Nofita Nofita
Prodi Farmasi Universitas Malahayati. Email

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENETAPAN KADAR KALSIUM PADA IKAN TERI BASAH DAN IKAN TERI KERING YANG DIJUAL DI PASAR SMEP BANDAR LAMPUNG DENGAN MENGGUNAKAN KOMPLEKSOMETRI Gusti Ayu Rai S.R.; Nofita N
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.357 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i3.2806

Abstract

Ikan teri adalah sekelompo ikan laut kecil Famili Engraulidae. Kalsium yangterdapat pada ikan teri dapat memenuhi kebutuhan kalsium yang bekerja samadengan laktosa dan vitamin D untuk pembentuk masa tulang karena dikonsumsidengan tulangnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar kalsium yang terkandung dalam ikan teri nasi basah dan ikan teri nasi kering yang di jual di pasar SMEP Bandar Lampung. Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif yaitu dengan menggunakan metode titrasi Kompleksometri. Sampel ikan teri nasi basah dan ikan teri nasi kering yang telah diabukan dititrasi dengan menggunakan Na2EDTA sebagai pentiternya dan menggunakan indicator murexid menghasilkan titik akhir berwarna ungu. Hasi Ipenelitian menunjukkan kadar kalsium pada 3 sampel ikan teri nasi basah dan ikan teri nasi kering yaitu sampel A = 1,06 %, sampel B = 1,24 % dan sampel C = 1,08 % dan kadar kalsium pada 3 ikan teri nasi kering (asin) sampel A = 2,58 %, sampel B = 2,33% dan sampel C = 2,56 %. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapatnya perbedaan antara kadarĀ  kalsium pada ikan teri nasi basah dan ikan teri nasi kering. Hal ini disebabkan oleh factor kadar air yang terkandung didalam sampel, karena kadar air dapat membawa kalsium sehingga semakin sedikit kadar air yang terdapat didalam sampel maka semakin tinggi kadar kalsium yang terdapat didalam ikan nasi basah dan ikan nasi kering.Kata kunci: Ikan teri nasi basah dan kering, kalsium, kompleksometri.
PERBANDINGAN KADAR FUROSEMIDA PADA SEDIAAN TABLET GENERIK DAN NAMA DAGANG SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV Ade Maria Ulfa; Nofita N; Ni Made Novi Puspitawati
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 2 (2018): Volume 3 Nomor 2
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.896 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i2.2791

Abstract

Adanya anggapan masyarakat yang cenderung menilai kualitas obat deganmelihat harganya, dimana obat nama dangan harganya lebih mahal memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan obat generik yang relatif lebih murah. Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan kadar furosemid dalam sediaan tablet generik dan nama dagang. Furosemid adalah turunan sulfonamida merupakan diuretika kuat yang memiliki fungsi utama untuk memobilisasi cairan edema. Obat ini banyak digunakan pada penyakit hipertensi dan gagal jantung. Tujuan analisis ini untuk mengetahui kadar furosemid dalam sediaan tablet generik dan nama dagang memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia Edisi IV atau tidak, yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%. Serta untuk membandingkan kadar furosemid dalam sediaan generik dan nama dagang.. Perbandingan kadar furosemid ini dilakukan secara Spektrofotometri Ultraviolet kemudian dilanjutkan analisa data dengan menggunakan uji t. Hasil analisa menunjukkan bahwa kadar yang didapat dari tablet furosemid generik dan nama dagang masing-masing adalah 98,78% dan 101,69%. Kadar furosemid yang diperoleh melalui penetapan kadar kemudian duiji signifikannya denganĀ  menggunakan uji statistic, yaitu uji t. dari uji diperoleh toercobaan<trabel Yaitu 0,9081 dan 3,347. Dari analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak, sehingga tidak terdapat perbedaan kadar secara signifikan antara tablet furosemid generik dengan nama dagang.Kata Kunci : furosemida, tablet, generik, nama dagang, Spektrofotometri UV.
IDENTIFIKASI DEKSAMETASON PADA JAMU HABBATUSSAUDA YANG BEREDAR DI TOKO OBAT DAERAH PASAR TENGAH BANDAR LAMPUNG MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS Robby Candra Purnama; Nofita N; I Made Laga Prandika
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 1 (2018): Volume 3 Nomor 1
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.858 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i1.2766

