Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Archipelago Engineering

ANALISIS PENGARUH MASUKAN PANAS PADA OVEN PENGERING BUNGACENGKEH TERHADAP KARAKTERISTIK PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI PAKSA Nicolas Titahelu; Cendy S Edwina Tupamahu
ALE Proceeding Vol 2 (2019): Archipelago Engineering (ALE)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.2.2019.108-114

Abstract

Abstrak Analisis pengaruh masukan panas (Q*) terhadap karakteristik perpindahan panas oven pengering bunga cengkeh telah diteliti dengan perpindahan panas konveksi paksa dan diaplikasikan untuk mendesain oven pengering bunga cengkeh guna menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini menggunakan cara pengeringan tradisional. Model uji dimodifikasi dengan memberikan saluran udara masuk dan keluar agar bilangan Nusselt meningkat dengan kecepatan udara (V) = 165.56 m/s konstan. Penelitian eksperimen dilakukan dengan variasi masukan panas (Q*) = 400 s/d 600 W, untuk mengamati karakteristik perpindahan panas konveksi paksa. Karakterik perpindahan panas konveksi paksa meningkat seiring dengan membesarnya masukan panas.Semakinmeningkat masukan panas untuk (Q*) < 550 W, maka karakteristik perpindahan panas konveksi paksa yakni lajuperpindahan panas heater (qh), laju perpindahan panas pelat (qp) dan efektiitas pelat (ep) semakin meningkat dengan gradient kenaikan curam, sedangkan laju perpindahan panas udara (qud), bilangan Reynolds (Re), bilangan Nusselt (Nu), koefisien konveksi (h) dan efektvitas panas udara (eu) semakin menurun dengan gradient penurunan curam. Untuk masukan panas (Q*) > 550 W laju perpindahan panas heater (qh), laju perpindahan panas pelat (qp) dan efektivitas panas pelat (ep) semakinmeningkat dengan gradien kenaikan landai, sedangkan laju perpindahan panas udara (qud), bilangan Reynolds (Re), bilangan Nusselt (Nu), koefisien konveksi (h) dan efektivitas panas udara (eud) semakin menurun dengan gradien penurunan landai. Semakinmeningkat masukan panas, maka waktu pengeringan cengkeh (tc,o) semakin menurun. Waktu pengeringan cengkeh (tc,o) dari 16 jam hingga 9 jam.
STUDI EKSPERIMENTAL PERFORMANCE KAVITASI WATERJET PROPULSI Wulfilla M. Rumaherang; J. Louhenapessy; Mesak F. Noya; Cendy S. Tupamahu
ALE Proceeding Vol 4 (2021): Archipelago Engineering (ALE)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.4.2021.112-120

Abstract

Cavitation is a complex phenomenon of dynamic processes in hydraulic machines that can cause a decrease in energy performance, vibration and damage the blade surfaces. Analysis of cavitation symptoms in hydraulic machines is carried out through cavitation performance studies, namely the relations between energy parameters. Each hydraulic machine has a critical value on a different cavitation performance curve. Therefore, a study of the effect of cavitation changes is needed to determine the working zone of hydraulic machines without cavitation. In this study, cavitation performance analysis was carried out on a waterjet propulsor model with 5 impeller blades and 7 stator blades using experimental methods. The cavitation coefficient was varied at σ = 2.25 to 0.25 by setting and controlling the inlet pressure on the cavitation test rig. The critical point value will be observed at the point where the thrust coefficient decreased to 3.28%. The results showed that cavitation begins at σ = 1, the critical point is obtained at σ = 0.75. From these studies, we find that waterjet must be operated at conditions where is σ > 0.75.
ANALISIS EFEKTIVITAS PENUKAR KALOR PIPA HELIKAL DESTILASI MINYAK ATSIRI KAYU PUTIH Antonius Hatumessen; Nicolas Titahelu; Cendy S. Tupamahu
ALE Proceeding Vol 4 (2021): Archipelago Engineering (ALE)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.4.2021.127-132

