Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kadar Timbal pada Rambut Supir Truk Zahran Arya Zidan; Teguh Budiharjo
Jaringan Laboratorium Medis Vol 3, No 1 (2021): May 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jlm.v3i1.7919

Abstract

Heavy metal lead can cause poisoning or accumulate in human body. Truck drivers spend more a lot of time on the road due to the slow movement of trucks due to carrying heavy loads causing exposure to lead on the highway. Lead enters through the breath and is excreted in the hair. Truck drivers spend more a lot of time on the road, especially trucks that have more than 4 wheels because the load they carry is heavy so it takes time to travel and can be exposed lead on the road. It also allows researchers to easily collect hair samples. longer the work, they get higher lead levels in the human body. After conducting a survey, many truck drivers opened their windows. This happens, maybe some of the Air Cooler (AC) trucks are not working because maybe some of the trucks are too old. This allows truck drivers to be exposed to lead from the air. In addition, PPE (Personal Protective Equipment) is also important such as masks to reduce exposure to lead from the respiratory tract.
Edukasi dan pemantauan kesehatan terhadap faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) pada remaja Ririh Jatmi Wikandari; Teguh Budiharjo; Lilik Setyowatiningsih
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.23650

Abstract

Abstrak Faktor risiko utama Penyakit Tidak Menular global adalah peningkatan tekanan darah, gula darah, dan obesitas. Di Indonesia, morbiditas dan mortalitas PTM meningkat, berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas. Faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, merokok, dan konsumsi alkohol meningkat secara signifikan. PTM kini tidak hanya menyerang usia lanjut tetapi juga usia produktif dan remaja, disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat. Era digital meningkatkan gaya hidup sedentary dan akses mudah ke makanan tidak sehat, sehingga risiko PTM meningkat. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan kesehatan dini dan edukasi mengenai bahaya PTM bagi remaja. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat , untuk melakukan edukasi dan pemantauan kesehatan faktor risiko penyakit tidak menular (PTM). Mitra sasaran adalah remaja usia diatas 17 tahun sejumlah 30 orang. Metode pengabdian masyarakat berupa edukasi tentang faktor risiko penyakit tidak menular, dilanjutkan pemantauan kesehatan melalui pengukuran tekanan darah, pengukuran Indek Massa Tubuh, pemeriksaan kadar gula darah, pemeriksaan kolesterol. Hasil pemantauan kesehatan, diperolah nilai 20 (66.6%) peserta IMT kategori normal, 15 (50%) orang peserta tekanan darahnya kelompok prehipertensi, untuk kadar gula darah seluruh peserta termasuk kategori normal, sebanyak 21 (70%) peserta kadar kolesterol kategori normal. Berdasarkan hasil evaluasi penilaian nilai rata-rata sebelum edukasi sebesar 78 dan setelah edukasi menjadi 93,33 dan secara statistik penilaian pretest dan posttest diketahui nilai p value 0.000 yang bermakna bahwa terdapat perbedaan pengetahuan pre-edukasi dan post-edukasi. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang faktor risiko penyakit tidak menular. Kata kunci: pengetahuan; pemeriksaan dini; PTM; remaja. Abstract The main risk factors for global Non-Communicable Diseases are increased blood pressure, blood sugar and obesity. In Indonesia, NCD morbidity and mortality rates are increasing, having a negative impact on the economy and productivity. Risk factors such as high blood pressure, diabetes, obesity, poor diet, lack of physical activity, smoking and alcohol consumption increase significantly. NCDs now not only attack the elderly but also the productive age and teenagers, which are caused by unhealthy lifestyles. The digital era increases sedentary lifestyles and easy access to unhealthy food, so the risk of NCDs increases. Therefore, early health checks and education regarding the dangers of NCDs for teenagers are needed. The aim of community service activities is to provide education and health monitoring of risk factors for non-communicable diseases (PTM). The target partners are 30 teenagers aged over 17 years. The community service method is in the form of education about risk factors for non-communicable diseases, followed by health monitoring through measuring blood pressure, measuring Body Mass Index, checking blood sugar levels, checking Cholesterol. The results of health monitoring showed that 20 (66.6%) BMI participants were in the normal category, 15 (50%) blood pressure participants were in the prehypertension group, for blood sugar levels all participants were in the normal category, as many as 21 (70%) participants had normal cholesterol levels. Based on the evaluation results, the average score before education was 78 and after education it was 93.33 and statistically the pretest and posttest assessments showed that the p value was 0.000, which means there is a difference in pre-education and post-education knowledge. These results indicate an increase in knowledge about risk factors for non-communicable diseases. Keywords: knowledge; early checkup; PTM; adolescent.
Hubungan Kebiasaan Konsumsi Olahan Mie Instan Terhadap Peningkatan Kadar Kolesterol Pada Remaja di Kota Semarang Lilik Setyowatiningsih; Teguh Budiharjo; Umi Rosida
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.51811

Abstract

Mie Instan merupakan makanan cepat saji yang digemari remaja karena praktis, murah dan memiliki cita rasa yang sesuai dengan preferensi remaja. Kandungan lemak jenuh, natrium, serta bahan tambahan pangan pada mie instan berpotensi meningkatkan kadar kolesterol dalam darah yang dapat beresiko menyebabkan komplikasi seperti penyakit jantung dan stroke. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan mengkonsumsi olahan mie instan terhadap peningkatan kadar kolesterol pada remaja di kota Semarang. Metode Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan pada 30 responden yang diperoleh dengan teknik total sampling dengan kriteria usia 13-18 tahun, Informasi mengenai konsumsi mie instan diperoleh dari jawaban peserta dari pertanyaan tentang frekuensi rata-rata konsumsi mie instan dalam satu minggu. Hasil Analisa statistik uji korelasi Spearman diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,558 dengan nilai signifikansi (p) = 0,001. Nilai koefisien tersebut menunjukkan adanya hubungan positif dengan kekuatan sedang antara kebiasaan konsumsi mie instan dengan kadar kolesterol. Artinya, semakin tinggi frekuensi konsumsi mie instan pada remaja, maka semakin tinggi pula kadar kolesterol pada remaja. Kesimpulan Terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan konsumsi olahan mie instan terhadap peningkatan kadar kolesterol pada remaja di kota Semarang.