Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengalaman Emosional Siswa Broken Home Kelas VIII D SMPN 11 Kota Serang dan Upaya Pengelolaannya dalam Perspektif Konseling Islami Tassya Horidata Safitri; Ayda Khoirunnisa; Akhmad Athif Fathin; Afrizal Rizki; Herlina Pratiwi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman emosional siswa broken home kelas VIII D SMP Negeri 11 Kota Serang serta mengidentifikasi upaya pengelolaan emosi yang dilakukan dalam perspektif konseling Islami. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas siswa kelas VIII D yang memiliki latar belakang keluarga broken home, dengan informan pendukung berupa guru bimbingan dan konseling serta wali kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa broken home mengalami berbagai pengalaman emosional yang beragam, meliputi perasaan sedih, kecewa, marah, cemas, kesepian, dan rendah diri. Pengalaman emosional tersebut muncul sebagai respons terhadap perceraian orang tua, konflik keluarga yang berkepanjangan, kurangnya perhatian, serta berkurangnya dukungan emosional dari keluarga. Kondisi tersebut turut memengaruhi kehidupan akademik dan sosial siswa di sekolah, seperti menurunnya konsentrasi belajar, motivasi akademik, dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Dalam menghadapi kondisi tersebut, siswa melakukan berbagai upaya pengelolaan emosi, antara lain mencari dukungan sosial dari teman, guru, dan keluarga terdekat, serta melakukan aktivitas spiritual seperti salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berzikir, bersabar, dan bertawakal kepada Allah Swt. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan konseling Islami berperan penting dalam membantu siswa mengelola emosi secara lebih adaptif melalui penguatan aspek spiritual dan psikologis. Oleh karena itu, layanan bimbingan dan konseling berbasis nilai-nilai Islam perlu dikembangkan sebagai bentuk pendampingan bagi siswa yang mengalami kondisi broken home.
Tantangan dan Strategi Belajar Mahasiswa BKPI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dalam Menguasai Keterampilan Konseling Nada Fayha Efendi; Amalia Rahma Kurniana; Elsa Pebryani; Muhammad Hafi Azizi; Herlina Pratiwi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterampilan konseling adalah kemampuan vital yang harus dimiliki oleh mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) untuk bisa memberikan bantuan kepada individu dengan efektif. Namun, proses menguasai keterampilan ini penuh dengan berbagai rintangan yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam belajar mahasiswa secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan rintangan yang dihadapi oleh mahasiswa BKPI di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dalam menguasai keterampilan konseling dan mengidentifikasi strategi belajar yang mereka gunakan untuk mengatasi rintangan tersebut. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa BKPI yang telah mengikuti mata kuliah keterampilan dan praktikum konseling. Data selanjutnya dianalisis melalui teknik pengurangan data, penyajian informasi, dan penarikan kesimpulan, serta dilakukan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan metode. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi oleh mahasiswa termasuk kesulitan dalam menerapkan teori ke praktik, rendahnya tingkat percaya diri, kecemasan saat melakukan sesi konseling, dan kesulitan dalam mengembangkan empati serta refleksi emosional. Untuk mengatasi tantangan ini, mahasiswa menggunakan beragam strategi belajar, seperti menjalani latihan role play, mengamati praktik konseling, memanfaatkan video pembelajaran, meminta masukan dari dosen serta teman-teman sejawat, dan melakukan refleksi diri. Strategi-strategi ini terbukti efektif dalam membantu mahasiswa meningkatkan keterampilan konseling, memperkuat rasa empati, serta membangun kepercayaan diri dalam praktik konseling. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan konseling memerlukan pengalaman praktik yang konsisten dan dukungan dari lingkungan pembelajaran yang mendukung.
Persepsi Siswa terhadap Guru BK Sebagai Helper Spiritual di SMPN 1 Pontang Siti Mahmudah; Ukhti Sulistia; Siti Chosiah; Nazri Ihlasul Amal; Herlina Pratiwi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam membantu peserta didik mengatasi berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Selain membantu dalam aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier, guru BK juga dapat berperan sebagai helper spiritual yang memberikan pendampingan berdasarkan nilai-nilai agama dan moral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap peran guru BK sebagai helper spiritual di SMPN 1 Pontang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi terhadap lima siswa yang pernah mengikuti layanan BK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki persepsi positif terhadap peran guru BK sebagai helper spiritual. Guru BK dipandang sebagai sosok yang memberikan motivasi, nasihat keagamaan, serta membantu siswa menghadapi masalah dengan pendekatan spiritual. Siswa merasa lebih tenang, termotivasi, dan mampu mengambil keputusan yang lebih baik setelah mendapatkan bimbingan dari guru BK. Namun, masih terdapat beberapa siswa yang beranggapan bahwa guru BK hanya berperan dalam menangani pelanggaran tata tertib sekolah. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai fungsi dan peran guru BK secara menyeluruh.
Transisi dari Sekolah ke Kampus: Penyesuaian Mahasiswa BKPI Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Awal Perkuliahan Juwairiyah Juwairiyah; Siti Auliya Febriyanti; Deswita Wijaya; Moch Fauzan Robiana; Herlina Pratiwi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses transisi dari sekolah menengah menuju perguruan tinggi sering kali menjadi fase yang paling menantang bagi mahasiswa baru karena adanya perubahan signifikan pada aspek akademik, sosial, dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transisi tersebut dengan fokus pada dinamika penyesuaian diri mahasiswa baru Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di awal masa perkuliahan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui penyebaran kuesioner terbuka (open-ended questionnaire) berbasis Google Form kepada 15 mahasiswa semester awal yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penyesuaian diri mahasiswa berjalan secara dinamis. Pada dimensi akademik, mahasiswa menunjukkan kesiapan yang sangat tinggi dalam menginternalisasi kemandirian belajar (andragogi). Sebaliknya, pada dimensi sosial dan emosional, mahasiswa menghadapi hambatan pelik berupa kecemasan sosial, homesickness, dan kesulitan manajemen waktu. Meski begitu, sebagai calon konselor, mahasiswa prodi BKPI memiliki kemampuan refleksi diri yang baik untuk menerapkan dasar regulasi emosi secara mandiri, sehingga tetap optimis menyelesaikan studi. Keberhasilan transisi ini juga didukung kuat oleh support system kampus berupa integrasi nilai keislaman, bimbingan dosen penasihat akademik, dan dukungan teman sebaya (peer support)