Abstract

Penggunaan obat tradisional dalam upaya memelihara kesehatan tubuh semakin banyak diminati oleh masyarakat. Jamu habbatussauda merupakan jamu yang dapat mengobati reumatik atau peradangan sendi yang kemungkinan di tambahkan bahan kimia obat deksametason. Berdasarkan Permenkes No.006/MenKes/Per/V/2012 pasal 33 dan 37 tentang industri dan usaha obat tradisional dinyatakan bahwa obat tradisional tidak boleh mengandung bahan kimia obat (BKO). Deksametason merupakan glukokortikoid sintetik dengan aktivitas imunosupresan dan anti inflamasi, yang kemungkinan ditambahkan oleh produsen. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan yaitu untuk mengetahui apakah jamu habbatussauda yang beredar di toko obat Pasar Tengah Bandar Lampung terdapat bahan kimia obat deksametason atau tidak. Jamu habbatussauda diektraksi menggunakan pelarut kloroform : metanol (9:1). Hasil ekstraksi kemudian ditambahkan 5 ml metanol kemudian ditotolkan pada plat KLT lalu dilakukan pemisahan senyawa menggunakan eluen dikloroetana : dietil eter : metanol : air (77:15:8:1,2). Dari hasil Rf didapatkan sampel A (0,78), B (0,50), C (0,80) dan Rf baku pembanding (0,20). Hal ini ditunjukkan dari warna bercak tidak sama dan nilai antara Rf sampel dan Rf baku pembanding tidak saling mendekati. Dari hasil identifikasi terhadap tiga merek jamu habbatussauda menunjukkan bahwa ketiga sampel tidak mengandung deksametason. Kata kunci : Deksametason, Habbatussauda, Kromatografi Lapis Tipis
PERBANDINGAN KADAR KAFEIN DALAM SEDUHAN KOPI BUBUK DAN TEH BUBUK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV Ade Maria Ulfa; Nofita N
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v3i3.2810

Abstract

Minuman adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi setiaphari. Salah satu minuman yang terdapat di Indonesia adalah minuman xantin. Kopi,teh coklat, dan minuman kola merupakan minuman xantin yang paling popular.Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kadar kafein pada kopi bubuk dan teh bubuk,mengetahui perbedaan kadar yang terdapat dalam kopi bubuk dan teh bubuk.Penetapan kadar kafein dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV, metode ini dipilih karena kafein mempunyai gugus kromofor dan auksokrom Larutan standar kafein dengan 5 variasi konsentrasi 3 ppm, 6 ppm, 9 ppm, 12 ppm, 15 ppm.Persamaan kurva kalibrasi dari kafein adalah y = 0,043x + 0,03 dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9993. Kadar rata-rata kafein dalam kopi bubuk yaitu 18,023 mg/gram, sedangkan dalam teh bubuk yaitu 16,18 mg/gram. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar yang signifikan dalam kopi bubuk dan teh bubuk.Kata kunci : kafein, kopi bubuk, teh bubuk, spektrofotometri UV.
The Hepatoprotective Effects of Basil Leaf (Ocimum sanctum L.) Extract on Paracetamol Induced Liver Damage in Male Rat Ronaldo Panggabean; Nofita; Ade Maria Ulfa
Biomedical Journal of Indonesia Vol. 7 No. 2 (2021): Vol 7, No 2, 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bji.v7i2.518

Abstract

Basil leaf have antioxidants such as flavonoids, so it is thought to have a hepatoprotective effect. This study aims to investigate the effect of basil leaf extract on SGOT and SGPT levels in male rats induced by paracetamol. Basil leaf extract was carried out by the percolation method using ethyl acetate solvent, Some 20 male sprague dawley rats were randomly divided into 5 groups. Basil leaf extract (400 mg/kgBB and 600 mg/kgBB) and sylimarin (100 mg/kgBB) were carried out every day for 28 days, paracetamol was induced 24 hours after giving the last day of basil leaf extract. The parameters measured were SGOT and SGPT level to assess the effect of basil leaf extract on liver damage caused by paracetamol. The results showed that basil leaf extract (400 mg/kgBB dan 600 mg/kgBB) showed that the activities of SGOT and SGPT levels were statistically significant (p<0,05) to negative control. Basil leaf extract shows the effect of hepatoprotector on liver induced by paracetamol, however the effect given was not able to equate with positive control.