Abstract

The Eucalyptus plant is one of the essential oil-producing plants. Eucalyptus oil processing generally uses the distillation method. Traditionally used eucalyptus oil distillation uses a straight pipe condenser. The weakness of the straight pipe condenser is that the temperature of the condensate that comes out is still very high, this shows that the effectiveness of the straight pipe condenser is not optimal. To optimize the effectiveness of the distillation system condenser, a condenser with a helical pipe type condenser is designed in the essential oil distillation system. This study will vary the ratio of the pitch distance to the diameter of the condenser pipe, which aims to obtain an effective helical coil pitch ratio to optimize the effectiveness of the helical pipe condenser. This study uses the simulation method on COMSOL Multiphysics 5.4. The pitch ratio variant used is 2.1; 2.62; 3.15; 3.67; 4.2. The parameters that are constant in this study are the inlet fluid temperature on the tube side 373 K, the inlet fluid temperature on the shell side 288 K, the fluid inlet velocity on the tube side 0.2 m/s, and the fluid inlet velocity on the shell side 1 m/s. The results of the simulation by varying the pitch ratio show that the effectiveness increases as the pitch ratio value decreases, where the highest effectiveness is shown at pitch ratio of 2.1 which 75.9% and the lowest effectiveness is shown to pitch ratio of 4.2 which 70.7%.
KAJI PERFORMANSI REFRIGERAN R-290, R-32, DAN R-410A SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI R-22 Rikhard Ufie; Cendy S. Tupamahu; Sefnath J. E. Sarwuna; Jufraet Frans
ALE Proceeding Vol 4 (2021): Archipelago Engineering (ALE)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.4.2021.133-139

Abstract

Refrigerant R-22 is a substance that destroys the ozone layer, so that in the field of air conditioning it has begun to be replaced, among others with refrigerants R-32 and R-410a, and also R-290. Through this research, we want to know how much Coefficient of Performance (COP) and Refrigeration Capacity (Qe) can be produced for the four types of refrigerants. The study was carried out theoretically for the working conditions of the vapor compression cycle with an evaporation temperature (Tevap) of 0, -5, and -10oC, a further heated refrigerant temperature (ΔTSH) of 5 oC, a condensation temperature (Tkond) of 45 oC and a low-cold refrigerant temperature. (ΔTSC) 10 oC and compression power of 1 PK . The results of the study show that the Coefficient of Performance (COP) in the use of R-22 and R-290 is higher than the use of R-32 and R-410a, which are 4,920 respectively; 4,891; 4.690 and 4.409 when working at an evaporation temperature of 0 oC; 4.260; 4,234; 4.060 and 3.812 when working at an evaporation temperature of -5 oC; and amounted to 3,730; 3,685; 3,550 and 3,324 if working at an evaporation temperature of -10 oC. Based on the size of the COP, if this installation works with a compression power of 1 PK, then the cooling capacity of the R-22 and R-290 is higher than the R-32 and R-410a, which are 3,617 respectively. kW; 3,597 kW; 3,449 kW and 3,243 kW. If working at an evaporation temperature of 0 oC; 3.133 kW; 3.114 kW; 2,986 kW and 2,804 kW if working at an evaporation temperature of -5 oC; and 2,741 kW; 2,710 kW; 2,611 kW and 2,445 kW if working at an evaporation temperature of -10oC.
PEMILIHAN MODEL DAN OPTIMASI KAPAL IKAN UNTUK JENIS TANGKAPAN DI PERAIRAN PULAU AMBON Billy Jhones Camerling; Sefnath J. E. Sarwuna; Cendy S. E. Tupamahu
ALE Proceeding Vol 5 (2022): Archipelago Engineering (ALE)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.5.2022.12-17

