104, sedangkan ayat yang dijadikan dasar berorganisasi Nahdlatul Ulama (NU) adalah surah Ali Imran ayat 103. Di kalangan cendekiawan Muslim telah berkembang etos di sekitar konsep Ulul al-Bab, seperti yang tercantum dalam surat Ali ‘Imran ayat 190-191. Yang pertama menekankan dakwah amar ma’ruf nahy munkar, sedangkan yang kedua menekankan persatuan umat. Sementara itu, ICMI (yang berdiri 7 esember 1990) menekankan peranan kelompok pemikir dalam perkembangan masyarakat.[34] PENUTUP Sebenarnya, “etos kerja” dalam perspektif Islam adalah seperangkat “nilai-nilai etis” yang terkandung dalam ajaran Islam – Alquran dan Alsunnah – tentang keharusan dan keutamaan bekerja, yang digali dan dikembangkan secara sungguh-sungguh oleh umat Islam dari masa ke masa, dan itu sangat mempengaruhi tindakan dan kerja-kerjanya di berbagai bidang kehidupan dalam mencapai hasil yang diharapkan lebih baik dan produktif. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ajaran Islam sejelas-jelasnya memberikan inspirasi dan motivasi kepada umat Islam agar bekerja sebaik-baiknya untuk mencapai hasil yang terbaik, dan ini tentunya dengan tidak mengabaikan landasan etis atau prinsip-prinsip dasar dan umum yang ada di dalam ajaran Islam. Yang perlu diingat, etos kerja Islami dapat terhambat oleh sistem pemerintahan yang feodal, otoriter dan represif terhadap rakyat. Oleh karena itu, etos kepemimpinan di dunia Islam khususnya, harus dibenahi dengan pemahaman yang utuh terhadap etos kerja dalam ajaran Islam. Dalam implementasinya, umat Islam merumuskan tema tertentu dalam mengembangkan etos kerjanya; ada yang menampilkan etos “khaira ummah” sebagai dasar pijaknya, ada pula etos “keadilan”, etos “musyawarah”, etos “ulul al-bab”, etos “imamah”, etos “tauhid yang membebaskan”, etos “iptek”, etos “persamaan gender”, etos “HAM”, etos “pluralisme”, dan sebagainya. Semua tema tersebut pada dasarnya digali dari Alqurqan. Munculnya keragaman tema karena latarbelakang umat Islam yang beragam dengan segala kepentingan yang juga berbeda, sehingga skala prioritas yang mungkin ingin ditujunya melalui tema-tema tertentu yang dianggapnya penting untuk dikembangkan dalam konteks tuntutan dan semangat zamannya. Tujuannya tetap sama, “hasanah” di dunia, dan “hasanah” kelak di akhirat. Ini tidak berarti mengabaikan ayat-ayat Alquran lainnya yang tidak dirumuskan dalam bentuk tema tertentu dimaksud. Setiap Muslim memiliki kesempatan dalam mengakses ajaran Alquran sesuai kemampuan dan kebutuhannya.  Di sinilah kunci utama universalisme ajaran Islam – shalih likulli zaman wa makan. Wallahu a’lam bi al-shawab. DAFTAR PUSTAKA   Abdullah, Taufik, Agama, Etos Kerja dan Pengembangan Ekonomi, (Jakarta: LP3ES, 1982). Al-Faruqi, Ismail, Al-Tawhid: Its Implication for Thought and Life (Herndon, Virginia: IIIT, 1995). Al-Mundziry, Al-Hafidh, Mukhtashar Shahih Muslim, 2 Jilid (Kuwait: Wazarat al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah, 1388 H/1969 M), jil. 2. Al-Thahthawi, Al-Sayyid ‘Abd al-Rahim ‘Anbar, Hidayat al-Bari ila Tartib al-Ahadits al-Bukhary, 2 Jilid (Kairo: al-Maktabat al-Tijariyah al-Kubra, 1353 H), jil. 1. Bellah, Robert N., “Islamic Tradition and the Problem of Modernization” dalam Robert N. Bellah, ed., Beyond Belief (New York: Harper and Raw, 1970). Caco, Rahmawati, “Etos Kerja” (Sorotan Pemikiran Islam),” dalam Farabi Jurnal Pemikiran Konstruktif Bidang Filsafat dan Dakwah, (terbitan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Anai Gorontalo, Vol. 3, No. 2, 2006). Echols, John M. dan Shadily, Hassan, Kamus Inggris Indonesia, (terbitan Gramedia, 1977). Ensiklopedia Nasional Indonesia, (1989).   Geertz, C., The Interpretation of Culture, (New York: Basic Book, 1973). Madjid, Nurcholish, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, (Jakarta: Paramadina, 1999). Madjid, Nurcholish, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1995). Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992). Manshur, Fadlil Munawwar, “Profesionalisme dalam Perspektif Islam,” dalam Edy Suandi Hamid, dkk (peny), Membangun Profesionalisme Muhammadiyah, (Yogyakarta: LPTP PP Muhammadiyah-UAD Press, 2003). Myrdal, Gunnard, An Approach to the Asian Drama, (New York: Vintage Books, 1970). Rahardjo, Dawam, M, Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, (Bandung: Mizan, 1999). Rakhmat, Jalaluddin, “Kemiskinan di Negara-negara Muslim,” dalam Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1998). Samuelson, Kurt, Religion and Economic Action: A Critic of Max Webe, (New York: Harper Torchbook, 1964). Sarsono, Perbedaan Nilai Kerja Generasi Muda Terpelajar Jawa dan Cina, (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM, 1998). Tasmara, Toto, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1995). Weber, Max,  The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, terj. Talcott Parson, (New York: Charles Scribner’s Son, 1958). Webster’s New World Dictionary of the American Language, 1980.   [1] “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik (ma’ruf) dan mencegah dari yang buruk (munkar) dan beriman kepada Allah.” Q.S. Ali ‘Imran/ 3: 110. [2] Webster’s New World Dictionary of the American Language, 1980 (revisi baru), s.v. “ethos”, “ethical” dan “ethics”. [3] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, 1977 (terbitan Gramedia), s.v. “ethos”. [4] Ensiklopedia Nasional Indonesia, (1989), hlm. 219. [5] C. Geertz, The Interpretation of Culture, (New York: Basic Book, 1973), hlm. 127. [6] Di sisi lain, Taufik Abdullah mendefinisikan etos kerja dari aspek evaluatif yang bersifat penilaian diri terhadap kerja yang bersumber pada identitas diri yang bersifat sakral – yakni realitas spiritual keagamaan yang diyakininya. Taufik Abdullah, Agama, Etos Kerja dan Pengembangan Ekonomi, (Jakarta: LP3ES, 1982), hlm. 3. Karena itu, etos tidak dapat dipisahkan dari sistem kebudayaan suatu masyarakat. Sebagai watak dasar suatu masyarakat, etos berakar dalam kebudayaan masyarakat itu sendiri. Kebudayaan, sebagai suatu sistem pengetahuan gagasan yang dimiliki suatu masyarakat dari proses belajar, adalah induk dari etos itu. Maka setiap masyarakat (yang berbeda kebudayaannya), mempunyai etos yang berbeda pula termasuk dalam hubungannya dengan etos kerja. [7]Max Weber, The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, terj. Talcott Parson, (New York: Charles Scribner’s Son, 1958). Dalam mengaitkan makna etos kerja di atas dengan agama, maka etos kerja merupakan sikap diri yang mendasar terhadap kerja yang merupakan wujud dari kedalaman pemahaman dan penghayatan religius yang memotivasi seseorang untuk melakukan yang terbaik dalam suatu pekerjaan. Dengan kata lain, etos kerja adalah semangat kerja yang mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap pekerjaannnya yang bersumber pada nilai-nilai transenden atau nilai-nilai keagamaan yang dianutnya.   [8] Gunnard Myrdal, An Approach to the Asian Drama, (New York: Vintage Books, 1970), hlm. 62. [9] Sarsono, Perbedaan Nilai Kerja Generasi Muda Terpelajar Jawa dan Cina, (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM, 1998), hlm. 98. [10] Tesis Weber ini telah menimbulkan sikap pro dan kontra di kalangan sosiolog. Sebagian sosiolog mengakui kebenaran tesisnya itu, tetapi tidak sedikit yang meragukan, bahkan yang menolaknya. Kurt Samuelson, ahli sejarah ekonomi Swedia adalah salah seorang yang menolak keseluruhan tesis Weber tersebut, dengan mengatakan bahwa tidak pernah dapat ditemukan dukungan tentang kesejajaran antara protestantisme dengan tingkah laku ekonomis. Kurt Samuelson, Religion and Economic Action: A Critic of Max Webe, (New York: Harper Torchbook, 1964), hlm. 1-26. [11] Nurcholish Madjid, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm. 76.  