Abdi Hudayya
Balai Penelitian Tanaman Sayuran

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PenerapanTeknologi Input Luar Rendah Pada Budidaya Cabai Merah untuk Mengurangi Penggunaan Pupuk dan Pestisida Sintetik (Implementation of Low External Input Technology for Chili Pepper Cultivation to Reduce Fertilizer and Synthetic Pesticide) Wiwin Setiawati; Agus Muharam; Agus Susanto; Evita Boes; Abdi Hudayya
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p113-122

Abstract

Penggunaan input produksi yang tinggi seperti pupuk dan pestisida pada budidaya cabai merah merupakan ancaman yang serius terhadap kesehatan dan lingkungan. Salah satu teknologi alternatif yang semakin sering dijajagi penerapannya adalah teknologi low external input technology (LEIT). Kelebihan teknologi LEIT adalah menggunakan bahan agro kimia secara benar, tepat waktu, dosis dan cara sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, baik pencemaran tanah, air dan udara, produksi tetap tinggi, secara ekonomi menguntungkan dan aman untuk dikonsumsi. Beberapa teknologi yang dapat digunakan dalam teknologi LEIT di antaranya penggunaan kompos untuk mengurangi pupuk buatan, sistem polikultur, dan penutup tanah dengan kacang - kacangan. Tujuan penelitian adalah menghasilkan LEIT pada budidaya cabai merah dengan memanfaatkan sumber daya hayati (SDH) domestik yang dapat mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida sintetik serta ramah lingkungan mulai dari pengendalian input, pengendalian proses dan quality control. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Maret sampai November 2014. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah kombinasi dari varietas, bahan organik dan NPK, sistem tanam dan pengendalian OPT serta teknologi konvensional sebagai pembanding. Hasil menunjukkan bahwa penerapan LEIT (30 ton kompos PKSTT, NPK 625 kg/ha, penggunaan ATECU berdasarkan ambang pengendalian, biopestisida BPP pegunungan pada saat berbunga dan tumpangsari antara cabai merah dan buncis tegak) memberikan hasil terbaik untuk budidaya cabai merah ramah lingkungan. Penerapan teknologi LEIT tersebut dapat menekan penggunaan pupuk NPK sebesar 37,5%, penggunaan pestisida 50 – 60%, produksi tetap tinggi (9,49 ton/ha), meningkatkan pendapatan 27,71%, aman terhadap predator M. sexmaculatus dan ramah lingkungan.KeywordsCapsicum annuum; LEIT; Ramah lingkunganAbstractChili pepper cultivation reliance on synthetic-chemical fertilizers and pesticides is having serious impacts on health and the environment. Low external input technology (LEIT) was one of technology which recently can be applied. It does not mean the elimination of these materials. Yields are maintained through greater emphasis on cultural practices, IPM, and utilization of on-farm resources and management such as legume cover crops, cropping system and compost can supply the total nitrogen requirements, biopesticide to reduce the use of the chemical pesticide. These technology reduced environmental degradation, maintain agricultural productivity, promote economic viability in both the short and long term and maintain stable rural communities and quality of life. The objectives were to produce LEIT on the chili pepper cultivation that using biological resources which can reduce the need for domestic fertilizers and synthetic pesticides safe for consumption and environmentally friendly from the input control, control process, and quality control. The goal of this experiment was to support the implementation of product safety and increase biodiversity, especially in useful life (parasitoids and predators). The research conducted at Indonesian Vegetables Research Institute, Lembang from March to November 2014. Randomized block design consisting of nine treatments and three replications was used. Organic materials, compost, NPK doses, cropping systems and the use of insecticides were used as treatments. The results showed that application of LEIT such as the use of compost 30 ton/ha, NPK 625 kg/ha, application of ATECU insecticide based on control threshold, application of mountain biopesticide at flowering and intercropping between chili pepper and bean were the best treatments for environmentally friendly of chili pepper cultivation. This technology was able suppress the use of NPK fertilizer at 37.5%, the use of pesticides 50-60%, production remains high (9.49 ton/ha), increase demand (27.71%), safe for M. sexmaculatus predator, and environmentally friendly.
Penggunaan Rain Shelter dan Biopestisida Atecu Pada Budidaya Cabai di Luar Musim untuk Mengurangi Kehilangan Hasil dan Serangan OPT Wiwin Setiawati; Ahsol Hasyim; Abdi Hudayya
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p239-250

