Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENAMAAN PULAU-PULAU DI KABUPATEN LINGGA BERDASARKAN KAJIAN TOPONIMI DAN STUDI ETNOLINGUISTIK Rahmat Muhidin; Lia Aprilina
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 1 (2017): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2170.175 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i1.5

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas nama-nama pulau di Kabupaten Lingga yang berhubungan dengan sejarah penamaan pulau oleh warga sekitar pulau di Kabupaten Lingga. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan nama-nama pulau di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan kajian toponimi dan etnolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan studi literatur, data sekunder, data survei toponimi pulau, dan pengolahan data sebagai ancangan penelitian penamaan pulau-pulau di Kabupaten Lingga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan pulau di Kabupaten Lingga mengacu pada beberapa indikator: (1) karakter dan potensi pulau; (2) dimensi pulau, bentuk pulau, dan posisi realif pulau; (3) jabatan dan nama orang yang bermukim di pulau tersebut; (4) legenda atas pulau yang bersangkutan; (5) penamaan pulau yang mempunyai maksud untuk memperingatkan, kehati-hatian terhadap sesuatu; (6) pulau pucong; (7) penamaan kumpulan atau jajaran pulau dalam satu nama atau pulau bersangkutan; dan (8) pulau serak artinya tersebar. Kata kunci: penamaan, pulau, toponimi  AbstractThe research discusses names of islands in Lingga District relates to the history naming the island by people around the Lingga District. This research aims to describe names of the islands in Lingga District, Riau Island Province based on toponimy and ethnolinguistics study. The method used in this research was descriptive method and literature study. The data in this research was data secundery, islands toponimy survey data, and data processing as the research design. The result shows that the naming of islands at Lingga District refers to some indicators: (1) character and potention of the island, (2) dimension of the island, (3) title and name of people stay in the island, (4) legend of the island (5) naming of the island aims aim warning, awarness of something, (6) pucong island, (7) naming collection form of the islands into one name, and (8) serak islands or spread islands.  Key words: naming, island, toponimy
BENTUK FATIS DALAM BAHASA MELAYU BANGKA Rahmat Muhidin
Sirok Bastra Vol 1, No 1 (2013): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.104 KB) | DOI: 10.37671/sb.v1i1.5

Abstract

Form of fatis is sign of communication nonformal varians.This paper used linguistic theory with descriptivemethod. This paper will describe the forms of fatis in Bangka Malays. Signed of fatis varians in the BangkaMalays: ah (afektif reject), ayo (let’s), ok (agreement), kek (to make an imperative sentence more polite), mari(come on), and lah (already) and ya (yes, agreement).
PRONOMINA BAHASA JAWA DIALEK BANYUMAS DI KOTA PANGKALPINANG Rahmat Muhidin
Kelasa Vol 12, No 1 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i1.43

Abstract

AbstractThis research aims to describe personal pronouns, indifinite pronouns, and interrogative pronounsin Javanese Banyumas Dialect. This research uses descriptive method. The data were collectedthrough listening, speaking, and instrospection method. The result of the research shows thatthere are three pronouns in Javanese Banyumas dialect in Pangkalpinang (1) personal pronouns,(2) indefinite pronouns, (3) interrogativa pronouns. Personal pronouns in Banyumas language are(a) first person singular, (b) first person plural, (c) second person singular, (d) second person plural,(e) third person singular, and (f) third person plural indefinite pronouns in Banyumas language are(a) common indifinite pronouns, (b) place indefinite .pronouns, (c) interpretation pronouns. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pronomina persona, pronominapenunjuk, dan pronomina penanya dalam bahasa Jawa Dialek Banyumas. Penelitian dilaksanakandengan menggunakan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui metode simak, cakap, danintropeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga pronomina bahasa Jawa dialekBanyumas di Pangkalpinang (1) pronomina persona; (2) pronomina penunjuk; dan (3) pronominapenanya. Pronomina persona dalam bahasa Banyumasan adalah (a) pronomina persona pertamatunggal (b) pronomina persona pertama jamak (c) pronomina persona kedua tunggal, (d)pronomina persona kedua jamak, (e) pronomina persona ketiga tunggal, dan (f) pronominapersona ketiga jamak. Sedangkan Pronomina penunjuk dalam bahasa Banyumasan adalah (a)pronomina penunjuk umum, (b) pronomina penunjuk tempat, (c) pronomina penunjuk ihwal.
PENAMAAN PULAU-PULAU KECIL DI KABUPATEN PULAU MOROTAI BERDASARKAN KAJIAN TOPONIMI DAN PERSEPSI ETNOLINGUISTIK Rahmat Muhidin
Kibas Cenderawasih : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 14 No. 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.584 KB) | DOI: 10.26499/.v14i2.2

