Ahsol Hasyim
Balai Penelitian Tanaman Sayuran

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Potensi Campuran Spodoptera exigua Nucleopolyhedrovirus (SeNPV) dengan Insektisida Botani untuk Meningkatkan Mortalitas Ulat Bawang Spodoptera exigua (Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae) di Laboratorium Luluk Sutji Marhaen; Fahmi Aprianto; Ahsol Hasyim; Liferdi Lukman
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p103-112

Abstract

[Potential Mixtures Between SeNPV with Botanical Insecticides to Increase Larvae Mortality of Spodoptera exigua (Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae) in Laboratory]Hama Spodoptera exigua (Hübner) (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan hama penting pada tanaman bawang di Indonesia. Pengendalian hama ini dengan insektisida kimia sintetik tidak memuaskan, bahkan telah menyebabkan hama menjadi resisten. SeNPV bila diaplikasikan secara tunggal untuk pengendalian hama S. exigua hasilnya masih kurang memuaskan. Namun, diharapkan SeNPV bila dicampurkan dengan insektisida botani dapat memberikan hasil yang lebih baik untuk mengendalikan hama S. exigua. Penelitian bertujuan mengetahui potensi campuran SeNPV dengan insektisida botani terhadap mortalitas larva S. exigua instar 3 di laboratorium. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang ( ± 1.250 m dpl.), mulai bulan Juli sampai Oktober 2014. Larva S. exigua dikumpulkan dari pertanaman petani bawang merah di daerah Cirebon, Jawa Barat dan diperbanyak di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap kegiatan, yaitu (1) uji pendahuluan dosis SeNPV dan empat jenis ekstrak tumbuhan, yaitu legundi (Vitex trifolia Linn.), serai wangi (Cymbopogon nardus), daun jeruk purut (Citrus hystrix DC), ubi gadung (Dioscorea hispida) dan (2) uji campuran beberapa dosis SeNPV dengan dosis sublethal dari ekstrak daun legundi (Vitex trifolia Linn.). Rancangan percobaan yang digunakan ialah rancangan acak lengkap yang terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Mortalitas larva S. exigua diamati mulai 24 jam sampai dengan 168 jam setelah perlakuan. Data mortalitas larva diolah menggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai LC50 SeNPV sebesar 424,67 ppm dan dari empat ekstrak insektisida botani yang terendah diperoleh dari insektisida daun legundi, yaitu 2.199, 277 ppm. Berdasarkan nilai LC50 campuran SeNPV dengan insektisida botani daun legundi menunjukkan efektivitas sinergistik dan meningkatkan efikasi 12,24 kali lipat jika dibandingkan dengan SeNPV secara tunggal. Kombinasi SeNPV dengan ekstrak daun legundi konsentrasi sublethal dapat meningkatkan efikasi virus SeNPV dalam mengendalikan S. exigua.KeywordsSpodoptera exigua; SeNPV; Vitex trifolia; Sinergisme; Mortalitas larvaAbstractThe beet armyworm, Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) is a serious pest of shallot in Indonesia. Chemical methods have failed to control this pest as this has developed resistance to almost all synthetic insecticides available. SeNPV effectiveness when applied singly for S. exigua result is still unsatisfactory, but it is expected when SeNPV mixed with botanical insecticides give satisfactory result to control S. exigua. The aim of the study was to determine the potential of SeNPV with botanical insecticides to control third instars of S. exigua larvae under laboratory condition. This study has been conducted at Indonesian Vegetables Research Institute Lembang (±1,250 m asl), from July to October 2014. Sample of S. exigua larvae were collected from farmers’ field in Cirebon, West Java and mass production done in a screen house. Two bioassay steps were performed i.e. (1) preliminary test of SeNPV doses and botanical insecticides doses of extract of Vitex trifolia leaves, extract of Citronelol leaves (Cymbopogon nardus), extract of kaffir lime leaves (Citrus hystrix DC), extract of Dioscorea hispida tuber and (2) the combination of several doses of SeNPV and sublethal doses of extract of Vitex trifolia leaves. The experimental design used completely randomized design consist of six treatments and four replications. Mortality of S. exigua larvae was observed at 24 hours after exposures and repeatedly every 24 hours up to 168 hours of exposures. The mortality data was analyzed using probit analysis to determine the LC50 values. The analysis showed that the LC50 value of the lowest SeNPV is 424,67 ppm, and from four extracts botanical insecticide the lowest LC50 derived from extract of Vitex trifolia leaves namely 2,199, 277 ppm. Based on LC50 value of SeNPV mix with extract of Vitex trifolia leaves demonstrate the effectiveness of the synergistic and 12.24 fold increased their efficacy when compared to SeNPV singly. SeNPV in combination with sublethal concentration of extract of Vitex trifolia leaves can be increasing the efficacy of SeNPV in controlling S. exigua.
Evaluasi Konsentrasi Lethal dan Waktu Lethal Insektisida Botani Terhadap Ulat Bawang (Spodoptera exigua) di Laboratorium Ahsol Hasyim; wiwin Setiawati; Liferdi Lukman; Luluk Sutji Marhaeni
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p69-80

