Zahron Helmy
Badan Penyuluhan Dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian Jakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Kompetensi Penyuluh dengan Karakteristik Pribadi, Persepsi Penyuluh terhadap Dukungan Kelembagaan dan Persepsi Penyuluh terhadap Sifat Inovasi Cyber Extensión Zahron Helmy; nFN Sumardjo; Ninuk Purnaningsih; Prabowo Tjitropranoto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n1.2013.1-18

Abstract

EnglishCyber extension may empower agricultural extension workers through preparation of timely and relevant agricultural information in supporting decision making process to deliver information to the farmers. Many factors affect use of information technology. This study aims to analyze correlation among the extension workers’ characteristics and perceptions towards institutional support with the extension workers’ perceptions of innovation nature and the extension workers’ competence in cyber extension use. The research uses the Spearman rank correlation (rs) for the analysis. Locations of study were carried out in the Regencies of Kuningan and Bekasi, West Java Province. Data were collected from October to December 2012.The results show that the extension workers’ competence in using cyber extension have significant correlation with the extension workers’ characteristic, i.e. age variable (rs = 0.114*). Perception on cyber extension innovation nature has a significant correlation with the extension workers’ perception on the institutional support (rs = 0.371**). Competence in using cyber extension has a significant correlation with the extension workers’ perceptions on institutional support (rs=0.19**). It is necessary to conduct some activities, i.e., mapping of agricultural extension workers’ ability, designing cyber extension training for agricultural extension workers, implementing the field days for cyber extension utilization in Agricultural Extension Centers in regency level, building networks, and improving infrastructure of cyber extension facilities.IndonesianCyber extension dapat meningkatkan keberdayaan penyuluh melalui penyiapan informasi pertanian yang tepat waktu, dan relevan dalam mendukung proses pengambilan keputusan penyuluh, guna penyampaian data dan informasi pertanian kepada petani dan kelompok taninya. Permasalahannya adalah banyak faktor yang memengaruhi dalam pemanfaatan teknologi informasi tersebut, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik penyuluh, persepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagaan dengan persepsi penyuluh terhadap sifat inovasi cyber extension dan kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyber extensión. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mencari hubungan antar peubah, dengan metode sensus menggunakan korelasi Rank Spearman (rs). Lokasi penelitian Kabupaten Kuningan dan Bekasi, Provinsi Jawa Barat, dan waktu penelitian dilaksanakan bulan Oktober sampai Desember 2012. Hasil penelitian menunjukkan hubungan nyata kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyber extension dengan karakteristik penyuluh melalui indikator umur (rs= 0,114*). Persepsi penyuluh terhadap sifat inovasi cyber extension mempunyai hubungan nyata dengan persepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagaan sebesar (rs= 0,371**). Kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyber extension mempunyai hubungan nyata dengan persepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagaan sebesar (rs= 0,19**). Kesimpulan adalah terdapat hubungan nyata antara karakteristik penyuluh dan persepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagaan dengan persepsi penyuluh terhadap sifat inovasi cyber extension, dan terdapat hubungan nyata antara persepsi penyuluh terhadap sifat inovasi dengan kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyberextension. Terdapat hubungan nyata antara karakteristik penyuluh dan pesepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagan dengan kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyber extension. Saran adalah membuat klasifikasi atau pemetaan terhadap kemampuan penyuluh, merancang pelatihan, membuka hari lapangan pemanfaatan cyber extension di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan, membangun jejaring kerjasama, dan meningkatkan fasilitasi sarana prasarana cyber extension.
Hubungan Kompetensi Penyuluh dengan Karakteristik Pribadi, Persepsi Penyuluh terhadap Dukungan Kelembagaan dan Persepsi Penyuluh terhadap Sifat Inovasi Cyber Extensión Zahron Helmy; nFN Sumardjo; Ninuk Purnaningsih; Prabowo Tjitropranoto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n1.2013.1-18