Lihat juga, Nurcholish Madjid, Fatsoen Nurcholish Madjid, (Jakarta: Republika, 2002), hlm. 24. Menurut hipotesa Weber bahwa ajaran Protestantisme sangat bersesuaian dengan semangat kapitalisme. Weber lebih jauh menjelaskan bahwa penganut Protestan cenderung untuk mengumpulkan kekayaan dan mengejar sukses material sebagai bukti dari anugerah Tuhan pada mereka, dan sekaligus sebagai konfirmasi atas status mereka sebagai orang-orang pilihan Tuhan untuk diselamatkan di dunia dan di akhirat nanti. Sebagai konsekwensi logis dari keyakinan tersebut, maka kaum Protestan di Jerman yang diamati Weber menampilkan etos kerja yang unik, seperti: bekerja keras, bertindak rasional, berdisiplin tinggi, berorientasi pada sukses material, hemat dan bersahaja, tidak mengumbar kesenangan serta menabung dan berinvestasi. [12] Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 215. [13] Fadlil Munawwar Manshur, “Profesionalisme dalam Perspektif Islam,” dalam Edy Suandi Hamid, dkk (peny), Membangun Profesionalisme Muhammadiyah, (Yogyakarta: LPTP PP Muhammadiyah-UAD Press, 2003), hlm. 20.  Sering terdengar pendapat yang mengatakan bahwa etos kerja masyarakat Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa Asia lainnya, terutama Jepang dan Korea. Pandangan ini antara lain didasarkan pada kenyataan bahwa tingkat kemajuan ekonomi Indonesia jauh tertinggal dibandingkan kedua bangsa tersebut di atas. Namun, pendapat itu ada yang membantah dengan menunjukkan bagaimana kerasnya kerja petani dan buruh di pelbagai tempat di Indonesia. Rendahnya tingkat kemajuan bangsa Indonesia itu, menurut pendapat ini tidak terkait sama sekali dengan tinggi rendahnya etos kerja, tetapi lebih terkait dengan politik ekonomi pembangunan. Kedua pendapat tersebut memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, tetapi sukar untuk disangkal bahwa tingkat kemakmuran dan kesejahteraan suatu masyarakat juga sangat dipengaruhi oleh etos kerja yang ada pada masyarakat itu. [14] Ismail al-Faruqi melukiskan Islam sebagai a religion of action dan bukan a religion faith. Oleh karena itu, Islam sangat menghargai kerja. Dalam sistem teologi Islamkeberhasilan manusia dinilai di akhirat dari hasil amal dan kerja yang dilaksanakannya di dunia. Al-Faruqi, Al-Tawhid: Its Implication for Thought and Life (Herndon, Virginia: IIIT, 1995), hlm. 75-6. [15] Nurcholis Madjid, Islam Agama Kemanusiaan…, hlm. 216 [16] Q.S. Al-Kahf/ 18: 110. Islam, sebagai sistem nilai dan petunjuk, misalnya, secara tegas mendorong umatnya agar memiliki kejujuran (Q.S. 33: 23-24); mendorong hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan (Q.S. 7: 13, 17: 29; 25: 67; 55: 7-9); anjuran melakukan kerja sama dan tolong-menolong dalam kebaikan (Q.S. 5: 2); kerajinan dan bekerja keras (Q.S. 62: 10); sikap hati-hati dalam mengambil keputusan dan tindakan (Q.S. 49: 6); jujur dan dapat dipercaya (Q.S. 4: 58; 2: 283; 23: 8); disiplin (Q.S. 59: 7); berlomba-lomba dalam kebaikan (Q.S. 2: 148; 5: 48). Prinsip-prinsip dasar dari rangkaian sistem nilai yang terkandung dalam al-Qur’an tersebut di atas dapat dijadikan menurut penulis, dapat dijadikan tema sentral dalam melihat persoalan etos kerja versi ajaran Islam. [17] Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1995), hlm. 27. [18] Tasmara, Etos Kerja Pribadi  Muslim, hlm. 28. [19] Rahmawati Caco, “Etos Kerja” (Sorotan Pemikiran Islam),” dalam Farabi Jurnal Pemikiran Konstruktif Bidang Filsafat dan Dakwah, (terbitan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Anai Gorontalo, Vol. 3, No. 2, 2006), hlm. 68-69. [20] Dari Anas Ibn Malik (dilaporkan bahwa) ia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila salah seorang kamu menghadapi kiamat sementara di tangannya masih ada benih hendaklah ia