Abstract

(The Use of Rain Shelter and Biopesticide in off Season Chilli Cultivation to Reduce Yield Losses and Infestation of Pest and Diseases)Penggunaan rain shelter merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan budidaya cabai di luar musim, yaitu kondisi musim hujan berkepanjangan. Peranan sumber daya hayati lokal termasuk tumbuhan sebagai biopestisida (Atecu) perlu ditingkatkan untuk mengatasi masalah mahalnya biaya produksi, namun mampu menekan kehilangan hasil akibat OPT dan menjaga mutu produk. Tujuan penelitian mendapatkan teknologi budidaya cabai off season yang dapat mengurangi kehilangan hasil dan serangan OPT ≥30%. Penelitian dilaksanakan di KP Margahayu Lembang, dari bulan Agustus 2016 sampai dengan bulan Maret 2017. Plot penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK) terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah bentuk rain shelter (bentuk datar dan melengkung) yang dipasang pada waktu tanam dan musim penghujan dikombinasikan dengan penggunaan Atecu 10 ml/l dan tanpa rain shelter + Atecu 10 ml/l serta teknologi konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pertumbuhan tanaman cabai (tinggi dan lebar kanopi) yang ditanam di bawah rain shelter berbeda nyata masing - masing sebesar (14,23 cm dan 3,17 cm) serta mempunyai jumlah cabang yang lebih banyak (12,5) dibandingkan dengan tanaman cabai yang ditanam di lahan terbuka, (2) kombinasi penggunaan shelter dan Atecu 10 ml/l efektif mengendalikan OPT penting pada tanaman cabai merah dengan tingkat efikasi berkisar antara 33,56–75,0% serta dapat mengurangi penggunaan pestisida sebesar 50% bila dibandingkan dengan teknologi konvensional, dan (3) bentuk rain shelter yang paling baik adalah bentuk melengkung yang dipasang pada musim penghujan dan mampu meningkatkan hasil panen sebesar 26,32% atau sebesar 20,59 ton/ha. Dari hasil tersebut dapat direkomendasikan bahwa penggunaan rain shelter sebagai salah satu teknologi budidaya cabai off season.KeywordsCapsicum annuum L; Rain shelter; Biopestisida Atecu; Budidaya di luar musim; Hama dan penyakitAbstractThe use of rain shelter is solution to solve chilli cultivation problems during rainy season which has long period rainy season. Biological control agent (BCA) included biopesticide (Atecu) also plays important role for solving the problems on chilli cultivation. The aim of the research was to obtain chilli cultivation technology in the off season which is effective to reduce yield losses due to incidence of pests and diseases on chilli ≥30%. The research was conducted in Margahayu Station from August 2016 to March 2017. Randomized block design with six treatments and four replications were used in this. The applications of rain shelter at planting time and rainy season (four treatments) and chilli planting at open field (two treatments) were used. The result showed that: (1) plant height and canopy width grown inside rain shelter were significantly longer (14.23 cm and 3.17 cm), had more branches (12.5) than those grown under open field condition, (2) the combination of rain shelter and biopesticide (Atecu) could reduce the risk of pest and disease, mainly in the rainy season with % of efficacy 33,56 – 75,0% and reduced used of pesticide up to 50% compared with conventional technology, and (3) the highest yields was found at Rain Shelter with curved shape applied at rainy season 20.59 ton/ha (26.32%). According to the results, the use of rain shelter can be recommended as one of technology for chilli cultivation during rainy season.
Sinergisme Jamur Entomopatogen Metarhizium anisopliae Dengan Insektisida Kimia untuk Meningkatkan Mortalitas Ulat Bawang Spodoptera exigua Ahsol Hasyim; Wiwin Setiawati; Abdi Hudayya; nFN Luthfy
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n2.2016.p257-266