Abstract

Kapal penangkap ikan yang dipergunakan di perairan Maluku dapat diklasifikasi ada empat jenis yang sangat produktif yatu kapal long line, kapal pole and line, kapal purse sine dan kapal pancing tonda/troll line. Dari data yang ada kapal tangkap jenis purse siner menghasilkan rata-rata hasil tangkapan 17.290 ton/tahun ; 4509 trip/tahun dan CPUE 9 ton/tahun , sedangkan kapal long line dan kapal pole and line menghasilkan rata-rata hasil tangkapan 58,535 ton/tahun ; 40 trip/tahun ; CPUE 42,761 ton/tahun. Data ini mengindikasikan bahwa terjadi ketidakseimbangan antara jumlah armada yang ada dengan sumber daya yang tersedia terutama pada jenis kapal tangkap purse siner. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model pemilihan, analisis sensitifitas dan model optimasi alat penangkapan ikan tuna dan cakalang dari empat jenis armada penangkapan ikan tuna yang ada . Model yang dikembangkan adalah proses hirarki analitik untuk pemilihan dan programasi tujuan ganda untuk optimasi alat penangkapan ikan. Dari hasil perhitungan dengan Expert Choice Version 9.0 diperoleh tipe alat penangkapan Ikan tuna dan cakalang yang paling sesuai untuk jenis tangkapan ikan tuna dan cakalang di perairan pulau Ambon adalah Pole and line. Selanjutnya jenis armada yang dapat dioptimalkan jumlahnya yaitu kapal jenis pole and line sebesar 125 kapal, long line 39 kapal, purse siner sebesar 47 kapal dan harus dibatasi dan tidak perlu diadakan lagi yaitu troll and line atau pancing tonda yang jumlahnya sudah sangat bayak karena memberikan nilai 0 kapal dari hasil optimasi. sedangkan jumlah tenaga kerja yang bisa diserap dari keseluruhan jumlah armada hasil optimasi sebanyak 211 kapal yaitu 5235 ABK. Hasil optimasi juga diperoleh bahwa dana pemerintah untuk membantu pengoptialan armada dapat dimanfaatkan semua secara optimal.
EVALUASI KINERJA PELAT KOLEKTOR DATAR DENGAN BERBAGAI MODEL TUBE KOLEKTOR SENAGAI PEMANAS AIR SURYA AKTIF Nicolas Titahelu; Cendy S. E. Tupamahu; Sefnath J. E. Sarwuna
ALE Proceeding Vol 5 (2022): Archipelago Engineering (ALE)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.5.2022.53-58

Abstract

Peningkatan populasi global hampir empat kali lipat dalam satu abad terakhir, tetapi industrialisasi yang cepat, diikuti oleh urbanisasi dan standar hidup yang tinggi, menyebabkan peningkatan enam kali lipat yang mengejutkan pada konsumsi air dunia. Menurut PBB, diperkirakan 2,7 miliar orang akan kekurangan akses ke air minum yang aman dan sekitar 2/3 dari populasi dunia akan menghadapi kelangkaan air pada tahun 2025. Saat ini, hampir 1% dari penduduk dunia yang tinggal di daerah pesisir bergantung pada air tawar dihasilkan oleh desalinasi. Namun, desalinasi air membutuhkan jumlah energi yang besar, dapat merusak organisme laut, dan efisiensi desalinasi biasanya kurang dari 20%. Dalam mengatasi masalah tersebut akan dirancang beberapa model tube kolektor dan akan di uji dengan memvariasikan laju aliran massa fluida: 1232,217 Kg/s, 2464,433 Kg/s, 3696,65 Kg/s, 4928,867 Kg/s, 6161,083 Kg/s. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan konfigurasi paling optimal dari kolektor pelat datar. Hasil penelitian ini menunjukan model tube serpentin menghasilkan efisiensi tertinggi dengan 48,67 % pada laju aliran massa 6161,083 Kg/s.
UJI PENGARUH PANJANG PIPA KAPILER TERHADAP KERJA UNIT PEMBUAT ES SKALA KECIL MENGGUNAKAN OUTDOOR AC 2 PK R. Ufie; Cendy S.E Tupamahu; M. Mas’ud Tohepaly
ALE Proceeding Vol 5 (2022): Archipelago Engineering (ALE)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.5.2022.106-109