tanam benih itu.” (H.R. Ahmad). [21] Sebuah hadis yang amat terkenal, “Sesungguhnya (nilai) segala pekerjaan itu adalah (sesuai) dengan niat-niat yang ada, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya (ditujukan) kepada (ridla) Allah dan Rasul-Nya, maka ia (nilai) hijrahnya itu (mengarah) kepada (ridla) Allah dan Rasul-Nya; dan barang siapa yang hijrahnya itu ke arah (kepentingan) dunia yang dikehendakinya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya itu pun mengarah kepada apa yang menjadi tujuannya.” (Lihat al-Sayyid ‘Abd al-Rahim ‘Anbar al-Thahthawi, Hidayat al-Bari ila Tartib al-Ahadits al-Bukhary, 2 Jilid (Kairo: al-Maktabat al-Tijariyah al-Kubra, 1353 H), jil. 1, hlm. 220-221; dan al-Hafidh al-Mundziry, Mukhtashar Shahih Muslim, 2 Jilid (Kuwait: Wazarat al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah, 1388 H/1969 M), jil. 2, hlm. 47. (hadis No. 1080). [22] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992), hlm. 417. [23] QS, al-Najm/52:: 36-42. [24] QS, al-Kahfi/18: 110. [25] Selain itu, hasil zakat bisa pula digunakan untuk keperluan yang bersifat produktif, seperti pemberian bantuan keuangan sebagai modal usaha bagi fakir miskin yang mempunyai keterampilan tertentu dan mau berusaha serta bekerja keras. Hal ini untuk membebaskan mereka dari keterpurukan taraf hidupnya sehingga bisa mandiri. Hasil zakat bisa pula digunakan untuk mendirikan pabrik-pabrik dan proyek-proyek yang profitable dan hasilnya disalurkan untuk pos-pos yang berhak menerimanya. Pabrik-pabrik dan proyek lain yang dibiayai dengan hasil zakat dalam penerimaan tenaga kerja harus memberi prioritas kepada fakir miskin yang telah diseleksi dan telah diberikan pendidikan keterampilan yang sesuai dengan lapangan kerja yang telah tersedia. [26] Mukhtashar, Jil. 2, hlm. 246 (Hadis No. 1840). [27] Q.S, al-Isra’/17: 84. [28] Q.S, al-Insyirah/94: 7. [29] Etos yang dominan pada komunitas (umat) ini ialah (giat) di dunia ini aktivis, bersifat sosial dan politik, dalam hal ini lebih dekat kepada Israel kuna (zaman para nabi, sejak Nabi Musa dan seterusnya), dari pada kepada agama Kristen mula-mula (sebelum munculnya Reformasi di zaman Modern), dan juga secara relatif dapat menerima etos yang dominan abad ke dua puluh. Robert N. Bellah, “Islamic Tradition and the Problem of Modernization” dalam Robert N. Bellah, ed., Beyond Belief (New York: Harper and Raw, 1970), hlm. 151-152. [30] Q.S, al-Jumu’ah/62: 10. [31] Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, hlm. 29-59. [32] Banyak analis yang mengatakan bahwa lemahnya perekonomian rakyat di dunia Islam itu disebabkan oleh lemahnya etos kerja dan lemahnya etos kerja disebabkan karena menguatnya aliran tasawuf yang lebih mementingkan aspek ibadah yang berorientasi pada akhirat semata. Masyarakat lebih menekankan orientasinya  kepada kehidupan akhirat semata  karena hal itu dianggap satu-satunya harapan dalam situasi otoriter yang represif. M. Dawam Rahardjo,Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 459.  Lihat juga, Jalaluddin Rakhmat, “Kemiskinan di Negara-negara Muslim,” dalam Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 103-108. [33] Faktor yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan suatu negara itu cukup kompleks. Dari sudut ekonomi, faktor yang paling berpengaruh adalah tingkat investasi. Sementara itu, sumber investasi utama dunia Islam ada dua, yaitu modal dan “bantuan” atau kredit luar negeri yang yang berasal dari negara-negara industri maju, dan hasil penggalian kekayaan alam, terutama migas, yang eksploitasinya dilakukan dengan modal dan teknologi asing. Sungguh pun begitu, tingkat pertumbuhan yang tinggi itu paling tidak menunjukkan adanya etos kerja tertentu. Hal yang perlu dipelajari bukanlah hanya soal etos kerja, melainkan bagaimana mengkombinasikan atau mengintegrasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh dunia Islam sehingga bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang optimal bagi dunia Islam. Rahardjo, Intelektual, Intelegensia…, 461. [34] Pilihan Muhammadiyah dilatarbelakangi oleh semangat pembaharuannya yang ingin menegakkan paham tauhid yang murni dengan memberantas hal-hal yang dianggap takhayul, bid’ah dan khurafat. Kepentingan NU adalah mempertahankan doktrin Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan kesatuan antara ulama dan umat. Sedangkan pilihan ICMI dilatarbelakangi oleh semangat untuk menumbuhkan etos iptek yang dinilai sebagai kunci perkembangan bangsa dan umat Islam yang dinilai terbelakang. Dengan pilihan atas tema yang berbeda itu, berbagai masyarakat Islam di Indonesia memperlihatkan etos yang berbeda. Yang dimaksud dengan etos di sini adalah sikap utama yang mendasari tindakan dan kegiatan seorang dalam masyarakat. Rahardjo, “Etos Masyarakat Utama,” dalam Intelektual, Intelegensia…, hlm. 449-450.
Kajian Kepemilikan Keluarga pada Perusahaan Initial Public Offering Tahun 2022 di Bursa Efek Indonesia Gadeng, Tarmizi; Rusnaidi; Zulkifli Umar; Sofia, Ayya
ARBITRASE: Journal of Economics and Accounting Vol. 4 No. 1 (2023): July 2023
Publisher : Forum Kerjasama Pendidikan Tinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47065/arbitrase.v4i1.828

Abstract

This researcher aims to examine family ownership in companies that have an Initial Public Offering in 2022 on the Indonesian Stock Exchange. This study includes the characteristics of family ownership, the portion of family ownership either directly or indirectly, and the ultimate beneficial owner. This type of research is qualitative. This study observes companies that have Initial Public Offerings on the Indonesia Stock Exchange in 2022, totaling 15 companies. The data used in this study is secondary data, namely in the form of company prospectus reports published on the Indonesia Stock Exchange. The data analysis technique used is descriptive method. The results of this study found that 9 out of 15 companies that had an Initial Public Offering on the Indonesia Stock Exchange in 2022 were owned by families, either directly or indirectly. Ownership by the family, namely having the characteristics of a married couple, and siblings. The portion of family ownership dominates in the 9 companies observed, ownership is owned directly or indirectly through other companies formed. Likewise, the ultimate beneficial owner of the company is dominated by family ownership.
PENGARUH KOMPETENSI KERJA DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA PUSKESMAS SUKAMAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR Gadeng, Tarmizi; Murad, Suryani; Safira, Maita
Jurnal Ilmiah Manajemen Muhammadiyah Aceh Vol 13, No 1 (2023): VOl 13, No 1 (2023): Edisi Januari - Juni 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jimma.v13i1.1818

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji dan menganalisa pengaruh kompetensi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai yang bekerja di Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Sampel penelitian sebanyak 51 orang responden. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif asosiatif. Analisis data yang digunakan adalah rumus regresi analisis linear berganda. Hasil penelitian yaitu kompetensi kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai pada Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Disiplin kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai pada Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Kompetensi kerja tidak berpengaruh secara parsial namun berpengaruh secara serentak dan disiplin kerja berpengaruh secara parsial dan serentak terhadap kinerja pegawai pada Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.
