Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENERAPAN SANKSI PIDANA MINIMUM KHUSUS PADA UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001 PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS DI PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI SURABAYA) Dwi Imroatus Sholikah
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Maret 2018
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dwi Imroatus Sholikah, Prof. Dr. I Nyoman Nurjaya, SH., MS, Dr. Abdul Madjid, S.H.M.Hum Fakultas Hukum Universitas Brawijaya d.imroatus@gmail.com  ABSTRAK Dаsаr pertimbаngаn Hаkim dаlаm menjаtuhkаn pidаnа terhаdаp terdаkwа dаlаm Tindаk Pidаnа Korupsi Pаsаl 3 Undаng-Undаng Nomor 20 Tаhun 2001 perubаhаn аtаs Undаng-Undаng Nomor 31 Tаhun 1999 yаitu pertimbаngаn hаkim yаng dilihаt dаri segi hukum yuridis  berdаsаrkаn аlаt-аlаt bukti yаng аdа, аpаkаh perbuаtаn terdаkwа memenuhi unsur-unsur pаdа Pаsаl 3 Undаng-undаng Nomor 20 Tаhun 2001. Bukаn hаnyа pertimbаngаn yuridis, hаkim jugа menggunаkаn pertimbаngаn non yuridis yаitu pertimbаngаn yаng dilihаt dаri аspek non hukum¸ mempertimbаngkаn hаl-hаl yаng memperberаt dаn meringаnkаn terdаkwа. Hаkim jugа wаjib memperhаtikаn sifаt yаng bаik dаn jаhаt dаri terdаkwа sertа keаdааn-keааdаn pribаdinyа dаlаm mempertimbаngkаn pidаnа yаng dijаtuhkаn. Kata kunci: Dasar Pertimbangan Hakim, Tindak Pidana Korupsi, Penjatuhan Minimum Khusus, Pendapat Hakim ABSTRACT The basic consideration of judge in order to make judgement to the defendant in the Case of Criminal Act on Corruption section 3 law number 20, year of 2001 amendment of the law number 31, years of 1999 which is the consideration of the judge about the deed of defendant  whether can fill the element of section 3, 2001 law number 20. Not only the juridical proportion, the judge also uses the non-juridical consideration that is consideration can be seen from the non-legal aspect, which are the things that can make the serious sanction or alleviate sanction. The judge also needs to consider the positive and negative of defendant’s characteristic, also the defendant’s condition in making judgment. Keywords: Basic Judge Considerations, Corruption, Special Minimum Drop, Judge's Opinion.
Konflik Bersenjata Modern dan Domain Hukum Farras Zakia Rahman; Rangga Andi Yoga; Dwi Imroatus Sholikah
Mahkamah : Jurnal Riset Ilmu Hukum Vol. 3 No. 1 (2026): Januari : Mahkamah : Jurnal Riset Ilmu Hukum
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/mahkamah.v3i1.1464

Abstract

Contemporary defense and security challenges now come from both non-military threats (such as cyber attacks, disinformation campaigns, and economic pressure) and military threats (traditional armed force). These often operate in the gray zone, meaning actions are taken below the threshold of armed conflict as defined under international law. This situation signals the rise of modern armed conflict, which is growing more intense and causing a crisis in International Humanitarian Law (IHL) enforcement. This study aims to describe modern armed conflict and its challenges to IHL. The research used a normative juridical approach and analyzed statutes. Legal materials reviewed included various international legal instruments, which were examined qualitatively and normatively. The results show that modern armed conflict challenges International Humanitarian Law with non-linear conflicts (conflicts with unclear frontlines or participants), proxy actors (groups acting on behalf of states), and cyber threats or propaganda. Therefore, IHL should be updated to include more comprehensive regulations
Analisis Peran Hukum Perdata Internasional terhadap Penyelesaian Sengketa Paten Antara Apple dan Samsung Yoel Adeputra; Muhaen Maya Wulandari; Dwi Imroatus Sholikah
Presidensial: Jurnal Hukum, Administrasi Negara, dan Kebijakan Publik Vol. 2 No. 4 (2025): Desember : Presidensial : Jurnal Hukum, Administrasi Negara, dan Kebijakan Publ
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/presidensial.v2i4.1393