Abstract

(Synergism Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae and Chemical Insecticide to Increase the Mortality of Armyworm, Spodoptera exigua)Hama ulat bawang Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan salah satu hama penting pada tanaman bawang di Indonesia. Jamur entomopatogen terutama Metarhizium anisopliae telah banyak digunakan untuk mengendalikan hama serangga. Keefektivitasan jamur entomopatogen M. anisopliae bila diaplikasikan secara tunggal untuk pengendalian hama hasilnya belum memuaskan. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan keefektifan jamur entomopatogen tersebut dengan melakukan pencampuran dengan insektisida kimia. Tujuan penelitian untuk mengetahui sinergisme campuran jamur entomopatogen M. anisopliae dengan insektisida kimia terhadap mortalitas larva S. exigua instar ke-3 di laboratorium. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang ( ± 1.250 m dpl.), mulai bulan Juni sampai Oktober 2014. Larva S. exigua dikumpulkan dari pertanaman petani bawang merah di daerah Cirebon, Jawa Barat dan diperbanyak di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap kegiatan, yaitu (1) uji pendahuluan dosis jamur M. anisopliae dan dosis insektisida kimia dan (2) uji campuran jamur M. anisopliae dengan dosis sublethal insektisida kimia. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Penelitian menggunakan metode pencelupan. Mortalitas larva S. exigua diamati mulai 24 jam sampai dengan 168 jam setelah perlakuan. Data mortalitas larva diolah menggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai LC50 insektisida kimia yang terendah diperoleh dari insektisida abamektin, yaitu 482,34 ppm dan yang tertinggi diperoleh dari jamur M. anisopliae, yaitu 1.189, 83 ppm. Nilai LC50 campuran insektisida, campuran jamur M. anisopliae dengan insektisida abamektin menunjukkan efek sinergistik dan meningkatkan efikasi 24,45 kali lipat jika dibandingkan dengan jamur M. anisopliae secara tunggal. Kombinasi jamur entomopatogen dengan insektisida konsentrasi sublethal dapat meningkatkan kemampuan jamur entomopatogen dalam mengendalikan S. exigua sehingga dapat memperlambat terjadinya resistensi insektisida.KeywordsSinergisme; Insektisida kimia; Jamur Metarhizium anisopliae; Mortalitas larva; Spodoptera exiguaAbstractThe beet armyworm, Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) is a serious pest of shallot in Indonesia. Many entomopathogenic fungi especially Metarhizium anisopliae are used as biological control agents of insects pests. But, the control of pest in crops with entomopathogens fungi, M. anisopliae alone is still not effective. Therefore it is necessary to improve the effectiveness of the entomopathogenic fungus by mixing with chemical insecticides. The aim of the study was to determine the sinergism of entomopathogenic fungi with insecticides to control third instar of S. exigua larvae under laboratory condition. The experiment was conducted at Indonesian Vegetables Research Institute Lembang (±1,250 m asl.), from June to October 2014. Sample of S. exigua larvae were collected from farmers’ field in Cirebon, West Java and mass production was carried in a screenhouse. Two bioassay steps were performed i.e. (1) preliminery test of entomopatogenic doses and insecticide doses and (2) the combination of sublethal doses of insecticide and several doses of M. anisopliae. The experimental design used was completely randomized design consisted of six treatments and four replications. Dipping method was used in this research. Mortality of S. exigua larvae was observed at 24 hours after exposures and repeated every 24 hours up to 168 hours of expo sures. The mortality data was analyzed using probit analysis to determine the LC50 values. The analysis showed that the LC50 value of the lowest chemical insecticides derived from insecticides abamectin that is 482,34 ppm and the highest obtained from the fungus M. anisopliae that is 1,189,83 ppm. Based on LC50 value of insecticides mixtures, the addition of abamectin insecticide to the entomopathogenic fungi, M. anisopliae, indicated synergism and increased their efficacy by 24,45 times higher, compared to M. anisopliae alone. Entomopathogenic fungi, M. anisopliae in combination with sublethal concentration of insecticides could increase the fungal ability in controlling S. exigua and also could be useful to abate insecticide resistance.
Pemanfaatan Teknologi Indigenous ATECU untuk Mengendalikan OPT Utama Pada Tanaman Cabai Merah serta Pengaruhnya Terhadap Predator Menochilus sexmaculatus Wiwin Setiawati; Abdi Hudayya
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p81-90

