Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SOSIALISASI INDEKS KERAWANAN PEMILU MENYAMBUT PEMILIHAN UMUM 2024 Desa Margo Sari Kecamatan Metro Kibang Kabupaten Lampung Timur Kurniawan, Robi Cahyadi; Krisbintoro, R. Sigit; Hadi, Ismono
Seandanan: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): Seandanan: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/seandanan.v3i2.64

Abstract

Perubahan kelembagaan di desa telah mendorong aparat desa untuk bekerja sesuai dengan target yang hendak dicapai. Aparat desa tidak lagi dianggap sebagai faktor produksi, melainkan sebagai Human Capital yang berperan penting dalam manajemen modern. Perubahan ini mengharuskan perlakuan yang lebih baik terhadap SDM desa. Aparat desa saat ini harus memiliki inovasi untuk mengembangkan desa dan bersaing dengan desa lainnya. Dalam konteks ini, profesionalisme sumber daya aparatur pemerintah desa menjadi suatu keharusan. Kebutuhan akan sumber daya aparatur yang tangguh juga didorong oleh tuntutan masyarakat akan pelayanan yang memuaskan. Pelatihan menjadi salah satu alternatif untuk pengembangan sumber daya aparatur desa, tetapi penting untuk mengidentifikasi jenis dan metode pelatihan yang sesuai serta melakukan evaluasi setelah pelatihan. Pengembangan sumber daya aparatur desa juga melibatkan pendidikan, baik formal maupun informal, agar mereka siap menghadapi tugas yang berbeda dalam pembangunan desa. Selain itu, penguasaan teknologi informasi dan kemampuan menjalin kerjasama juga penting. Selain pelatihan dan pendidikan formal atau informal, penting juga untuk menciptakan ruang dialog sebagai proses pembelajaran dalam pembangunan desa. Dialog ini memungkinkan kontribusi dari semua pihak dan mempromosikan pembelajaran berkelanjutan. Keterbatasan kemampuan sumber daya manusia saat ini merupakan kendala dalam pembangunan desa. Oleh karena itu, harmonisasi antara kepala desa, sekretaris desa, dan aparat lainnya serta kemampuan mereka harus terus didorong untuk berdialog, saling berbagi informasi, dan mencari solusi dalam pembangunan desa. Tinjauan pustaka membahas konsep desa, otonomi desa, dan perubahan kelembagaan dalam pemerintahan desa. Dalam UU No. 22/1999, desa dijelaskan sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat. Kewenangan desa mencakup keberadaan Badan Perwakilan Desa (BPD) sebagai bentuk miniatur DPRD di tingkat Kota atau Kabupaten. Hal ini mempengaruhi mekanisme penyelenggaraan pemerintahan desa dan kewenangan kepala desa. Keuangan desa juga menjadi isu penting, dengan berbagai sumber pendapatan yang harus dikelola oleh pemerintahan desa, termasuk pendapatan asli desa, bantuan dari Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Propinsi, dan lainnya. Hal ini merupakan tantangan baru bagi pemerintah desa dalam mencari sumber pendapatan. Kata Kunci : Sosialisasi, Indeks Kerawanan Pemilu, Pemilihan Umum 2024, Pemerintah Desa, Pengembangan Sumber Daya.
EDUKASI PEMBUATAN SOUVENIR WISATA BERBASIS SEASHELL-RESIN BAGI MASYARAKAT PESISIR TERDAMPAK TSUNAMI DI DESA KUNJIR RAJABASA LAMPUNG SELATAN asmi, dwi; Adriyansah, Adriyansah; Hadi, Ismono
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v6i2.355

Abstract

Kegiatan edukasi dalam pembuatan souvenir wisata berbasis seashells-resin di Pantai Mahani Kunjir Lampung Selatan bertujuan untuk melatih dan mendampingi masyarakat pesisir terdampak tsunami Selat Sunda 2018, khususnya anak-anak muda yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bina Remaja agar pengetahuan dan keterampilannya dalam pembuatan souvenir unik sebagai icon desa wisata dapat ditingkatkan dan dikembangkan. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah pendekatan berbasis masyarakat melalui kegiatan edukasi, pelatihan dan pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Produk souvenir seashell-resin berbentuk kerang, ikan, udang, dan kuda laut baik untuk gantungan kunci maupun fridge-magnet telah berhasil dibuat dalam kegiatan ini. Selain itu produk hybrid cangkang kerang, batu karang dan resin juga telah berhasil dibuat. Indikator keberhasilan kegiatan ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan yang signifikan sebesar 85 % dalam pengetahuan, 85 % dalam keterampilan praktek, dan 86 % dalam produk. Produk wisata souvenir seashell-resin yang dihasilkan dari kegiatan pengabdian ini dijadikan sebagai icon souvenir Pantai Mahani desa wisata Kunjir
ANALYSIS OF THE IMPLEMENTATION OF THE MERIT SYSTEM IN PPPK RECRUITMENT AS A SOLUTION TO FULFILLING THE NEED FOR HIGH-QUALITY HUMAN RESOURCES (A Case Study of the Affirmative Policy for Honorary Employees Transitioning to PPPK in the Provincial Government of Lampung, 2024) Amantha, Goestyari Kurnia; Hadi, Ismono
DEMOKRASI Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/dmkr.v6i1.3794

Abstract

In recent years, there have been changes in the governance of human resources for civil servants in Indonesia. The most notable change is that human resources working in government are now referred to as State Civil Apparatus (ASN). The State Civil Apparatus is divided into two categories: Civil Servants (PNS) and Government Employees with Work Agreements (PPPK). This human resource governance policy marks the beginning of the government's commitment to phasing out honorary workers and other forms of contractual employment. In the Provincial Government of Lampung, there are a total of 3,468 honorary workers, including daily freelance workers (PTHL). Additionally, the Lampung Provincial Government has prepared 6,873 PPPK positions for 2024, which include positions for teachers, healthcare workers, and technical staff. The government has declared that no more honorary workers will be appointed as PPPK after 2024, with the 2024 PPPK recruitment being the final round of affirmative action. Honorary workers who do not pass the 2024 PPPK selection may be offered part-time PPPK roles or transferred to other types of work. Based on this situation, it is important to further examine whether the affirmative policy of converting honorary workers to PPPK in 2024 aligns with the principles of meritocracy and a more just and efficient civil service system within the Provincial Government of Lampung.