Abstract

[Evaluation of Lethal Concentration and Lethal Time of Botanical Insecticide Against Beet Armyworm (Spodoptera exigua) in The Laboratory]Pemanfaatan insektisida botani merupakan salah satu pilihan untuk mengendalikan serangan hama Spodoptera exigua yang ramah lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk menetapkan konsentrasi sublethal dan waktu prolethal insektisida botani terhadap larva instar ketiga S. exigua di laboratorium. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang ( ± 1.250 m dpl.), mulai bulan Mei sampai Desember 2015. Penelitian menggunakan metode pencelupan serangga. Mortalitas larva S. exigua diamati mulai 1, 3, 6, dan 12 jam setelah perlakuan dan diulang setiap 24 jam sampai 96 jam. Data mortalitas larva diolah menggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50 dan LT50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas larva S. exigua paling tinggi terjadi pada saat 96 jam setelah perlakuan ekstrak bintaro (85,0%), diikuti oleh ekstrak akar tuba (82,5%), dan yang terendah diperoleh dari hasil aplikasi ekstrak huni yang hanya dapat mematikan larva S. exigua sebesar 57%. Dari lima ekstrak tumbuhan tersebut, nilai LC50 terendah diperoleh dari ekstrak daun bintaro (1.002,67 ppm), diikuti oleh ekstrak daun akar tuba (1.256,07 ppm), ekstrak kirinyuh (1.304,37 ppm), ekstrak suren (1.307,37 ppm), dan tertinggi diperoleh dari ekstrak huni (3.316,06 ppm). Waktu kematian 50% (LT50) S. exigua yang terpendek terjadi pada 33,50 jam dengan fiducial limit 23,24 – 48,42 jam untuk ekstrak daun akar tuba, sedangkan waktu kematian 50% (LT50) S. exigua yang terpanjang diperoleh dari ekstrak daun huni, yaitu 136,52 jam dengan fiducial limit 76,47 – 234,51 jam. Dari penelitian ini diketahui bahwa insektisida botani menunjukkan efikasi yang tinggi terhadap larva S. exigua sehingga dapat direkomendasikan sebagai komponen untuk pengendalian hama terpadu (PHT).KeywordsBawang merah;  Mortalitas; Insektisida botani; LC50; LT50 AbstractUtilization of botanical pesticides is one option of environmentally friendly methods to control the attack of Spodoptera exigua . The objective of this study was to evaluate of lethal concentration and lethal time of plant extracts as botanical insecticide against third instar larva of beet armyworm, S. exigua under laboratory condition. The experiment was conducted at Indonesian Vegetables Research Institute at Lembang (±1,250 m asl.), from May to December 2015. Insect dipping method was used in this research. Mortality of S. exigua larvae was observed at 1,3,6, and 12 hours after exposures to the plant extracts and repeated every 24 hours up to 96 hours of exposures. The results of the experiments showed that at 96 hours post treatment, the highest mortality (85.0%) of the S. exigua larvae was caused by sea mango extract followed by Derris leaf extract (82.5%) and the lowest mortality of S. exigua larvae (57%) was obtained from spreng extract. The lowest LC50 from five of the extracts of botanical insecticide derived from sea mango leaf extract (1,002.67 ppm) followed by Derris leaf extract (1,256.07 ppm), Eupatorium leaf extract (1,304.37 ppm), Toona leaf extract (1,307.37 ppm), and the highest LC50 derived from spreng leaf extract (3,316.06 ppm). The shortest of the mean lethal time 50 (LT50) values of S. exigua was 33.50 hours obtained from Derris leaf extract with fiducial limits 23.24–48.42 while the longest of the mean (LT50) values of S. exigua was 136.52 hours obtained Spreng leaf extract with fiducial limits 76.47–234.51 hours. The botanicals insecticides were proven to be effective against S. exigua larvae, so it can be recommended to be used as components for integrated pest management (IPM).
Penggunaan Mountain Microorganism pada Budidaya Cabai Merah Menggunakan Teknologi Input Produksi Rendah (The Using of Mountain Microorganism in Chilli Cropping System by Used of Low Input Technology) Liferdi Lukman; Muhammad Syakir; Wiwin Setiawati; Ahsol Hasyim
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p29-40