Abstract

The patent dispute between Apple Inc. and Samsung Electronics Co. Ltd. is one of the largest Intellectual Property Rights (IPR) conflicts in the modern technology industry. This case began in 2007, when Apple launched the first-generation iPhone, revolutionizing the smartphone market with its minimalist design, full-touch screen, and intuitive interface. The success of the iPhone opened new markets and positioned Apple as an innovation leader. Samsung, as the largest electronics manufacturer in Asia, then produced the Android-based Samsung Galaxy smartphone, which quickly became the iPhone's main competitor. This business competition then turned into a legal dispute when Apple considered Samsung's products too similar to its products. This case involves claims of infringement of design patents and utility patents filed in various jurisdictions such as the United States, South Korea, Japan, Germany, and the United Kingdom. This article uses a normative juridical method with a statutory and case approach. The analysis shows that the patent dispute between Apple and Samsung cannot be resolved through a single international forum due to the territorial nature of the patent system. Therefore, litigation takes place in several countries and results in varying decisions.
Stop Diam, Saatnya Peduli Kekerasan Seksual dan Perundungan Melalui Pendidikan Karakter SMKN 1 Mojosongo: Penelitian Eny Lintang Suryani; Erlita Andriyani; Eva Aulia Savira; Fajar Dwi Santosa; Dwi Imroatus Sholikah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4765

Abstract

Sexual violence and bullying in educational settings are social problems that seriously impact the psychological, social, and academic development of students. Lack of understanding, permissive attitudes, and a culture of silence are factors that reinforce the continuation of these behaviors. The implementation of this activity aims to increase students' awareness, knowledge, and concern regarding the issues of sexual violence and bullying through strengthening educational character. The methods used include educational outreach, presentation of material using presentation media, presentation of educational videos, interactive discussions, and evaluation through pretests and posttests. The results of the activity showed a significant increase in students' understanding regarding the forms, impacts, and efforts to prevent sexual violence and bullying. In addition, there was a change in attitude marked by increased courage of the students educated to express concern, reject acts of violence, and report cases that occur in the school environment. This activity proves that character education is effective as a preventive approach in building a safe, inclusive, and equitable school culture.
Meaningful Human Control Terhadap Pemanfaatan Kecerdasan Buatan Dalam Operasi Militer Ditinjau Dari Prinsip Hukum Humaniter Internasional Ranandhang Widadi; Winda Ardiyanti; Dwi Imroatus Sholikah
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3179

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam sektor pertahanan menghadirkan tantangan baru bagi implementasi Hukum Humaniter Internasional (HHI). Salah satu isu yang paling kritis adalah kewajiban mempertahankan meaningful human control atau kendali manusia yang bermakna pada sistem berbasis AI yang digunakan dalam operasi militer. Artikel ini bertujuan menilai kesiapan Indonesia dalam memastikan adanya pengawasan dan keputusan manusia terhadap penggunaan sistem otonom. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan menelaah instrumen hukum internasional, termasuk Tallinn Manual 2.0 dan dokumen Convention on Certain Conventional Weapons (CCW), serta mereview peraturan nasional di bidang pertahanan dan keamanan siber. Hasil analisis menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki regulasi khusus yang mengatur kendali manusia atas sistem senjata otonom, meskipun prinsip HHI telah diadopsi melalui ratifikasi konvensi internasional. Dibutuhkan penyusunan kebijakan nasional yang selaras dengan prinsip HHI agar pemanfaatan AI oleh militer tetap berada dalam koridor hukum internasional sekaligus memastikan akuntabilitas negara
Penerapan Hukum Humaniter Internasional dalam Konflik Perbatasan Thailand-Kamboja 2025: (Perlindungan Sipil dan Batasan Penggunaan Kekuatan) Olivia Annastasia Devy; Dwi Imroatus Sholikah
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3972

Abstract

Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja di sekitar Kuil Preah Vihear, yang dimulai dari putusan Mahkamah Internasional Hukum (ICJ) tahun 1962 dan memuncak pada tahun 2025 dengan serangan menggunakan pesawat F-16, bom klaster, serta roket BM-21 Grad, menunjukkan adanya pelanggaran terhadap Hukum Humaniter Internasional (IHL) yang dilakukan oleh kedua pihak. Penelitian ini secara normatif menganalisis status hukum wilayah, penerapan prinsip perlindungan sipil seperti pembedaan dalam Pasal 48-51, proporsionalitas dalam Pasal 51(5)(b), serta pencegahan dalam Pasal 57 Protokol Tambahan I, dan pembatasan kekerasan militer seperti dalam Pasal 35, 52, dan Konvensi Den Haag 1954. Dalam konflik tersebut, Thailand merusak situs warisan UNESCO dan Kamboja menempatkan ranjau di daerah perumahan sipil, menyebabkan evakuasi sebanyak 100.000 warga dan korban jiwa termasuk anak-anak. Hasil penelitian menunjukkan ketidakpatuhan terhadap putusan ICJ tahun 2011-2013 serta potensi pelanggaran berat, dan merekomendasikan pembuatan perjanjian khusus, pelatihan militer, serta investigasi oleh ICRC untuk memperbaiki kerusakan budaya dan mencegah terjadinya eskalasi lebih lanjut.