Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

REPRESENTASI KORUPTOR DALAM STAND UP COMEDY INDONESIA Rifqi Syahlendra; Abdul Firman Ashaf
Metakom Vol 5 No 2 (2021): 10th Edition
Publisher : Metakom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/metakom.v5i2.148

Abstract

Stand-up Comedy saat ini bukan hanya sebagai media hiburan saja, akan tetapi berkembang menjadi sebuah media kritik yang mampu merepresentasikan sesuatu ditengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat representasi koruptor dari materi mengenai koruptor yang dibawakan oleh Insan Nur Akbar pada ajang audisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 1 episode 10 di tahun 2011. Penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktivis dan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan dukungan data kajian pustaka dan observasi melalui video rekaman ulang pada akun Youtube Stand Up Kompas TV tanpa melakukan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis wacana kritis Norman Fairclough yang meliputi analisis tekstual, discourse practice, dan sociocultural practice. Hasil penelitian ini menunjukkan representasi koruptor yang digambarkan oleh Insan Nur Akbar pada materi koruptor, sebagai pencuri uang negara, banyak melakukan drama ketika berhadapan dengan hukum, tidak memegang amanah, dan tidak taat terhadap hukum yang berlaku, korupsi di Indonesia berdasarkan pemaparan Akbar juga sudah menjalar ke berbagai lini kehidupan, kesemuanya ini mengerucut kedalam satu titik dimana alasan utama masih maraknya korupsi di Indonesia adalah karena hukum Indonesia yang lemah.
Sikap Politik pemerintah Dalam Perwacanaan Musik Populer tahun 80-an dan 90-an Abdul Firman Ashaf
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 9, No 3 (2006): MARET (Tarik Menarik Kepentingan dalam Media Masa)
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1589.69 KB) | DOI: 10.22146/jsp.11028

Abstract

The Booming of music industry in 1980a and allows Indonesian artist to again ample space for cultural expression.Yet, the state unwiling to accept the expressiin which given it own interest.
POTRET AYAH SEBAGAI SINGLE PARENT DALAM FILM (Analisis Semiotika John Fiske dalam Film Ayah Mengapa Aku Berbeda Tampan Tailor dan Ayah Menyayangi Tanpa Akhir) ani Triwidyastuti; abdul firman ashaf; ahmad riza faisal
INTERCODE Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/ire.v2i2.2098

Abstract

Ayah sebagai single parent telah banyak dijadikan ide cerita dalam film. Film dengan tema tersebut merepresentasikan peran ayah sebagai single parent. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui potret Ayah sebagai single parent dalam film Ayah Mengapa Aku Berbeda, Tampan Tailor, dan Ayah Menyayangi Tanpa Akhir. Penelitian ini menggunakan menggunakan analisis semiotika John Fiske yang terdiri dari level realitas dan level representasi. Teori yang digunakan untuk menganalisa potret ayah sebagai single parent adalah Teori Konstruksi Realitas Sosial. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa potret ayah sebagai single parent dalam ketiga film merepresentasikan sifat-sifat maskulinitas dan feminitas. Sifat-sifat maskulinitas direpresentasikan melalui kode pakaian. Pada level representasi sifat-sifat maskulinitas direpresentasikan melalui kode kamera yang ditransmisikan melalui kode gerak tubuh, setting/lingkungan dan dialog. Sedangkan sifat-sifat feminitas direpresentasikan melalui kode kamera yang ditransmisikan melalui kode gerak tubuh, setting/lingkungan dan dialog. Asumsi teori konstruksi realitas sosial dalam ketiga film ini memunculkan internalisasi bahwa sifat-sifat maskulinitas ayah sebagai single parent merepresentasikan sosok yang tegas, kuat, berani, dan pekerja keras. Sedangkan sifat-sifat feminitas ayah sebagai single parent dalam ketiga film ini merepresentasikan sosok yang lembut dan mampu melakukan kerja domestik Kata Kunci: : Film, Ayah, Single Parent, Semiotika.
KONSTRUKSI SOSIAL DALAM JALINAN HUBUNGAN FRIENDS WITH BENEFITS (FWB) (Studi Pada Remaja Di Kota Bandarlampung) Abdul Firman Ashaf
INTERCODE Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/ire.v2i1.808

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberi pemahaman mengenai arti Friends With Benefits (FWB) pada remaja di Bandarlampung dan juga mengetahui Konstruksi Sosial Dalam Jalinan Hubungan Friends With Benefits (FWB) oleh remaja di Bandarlampung. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi hasil penelitian. Analisis data menggunakan analisis data kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan didapatkan bahwa Friends With Benefits adalah suatu pola hubungan  yang  tidak menuntut adanya komitmen dalam menjalaninya dan remaja yang terlibat dalam hubungan FWB melakukan aktivitas seksual berulang. Pasangan dari FWB bisa jadi dari suatu teman biasa, sahabat, mantan pacar, atau orang yang tidak dikenal. Proses dan tahapan yang dilalui para remaja untuk memulai hubungan ini berbeda-beda. Remaja memulai perkenalan melalui teman mereka sendiri, aplikasi dating dan juga berkenalan di dunia malam. Konstruksi baru yang dibangun oleh remaja di Bandarlampung yang menjalin hubungan Friends With Benefits dapat dikategorikan menjadi dua konstruksi yang berbeda yaitu: Friends With Benefits adalah hubungan pertemanan yang saling menguntungkan dalam memenuhi kebutuhan seksual dan Friends With Benefits adalah hubungan pertemanan yang dapat memberikan perhatian dan kasih sayang tanpa adanya komitmen.