Abstract

Mountain microorganism (MM) merupakan kumpulan dari berbagai mikrobe menguntungkan yang ditemukan pada tanah yang masih virgin pada serasah yang ada di pegunungan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efikasi MM sebagai bioactivator, biofermented, dan biopestisida untuk meningkatkan hasil cabai dengan menggunakan teknologi LEISA. Penelitian dilaksanakan di Ciamis, Jawa Barat mulai bulan Mei sampai dengan bulan Desember 2016. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Petak terpisah dengan empat ulangan. Faktor utama adalah pengelolaan hara (a = kompos + EM4) dan (a = kompos + MM + BF) 12. Subplot adalah dosis NPK (b = 1.000 kg/ha NPKdan b = 625 kg/ha NPK), dan sub-subplot adalah cara pengendalian OPT (c1= 12 konvensional dan c2 = biopestisida MM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian MM pada kompos dapat meningkatkan pertumbuhan (tinggi dan lebar kanopi) tanaman cabai sebesar 2 – 8 cm, dapat meningkatkan jumlah buah, jumlah bunga, jumlah cabang, dan bobot buah serta mampu meningkatkan produktivitas cabai sebesar 7,20% hingga 12,5%. Pemberian kompos + MM dapat memperbaiki kesuburan kimia, sifat fisiko-kimia dan biologi tanah sehingga lebih sesuai untuk budidaya tanaman cabai merah. Pengurangan pupuk NPK sebanyak 37,5% tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan produktivitas cabai merah dan komponen hasil lainnya. Penggunaan MM sebagai biopestisida dapat menghambat perkembangan OPT dengan efikasi setara dengan penggunaan insektisida sintetik.KeywordsMikroorganisme pegunungan (MM); Pupuk kimia;, Biopestisida; Cabai; LEISAAbstractMountain microorganism (MM) is a collection of various beneficial microorganism that was found in virgin soils or forest decomposing organic matter, used in the preparation of bokashi, bioferments, and biopesticides. The objective of this experiment found the efficacy of MM as bioactivator, bioferments, and biopesticide to increase the yield of chili pepper under LEISA technology. The experiment was conducted in Ciamis, West Java from May to December 2016. The experiment arranged in a split-plot design with four applications. Main plot was nutrient management (a1 = compost + EM4) and (a2 = compost + MM + BF). Subplot were dose of NPK (b1 = 1,000 kg/ha of NPK, b2 = 625 kg/ha of NPK), and sub-subplot were control of pest and diseases (c1= conventional and c2 = biopesticide). Result of this experiment showed that the used of MM on compost can increase growth (height and width of the canopy) pepper plants of 2-8 cm, the amount of fruit, flower number, number of branches and fruit weight and increase production chili at 7.20% until 12. 15%. The use of compost + MM can improve the fertility of chemical, physicochemical properties, and biological soil, making it more suitable for the cultivation of chili pepper. Reduction of NPK fertilizer as much as 37.5% do not provide an effect on productivity improvement and the other components of yield. Efficacy of MM as biopesticide similar to synthetic pesticide and could reduce plant damage due to pest and diseases.
Penggunaan Rain Shelter dan Biopestisida Atecu Pada Budidaya Cabai di Luar Musim untuk Mengurangi Kehilangan Hasil dan Serangan OPT Wiwin Setiawati; Ahsol Hasyim; Abdi Hudayya
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p239-250

