Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PREVALENSI DAN FAKTOR RESIKO INFEKSI STH (SOIL TRANSMITTED HELMINTHS) PADA ANAK SEKOLAH DASAR Azis Mangara; Lismawati Lismawati; Julianto Julianto
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 4 No. 2 (2021): 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v4i2.254

Abstract

Infeksi soil transmitted helminths (STH) banyak ditemukan pada anak di kawasan tropis. Prevalensi yang cukup tinggi berkaitan dengan beberapa faktor risiko, utamanya pada kondisi sanitasi dan personal hyginene yang cenderung buruk pada anak sekolah. Efek dari infeksi STH dapat berdampak pada status gizi, gangguan pertumbuhan dan fungsi kognitif pada anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis prevalensi dan faktor risiko infeksi STH pada anak sekolah dasar. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional study yang dilakukan dengan mengambil sampel feses pada subjek penelitian dan pengisian kuesioner. Subjek penelitian yang terlibat dalam studi sebanyak 47 siswa Sekolah Dasar Negeri 101814 Peria Ria Kabupaten Deli Serdang. Data dianalisis menggunakan uji chi-square guna menghasilkan intepretasi pada keterkaitan faktor resiko dan infeksi STH. Hasil pengukuran menunjukkan prevalensi infeksi STH pada anak sebesar 31,9%. Hasil analisis menunjukkan aspek sanitasi (sanitasi lingkungan rumah (p=0,032) dan sanitasi lingkungan rumah (p=0,002)) dan personal hygiene (kebiasaan mencuci tangan (p=0,004), kebiasan memakai alas kaki saat kontak dengan tanah (p=0,004), kebersihan kuku (p=0,036), dan kebiasan buang air besar (p=0,027)) berhubungan dengan infeksi STH pada anak sekolah dasar. Ketersedian sanitasi yang baik di rumah dan sekolah serta akses terhadap air bersih memungkinkan penurunan risiko infeksi STH. Peningkatan kualitas personal hygiene disarankan untuk meminimalisir risiko infeksi STH melalui edukasi dan promosi kesehatan dengan berbagai media yang menarik minat anak. STH infections are often found in children in the tropics. The high prevalence is related to several risk factors, especially sanitation and personal hygiene conditions, which tend to be poor in school children. The effects of STH infection can impact nutritional status, impaired growth, and cognitive function in children. This study analyzes the prevalence and risk factors of STH infection in elementary school children. The study design used was a cross-sectional study conducted by taking stool samples from the research subjects and filling out a questionnaire. The research sample involved in the study was 47 students of the Sekolah Dasar Negeri 101814 Peria Rial, Deli Serdang Regency. Data were analyzed using the Chi-Square test to produce an interpretation of the relationship between risk factors and STH infection. The measurement results showed the prevalence of STH infection in children was 31.9%. The results of the analysis showed aspects of sanitation (home environment sanitation (p=0.032) and home environment sanitation (p= 0.002)) and personal hygiene (handwashing habits (p=0.004), the habit of wearing footwear when in contact with the ground (p=0.004). nail hygiene (p=0.036), and bowel habits (p=0.027) were associated with STH infection in elementary school children. Availability of good sanitation at home and school as well as access to clean water reduce the risk of STH infection. Improving the quality of personal hygiene is recommended to minimize the risk of STH infection through education and health promotion with various media that attract children's interest.
Implementasi Mobilitas Dini pada Post Operasi Fraktur Femur dengan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Aktifitasdi Rumah Sakit Vita Insani Pematang Siantar Rani Romaito Rajagukguk; Lismawati Lismawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2971

Abstract

Pendahuluan: Fraktur femur pasca operasi sering menyebabkan gangguan mobilitas fisik yang berdampak pada pemenuhan kebutuhan aktivitas pasien. Mobilisasi dini merupakan intervensi nonfarmakologis yang bertujuan meningkatkan kemandirian dan mempercepat pemulihan pasca operasi. Tujuan: Menjelaskan implementasi mobilisasi dini terhadap peningkatan kemampuan aktivitas pasien post operasi fraktur femur di Rumah Sakit Vita Insani Pematangsiantar. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif studi kasus terhadap dua pasien laki-laki yang menjalani perawatan pasca operasi fraktur femur. Intervensi mobilisasi dini dilakukan selama 3 hari dengan durasi 10–15 menit per sesi, berfokus pada pengaturan posisi semi fowler dan peningkatan pergerakan mandiri. Hasil: Setelah tiga hari intervensi, kedua pasien menunjukkan peningkatan kemampuan mobilitas, penurunan rasa cemas dan nyeri, serta peningkatan kualitas tidur. Klien mampu berpindah posisi secara mandiri tanpa bantuan, dengan skala nyeri menurun dari 6 menjadi 1. Kesimpulan: Mobilisasi dini efektif dalam meningkatkan kemandirian, menurunkan kecemasan dan nyeri, serta memenuhi kebutuhan aktivitas pasien pasca operasi fraktur femur. Intervensi ini direkomendasikan sebagai bagian dari standar asuhan keperawatan post operasi.  
Implementasi Pemberian Air Rebusan Daun Seledri untuk Menurunkan Tekanan Darah pada Anggota Keluarga dengan Hipertensi di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Martimbang Pematangsiantar Tracy Angelica Pardede; Lismawati Lismawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2977

Abstract

Pendahuluan: Keluarga adalah sekelompok orang yang hidup bersama dan saling bergantung. WHO memperkirakan jumlah penderita hipertensi sekitar 1,28 miliar didunia. Tanda dan gejala hipertensi terdapat sakit kepala, jantung berdebar, dan pengelihatan buram. Salah satu terapi non farmakologi untuk menurunkan tekanan darah pada anggota keluarga yang terkena hipertensi yaitu dengan pemberian air rebusan daun seledri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi kasus. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak dua orang penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Martimbang Pematangsiantar. Data dikumpulkan melalui format pengkajian keluarga, SOP pemberian air rebusan daun seledri, lembar observasi tekanan darah dan observasi defisit pengetahuan. penelitian dilakukan pada klien I tanggal 1sampai 3 Mei 2025, klien II tanggal 6 sampai 8 Mei 2025. Hasil: hasil implementasi, keluarga kurang memahami pentingnya menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Setelah diberikan edukasi dan terapi air rebusan daun seledri selama tiga hari, tekanan darah menunjukkan penurunan. Klien I dari 150/90 menjadi 130/90 mmHg, dan Klien II dari 140/90 menjadi 130/80 mmHg. Kesimpulan: Pemberian air rebusan daun seledri efektif sebagai non-farmakologi untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Saran: keluarga disarankan untk mengkonsumsi air rebusan daun seledri pada anggota keluarga penderita hipertensi