Abstract

Pabrik es umumnya dibangun untuk skala menengah hingga skala besar dengan produksi berkisar 7,5 – 152 ton/24 jam menggunakan unit regrigerasi siklus kompesi uap yang terdiri kompresor jenis open type dimana kompresor dan motor penggerak dirangkai secara terpisah dan dengan pemanfaatakan kondensor yang didinginkan dengan air (water cooled condenser) yang bekerja dengan didukung oleh unit pendinginan air berupa cooling tower. Pengembangan unit pembuat es skala kecil dengan memanfaatkan outdoor AC telah dilakukan oleh CV Mutiara Pessel untuk pembekuan es dalam kemasan plastik dan CV Samudera Pendingin untuk pembekuan es dalam cetakan. Walaupun upaya terobosan ini dapat dikatakan berhasil dengan memproduksi es dalam jangka waktu tertentu, tidak diperoleh informasi apakah unit pembuatan es yang dibuat telah didasarkan pada pengujian utuk mendapatkan kondisi operasi yang optimum. Dengan demikian secara akademis masih terdapat tantangan pengembangan untuk menghasilkan unit pembuatan es berdasarkan pendekatan optimasi terhadap kondisi dan variabel unit refrigerasi yang dibutuhkan. Pada mesin refrigerasi siklus kompresi uap (SKU), pipa kapiler merupakan alat yang berfungsi menurunkan tekanan refrigeran dari tekanan kondensasi ke tekanan evaporasi. Untuk itu, penelitian ini menggunakan 3 variasi panjang pipa kapiler yakni 0,75, 1,0, dan 1,25m. Modifikasi panjang pipa kapiler dimaksudkan agar dapat dicapai temperatur evaporasi yang lebih rendah dari temperatur brine yang direncanakan dan juga agar dapat dipertahankan temperatur kondensasi yang lebih tinggi dari temperatur lingkungan. Hasil perhitungan pengaruh ukuran pipa kapiler terhadap kerja unit pembuat es yaitu untuk panjang pipa kapiler 0,75 m Wk sebesar 43,320 kJ/kg, panjang pipa kapiler 1,0 m, Wk sebesar 49,880 kJ/kg dan untuk panjang pipa 1,25 m besarnya Wk 57, 530 kJ/kg. Terlihat bahwa semakin panjang pipa kapiler semakin meningkat nilai kerja unit pembuat es secara linier.
EKSPERIMENTAL STUDI VARIASI PUTARAN SPINDEL TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN MATERIAL BAJA ST-42 Benjamin G Tentua; Cendy S.E Tupamahu; Frans Silooy
ALE Proceeding Vol 6 (2023): Archipelago Engineering
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.6.2023.15-19

Abstract

Kualitas permukaan hasil pembubutan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kecepatan putaran spindel dan pemilihan sudut sisi potong. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar tingkat kekasaran permukaan pada proses bubut material ST 42. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan mesin bubut konvensional Huvema Model HU 460 X 2000 VAC. Material benda kerja adalah ST-42 dengan diameter 25 mm, panjang 80 mm, pahat HSS ¾ x 6. Variasi putaran spindel 275 rpm, 400 rpm, 605 rpm dan sudut sisi potong 75o. Data yang dihasilkan dari proses penelitian dianalisis menggunakan Desain eksperimental. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada putaran spindel 605 Rpm menghasilkan nilai rata-rata kekasaran permukaan ( RaTotal) = 4,200 μm, putaran 400 rpm menghasilkan nilai rata-rata ( RaTotal) = 4.471μm dan untuk putaran spindel 273 rpm, menghasilkan nilai rata-rata kekasaran permukaan tertinggi RaTotal) = 6.752 μm. Tingkat kekasaran permukaan yang dicapai putaran 605 rpm dan putaran 400 rpm adalah N8, putaran 275 rpm adalah N10, yang mana masih diizinkan sesuai ISO Roughness Number.
EVALUASI UMUR PAKAI SPROKET RODA BELAKANG SEPEDA MOTOR JUPITER Z1 Benjamin G Tentua; Cendy S.E Tupamahu
ALE Proceeding Vol 6 (2023): Archipelago Engineering
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ale.6.2023.98-101

Abstract

Sproket adalah salah satu komponen dari sepeda motor yang berpasangan dengan rantai. Fungsi sproket untuk mentransmisikan gaya putar dari engine ke roda belakang. Sepeda motor Jupiter Z1 merupakan motor 2 tak dimana hasil dari pembakaran mesin digunakan untuk menghasilkan daya pada motor. Daya mesin kemudian ditransmisikan oleh kopling melalui poros penggerak ke poros penerus yang dihubungkan dengan sprocket depan dari sepeda motor. Putaran dari Sproket depan kemudian diteruskan ke sprocket belakang melalui rantai untuk menggerakan roda belakang. Dalam pengoperasiannya sprocket dan rantai selalu bergesekan sehingga sproket maupun rantai akan mengalami keausan. Keausan Komponen-komponen transmisi itu, mengakibatkan putaran yang dihasilkan menjadi kurang optimal dan mengurangi umur pakai dari sprocket maupun rantai. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan nilai keausan dan umur pakai dari sproket. Hasil penelitian menunjukan bahwa sproket akan mengalami kehilangan berat sebesar 8 gram, untuk pemakaian selama 1350 hari atau 3.9 tahun atau 98.672,85 siklus. Untuk umur sproket sampai kondisi harus diganti mengalami kehilangan berat sebesar 17,2 gram, untuk pemakaian selama 2109.3 hari atau 5.8 tahun atau 154.170.8 siklus.