PENGARUH DIGITAL MARKETING DAN HARGA TEHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN RUMAH DI PT. BERJAYA ABADI KITA Tuwisna, Tuwisna; Gadeng, Tarmizi; Ramzani, Ikbal
Jurnal Ilmiah Manajemen Muhammadiyah Aceh Vol 13, No 2 (2023): Edisi Juli - Desember 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jimma.v13i2.1844

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuibagaimana pengaruh Digital Marketing dan Harga terhadap keputusan pembelian rumah Di PT. Berjaya Abadi Kita. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian berbentuk asosiatifkausal melalui pendekatan kuantitatif. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah masyarakat di Banda Aceh. Sampel yang dilakukan sebanyak 100 responden. Teknik penentuansampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non- probability Sampling. Metode yangdigunakan dalam penentuan sampel adalah metode purposive sampling. Teknik pengumpulan datayang digunakan pada penelitian ini adalah angket. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan caramenyebarkan kuesioner yang berupa daftar pernyataan kepada responden. Dalam penelitian ini,kuesioner akan disebarkan secara online melalui google form kepada semua masyarakat di KotaBanda Aceh. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa digital marketing berpengaruhpositif terhadap keputusan pembelian rumah Di PT. Berjaya Abadi Kita, semakin baik digital marketing digunakan maka semakin tinggi keputusan pembelian dan harga yang diberikan berpengaruh terhadapkeputusan pembelian rumah Di PT. Berjaya Abadi Kita.
PENGARUH DIGITAL MARKETING DAN HARGA TEHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN RUMAH DI PT. BERJAYA ABADI KITA Tuwisna, Tuwisna; Gadeng, Tarmizi; Ramzani, Ikbal
Jurnal Ilmiah Manajemen Muhammadiyah Aceh Vol 13, No 2 (2023): Edisi Juli - Desember 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jimma.v13i2.1844

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuibagaimana pengaruh Digital Marketing dan Harga terhadap keputusan pembelian rumah Di PT. Berjaya Abadi Kita. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian berbentuk asosiatifkausal melalui pendekatan kuantitatif. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah masyarakat di Banda Aceh. Sampel yang dilakukan sebanyak 100 responden. Teknik penentuansampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non- probability Sampling. Metode yangdigunakan dalam penentuan sampel adalah metode purposive sampling. Teknik pengumpulan datayang digunakan pada penelitian ini adalah angket. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan caramenyebarkan kuesioner yang berupa daftar pernyataan kepada responden. Dalam penelitian ini,kuesioner akan disebarkan secara online melalui google form kepada semua masyarakat di KotaBanda Aceh. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa digital marketing berpengaruhpositif terhadap keputusan pembelian rumah Di PT. Berjaya Abadi Kita, semakin baik digital marketing digunakan maka semakin tinggi keputusan pembelian dan harga yang diberikan berpengaruh terhadapkeputusan pembelian rumah Di PT. Berjaya Abadi Kita.
PENGARUH KOMPETENSI KERJA DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA PUSKESMAS SUKAMAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR Gadeng, Tarmizi; Murad, Suryani; Safira, Maita
Jurnal Ilmiah Manajemen Muhammadiyah Aceh Vol 13, No 1 (2023): VOl 13, No 1 (2023): Edisi Januari - Juni 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jimma.v13i1.1818

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji dan menganalisa pengaruh kompetensi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai yang bekerja di Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Sampel penelitian sebanyak 51 orang responden. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif asosiatif. Analisis data yang digunakan adalah rumus regresi analisis linear berganda. Hasil penelitian yaitu kompetensi kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai pada Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Disiplin kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai pada Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Kompetensi kerja tidak berpengaruh secara parsial namun berpengaruh secara serentak dan disiplin kerja berpengaruh secara parsial dan serentak terhadap kinerja pegawai pada Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.