Abstract

(The Use of Rain Shelter and Biopesticide in off Season Chilli Cultivation to Reduce Yield Losses and Infestation of Pest and Diseases)Penggunaan rain shelter merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan budidaya cabai di luar musim, yaitu kondisi musim hujan berkepanjangan. Peranan sumber daya hayati lokal termasuk tumbuhan sebagai biopestisida (Atecu) perlu ditingkatkan untuk mengatasi masalah mahalnya biaya produksi, namun mampu menekan kehilangan hasil akibat OPT dan menjaga mutu produk. Tujuan penelitian mendapatkan teknologi budidaya cabai off season yang dapat mengurangi kehilangan hasil dan serangan OPT ≥30%. Penelitian dilaksanakan di KP Margahayu Lembang, dari bulan Agustus 2016 sampai dengan bulan Maret 2017. Plot penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK) terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah bentuk rain shelter (bentuk datar dan melengkung) yang dipasang pada waktu tanam dan musim penghujan dikombinasikan dengan penggunaan Atecu 10 ml/l dan tanpa rain shelter + Atecu 10 ml/l serta teknologi konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pertumbuhan tanaman cabai (tinggi dan lebar kanopi) yang ditanam di bawah rain shelter berbeda nyata masing - masing sebesar (14,23 cm dan 3,17 cm) serta mempunyai jumlah cabang yang lebih banyak (12,5) dibandingkan dengan tanaman cabai yang ditanam di lahan terbuka, (2) kombinasi penggunaan shelter dan Atecu 10 ml/l efektif mengendalikan OPT penting pada tanaman cabai merah dengan tingkat efikasi berkisar antara 33,56–75,0% serta dapat mengurangi penggunaan pestisida sebesar 50% bila dibandingkan dengan teknologi konvensional, dan (3) bentuk rain shelter yang paling baik adalah bentuk melengkung yang dipasang pada musim penghujan dan mampu meningkatkan hasil panen sebesar 26,32% atau sebesar 20,59 ton/ha. Dari hasil tersebut dapat direkomendasikan bahwa penggunaan rain shelter sebagai salah satu teknologi budidaya cabai off season.KeywordsCapsicum annuum L; Rain shelter; Biopestisida Atecu; Budidaya di luar musim; Hama dan penyakitAbstractThe use of rain shelter is solution to solve chilli cultivation problems during rainy season which has long period rainy season. Biological control agent (BCA) included biopesticide (Atecu) also plays important role for solving the problems on chilli cultivation. The aim of the research was to obtain chilli cultivation technology in the off season which is effective to reduce yield losses due to incidence of pests and diseases on chilli ≥30%. The research was conducted in Margahayu Station from August 2016 to March 2017. Randomized block design with six treatments and four replications were used in this. The applications of rain shelter at planting time and rainy season (four treatments) and chilli planting at open field (two treatments) were used. The result showed that: (1) plant height and canopy width grown inside rain shelter were significantly longer (14.23 cm and 3.17 cm), had more branches (12.5) than those grown under open field condition, (2) the combination of rain shelter and biopesticide (Atecu) could reduce the risk of pest and disease, mainly in the rainy season with % of efficacy 33,56 – 75,0% and reduced used of pesticide up to 50% compared with conventional technology, and (3) the highest yields was found at Rain Shelter with curved shape applied at rainy season 20.59 ton/ha (26.32%). According to the results, the use of rain shelter can be recommended as one of technology for chilli cultivation during rainy season.
Sinergisme Jamur Entomopatogen Metarhizium anisopliae Dengan Insektisida Kimia untuk Meningkatkan Mortalitas Ulat Bawang Spodoptera exigua Ahsol Hasyim; Wiwin Setiawati; Abdi Hudayya; nFN Luthfy
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n2.2016.p257-266

