Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengalaman Emosional Siswa Broken Home Kelas VIII D SMPN 11 Kota Serang dan Upaya Pengelolaannya dalam Perspektif Konseling Islami Tassya Horidata Safitri; Ayda Khoirunnisa; Akhmad Athif Fathin; Afrizal Rizki; Herlina Pratiwi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman emosional siswa broken home kelas VIII D SMP Negeri 11 Kota Serang serta mengidentifikasi upaya pengelolaan emosi yang dilakukan dalam perspektif konseling Islami. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas siswa kelas VIII D yang memiliki latar belakang keluarga broken home, dengan informan pendukung berupa guru bimbingan dan konseling serta wali kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa broken home mengalami berbagai pengalaman emosional yang beragam, meliputi perasaan sedih, kecewa, marah, cemas, kesepian, dan rendah diri. Pengalaman emosional tersebut muncul sebagai respons terhadap perceraian orang tua, konflik keluarga yang berkepanjangan, kurangnya perhatian, serta berkurangnya dukungan emosional dari keluarga. Kondisi tersebut turut memengaruhi kehidupan akademik dan sosial siswa di sekolah, seperti menurunnya konsentrasi belajar, motivasi akademik, dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Dalam menghadapi kondisi tersebut, siswa melakukan berbagai upaya pengelolaan emosi, antara lain mencari dukungan sosial dari teman, guru, dan keluarga terdekat, serta melakukan aktivitas spiritual seperti salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berzikir, bersabar, dan bertawakal kepada Allah Swt. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan konseling Islami berperan penting dalam membantu siswa mengelola emosi secara lebih adaptif melalui penguatan aspek spiritual dan psikologis. Oleh karena itu, layanan bimbingan dan konseling berbasis nilai-nilai Islam perlu dikembangkan sebagai bentuk pendampingan bagi siswa yang mengalami kondisi broken home.
Tantangan dan Strategi Belajar Mahasiswa BKPI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dalam Menguasai Keterampilan Konseling Nada Fayha Efendi; Amalia Rahma Kurniana; Elsa Pebryani; Muhammad Hafi Azizi; Herlina Pratiwi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterampilan konseling adalah kemampuan vital yang harus dimiliki oleh mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) untuk bisa memberikan bantuan kepada individu dengan efektif. Namun, proses menguasai keterampilan ini penuh dengan berbagai rintangan yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam belajar mahasiswa secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan rintangan yang dihadapi oleh mahasiswa BKPI di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dalam menguasai keterampilan konseling dan mengidentifikasi strategi belajar yang mereka gunakan untuk mengatasi rintangan tersebut. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa BKPI yang telah mengikuti mata kuliah keterampilan dan praktikum konseling. Data selanjutnya dianalisis melalui teknik pengurangan data, penyajian informasi, dan penarikan kesimpulan, serta dilakukan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan metode. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi oleh mahasiswa termasuk kesulitan dalam menerapkan teori ke praktik, rendahnya tingkat percaya diri, kecemasan saat melakukan sesi konseling, dan kesulitan dalam mengembangkan empati serta refleksi emosional. Untuk mengatasi tantangan ini, mahasiswa menggunakan beragam strategi belajar, seperti menjalani latihan role play, mengamati praktik konseling, memanfaatkan video pembelajaran, meminta masukan dari dosen serta teman-teman sejawat, dan melakukan refleksi diri. Strategi-strategi ini terbukti efektif dalam membantu mahasiswa meningkatkan keterampilan konseling, memperkuat rasa empati, serta membangun kepercayaan diri dalam praktik konseling. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan konseling memerlukan pengalaman praktik yang konsisten dan dukungan dari lingkungan pembelajaran yang mendukung.
Persepsi Siswa terhadap Guru BK Sebagai Helper Spiritual di SMPN 1 Pontang Siti Mahmudah; Ukhti Sulistia; Siti Chosiah; Nazri Ihlasul Amal; Herlina Pratiwi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam membantu peserta didik mengatasi berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Selain membantu dalam aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier, guru BK juga dapat berperan sebagai helper spiritual yang memberikan pendampingan berdasarkan nilai-nilai agama dan moral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap peran guru BK sebagai helper spiritual di SMPN 1 Pontang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi terhadap lima siswa yang pernah mengikuti layanan BK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki persepsi positif terhadap peran guru BK sebagai helper spiritual. Guru BK dipandang sebagai sosok yang memberikan motivasi, nasihat keagamaan, serta membantu siswa menghadapi masalah dengan pendekatan spiritual. Siswa merasa lebih tenang, termotivasi, dan mampu mengambil keputusan yang lebih baik setelah mendapatkan bimbingan dari guru BK. Namun, masih terdapat beberapa siswa yang beranggapan bahwa guru BK hanya berperan dalam menangani pelanggaran tata tertib sekolah. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai fungsi dan peran guru BK secara menyeluruh.
Transisi dari Sekolah ke Kampus: Penyesuaian Mahasiswa BKPI Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Awal Perkuliahan Juwairiyah Juwairiyah; Siti Auliya Febriyanti; Deswita Wijaya; Moch Fauzan Robiana; Herlina Pratiwi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses transisi dari sekolah menengah menuju perguruan tinggi sering kali menjadi fase yang paling menantang bagi mahasiswa baru karena adanya perubahan signifikan pada aspek akademik, sosial, dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transisi tersebut dengan fokus pada dinamika penyesuaian diri mahasiswa baru Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di awal masa perkuliahan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui penyebaran kuesioner terbuka (open-ended questionnaire) berbasis Google Form kepada 15 mahasiswa semester awal yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penyesuaian diri mahasiswa berjalan secara dinamis. Pada dimensi akademik, mahasiswa menunjukkan kesiapan yang sangat tinggi dalam menginternalisasi kemandirian belajar (andragogi). Sebaliknya, pada dimensi sosial dan emosional, mahasiswa menghadapi hambatan pelik berupa kecemasan sosial, homesickness, dan kesulitan manajemen waktu. Meski begitu, sebagai calon konselor, mahasiswa prodi BKPI memiliki kemampuan refleksi diri yang baik untuk menerapkan dasar regulasi emosi secara mandiri, sehingga tetap optimis menyelesaikan studi. Keberhasilan transisi ini juga didukung kuat oleh support system kampus berupa integrasi nilai keislaman, bimbingan dosen penasihat akademik, dan dukungan teman sebaya (peer support)
Pengembangan Produk Olahan Singkong Sebagai Upaya Peningkatan Nilai Tambah dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Sukamulya, Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang Herlina Pratiwi; Firda Hidayah; Nawal Septiana Mardi; Azizah Zalfa Salzabil; Siti Habibah Amalia; Lu’luatul Fauziah; Sinta Setiawati; Putri Umi Ayu Mas Melati; Alifia Unzila Artamevia; Ahmad Lathif; Alfi Syahri Ridho; Dzikri Ramadhan; Robby Miftahul Ulum; Ulum Ulum; Rifky Husen Arrosid; Nazwa Oktavia Ramadhani
Journal of Community Service and Engagement Vol 2 No 1 (2026): August: Servitia: Journal of Community Service and Engagement
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/6mkwdd21