Abstract

AbstractThe research discussed about names of island in Morotai Island Regency in its relationship with the history of entitling of the island by people around Morotai Island Regency. This research aims to describe names of the island in Morotai islands Regency North Maluku Province with toponimy and ethnolinguistics study. The method used in this research was descriptive method and literature study. The data in this research were secondary data, survey data of island toponimy and analyzing data as an approach of entitling of the island in Morotai Island Regency. The result showed that entitling of the island in Morotai Island Regency referred to some indicators: (1) Entitling the islands based on Morotai Islands Regency: Pulau Babi/Tabisasu, Bobongone Maharum, Burung, Dodola Besar, Dodola Kecil, Galo-Galo Besar, Galo-galo Kecil, Jujurum, Kacuwawa, Kapa-kapa, Kokaya, Kolorai, Loleba Kecil (Loleba means rope that is used to tie housetop), Lum-lum (name of a kind of mushroom), Mitita Karang, Morotai (Moro means supernatural creature/sacred person/wind) (Tai means there), (Morotai means there is a supernatural creature/sacred person/wind there), Ngele-Ngele Besar (Ngele-ngele means rope that is used to hang fishes up), Ngele-Ngele Kecil, Pelo Patok, Rao, Rube-rube (rube-rube means water/jar for water), Ruki-ruki (name of a tree), Saminyamau, Sarang Burung Besar, Sarang Burung Kecil, Tabailenge, Tanjung Garam Besar, Tanjung Garam Kecil, and Zum-zum, (2) Name sare correlated with vegetation of trees, animal, and based on the origin of certain creature.   AbstrakPenelitian ini membahas nama-nama pulau di Kabupaten Kepulauan Morotai Provinsi Maluku Utara yang berhubungan dengan sejarah penamaan pulau oleh warga sekitar pulau di Kabupaten Pulau Morotai. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan nama-nama pulau di Kabupaten Pulau Morotai berdasarkan kajian toponimi dan etnolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan studi literatur, data sekunder, data survei toponimi pulau, dan pengolahan data sebagai ancangan penelitian penamaan pulau-pulau di Kabupaten Pulau Morotai.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan pulau di Kabupaten Pulau Morotai mengacu pada beberapa indikator: (1) Nama Pulau yang terdiri dari Pulau Babi/Tabisasu, Bobongone Maharum, Burung, Dodola Besar, Dodola Kecil, Galo-Galo Besar, Galo-Galo Kecil, Jujurum, Kacuwawa, Kapa-Kapa, Kokaya, Kolorai, Loleba Kecil: tali pengikat atap rumah, Lum-lum nama jamur, Mitita/karang, Morotai Moro artinya mahluk gaib/orang sakti /angin, tai artinya di sana "di sana ada orang gaib/sakti/angin", Ngele-Ngele Besar tali yang dipakai untuk menggantung ikan, Ngele-ngele Kecil tali yang dipakai untuk menggantung ikan, Pelo patok, Rao, Rube-rube air/tempayan, Ruki-ruki nama pohon, Saminyamau, Sarang Burung Besar, Sarang Burung Kecil, Tabailenge, Tanjung Garam Besar, Tanjung Garam Kecil, dan Zum-zum, (2)  Nama berkaitan dengan vegetasi tumbuhan dan hewan, dan berdasarkan asal makhluk tertentu.  
INTERFERENSI KOSAKATA BAHASA CINA KE DALAM BAHASA MELAYU BANGKA DALAM PERSEPSI PEMBENTUKAN KATA Rahmat Muhidin
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2825.779 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.83

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh interferensi kosakata bahasi Cina ke dalam bahasa Melayu Bangka di bidang pertambangan. Penelitian ini merupakan peneltian deskriptif. Dalam pengumpulan data digunakan teknik simak dan dalam analisis data digunakan metode deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembentukan kata dipilah ke dalam kategori (1) kata dasar yang berhubungan dengan istilah pertambangan, (2) kata majemuk (3) istilah umum dan sarana tambang; (4) peralatan tambang (5) istilah yang berhubungan dengan makanan dan minuman (6) istilah budaya dan tradisi Cina, (7) istilah perdagangan, dan (8) istilah transportasi. This paper aims to describe the influence of interference vocabulary of Chinese language into Bangka Malay language in mine workings. In this paper, the writer used descriptive method. In collecting the data, the writer used listening method and the data was analyzed by using descriptive method. From this research, the write concludes, the interference vocabulary of Chinese language into Bangka Malay language in mine workings can be categorized into (1) roots in mine workings, (2) compounds words, (3) terms and mining tools, (4) mining equipment, (5) terms of food and drink, (6) terms of culture and Chinese tradition, (7) terms of trading, and (8) terms of transportation.
KOSAKATA BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN ADAT PERKAWINAN MELAYU BANGKA DI KOTA PANGKALPINANG (CULTURAL VOCABULARY ASSOCIATED WITH BANGKA MALAY MARRIAGE TRADITION IN PANGKALPINANG) Rahmat Muhidin
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2785.243 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kosakata budaya yang berhubungan dengan adat perkawinan Melayu Bangka di Kota Pangkalpinang. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tokoh masyarakat Melayu di Kota Pangkalpinang. Kosakata yang diperoleh di lapangan dianalisis secara ensiklopedis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kosakata berkaitan adat pernikahan merupakan register pernikahan, beberapa kosakata dapat memperkaya kosakata bahasa Indonesia, dan kosakata ini memiliki makna melekat yang kaya akan nilai budaya.This research is aimed to describe cultural vocabularies related to marriage custom of Bangka Malay in Pangkalpinang Regency. Data were collected through interview to Malay society figures in Pangkalpinang Regency. The vocabularies were analyzed in an encyclopedic way. The result of this research shows that some vocabularies relate to marriage custom as register of marriage, some vocabularies can enrich lndonesian vocabularies, and these vocabularies have attached meaning which is rich of cultural value.