Abstract

(Synergism Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae and Chemical Insecticide to Increase the Mortality of Armyworm, Spodoptera exigua)Hama ulat bawang Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan salah satu hama penting pada tanaman bawang di Indonesia. Jamur entomopatogen terutama Metarhizium anisopliae telah banyak digunakan untuk mengendalikan hama serangga. Keefektivitasan jamur entomopatogen M. anisopliae bila diaplikasikan secara tunggal untuk pengendalian hama hasilnya belum memuaskan. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan keefektifan jamur entomopatogen tersebut dengan melakukan pencampuran dengan insektisida kimia. Tujuan penelitian untuk mengetahui sinergisme campuran jamur entomopatogen M. anisopliae dengan insektisida kimia terhadap mortalitas larva S. exigua instar ke-3 di laboratorium. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang ( ± 1.250 m dpl.), mulai bulan Juni sampai Oktober 2014. Larva S. exigua dikumpulkan dari pertanaman petani bawang merah di daerah Cirebon, Jawa Barat dan diperbanyak di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap kegiatan, yaitu (1) uji pendahuluan dosis jamur M. anisopliae dan dosis insektisida kimia dan (2) uji campuran jamur M. anisopliae dengan dosis sublethal insektisida kimia. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Penelitian menggunakan metode pencelupan. Mortalitas larva S. exigua diamati mulai 24 jam sampai dengan 168 jam setelah perlakuan. Data mortalitas larva diolah menggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai LC50 insektisida kimia yang terendah diperoleh dari insektisida abamektin, yaitu 482,34 ppm dan yang tertinggi diperoleh dari jamur M. anisopliae, yaitu 1.189, 83 ppm. Nilai LC50 campuran insektisida, campuran jamur M. anisopliae dengan insektisida abamektin menunjukkan efek sinergistik dan meningkatkan efikasi 24,45 kali lipat jika dibandingkan dengan jamur M. anisopliae secara tunggal. Kombinasi jamur entomopatogen dengan insektisida konsentrasi sublethal dapat meningkatkan kemampuan jamur entomopatogen dalam mengendalikan S. exigua sehingga dapat memperlambat terjadinya resistensi insektisida.KeywordsSinergisme; Insektisida kimia; Jamur Metarhizium anisopliae; Mortalitas larva; Spodoptera exiguaAbstractThe beet armyworm, Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) is a serious pest of shallot in Indonesia. Many entomopathogenic fungi especially Metarhizium anisopliae are used as biological control agents of insects pests. But, the control of pest in crops with entomopathogens fungi, M. anisopliae alone is still not effective. Therefore it is necessary to improve the effectiveness of the entomopathogenic fungus by mixing with chemical insecticides. The aim of the study was to determine the sinergism of entomopathogenic fungi with insecticides to control third instar of S. exigua larvae under laboratory condition. The experiment was conducted at Indonesian Vegetables Research Institute Lembang (±1,250 m asl.), from June to October 2014. Sample of S. exigua larvae were collected from farmers’ field in Cirebon, West Java and mass production was carried in a screenhouse. Two bioassay steps were performed i.e. (1) preliminery test of entomopatogenic doses and insecticide doses and (2) the combination of sublethal doses of insecticide and several doses of M. anisopliae. The experimental design used was completely randomized design consisted of six treatments and four replications. Dipping method was used in this research. Mortality of S. exigua larvae was observed at 24 hours after exposures and repeated every 24 hours up to 168 hours of expo sures. The mortality data was analyzed using probit analysis to determine the LC50 values. The analysis showed that the LC50 value of the lowest chemical insecticides derived from insecticides abamectin that is 482,34 ppm and the highest obtained from the fungus M. anisopliae that is 1,189,83 ppm. Based on LC50 value of insecticides mixtures, the addition of abamectin insecticide to the entomopathogenic fungi, M. anisopliae, indicated synergism and increased their efficacy by 24,45 times higher, compared to M. anisopliae alone. Entomopathogenic fungi, M. anisopliae in combination with sublethal concentration of insecticides could increase the fungal ability in controlling S. exigua and also could be useful to abate insecticide resistance.
Preferensi Kumbang Daun Phyllotreta striolata Fab. (Coleoptera : Chrysomelidae) Terhadap Berbagai Tanaman Cruciferae dan Upaya Pengendaliannya Dengan Menggunakan Insektisida Klorpirifos Hadis Jayanti; Wiwin Setiawati; Ahsol Hasyim
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n3.2013.p235-243

