Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Sharia Fintech and Gen Z: The Mediating Role of Perceived Usefulness Hakim, M. Arif; Supriyanto, Agus
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v13i1.22990

Abstract

This study investigates the mediating role of perceived usefulness in the adoption of Sharia fintech among Generation Z individuals in Java Island, Indonesia. A sample of 155 respondents, selected through purposive sampling, participated in the research. Data analysis was conducted using Structural Equation Modeling (SEM) with AMOS 25.0. The findings reveal that perceived usefulness successfully mediates the influence of subjective norms on behavioral intention. Furthermore, perceived usefulness fully mediates the impact of perceived ease of use on behavioral intention. These results underscore the importance of fintech managers gaining deeper insights and aligning service development with market needs. Sharia fintech companies should emphasize the benefits of technology use to enhance user interest in fintech adoption. Given Indonesia's predominantly Muslim population, ensuring user-friendly technology is crucial. This study contributes to the understanding of the factors driving the adoption of Sharia fintech and offers practical implications for fintech service providers.========================================================================================================ABSTRAK – Fintech Syariah dan Generasi Z: Peran Mediasi Perceived Usefulness. Penelitian ini mengkaji peran mediasi perceived usefulness dalam adopsi fintech syariah di kalangan Generasi Z di Pulau Jawa, Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner dari 155 responden yang dipilih dengan metode purposive sampling. Hasil analisis data menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan AMOS 25.0, menunjukkan bahwa perceived usefulness dapat memediasi pengaruh norma subjektif terhadap niat perilaku. Lebih lanjut, perceived usefulness memediasi secara penuh dampak persepsi kemudahan penggunaan terhadap niat perilaku. Hasil ini menujukkan pentingnya wawasan mendalam bagi pengelola fintech untuk dapat menyelaraskan pengembangan layanan dengan kebutuhan pasar. Perusahaan fintech syariah harus menekankan manfaat penggunaan teknologi yang user friendly untuk meningkatkan minat pengguna dalam adopsi fintech. Hal ini berkaitan dengan ajaran Islam yang dipercayai oleh mayoritas penduduk Indonesia. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan pemahaman akan faktor-faktor yang mendorong adopsi fintech syariah dan menawarkan implikasi praktis bagi penyedia layanan fintech.
Epistemologi 3 Tokoh (Ibnu Sina, Al Ghazali dan Ibnu Rusyd) dalam Pemikiran Pendidikan Hakim, M. Arif; Normuslim
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1537

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model epistemologi Islam yang integratif melalui analisis komparatif terhadap pemikiran tiga tokoh besar Islam, yaitu Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd. Ketiganya dipilih karena mewakili spektrum rasionalisme, spiritualisme, dan empirisme yang membentuk fondasi epistemologi Islam klasik. Penelitian ini berangkat dari problem fragmentasi ilmu modern yang cenderung memisahkan antara sains dan nilai-nilai keagamaan, sehingga diperlukan pendekatan konseptual yang mampu merekonstruksi hubungan antara akal, intuisi, dan wahyu di era digital. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis dan teknik sintesis komparatif. Sumber data mencakup karya primer ketiga tokoh dan kajian sekunder berupa artikel ilmiah bereputasi yang relevan dengan tema epistemologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi rasionalitas Ibnu Sina, spiritualitas intuitif Al-Ghazali, dan empirisme rasional Ibnu Rusyd menghasilkan model epistemologi Islam integratif yang mampu menjadi dasar bagi rekonstruksi ilmu pengetahuan modern. Model ini tidak hanya menegaskan posisi wahyu sebagai sumber kebenaran tertinggi, tetapi juga mengembalikan fungsi akal dan intuisi sebagai instrumen pencarian ilmu yang saling melengkapi. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan epistemologi Islam kontemporer dan membuka ruang bagi penerapan praktis di bidang pendidikan Islam dan riset interdisipliner. Dengan demikian, studi ini mempertegas urgensi aktualisasi epistemologi Islam yang kontekstual, dinamis, dan adaptif terhadap tantangan era digital.