Abstract

(The used of Indigenous ATECU Technology to Control Pest and Diseases on Chili Pepper and Safer to Predator Menochilus sexmaculatus)Meningkatnya kesadaran konsumen terhadap keamanan pangan dan issue pelestarian lingkungan menjadikan budidaya ramah lingkungan menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Budidaya ramah lingkungan tidak menimbulkan pencemaran serta tidak memerlukan input yang mahal seperti pupuk dan pestisida kimia sintetis. Kebutuhan bahan input tersebut dipenuhi dari bahan organik lokal (indigenous) yang tersedia di sekitar lahan pertanian (kearifan lokal) sehingga biaya produksi menjadi lebih murah. ATECU (akronim dari campuran Azadirachta indica, Tephrosia vogelli, dan urine sapi yang difermentasi selama 15 hari) merupakan salah satu teknologi indigenous yang efikasinya terhadap hama penting pada tanaman cabai sangat diperlukan. Tujuan penelitian adalah mengetahui efikasi teknologi indigenous ATECU (fermentasi mimba, kacang babi, dan urine sapi) terhadap OPT penting cabai merah yang dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia >50% dan aman terhadap predator M. sexmaculatus. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.) dengan jenis tanah Andisol dari bulan Maret sampai dengan bulan November 2016. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan diulang empat kali. Perlakuan yang diuji adalah ATECU 10 ml/l yang diaplikasikan secara rutin berdasarkan ambang kendali dan kombinasi dengan insektisida kimia Spinetoram (1,0 ml/l ), insektisida Spinoteram (1,0 ml/l ) yang diaplikasikan secara rutin dan berdasarkan ambang kendali serta kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teknologi indigenous ATECU 10 ml/l efektif mengendalikan OPT penting pada tanaman cabai merah seperti Thrips parvispinus dengan tingkat efikasi (53,56%), Polyphagotarsonemus latus (90,71%), Heliothis armigera (98,41%), Bractocera spp. (83,28%) dan penyakit yang diakibatkan oleh cendawan Colletotrichum acutatum dengan tingkat efikasi sebesar (70,18%). Selain itu aplikasi ATECU 10 ml/l dapat mengurangi penggunaan insektisida sebesar 40–50%, menghemat biaya penggunaan insektisida sebesar 45,38–95,36%, aman terhadap musuh alami (predator Menochilus sexmaculatus) serta menghasilkan hasil panen di atas 10 ton/ha. Penggunaan ATECU selain efektif untuk pengendalian OPT juga dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Karena keefektifannya, sifat ramah lingkungan, dan relatif lebih ekonomis. ATECU dapat direkomendasikan sebagai pestisida potensial untuk pengendalian OPT dalam budidaya sayuran ramah lingkungan.KeywordsCabai merah; SDH indigenous; Azadirachta indica; Tephrosia vogelii; Urine sapiAbstractIncreased consumer awareness of food safety and environmental conservation issues make environmentally friendly cultivation to be one of the right choices to overcome the problem. Eco-friendly agriculture does not cause pollution and does not require expensive inputs such as synthetic chemical fertilizers and pesticides. Some potential of Biological Control Agent (BCA) indigenous included bio-pesticide (ATECU) should be manipulated. Most of the potential BCA is underutilized among common farmers. The used of indigenous ATECU technology (neem, tephrosia and cow urine fermented) to control pest and diseases on chili pepper is needed. The research aimed to determine the efficacy indigenous material ATECU (neem + tephrosia + cow urine fermented) to control pest and diseases of chili pepper that can reduce the use of chemical pesticides > 50% and safe to predator M. sexmaculatus. The research was conducted in Margahayu Station from March to November 2016. Randomized block design consisting of 6 treatments was used in this experiment with four replications. The treatment being tested is the use of applications of ATECU 10 ml/l based on routinely, action threshold and combine with Spinetoram 1 ml/l, Spinoteram 1 ml/l insecticide applied routinely and based on control threshold and control. The results showed that ATECU 10 ml/l was effective for controlling important pests in chili pepper such as Thrips parvispinus with efficacy levels (53.56%), Polyphagotarsonemus latus (90.71%), Helicoverpa armigera (98.41%), Bractocera spp. (83.28%) and Colletotrichum acutatum disease with efficacy 70.18%; ATECU 10 ml/l can reduce pesticide use by 40–50%, save pesticide usage 45.38–95.36%, and safe to predator Menochilus sexmaculatus and highest yield of chili up to 10 ton/ha. From this experiment which was strongly gave on indication that ATECU fermented from neem, tephrosia plants and cow urine would be able to replace synthetic pesticides in controlling pest and diseases, and to reduce the quantity of synthetic pesticide application on environmentally friendly cultivation of chili.