Abstract

Phyllotreta striolata Fab. (Coleoptera : Chrysomelidae) merupakan salah satu hama penting pada berbagai jenis tanaman dari famili Cruciferae, Amaranthaceae, Chenopodiaceae, Convolvulacea, dan Fabacea. Kehilangan hasil yang diakibatkannya dapat mencapai 20 – 50% bahkan 100% bila serangan terjadi pada saat tanaman masih muda. Di Indonesia, sampai saat ini belum ada insektisida yang terdaftar untuk mengendalikan P. striolata. Tujuan penelitian untuk mengetahui (1) preferensi P. striolata pada berbagai tanaman Cruciferae seperti sawi putih, sawi hijau, pakcoy, kubis bunga, brokoli, dan kubis, (2) keefektifan insektisida klorpirifos 400 g/l terhadap P. striolata, serta (3) kehilangan hasil yang diakibatkan P. striolata. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium, Rumah Kasa, dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, sejak Bulan Maret sampai dengan Agustus 2011. Metode yang digunakan untuk uji preferensi ialah metode choice dan nonchoice. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok. Perlakuan terdiri atas enam jenis kubis-kubisan dan diulang empat kali. Perlakuan yang digunakan untuk uji keefektifan ialah empat konsentrasi insektisida klorpirifos 400 g/l serta kontrol dan diulang lima kali. Pengamatan dilakukan terhadap populasi P. striolata, kerusakan tanaman, dan hasil panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P. striolata lebih memilih tanaman pakcoy, sawi putih, dan sawi hijau sebagai makanan, tingkat kerusakan pada tanaman terpilih berkisar antara 13,75 – 100%, tanaman kubis merupakan tanaman yang paling tidak disukai oleh P. striolata, aplikasi insektisida klorpirifos 400 g/l pada konsentrasi 1.500 ppm dan 2.000 ppm paling efektif dalam menekan serangan P. striolata, dan mampu mempertahankan hasil panen sawi putih tertinggi masing-masing sebesar 22,87 dan 26,99 t/ha. Insektisida klorpirifos 400 g/l dapat digunakan untuk mengendalikan P. striolata pada tanaman sawi putih dan dapat menekan kehilangan hasil sebesar 49,61 – 79,37%.