Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Penggunaan Campuran Minyak Sawit dan Olein Sawit terhadap Sifat Fisikokimia dan Sensori Selai Cokelat Hasrul Abdi Hasibuan; Aga Prima Hardika; Wawan Hendrawan
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 30 No 2 (2022): Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v30i2.149

Abstract

Palm oil is a semi-solid vegetable oil that has the potential to be used as fat in the manufacture of chocolate spread. In addition, the liquid fraction of palm oil (such as super olein) can increase the spreadability of chocolate spread. This research was conducted to evaluated the physicochemical and sensory properties of chocolate spread using a mixture of palm oil and super olein at a ratio of 71.4: 28.6, 57.1: 42.9, 42.9: 57.1, and 28.6: 71.4. Formulation of chocolate spread made with 35% fat, 44.6% sugar, 10% cocoa powder, 10% milk powder, 0.32% lecithin, 0.03% salt, and 0.05% vanilla. Chocolate spread was characterized by particle size, fat content, melting point, fatty acid composition, triacylglycerol composition and solid fat content, and organoleptic tests. Particle size and fat content were not significantly different, while melting point, fatty acids composition, triacylglycerol composition, and solid fat content were significantly different in each formula. The organoleptic tests showed that the amount of 71.4% super olein was preferred by panelists. In this formula, chocolate spread had a particle size of 0.08 mm, fat content of 40.0%, melting point of 19.2°C, fatty acids composition (palmitic acid 38.3%, stearic acid 6.7%, oleic acid 42.2%, and linoleic acid 9.9%), triacylglycerol composition (POP 35.9%, PLP 10.0%, POS 7.7%, POO 25.2%, and PLO 7.3%), and solid fat content at temperatures 25°C and 30°C were 5.4% and 2.1%, respectively.
PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GLISERIN PITCH DARI INDUSTRI OLEOKIMIA BERBASIS KELAPA SAWIT Muhammad Anshari; Hasrul Abdi Hasibuan; M. Erlangga Habibi Nst; Fadlin Qistin Nasution
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 3 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i3.236

Abstract

Gliserin pitch (GP) merupakan produk sampingan dari industri turunan kelapa sawit oleokimia khususnya pengolahan fatty acid & gliserin serta biodiesel yang menghadirkan tantangan besar dalam pengelolaannya sebagai limbah, namun juga menawarkan peluang untuk pemanfaatannya yang berkelanjutan. Permintaan global terhadap gliserin yang meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan standar hidup telah meningkatkan produksi gliserin, terutama dari sektor produksi biodiesel dan oleokimia. Di Indonesia, GP dihasilkan sebagai produk residu selama proses pemurnian gliserin, yang menghasilkan gliserin berkualitas tinggi. GP mengandung gliserol dalam konsentrasi rendah dan kontaminan lainnya, yang menjadikannya sebagai limbah berbahaya. Pengelolaan GP memerlukan biaya tinggi dan menimbulkan tantangan lingkungan sehingga pembuangannya memerlukan metode khusus.Berbagai strategi telah diusulkan untuk mengonversi glycerine pitch (GP) menjadi produk bernilai tambah, mencakup pemanfaatannya sebagai bahan baku biofuel, material konstruksi, dan bioplastik, sekaligus sebagai sumber nutrien dan substrat potensial dalam produksi pupuk hayati. Meskipun terdapat hambatan ekonomi dan teknologi, seperti biaya pengolahan yang tinggi, perkembangan teknologi hijau dan ekonomi sirkular memberikan peluang untuk memanfaatkan kembali GP menjadi produk bernilai tambah.
EVALUASI RENDEMEN CPO DAN KERNEL TANDAN BUAH SEGAR PETANI DI PROPINSI BANTEN Hasrul Abdi Hasibuan; Alhamdi Ghofur Nasution; T. Irfa Yunita; Ari Zafran Pangaribuan
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.251