E-BUDGETING TRAINING FOR OWNED BUSINESS ENTITIES VILLAGE (BUMG) IN BATOH VILAGE, BANDA ACEH Irmawati, Irmawati; Gadeng, Tarmizi; Rusnaidi, Rusnaidi; Saputra, Dian Andra; Prety, Annisa
ABDIMU: Jurnal Pengabdian Muhammadiyah Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/abdimu.v3i2.1933

Abstract

This community service is an activity that aims to improve skills in preparing calculating budgets for BUMG managers in Gampong Batoh, Lueng Bata District, Banda Aceh City. It is hoped that with this E-Budgeting Application Training, budget calculations preparation will be more effective. Village fund management is the budget most vulnerable to misuse or corruption. Village officials are the most corrupt officials in Indonesia according to ICW Lola Ester in Jakarta. The aim is to optimize expenditure according to needs and also as planning in managing finances in the village so that expenditure can be made according to the available budget, other things are aligning with strategic plans, coordinating activities from several departments, assigning responsibilities to families and evaluating performance.  Keyword : Apparatus, Training, E-Budgetting, Budget Calculations
PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI MELALUI KEPUASAN KERJA SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA PEGAWAI PUSKESMAS MEURAXA KOTA BANDA ACEH Nizhami, Muhammad Farhan; Gadeng, Tarmizi; Murad, Suryani
An Nuqud Journal of Islamic Economics Vol 4 No 1 (2025): AN NUQUD
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/annuqud.v4i1.2085

Abstract

The purpose of this study is to examine and analyze the effect of Emotional Intelligence on Organizational Commitment through Job Satisfaction among employees at Meuraxa Health Center, Banda Aceh City. The sample size of this study consists of 42 respondents. Data were collected through questionnaires and documentation study. Data processing was conducted using quantitative data analysis techniques. Statistical tools used to test the functional relationship between dependent variables (bound variables) and independent variables (free variables) are path analysis at a 95% Job Satisfaction level. The results show that Emotional Intelligence has an effect on Organizational Commitment at Meuraxa Health Center, Banda Aceh City. Emotional Intelligence directly affects Job Satisfaction among employees at Meuraxa Health Center, Banda Aceh City. Job Satisfaction significantly affects Organizational Commitment among employees at Meuraxa Health Center, Banda Aceh City. Emotional Intelligence significantly affects Organizational Commitment at Meuraxa Health Center, Banda Aceh City through Job Satisfaction as a mediating variable. Partially, the direct effect of Emotional Intelligence on Organizational Commitment is greater than the indirect effect of Emotional Intelligence on Organizational Commitment mediated by Job Satisfaction. The implication of this research is that emotional intelligence can enhance emotional intelligence through job satisfaction. Employees with high emotional intelligence can manage negative emotions more effectively, so they are less likely to feel stressed or pressured at work.
Pengaruh Partisipasi Masyarakat, Kapasitas Aparatur Gampong Dan Pengawasan Badan Permusyawaratan Gampong Terhadap Kinerja Pengelolaan Alokasi Dana Gampong (Studi Pada Kecamatan Batee Kabupaten Pidie) Monica, Desi; Gadeng, Tarmizi; Yunina, Fitri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh Partisipasi Masyarakat, Kapasitas Aparatur Gampong dan Pengawasan Badan Permusyawaratan Gampong terhadap Kinerja Pengelolaan Alokasi Dana Gampong (Studi pada Kecamatan Batee Kabupaten Pidie). Data penelitian dikumpulkan melalui daftar pertanyaan/kuisioner dan studi dokumentasi. Pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi linier berganda, uji simultan dan uji parsial dimaksud untuk mengetahui secara bersama-sama dan secara parsial pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Objek dalam penelitian ini pada Kecamatan Sukamakmur Aceh Besar. Ukuran sampel penelitian ini sebanyak 84 responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa Partisipasi Masyarakat, Kapasitas Aparatur Gampong dan Pengawasan Badan Permusyawaratan Gampong baik secara simultan maupun secara parsial berpengaruh terhadap Kinerja Pengelolaan Alokasi Dana Gampong (Studi pada Kecamatan Batee Kabupaten Pidie).