Abstract

EnglishCyber extension may empower agricultural extension workers through preparation of timely and relevant agricultural information in supporting decision making process to deliver information to the farmers. Many factors affect use of information technology. This study aims to analyze correlation among the extension workers’ characteristics and perceptions towards institutional support with the extension workers’ perceptions of innovation nature and the extension workers’ competence in cyber extension use. The research uses the Spearman rank correlation (rs) for the analysis. Locations of study were carried out in the Regencies of Kuningan and Bekasi, West Java Province. Data were collected from October to December 2012.The results show that the extension workers’ competence in using cyber extension have significant correlation with the extension workers’ characteristic, i.e. age variable (rs = 0.114*). Perception on cyber extension innovation nature has a significant correlation with the extension workers’ perception on the institutional support (rs = 0.371**). Competence in using cyber extension has a significant correlation with the extension workers’ perceptions on institutional support (rs=0.19**). It is necessary to conduct some activities, i.e., mapping of agricultural extension workers’ ability, designing cyber extension training for agricultural extension workers, implementing the field days for cyber extension utilization in Agricultural Extension Centers in regency level, building networks, and improving infrastructure of cyber extension facilities.IndonesianCyber extension dapat meningkatkan keberdayaan penyuluh melalui penyiapan informasi pertanian yang tepat waktu, dan relevan dalam mendukung proses pengambilan keputusan penyuluh, guna penyampaian data dan informasi pertanian kepada petani dan kelompok taninya. Permasalahannya adalah banyak faktor yang memengaruhi dalam pemanfaatan teknologi informasi tersebut, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik penyuluh, persepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagaan dengan persepsi penyuluh terhadap sifat inovasi cyber extension dan kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyber extensión. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mencari hubungan antar peubah, dengan metode sensus menggunakan korelasi Rank Spearman (rs). Lokasi penelitian Kabupaten Kuningan dan Bekasi, Provinsi Jawa Barat, dan waktu penelitian dilaksanakan bulan Oktober sampai Desember 2012. Hasil penelitian menunjukkan hubungan nyata kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyber extension dengan karakteristik penyuluh melalui indikator umur (rs= 0,114*). Persepsi penyuluh terhadap sifat inovasi cyber extension mempunyai hubungan nyata dengan persepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagaan sebesar (rs= 0,371**). Kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyber extension mempunyai hubungan nyata dengan persepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagaan sebesar (rs= 0,19**). Kesimpulan adalah terdapat hubungan nyata antara karakteristik penyuluh dan persepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagaan dengan persepsi penyuluh terhadap sifat inovasi cyber extension, dan terdapat hubungan nyata antara persepsi penyuluh terhadap sifat inovasi dengan kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyberextension. Terdapat hubungan nyata antara karakteristik penyuluh dan pesepsi penyuluh terhadap dukungan kelembagan dengan kompetensi penyuluh dalam pemanfaatan cyber extension. Saran adalah membuat klasifikasi atau pemetaan terhadap kemampuan penyuluh, merancang pelatihan, membuka hari lapangan pemanfaatan cyber extension di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan, membangun jejaring kerjasama, dan meningkatkan fasilitasi sarana prasarana cyber extension.
Restrukturisasi Sistem Pelatihan Kepemimpinan dalam Membentuk Calon Pemimpin Masa Depan: Pendekatan Studi Literatur Zahron Helmy; Ahmad Syariful Jamil
AgriHumanis: Journal of Agriculture and Human Resource Development Studies Vol. 1 No. 1 (2020): April 2020 (AgriHumanis: Journal of Agriculture and Human Resource Development
Publisher : Balai Pelatihan Pertanian Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46575/agrihumanis.v1i1.49

Abstract

Kepemimpinan yang efektif adalah bagian integral dari efektifitas suatu organisasi pemerintah. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan memaparkan mengenai studi pengembangan system pelatihan kepemimpinan dalam rangka mempersiapkan calon pemimpin masa depan. Pelatihan kepemimpinan bagi organisasi pemerintah di Indonesia pada dasarnya telah menjadi konsen pemerintah sejak lama. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa secara umum penyelenggaraan pelatihan kepemimpinan sudah efektif. Akan tetapi, pelatihan kepemimpinan masih membutuhkan perbaikan khususnya pada dampak pelatihan terhadap kinerja organisasi. Pelatihan cenderung dianggap sebagai beban biaya, belum sebagai investasi yang dapat diukur tingkat pengembalian. Kondisi tersebut menuntut lembaga pelatihan kepemimpinan dapat mengembangkan kerangka strategi pendekatan secara holistic. Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui: 1) pengembangan calon peserta program pendidikan dan pelatihan melalui manajemen talenta; 2) restrukturisasi program pendidikan pelatihan melalui inovasi model program, pengembangan lembaga dan buying leaders dan 3) Integrasi program pendidikan dan pelatihan dengan lelang jabatan melalui pemanfaatan talent pool. Adanya integrasi dari ketiga pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan calon pemimpin masa depan yang handal dan berkarakter.
Implementation of Paddy GHP with Farmer Support Capacity in Singaparna Sub-district Rusmono, Momon; Kusuma Wardani, Intan; Elviyana Nurdiya Ningsih; Zahron Helmy; Alya Husnul Khotimah; Erniati
Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr-sosekpenyuluhan.v21i2.694

Abstract

Rice is the primary staple food in Indonesia, and one of the persistent challenges in its agricultural sector is maintaining both production quantity and quality, particularly during the post-harvest stage. To address this issue, the present study evaluates the implementation of Good Handling Practices (GHP) for rice and formulates strategies to enhance GHP adoption in alignment with the capacity and resources of rice farmers. The research was conducted from January to March 2025 in Singaparna District, Tasikmalaya Regency, involving 86 respondents selected from a population of 139 rice farmers using proportional random sampling. Data were analyzed using descriptive statistics and multiple linear regression analysis. The findings indicate that the implementation of GHP, supported by farmers’ capacity, is significantly influenced by the use of appropriate GHP technologies (coefficient = 0.518) and the effectiveness of agricultural extension services (coefficient = 0.179). In contrast, institutional support showed no statistically significant effect. Together, GHP and extension services explained 73.4% of the variance in GHP implementation. Recommended strategies for improving GHP adoption include increasing access to post-harvest handling facilities, particularly rice threshing equipment, applying diverse and context-specific extension methods tailored to farmers’ needs, utilizing suitable media for GHP dissemination, and strengthening both the role and frequency of agricultural extension activities. This study provides a basis for improving the application of GHP in rice farming by optimizing farmers’ capacity, ultimately reducing post-harvest losses, preserving grain quality, and supporting local food security.