Abstract

This study analyzes cassava-based product development as an effort to increase added value and strengthen economic empowerment in Sukamulya Village, Mekarjaya District, Pandeglang Regency. The activity employed a participatory approach through observation, education, demonstrations, hands-on practice, mentoring, and evaluation. Results show that cassava processing not only produces ready-to-consume food products but also introduces the community to quality control, packaging, labeling, cost recording, pricing, and marketing. The economic calculation scenario indicates a production cost of IDR 299,000 for 50 packages, a production cost of IDR 5,980 per package, a selling price of IDR 8,000, revenue of IDR 400,000, and a break-even point of approximately 24 packages. These figures function as an economic learning model and require verification using transaction records. The activity provided practical experience supporting skills formation and business understanding. Local and digital marketing may expand market access when production capacity and product quality are maintained consistently. Program sustainability requires organized management, production and sales records, legal compliance, food safety, product diversification, and continued mentoring so the activity can develop into an independent sustainable community enterprise based on local resources.
Peningkatan Kesadaran Remaja melalui Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini di Desa Sukamulya, Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang Herlina Pratiwi; Firda Hidayah; Nawal Septiana Mardi; Azizah Zalfa Salzabil; Siti Habibah Amalia; Lu’luatul Fauziah; Sinta Setiawati; Putri Umi Ayu Mas Melati; Alifia Unzila Artamevia; Ahmad Lathif; Alfi Syahri Ridho; Dzikri Ramadhan; Robby Miftahul Ulum; Ulum Ulum; Rifky Husen Arrosid; Nazwa Oktavia Ramadhani
Journal of Community Service and Engagement Vol 2 No 1 (2026): August: Servitia: Journal of Community Service and Engagement
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/357zn156

