Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Study of Forest Types, Inventory of Tree, and Chlorofil Contents of Malabar Forest Leaves, Malang City Roimil Latifa; Endrik Nurrohman; Samsun hadi
Bioscience Vol 5, No 1 (2021): Biology
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/0202151111466-0-00

Abstract

This research aims to examine the forest types, inventory of tree species, and chlorophyll content of plant leaves in the Malabar forest, Malang City. This type of research is descriptive quantitative. This research was done from the month of August to December 2020 and took place in Malabar Forest and Biology Laboratory of University of Muhammadiyah Malang. Data collection methods using exploratory techniques and laboratory observations. Data analysis is done by descriptive quantitative. The results showed that 101 tree species inhabit Malabar forest with the most Tanjung trees with 175, and the least number is Srikaya with only one tree. Malabar forest is classified as a forest with a spreading form. In the dry season, the average chlorophyll ‘a’ content of leaves was highest in starfruit leaves (35.848 µg/ml), the lowest average of starfruit leaves (17.857µg/ml), the average chlorophyll ‘b’ content of leaves was highest in Tabebuya leaves (58.862µg/ml). The lowest was Norfolk Pine leaf (9,124 µg/ml), the highest total leaf chlorophyll was Tabebuya leaf (91,737µg/ml), and the lowest was the Norfolk Pine leaf (28,517µg/ml). In the rainy season, the highest chlorophyll ‘a’ content was Sengon tree (34.3µg/ml) and the lowest was Chocolate (0.3µg/ml), the highest chlorophyll ‘b’ was Genitu (131.6µg/ml) the lowest was Lamtoro (6.5µg/ml), the highest total chlorophyll was Melinjo (90.7µg/ml) and the lowest was Kol Banda (3.3µg/ml). Keywords: Malabar Forest, Inventory, Leaf Chlorophyll.
Fitokimia Ekstrak dan Rebusan Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.): Langkah Awal Mencari Senyawa Potensial Kandidat Immunomodulator Eko Susetyarini; Endrik Nurrohman
Jurnal Sains Riset Vol 12, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47647/jsr.v12i1.557

Abstract

Indonesia menjadi salah satu Negara yang terdampak wabah Covid-19. Wabah ini disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dan menjadi wabah yang sangat serius hampir di seluruh dunia. Peningkatan daya tahan tubuh sangat penting dilakukan untuk mengurangi resiko penularan dan infeksi. Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.) adalah salah satu tumbuhan yang banyak mengandung senyawa aktif  potensial. Penelitian ini merupakan langkah awal mencari kandidat senyawa yang berpotensi sebagai imunomodulator. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan kandungan senyawa aktif pada sediaan ekstrak dan rebusan daun pegagan. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi, Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang, dan Laboratorium Herba Unit Pelaksana Teknis (UPT) Materia Medica Kota Batu Provinsi Jawa Timur. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai September 2020. Sampel penelitian adalah daun pegagan yang berasal dari Tegalgondo kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive random sampling. Metode pengamatan secara kualitatif dengan parameter perubahan warna pada sediaan sampel analisa. Analisis data secara kualitatif dengan menjabarkan karakteristik perubahan warna sediaan setelah diberikan reagen analisa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pegagan mengandung Flavonoid, Alkaloid, Tanin, dan Saponin serta Vitamin C, sedangkan rebusan daun pegagan mengandung Flavonoid dan Tanin. Temuan penelitian ini ekstrak daun pegagan lebih direkomendasikan untuk diteliti lebih lanjut dalam upaya mencari kandidat senyawa yang berpotensi sebagai imunomodulator berdasarkan uji kualitatif mengandung lebih banyak senyawa aktif dibandingkan sediaan rebusan.