Abstract

Perkebunan kelapa sawit rakyat di Banten berkembang dan memberikan kontribusi dalam perekonomian petani. Namun, kendala petani sawit di Propinsi Banten adalah kepastian dalam tata niaga jual beli tandan buah segar (TBS) yang masih sangat tergantung pada perusahaan perkebunan besar, dimana petani menjual TBS hanya ke 2 pabrik kelapa sawit (PKS) yang terdapat di wilayah tersebut. Jika pengolahan di PKS terkendala maka tata niaga TBS petani terhambat sehingga petani menjual TBS kepada agen, yang kemudian dijual ke daerah lain di wilayah Lampung. Tidak hanya kepastian pengolahan di PKS, harga TBS juga menjadi masalah utama yang memberikan ketidakpastian dalam tata niaga TBS. Terlebih lagi di wilayah ini, belum diterapkannya penetapan harga TBS tingkat propinsi bagi petani yang bermitra dengan perusahaan. Untuk itu, dalam penerapan tata niaga TBS petani di Banten, perlu dievaluasi rendemen CPO dan kernel TBS petani, baik pada jenis buah Tenera dan Dura serta tingkat kematangan buah yaitu mentah dan matang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rendemen CPO dan kernel pada TBS jenis Tenera matang yang diambil dari kebun petani pada umur tanaman 3 – 30 tahun sebesar 18,88% dan 5,11%. Sementara itu, rendemen CPO dan kernel pada TBS petani di PKS jenis Tenera matang sebesar 18,86%; 5,43%, Tenera mentah 12,22%; 5,71%, Dura matang 14,31%; 5,96%, dan Dura mentah 8,46%; 5,46%. TBS yang diterima PKS dari petani masih ditemukan dalam kategori sangat mentah, yang mengandung rendemen CPO < 1%. Penelitian ini menunjukkan bahwa pentingnya sosialisasi kepada para petani kelapa sawit, baik mitra maupun swadaya, mengenai perbaikan bahan tanaman dengan penggunaan bahan tanaman unggul dan pemanenan TBS yang matang dalam upaya peningkatan harga jual beli TBS.
PALM OIL MILL EFFLUENT (POME), PALM OIL MILL EFFLUENT OIL (POME OIL), DAN HIGH ACID PALM OIL RESIDUE (HAPOR) Mhd Erlangga Habibi Nasution; Hasrul Abdi Hasibuan; M. Anshari
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.252

Abstract

Industri kelapa sawit menghasilkan Crude Palm Oil dan kernel sebagai produk utama, serta berbagai produk samping. Salah satu limbah cair yang dihasilkan pabrik kelapa sawit (PKS) adalah Palm Oil Mill Effluent (POME), yaitu limbah cair kental berwarna kecokelatan dengan kandungan bahan organik, minyak, dan padatan tersuspensi yang tinggi. Jika dibuang tanpa pengolahan, POME dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, sehingga perlu diolah agar aman dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber minyak. Dari POME dapat diperoleh minyak residu yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Effluent Oil (POME Oil) dan High Acid Palm Oil Residue (HAPOR). Perdagangan POME Oil dan HAPOR mengalami kendala dalam pengklasifikasian produknya terkait dengan pajak ekspor dan tarif Lefy dari kedua jenis produk tersebut. Dalam beberapa kasus, keduanya dikategorikan sebagai produk bungkil inti sawit dan residu padat lainnya dari buah dan kernel sawit. Berdasarkan Permenperin No.32 Tahun 2024, POME Oil merupakan minyak residu tahap pertama hasil dekantasi dari POME dengan kadar asam lemak bebas (ALB) 10–20%, berbentuk semi padat hingga padat, berwarna kuning pekat hingga jingga. Sedangkan, HAPOR adalah minyak residu tahap lanjut dengan kadar ALB lebih tinggi (20–70%), berwarna cokelat hingga hitam, dan berbentuk padat pada suhu ruang. Regulasi terbaru melalui Permenperin No. 32 Tahun 2024 dan Permenkeu No. 62 Tahun 2024 telah menegaskan perbedaan klasifikasi antara POME, POME Oil, dan HAPOR sebagai tiga kategori produk yang berbeda. Pemanfaatannya dapat digunakan sebagai bahan baku biofuel dan industri oleokimia sehingga berpotensi meningkatkan nilai tambah industri sawit melalui diversifikasi produk non-pangan dan bahan bakar nabati, serta mendukung pengurangan limbah cair dan emisi karbon di sektor perkebunan kelapa sawit.