Abstract

Early marriage remains a multidimensional social issue that affects adolescents’ education, health, psychological readiness, social relations, and economic prospects. This community service program aimed to increase adolescent awareness through education on preventing early marriage in Sukamulya Village, Mekarjaya District, Pandeglang Regency. The activity used an educational-participatory approach through material presentations, interactive discussions, question-and-answer sessions, and descriptive evaluation of participant responses. The educational content covered the legal minimum age for marriage, contributing factors, health and psychological consequences, educational and economic risks, family roles, social norms, and future planning. The activity provided participants with structured information and a discussion space to understand marriage as a decision requiring multidimensional readiness. The findings also indicate that prevention efforts need support from families, communities, schools, health workers, and village government. Because no quantitative pre-test and post-test data were collected, the program’s effectiveness cannot be expressed as a percentage increase in knowledge. Sustainable education, family communication, social support, and measurable evaluation are therefore recommended to strengthen long-term prevention efforts. These measures can also strengthen adolescents’ educational aspirations, decision-making capacity, and access to alternatives before entering marriage.
Penanaman Bibit Pohon Albasiyah Sebagai Upaya Penghijauan dan Pelestarian Lingkungan di Desa Sukamulya, Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang Rifky Husen Arrosid; Herlina Pratiwi; Ulum Ulum; Robby Miftahul Ulum; Dzikri Ramadhan; Alfi Syahri Ridho; Ahmad Lathif; Alifia Unzila Artamevia; Putri Umi Ayu Mas Melati; Sinta Setiawati; Lu’luatul Fauziah; Siti Habibah Amalia; Azizah Zalfa Salzabil; Nawal Septiana Mardi; Firda Hidayah; Nazwa Oktavia Ramadhani
Journal of Community Service and Engagement Vol 2 No 1 (2026): August: Servitia: Journal of Community Service and Engagement
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/ht1ez556

Abstract

Kegiatan penanaman bibit pohon albasiyah di Desa Sukamulya, Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang merupakan upaya penghijauan berbasis masyarakat yang mengintegrasikan aspek ekologis, edukatif, dan partisipatif. Program dilaksanakan melalui persiapan lokasi, penanaman, penyiraman awal, edukasi lingkungan, serta pemantauan kondisi bibit setelah ditanam. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat memperkuat pemahaman mengenai fungsi pohon dalam meningkatkan tutupan vegetasi, menjaga kualitas tanah, mendukung penyimpanan karbon, dan memperbaiki kualitas lingkungan. Pemilihan albasiyah dinilai relevan karena merupakan tanaman cepat tumbuh yang berpotensi dikembangkan dalam sistem penghijauan dan agroforestri. Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh proses penanaman, tetapi juga oleh kesinambungan pemeliharaan, pengendalian gangguan tanaman, dan keterlibatan masyarakat setelah kegiatan selesai. Kegiatan ini juga membuka peluang pengembangan penghijauan yang mengombinasikan manfaat ekologis dengan nilai sosial dan ekonomi. Dengan demikian, penanaman albasiyah dapat menjadi langkah awal dalam membangun model pelestarian lingkungan berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Ke depan, pemantauan pertumbuhan, perawatan berkala, diversifikasi vegetasi, dan penanaman lanjutan diperlukan untuk memperkuat dampak ekologis program di tingkat desa secara nyata. Pendekatan partisipatif tersebut diharapkan meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap tanaman sekaligus mendorong terbentuknya kebiasaan kolektif dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan lokal.